
Sudah pukul 5 sore. Jantungnya mulai berdebar kencang. Acap kali matanya menatap jam dinding di dalam dapur, reaksi tubuhnya semakin aneh. Dia merasa gugup. Em, padahal dia selalu mengatakan bahwa dirinya tidak peduli kepada Kenzie. Tapi mata dan hati yang gelisah telah menghianati pikirannya sendiri. Ini sudah kesekian kalinya dia melihat waktu. Dia kesal dengan kepeduliannya sendiri tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu.
"Kak Azira, dipanggil Umi. Katanya disuruh langsung ke ruang tamu kalau kopinya udah jadi."
Sasa berteriak dari luar di sela-sela kegiatan belajar. Sasa sedang mengerjakan tugas di ruang tengah. Tadinya ada Azira yang menemani tapi Umi tiba-tiba meminta Azira membuat beberapa cangkir kopi. Dilihat dari seberapa banyak cangkir yang diminta, sepertinya ada tamu yang akan datang.
"Iya, Sas. Tunggu sebentar." Balas Azira.
Dia menggelengkan kepalanya tidak mau ambil pusing dengan suasana hatinya yang rumit. Tangannya bergerak cepat menyusun kopi di atas nampan. Setelah itu dia mengambil dua piring di rak, membuka kulkas dan mengeluarkan dua kotak kue dengan dua varian rasa. Coklat dan strawberry, masing-masing piring memiliki dua rasa ini.
"Okay, selesai."
Sasa masuk ke dalam dapur.
"Aku bantu bawa ya, kak." Tanpa menunggu jawaban Azira, dia mengambil nampan kue.
__ADS_1
Azira tersenyum.
"Terima kasih." Dia awalnya mau minta bantuan Sasa karena dia tidak mungkin membawa dua nampan sekaligus.
Namun sebelum dia memanggil, Sasa duluan masuk ke dalam dapur.
Mereka berdua lalu pergi ke ruang tamu dengan nampan masing-masing. Di ruang tamu ternyata ada lebih dari tiga orang. Azira tidak mengenal mereka karena dia belum pernah melihat orang-orang ini.
"Mereka adalah keluarga dari pihak Umi, kak. Namanya paman Roni dan bibi Indring, sementara gadis berjilbab merah itu Frida, putri satu-satunya mereka. Mereka bertiga tinggal di luar kota. Makanya sewaktu kalian menikah..." Ketika menyebut pernikahan, Sasa mengusap hidungnya canggung.
"Mereka tidak bisa hadir karena jarak." Sambungnya berbisik.
"Azira, kemarilah." Umi melambaikan tangan kepadanya.
Azira dengan patuh duduk di samping Umi. Melihat Azira pergi, Sasa ikut-ikutan pergi dan secara alami duduk di sampingnya. Matanya yang bulat berkedip melihat tamu 'sok' sibuk yang baru menyempatkan diri berkunjung ke rumah.
__ADS_1
"Sasa, lama tak bertemu?" Frida menyapanya dengan senyuman manis.
Sasa tersenyum kecil, lalu mengangguk kecil. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya memperhatikan Azira tanpa memikirkan perasaan sepupunya. Melihat sikap terasing Sasa, senyum Frida meredup. Dia menghela nafas panjang tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Azira, kenalkan mereka adalah keluarga kita dari pihak Umi. Ayo salim ke paman dan bibi mu."
Azira mengangguk patuh. Dia bangun dan menyalami semua orang termasuk Frida. Sama seperti Umi, mereka semua memiliki senyum yang ramah dan murah hati. Azira merasa cukup nyaman. Tapi yang membuatnya bingung adalah...
Kenapa Sasa tampak tidak bahagia saat melihat mereka? Batin Azira bingung.
"Umi, siapa dia?" Baru saja mendudukkan kembali pantatnya di atas sofa, Frida tiba-tiba bertanya kepada Umi siapa Azira.
Sebelum Umi menjawab, Sasa langsung berbicara.
"Tentu saja istrinya kak Kenzie." Ucap Sasa dengan suara lantang dengan nada bangga.
__ADS_1
"Oh," Frida menutup mulutnya kaget, melihat Azira ragu-ragu,"Tapi bukankah istri kak Kenzie harusnya Humairah?"
Suasana hangat di ruangan itu langsung turun. Pertanyaan Frida tidak salah tapi sebenarnya tidak tepat. Masalah ini sangat sensitif untuk keluarga.