
"Terimakasih, non." Ucap mbok Yem lega karena nyatanya Azira tidak merasa tersinggung dengan permintaannya dan yang lebih menyenangkan lagi, Azira sangat mudah di dekati.
Setelah masuk ke dalam mbok Yem tidak langsung duduk tapi ia dengan gerakan terbiasa mengambil sebuah koper kecil yang terletak di bawah ranjangnya.
Menariknya kopernya keluar, mbok Yem kemudian membuka setiap kunci yang menyegel koper tersebut dan menunjukkan kepada Azira apa yang ada di dalamnya.
"Ini..apa, mbok?" Bingung Azira melihat berbagai macam kain yang lembut dan masih baru terlipat rapi di dalamnya.
"Ini adalah jilbab syar'i yang tuan persiapkan untuk kedatangan non, Azira." Jawab mbok Yem dengan senyuman tulusnya.
Ya, semua jilbab syar'i ini tuan belikan untuk menyambut kedatangan Azira. Karena lemari Azira tidak muat lagi, mbok Yem memutuskan untuk menaruh kain-kain jilbab ini di dalam koper saja karena di lemari sudah tidak ada tempat.
Tertegun, Azira tidak tahu harus merespon apa karena ia belum pernah melihat jilbab sebanyak ini.
"Aku akan memakainya." Putus Azira membuat mbok Yem sekali lagi merasa lega. Awalnya ia kira Azira akan menolak semua ini karena mbok Yem mengerti bagaimana perasaan seorang anak yang dibuang oleh Ayah biologisnya sendiri tiba-tiba dibawa kembali dan diminta untuk mengikuti aturan rumah yang cukup asing untuknya.
Sebenarnya, ini begitu menyakitkan untuk Azira karena ia harus dengan patuh menggunakan pemberian laki-laki yang paling ia benci di dunia ini.
Laki-laki angkuh yang dengan mudah membuang Ibunya ke tempat yang paling putus asa dan mengatakan kepada dunia bahwa ia adalah anak haramnya yang terbuang.
Azira pasti akan membalas semua ini.
"Sini non, mbok bantu pasangin sebelum kita keluar." Mbok Yem mengambil salah satu kain yang terlihat serasi dengan gamis Azira.
Memakaikannya di kepala Azira, ia kemudian dengan hati-hati mengepaskan nya dengan bentuk wajah Azira yang sebenarnya sangat cocok dengan jilbab tersebut. Wajah Azira tidak besar juga tidak kecil, intinya dia sangat cocok memakai jilbab atau tidak.
"Sudah selesai, non." Ini adalah jilbab jadi dan tidak perlu melakukan banyak gaya untuk membuatnya.
"Masya Allah, non Azira teh cantik pisan..ya Allah." Mbok Yem tidak berbohong ketika mengatakan ini, ia jujur bahwa Azira sangat cantik saat menggunakan jilbab. Sebenarnya Mbok Yem juga sudah menduga bahwa Azira pasti akan terlihat cantik menggunakan jilbab, ini ia katakan karena tanpa menggunakan jilbab pun Azira sudah sangat cantik.
"Terimakasih mbok Yem." Azira berterima kasih dengan canggung karena ia masih belum terbiasa dengan pakaian maupun jilbab yang ia kenakan. Apalagi mbok Yem sempat memujinya dan itu membuat Azira tidak tahu harus merespon apa.
__ADS_1
"Ya, udah kita keluar yuk non."
"Ayo, mbok."
...🍃🍃🍃...
"Jadi Humairah seorang dokter ya, mbok?" Azira sekali lagi dibuat takjub oleh Humairah karena selain cantik, sopan dan baik, Humairah juga ternyata sangat cerdas.
"Non Humairah sebenarnya masih belum resmi menjadi dokter karena ia harus menyelesaikan masa magangnya beberapa minggu lagi sebelum diangkat dengan resmi menjadi dokter." Jelas mbok Yem menceritakan situasi majikannya yang begitu luar biasa.
"Oh, jadi itu hanya beberapa minggu lagi." Gumam Azira kepada dirinya sendiri.
"Iya non, apalagi mbok sempat dengar bahwa non Humairah sebentar lagi akan dilamar oleh mas Kenzie jika magangnya berjalan lancar."
