Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 4.5


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Azira membantu Umi memindahkan semua makanan yang tersaji ke meja makan. Setelah mengirim semua makanan, Umi ataupun yang lainnya tidak meminta Azira untuk tinggal dan ikut sarapan bersama. Mereka semua mengacuhkan Azira, bersikap abai seolah tak ada Azira di sekitar mereka.


Melihat sikap dingin mereka kepadanya, Azira tahu bahwa kehadirannya tidak diinginkan di sana jadi ia tak tinggal di ruang makan dan langsung pergi ke dapur. Di dalam dapur ia sibuk mencuci alat masak yang kotor dan mengelap meja yang kotor hingga menyapu lantai dapur. Ia melakukan semuanya dalam diam.


"Kenapa kamu di sini?" Suara rendah Kenzie mengagetkan Azira.


Azira terkejut. Ia sontak menoleh ke belakang. Di pintu masuk dapur, Kenzie menatapnya sambil bersandar di tiang pintu. Wajahnya yang tampan tampak sangat menarik apalagi jika dia bisa tersenyum lebar tanpa aura suram di sekelilingnya.


"Aku membersihkan dapur, mas." Jawab Azira tenang.


Di depan Kenzie, dirinya selalu merasa rendah dan kecil.


"Kenapa tidak ikut sarapan di dalam?" Tanya Kenzie datar.


Azira memalingkan wajahnya ke meja, berpura-pura mengelap permukaan meja yang sudah bersih.


"Aku ingin membersihkan dapur." Jawab Azira tenang.


Kenzie mengernyit, ia menegakkan punggungnya dan berjalan mendekati Azira. Suara berat langkah kakinya terdengar sangat nyaring di dalam pendengaran Azira. Semakin keras suaranya maka semakin dekat Kenzie dengannya. Azira menutup matanya menahan nafas sembari berusaha menenangkan pikiran kacaunya.


Rasanya sangat melelahkan pikirnya.


"Berhenti main-main, lepaskan pekerjaan ini dan ikut aku ke meja makan. Semua orang sudah menunggu kita." Suruh Kenzie begitu ia berdiri di samping Azira.


Menunggu kita?


Azira tersenyum dingin. Orang yang ditunggu mereka adalah Kenzie dan bukan dirinya, Azira sangat tahu betul tentang kebenaran ini. Sejak memasuki rumah ini ia tahu tak boleh melayangkan angan-angan jika Kenzie ataupun keluarganya akan menerima kehadiran Azira.


Tidak, Azira tidak akan bermimpi sejauh itu.


"Yang mereka tunggu adalah mas Kenzie dan bukan aku. Jadi mas Kenzie bisa pergi sendiri ke sana." Tolak Azira sembari memutar badannya menjaga jarak dari Kenzie.

__ADS_1


Ia berjalan beberapa langkah ke samping sambil mempertahankan kepura-puraan nya membersihkan sisi meja yang lain.


Seolah tak melihat kewaspadaan Azira kepadanya, Kenzie masih mencoba mendekati Azira. Dia maju beberapa langkah ke samping hingga berdiri tepat di samping Azira.


"Bagaimana mungkin? Kamu adalah istriku dan aku adalah suamimu. Menungguku sama artinya menunggu kamu juga. Ayo pergi, aku tidak ingin membuat Umi menunggu kita." Kenzie menarik tangan Azira tapi seger ditepis kasar oleh Azira.


Sejenak, suasana diantara mereka langsung menjadi tegang.


Azira tahu perilakunya tadi sangat tidak pantas. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya terlanjur panik karena tiba-tiba dipegang oleh Kenzie.


"Maaf, aku tidak bisa." Azira menurunkan tangannya ke meja.


Kenzie berdiri diam. Matanya yang gelap mengawasi Azira secara terang-terangan. Tersenyum dingin, ia menatap tangannya yang baru saja ditepis oleh Azira. Tenaga Azira memang tidak besar dan tidak sampai menyakiti kulitnya. Kenzie tidak marah. Malah sikap galak Azira semakin membuatnya tertarik, yah tertarik.


"Patuh." Kenzie mengambil tangan Azira lagi,"Ikut aku ke sana." Katanya dengan nada memerintah.


Kali ini Azira tidak bisa melepaskan tangannya karena Kenzie memegang tangannya dengan erat. Azira sampai mengatupkan mulutnya menahan ringisan yang hampir bocor.


