
"Mas tidak tahu bahwa karena gadis ini keluarga kami hampir hancur dan karena gadis ini Ayah tidak bisa bertahan lama. Gadis ini adalah aib juga petaka untuk keluarga kita tapi mengapa mas Rama tidak belajar dari masa lalu?" Wanita ini masih belum bisa mengerti mengapa Ayahku memutuskan untuk membawa ku ke sini karena seperti yang wanita ini katakan aku hanyalah petaka juga aib untuk mereka.
Tapi, itu terserah Ayahku yang bodoh itu karena sejujurnya walaupun masih enggan ada untungnya juga aku tinggal di sini. Diam-diam menjadi duri bagi kehidupan mereka aku sudah tidak sabar!
"Bibi, halo. Lama tidak bertemu." Sapaku santai.
Bibi Safa menatapku tajam dengan penuh kebencian."Siapa yang kamu panggil Bibi! Aku bukanlah Bibi mu!" Raung nya marah.
Ugh, sangat galak, hem?
Merasa lucu, aku pura-pura menyedihkan di depannya,"Bibi jangan seperti ini, ah. Aku adalah keponakan yang baik dan berbakti. Bibi juga tahu kan bahwa apapun yang Bibi katakan itu tetap tidak bisa merubah fakta bahwa aku adalah darah daging Ayah dan dengan membawa ku sini Ayah seharusnya dapat dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab, yah setidaknya dia bisa memberiku banyak uang untuk menebus hari-hari kosong sebelumnya." Suaraku dengan sehalus mungkin. Yah, siapa bilang aku mengakui laki-laki itu adalah Ayahku?
Aku hanya menikmati sandiwara ini saja dan perlahan membalaskan rasa sakit yang Ibuku dapatkan dari keluarga sialan ini. Tinggal di sini memiliki banyak keuntungan. Aku bisa memuaskan dendam ku dan di sisi lain, manjakan diri dengan kekayaan mereka!
"Kau panggil aku apa barusan?"
Bodoh, diantara semua poin penting, mengapa wanita ini hanya berfokus pada poin kecil itu saja?
Hah, lagipula aku juga terpaksa memanggil pembunuh ini sebagai 'Bibi'?
Namun, yah seperti yang ku harapkan bahwa wanita ini tidak terima jika aku memanggilnya seakrab itu kepadanya.
Tersenyum penuh kemenangan, "Aku memanggil mu, Bibi. Bibi Safa salam kenal, namaku adalah Azira." Jawabku terdengar seakrab dan seramah mungkin.
Fiuh, akting juga membutuhkan bakat.
Bibi tersayang ku ini semakin tidak terima dengan apa yang aku katakan. Bahkan kedua matanya dengan melotot tajam ingin mendekati ku, lalu kedua tangannya terkepal gemetar menahan lonjakan amarahnya.
Wah, ini adalah pemandangan yang aku ingin lihat baru-baru ini. Aku sangat ingin melihat ketidakberdayaan wanita iblis ini sama seperti ketika ia mempermainkan ketidakberdayaan Ibuku.
"Aku katakan dengan jelas bahwa aku dan yang lain bukanlah keluarga mu sekalipun kau adalah darah daging kakak ku. Kau mungkin tidak tahu ini tetapi Ibumu yang genit dan murahan itu adalah orang yang menjebak kakak ku sehingga kamu ada. Ibumu yang kotor dan tidak tahu malu itu ingin hidup seperti kami dan menikmati apa yang tidak pernah ia nikmati melalui menjebak kakak ku. Hah..dia bahkan memberikan mu nama yang sama seperti darah daging sah kakak ku. Betapa menjijikkannya...kamu pikir apakah kamu layak berdiri sejajar dengan kami setelah semua?"
__ADS_1
Tidak.
Itu tidak benar!
Ibuku tidak seperti yang wanita ini katakan, ia tidak sekotor itu meski harus berakhir terjebak dalam dunia yang gelap. Tapi..Ibuku dulu tidak serendah itu, justru karena kalianlah ia menjadi seperti ini!
