
Ternyata Azira masih belum membaik setelah beristirahat di ruang tengah. Jadi dia memutuskan untuk beristirahat di kamarnya sambil menunggu suaminya pulang. Memasuki kamar, kepalanya lebih berat karena mengantuk dan langsung tertidur ketika menyentuh permukaan tempat tidur. Dia tidak sadar hingga siang hari dan bahkan melewatkan sholat zuhur. Rencananya dia dan Kenzie pergi ke rumah sakit tapi berhubung situasinya tidak baik, alhasil rencana ini diundur dulu sampai dia merasa baikan.
"Kenzie, sini." Umi memanggil di luar.
Volume suaranya sengaja dikecilkan agar tidak menggangu tidur Azira.
Kenzie keluar dari kamar. Menutup pintu kamar hati-hati dan berjalan ke sisi tangga bersama Umi.
"Kenapa, Umi?" Dia baru saja selesai sholat Zuhur di kamar.
Rencananya mau bangunin Azira tapi melihat tidur Azira yang lelap, dia memutuskan untuk menunggu hingga Azira bangun sendiri. Kalau belum bangun juga, Kenzie terpaksa akan membangunkannya.
"Istrimu udah datang bulan enggak bulan ini?" Tanya Umi punya kecurigaan di dalam hatinya.
__ADS_1
Dia telah memperhatikan keanehan menantunya akhir-akhir ini dan menyadari kalau ini kemungkinan besar tanda-tanda orang yang hamil. Memikirkan ini membuat Umi sangat antusias. Jadi dia bergegas menghampiri Kenzie untuk memastikannya langsung.
Kenzie memikirkan rutinitas malamnya yang tetap berjalan dengan lancar bulan ini, meskipun beberapa hari ini libur, Kenzie tidak menggangu Azira karena sedang kurang enak badan dan bukan karena sedang datang bulan.
"Enggak, Umi. Seingatku jadwal teratur Azira datang bulan harusnya dipertengahan bulan di bulan ini-"
Buk!
Umi memukul keras pundak Kenzie terlihat sangat bersemangat.
Kenzie meringis sambil memegang pundaknya yang mati rasa setelah dipukul Umi.
"Isi?" Dia sudah memikirkannya sejak semalam, tapi ada keraguan gara-gara Azira bulan ini agak banyak pikiran sehingga dia berpikir positif kalau mungkin saja mentruasi Azira memang datang terlambat gara-gara tekanan pikiran?
__ADS_1
"Aku juga mikir gitu. Tapi Umi tahu sendiri kan kalau Azira bulan ini banyak pikiran jadi mungkin saja dia terlambat-" sebelum dia selesai berbicara, Umi sekali lagi menggerakkan tangannya.
Melihat serangan Umi yang akan datang, Kenzie langsung melindungi kedua pundaknya. Tapi perkiraannya meleset karena tangan Umi berbelok mencubit pinggang Kenzie gemas!
"Ya Allah...Umi!" Pinggangnya ngilu, dia sampai memejamkan matanya menahan sakit dari cubitan Umi.
"Makanya jadi suami harus perhatian dan pengertian sama istri! Bukannya jadi pelindung malah menambah beban pikiran istri! Udah, pokoknya kamu enggak boleh pesimis. Pergi sana beli tespek buat Azira, awas kalau Azira enggak hamil, Umi bakal cubit ginjal kamu biar tau rasa. Ingat, harus hamil!" Tekan Umi mengancam serius sementara tangannya masih mencubit daging pinggang Kenzie.
"Iya...iya, Umi. Aku udah beli kok tadi pagi. Tangannya dilepaskan dulu dong, Umi. Kenzie udah besar, malu kalau di liat orang." Kenzie memohon.
Terakhir kali dia perlakukan seperti ini oleh Umi sewaktu masih kecil. Sudah bertahun-tahun yang lalu. Kini setelah dewasa dan memiliki keputusan mandiri, Umi tak pernah melakukan ini. Dia kira tidak akan merasakannya lagi, tapi ternyata masih ada hari memalukan ini!
Sasa dan Mona yang kebetulan menonton semua adegan kekerasan tadi,"...." Yah, ini memang memalukan.
__ADS_1
Sudut bibir mereka kompak berkedut.