Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 6.3


__ADS_3

"Mbak berpikirlah yang jernih. Azira bukanlah anak haram terlepas apapun salahnya. Dia adalah putri sah kakakku juga." Bibi Sifa menunduk mengambil nampan di lantai dan memerintahkan salah satu pelayan segera membersihkan lantai yang kotor.


Ucapan bibi Sifa menyulut kemarahan Mama dan bibi Safa. Semua orang di rumah ini tahu bahwa Azira tidak diakui karena menurut mereka pernikahan yang terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu tidak sah karena mendapatkan penolakan banyak suara di keluarga. Mereka hanya meyakini bahwa Mama Humairah adalah istri pertama Ayah, sedangkan Ibu Azira, wanita desa yang telah dihancurkan hidupnya oleh Ayah, di mata mereka tidak ada bedanya dengan sampah yang menjijikkan.


Mereka tidak mengakui pernikahan antara Ibu Azira dan Ayah, maka Azira pun ditolak oleh mereka. Mereka beranggapan bahwa Azira adalah anak haram yang belum jelas identitasnya.


Ting~

__ADS_1


Bibi Safa melemparkan sendok makannya di atas meja makan. Dia tiba-tiba kehilangan selera makan pasar mendengar nama Azira disebut oleh saudara kembarnya.


"Sifa, jaga omongan kamu, ya! Azira bukanlah anak kakak dan dia tidak akan pernah masuk ke dalam keluarga kita."


Bibi Sifa sama sekali tidak mengerti kenapa keluarga ini begitu sulit menerima fakta bahwa Azira adalah bagian dari keluarga ini. Buktinya juga sudah jelas, valid dan tidak terbantahkan. Ayah juga mengakui bahwa azirah adalah putri sahnya, putri pertama yang lahir di keluarga ini dari istri pertama Ayah.


"Kakak sendiri tidak membantah bahwa Azira adalah putrinya. Dan apakah semuanya tidak jelas? Azra punya bukti dan tes DNA nya pun tidak menghianati prasangka semua orang. Mbak, aku tahu bahwa Azira salah melakukan ini. Dia menyakiti Humairah, tindakannya memang salah. Tapi pernahkah kita berpikir dan merenungi kenapa dia berani melakukan ini kepada kita? Mungkinkah kita semua belum memahami mengapa dia melakukan kejahatan ini kepada keluarga ini dan kepada Humairah? Bukankah itu karena masa lalu? Jika aku tidak salah ingat lebih dari 10 tahun yang lalu Azira dan Ibunya pernah pergi ke rumah ini untuk mencari kakak. Tapi kakak menolaknya di depan pintu dan mengklaim jika dia tidak pernah menikah dengan Ibu Azira. Coba pikirkan baik-baik, hati wanita mana yang tidak sakit dibuang begitu saja oleh laki-laki yang dicintai sepenuh hati? Tidak hanya mengusirnya tapi kakak juga merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita, merendahkan martabat dirinya sebagai seorang Ibu yang telah melahirkan putri kakak. Hidupnya terlunta-lunta di kota dan dia tidak bisa pulang ke kampung halaman. Demi menghidupi Azira, dia merendahkan harga dirinya yang bekerja sebagai... Aku tak mampu menyebutkannya. Ini sangat-"

__ADS_1


Tapi bibi Sifa yang biasanya lembut dan tidak mudah marah malah balas berteriak.


"Maka bagaimana mungkin dia tidak membenci kakak?! Bagaimana mungkin dia tidak membenci keluarga ini! Karena kakak dan keluarga ini telah memaksa mereka ke jurang kehancuran. Azira melakukannya. Dia sangat membenci keluarga ini hingga bertekad menghancurkan pernikahan Humairah, agar Humairah kita merasakan betapa sakitnya hidup wanita yang pernikahannya dihancurkan. Aku tidak membela Azira kan aku juga sedih melihat dia jatuh seperti ini. Aku hanya muak... Muak dengan segala macam tuduhan dan kata-kata makian yang kalian lontarkan kepada Azira. Jika bukan karena kita, dan jika bukan karena kakak, dia mungkin tidak akan mengambil jalan ini."


Mama memalingkan wajahnya kesal. Hatinya membara ingin membalas perkataan adik iparnya, tapi dia tidak mau melakukan itu dan menunggu Ayah menegur bibi Sifa.


"Sifa kamu-"

__ADS_1


"Aku tidak ingin berbicara lagi. Selamat tinggal." Lalu dia berbalik menuju ke kamarnya, meninggalkan semua orang di meja makan yang masih tenggelam dalam kesunyian.


Tidak ada yang mau mengakui bahwa apa yang dikatakan bibi Sifa itu benar. Hati nurani mereka menolak kebenaran ini dan berpegang teguh bahwa Azira lah yang salah.


__ADS_2