Ada nada kebahagiaan ketika mengatakan ini dan mbok Yem tidak berusaha menutupi perasaan kagumnya pada Humairah. Majikannya yang dengan hati-hati ia besarkan dengan kasih sayang.
"Mas Kenzie?" Tiba-tiba nama ini terdengar berkesan untuk Azira.
Azira tidak yakin karena mungkin itu hanya ilusinya saja. Benar, itu hanyalah ilusi semata saja.
"Astaga mbok lupa jika non Azira tidak tahu siapa mas Kenzie." Mbok lupa jika Azira adalah anggota baru di rumah itu dan belum mengetahui siapa itu Kenzie.
"Mas Kenzie adalah seorang dokter bedah di rumah sakit tempat non Humairah magang. Dengar-dengar mas Kenzie menyimpan rasa pada non Humairah, bahkan terkadang mas Kenzie akan berkunjung ke sini dengan dalih bersilaturahmi. Haha..siapa yang tahu jika niat mas Kenzie sebenarnya ingin melihat non Humairah." Mbok tidak bisa menahan tawanya setiap kali mengingat kunjungan mendadak Kenzie ke rumah ini.
Siapa pun pasti tahu dan dapat melihat bahwa tujuan laki-laki itu sebenarnya ingin melihat Humairah semata saja.
"Kenapa?" Ini adalah pertanyaan yang tiba-tiba bibirnya ucapkan secara spontan. Perasaan cemburu itu datang merasuki hatinya dan Azira merasa bahwa Humairah terlalu beruntung di dunia ini. Yah, dia sangat-sangat beruntung.
Karena selain terlahir kaya dan disayangi semua orang, ia juga ternyata cerdas dan dicintai oleh seorang laki-laki yang hebat.
Dia punya semua yang Azira tidak punya. Kasih sayang dari keluarga yang hangat, kekayaan yang Azira dan Ibunya susah payah cari, kecerdasan yang jauh lebih tinggi dari Azira, pendidikan tinggi yang tidak pernah Azira bayangkan, dan laki-laki hebat yang mencintainya.
__ADS_1
Dia punya segalanya, dan itu tidak bisa dipungkiri. Sedangkan dia, Azira Humaira. Dia punya banyak kekurangan, sangat banyak!
Dia dilahirkan hanya untuk menjadi bahan olok-olokan, hei, bukankah Tuhan terlalu tidak adil kepadanya?
Sejujurnya Azira..yah, dia juga ingin seperti Humairah.
Azira ingin ia dan Ibunya bisa hidup tenang dan sedamai keluarga Humairah.
Tapi..tapi sayang..
Ia tidak beruntung dan ditakdirkan menjadi gulma di dunia ini. Hahahaha.. menyedihkan, bukan?
"Sebenarnya mas Kenzie punya alasan kuat datang ke rumah ini non, Azira."
Tersenyum paksa, "Alasan apa?"
"Alasan bahwa kedua orang tua mas Kenzie bersahabat dengan tuan dan nyonya, sehingga hubungan antara mas Kenzie dan non Humairah sudah direstui sejak dari dulu."
"Ka-"
"Azira!" Ada seseorang yang memanggil dengan suara keras, hal ini membuat Azira dan mbok Yem spontan mengalihkan perhatian mereka ke arah sumber suara.
Ck,
Decak nya kesal ketika melihat siapa orang yang memanggilnya tadi. Dia menjadi jengkel dan marah.
"Wanita tua bangka itu kenapa datang ke sini?" Geram Azira ketika melihat orang yang memanggilnya adalah wanita tua bangka yang tempo hari ingin membawanya pergi.
Dia adalah pemilik club' malam tempat Ibunya bekerja dulu. Wanita tua bangka serakah yang telah membuat Ibunya terpojok sampai semenderita itu.
"Mbok diam saja di sini dan jangan ceritakan hal ini kepada siapapun." Peringat Azira sebelum pergi, lalu tanpa menunggu jawaban mbok, ia sudah melangkah menjauh darinya.
__ADS_1
"Apa kau masih belum mengerti apa yang aku katakan terakhir kali?" Tanya Azira kesal seraya menarik tangan wanita itu mengikutinya menjauh dari pintu gerbang.