Karena kalian ia harus berakhir terjebak di dunia gelap itu dan terus menerus merasakan penderitaan yang tidak pernah ada putusnya.
Yah, semua ini karena kalian.
"Apapun yang Bibi katakan-"
"Aku bilang kau tidak berhak memanggil ku seperti itu!"
Mencoba menahan air mata kesakitan, aku menahannya melalui kepalan kuat ke dua tanganku.
"Aku adalah anak sah dan darah daging Ayah. Namaku di dapatkan karena aku adalah putri pertamanya, aku lebih dulu lahir dari putri yang lahir dari istri kedua Ayah. Dan kamu juga tidak bisa menampik bahwa kalian lah yang mendorong Ibuku ke tempat itu. Karena kalian Ibuku jatuh ke tempat itu!" Ucapku keras kepala menahan rasa sakit.
Yah,
Yah, mereka tersiksa dengan kehadiran aib yang mereka tolak.
"Ternyata sama saja..kau sama saja dengan wanita kotor itu. Setelah ia mati maka kau adalah penerusnya yang akan mengambil alih tugas wanita kotor itu untuk berusaha masuk ke rumah ini.
Baik.. lakukanlah dan jangan pernah menyesal jika kau tidak bisa mendapatkan apa-apa di sini!" Ancamnya padaku seraya berjalan menjauh dari semua orang.
Namun setelah kepergiannya, orang-orang yang ada di sini perlahan-lahan mulai meninggalkan ku dengan teratur. Seakan mereka juga mengakui dan mengiyakan bahwa aku bukanlah bagian dari mereka semua.
Aku dan mereka tidak layak untuk berdiri sejajar.
"Nak, tolong maafkan Bibi Safa, mu, yah. Dia..dia masih belum bisa melupakan trauma masa lalunya." Laki-laki yang ku duga adalah suami wanita itu berjalan mendekati ku. Ia terlihat menyesal atas sambutan tidak menyenangkan yang istrinya berikan kepada ku.
__ADS_1
Laki-laki ini baik pikirku, ah..atau mungkin ini hanya topeng belaka saja?
"Paman tidak perlu khawatir karena Azira sangat memaklumi mengapa Bibi Safa seperti itu." Aku tersenyum maklum, memberikan rasa sopan santun kepada Paman ku ini..hahah.. sekarang setelah semua aku tahu bahwa aku punya Paman dan Bibi.
Tapi ini hanya berlaku sementara, bukan?
"Ah..jadi namamu adalah Azira?" Tanyanya begitu terkejut.
Tersenyum canggung, "Ya, namaku adalah Azira."
Tersenyum, "Nama yang bagus." Suaranya terlihat kaku.
"Jadi, namamu adalah Azira?" Tiba-tiba wanita yang bernama Sifa serta suaminya berjalan mendekati ku.
Mengangguk polos, aku mengiyakan pertanyaan mereka.
"Yah..nama yang bagus." Responnya sama dengan Paman yang ada di depan ku ini.
"Kalau begitu Sifa, antar kan Azira ke kamarnya agar ia bisa beristirahat dengan baik." Suami Bibi Sifa seakan paham dengan apa yang aku butuhkan saat ini.
Aku ingin ke kamar langsung agar aku bisa menenangkan diri dari serangan wanita lampir barusan.
"Baik, mas," Angguk Bibi Sifa seraya menarik tangan kananku agar mengikutinya.
"Ayo Azira, Bibi antar ke kamarmu." Ajaknya.
Aku dengan patuh langsung mengikuti langkahnya yang ringan dan pasti. Ia membawaku ke sebuah pintu yang memang tidak terlalu jauh dari ruang utama tempat ku berdiri tadi. Bahkan kamar yang akan ku tempati nanti sepertinya begitu dekat dengan dapur.
Cklak
"Ini adalah kamar mu, Azira." Ucapnya seraya mempersilakan aku masuk ke dalam.
__ADS_1