"Apa mas Kenzie belum puas mempermalukan ku di depan semua orang?" Tanya Azira dingin.


Dirinya diabaikan, jilbabnya dibuang tanpa permintaan maaf, hanya dalam waktu yang sangat singkat ia sudah menderita pelecehan dari orang-orang di rumah ini. Azira tahu bahwa ia salah dan tak pantas dihormati, namun ia juga manusia. Setidaknya perlakukan ia selayaknya manusia atau kalau tidak biarkan saja hengkang dari rumah ini maka semua masalah selesai, kan?


Kenzie memiringkan kepalanya berpikir,"Apa ini giliran mu mengeluh? Bukankah sudah kubilang, aku akan membalas semua yang telah kamu lakukan kepadaku?" Ucap Kenzie mencibir.


Azira langsung bungkam. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Tahukah kamu? Karena perbuatan mu kemarin keluarga ku ditertawakan oleh banyak orang. Keluargaku sangat malu, apakah kamu bisa menebusnya?" Tanya Kenzie dengan nada suara mengolok.


Kenzie tidak tahu apakah Azira benar-benar lugu atau bodoh karena masalah sesederhana ini saja ia tidak bisa memikirkannya. Dan harusnya Azira menyadari betul bahwa semua kejahatan yang ia lakukan tidak akan berbuah manis, Kenzie ataupun yang lainnya tidak akan menyambut kehadiran Azira di rumah ini dengan suka rela. Apalagi memberlakukannya dengan baik sama seperti layanan VIP di sebuah pesta, ini hanyalah mimpi belaka.


"Aku tidak tahu apakah kamu benar-benar bodoh atau lugu, hal semacam ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh mu? Azira, kamu ternyata sangat picik." Ucap Kenzie sarkas.

__ADS_1


Azira menerima semua cibiran dan kata-kata sarkas Kenzie dalam diam. Berbicara untuk membela diri pun tidak ada gunanya karena itu tidak bisa mengubah fakta bahwa ia melibatkan Kenzie ke dalam rencananya.


Ia melibatkan banyak orang yang seharusnya tidak menanggung kebencian nya.


Hah, apakah sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang?


...****...


Kini Azira berada di ruang makan ikut bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Sepanjang sarapan berlangsung, punggungnya selalu tegang dan kaku seperti sedang duduk di atas jarum tajam, salah bergerak saja ia akan ditusuk jika tidak berhati-hati.


"Dasar kampungan. Makan aja cuma bisa pakai sendok." Bisik Sasa mencela.


Entah disengaja atau tidak posisi duduk Azira dan Sasa sebenarnya bersebelahan. Mereka duduk berdampingan di meja makan.


"Sasa, siapa yang kamu maksud?" Orang yang ada di samping Sasa bertanya iseng.


Ia sepertinya sengaja bertanya untuk mempermalukan Azira. Lagipula siapa lagi yang Sasa bicarakan selain Azira?


Orang itu harusnya tahu tapi berpura-pura tidak tahu.


"Siapa lagi kalau bukan wanita kampungan tidak tahu malu itu! Lihat saja cara makannya yang udik, sepertinya ini pertama kalinya dia makan di atas meja makan." Kata Sasa mencemooh.


Mereka berbisik tapi volume suaranya tidak bisa disebut sebagai bisikan.


Azira tahu siapa yang mereka bicarakan dan tidak terlalu memikirkannya. Ia berusaha mengabaikan mereka berdua meskipun ia juga agak malu terlihat kampungan di depan mereka. Yah, bukan salahnya ia terlihat udik dan kampungan. Kalau mau menyalahkan, Azira rasa Allah lah yang pantas disalahkan di sini. Sebab Allah yang merestui Ayah menghancurkan kehidupan Ibunya hingga ia sampai ke titik ini.


"Sasa, Dina. Jangan bicara saat berada di atas meja makan." Tegur Kenzie membuat Sasa dan Dina langsung gelagapan.


Mereka berdua spontan berpisah untuk menjaga jarak. Sorot mata mereka berdua menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap Kenzie karena membela Azira. Dan karena teguran ini, mereka berdua semakin tidak senang dengan Azira.


"Cih, udik." Cela Sasa merajuk.

__ADS_1


__ADS_2