
"Enak, tapi rasanya sedikit berbeda dari yang aku tahu." Azira menilai setelah menelan makanan ke dalam mulutnya.
Hati Kenzie terguncang. Dia bertanya-tanya apakah rendang yang dia buat tidak enak?
Padahal dia sudah berekspektasi tinggi setelah mencium wanginya yang tidak memiliki perbedaan dengan masakan rendang buatan Umi.
"Benarkah?" Dia mengambil garpu Azira dan memasukkan sepotong daging empuk ke dalam mulutnya.
Setelah memakannya barulah dia tahu apa yang dimaksud oleh istrinya. Rendangnya bukan tidak enak, tapi memiliki rasa yang agak berbeda dengan rendang biasanya.
Kalau dipikir-pikir sih tidak tepat mengatakannya sebagai rendang.
"Maaf, aku gagal. Aku bisa membuatnya nanti. Insya Allah masakan aku selanjutnya jauh lebih enak dari yang sekarang." Agak disayangkan karena gagal, namun Kenzie tidak pantang menyerah.
Dia bertekad memasak lagi sampai benar-benar berhasil untuk memuaskan keinginan pribadi istrinya. Jarang-jarang lho Azira menginginkan sesuatu kepadanya. Kadang dia bersyukur istrinya tidak seperti kebanyakan wanita diluar sana yang suka menghabiskan uang atau berbelanja, tapi kadang juga dia tertekan melihat istrinya yang terlalu hati-hati dan berhemat sampai-sampai jarang menginginkan sesuatu.
Bahkan perhiasan pun tidak Azira lirik. Kalau enggak dibeliin sama Kenzie, dia pasti tidak akan memakainya.
"Ini enggak gagal kok, mas. Aku udah cukup makan ini aja. Mas Kenzie jangan masak lagi, yah? Aku capek ngeliat mas Kenzie kerja terus di dapur. Tuh lihat deh keringat mas Kenzie di wajah, masakan ini pasti menguras banyak tenaga." Azira mengusap kening suaminya yang berkeringat dengan hati tertekan.
__ADS_1
Lihat saja jari telunjuk suaminya. Ada luka pisau yang masih baru. Saat mengiris bawang merah tadi, jari telunjuknya tidak sengaja tergores pisau. Untung saja bukan luka besar hingga mengeluarkan banyak darah, kalau tidak, acara memasak Kenzie pasti sudah Azira hentikan sejak tadi.
Dia tak mau melihat suaminya berkutat dengan pekerjaan dapur.
"Sayang, aku enggak apa-apa kok." Kenzie tersenyum konyol.
Azira menggelengkan kepalanya.
"Mas, kamu enggak apa-apa tapi dapur kita yang apa-apa." Katanya tak berdaya sambil melihat dapur yang berantakan karena ulah Kenzie.
Pantas saja Abah dan Umi kabur ke depan. Mereka sebenarnya pergi bukannya ingin memancing tapi mau melarikan diri dari medan pertempuran Kenzie. Pasalnya selama membimbing Kenzie tadi, Azira sempat mendengar Umi sesekali mengomel-omel di dapur karena Kenzie agak sulit mengikuti.
"Cukup, mas. Keinginan aku sudah terpenuhi. Mas Kenzie enggak perlu masak apa-apa lagi. Daripada pusing mikirin urusan dapur, mending mas Kenzie duduk di sini deh makan sama aku. Masakannya tambah enak kalau makan sama-sama." Azira menarik tangan Kenzie agar duduk lebih dekat dengannya.
Piring nasinya digeser ke tengah-tengah agar mereka bisa makan di piring yang sama.
Cup
Kenzie tiba-tiba mencium pipi Azira kilat.
__ADS_1
"Mas?" Azira melihat sekeliling. Untungnya hanya mereka berdua di sini.
"Terima kasih. Kamu memang wanita surgaku." Bisik Kenzie dengan nada suara lembut.
Istrinya selalu pengertian.
Azira tersipu malu. Dia menatap suaminya salah tingkah. Membuat Kenzie terkekeh geli merasa gemas sendiri dengan keluguan istrinya.
Cup
Senyuman Kenzie langsung membeku karena Azira tiba-tiba membuat serangan. Tanpa mengatakan apa-apa Azira mengecup bibir tersenyum suaminya cepat-cepat.
"Um...aku bersyukur karena pangeran surgaku kelak adalah kamu, mas. Eits, jangan macam-macam! Udah, aku mau makan dulu. Lapar." Azira buru-buru menjauh sebelum Kenzie membuat serangan lagi.
Kenzie merasa tersiksa. Tersenyum kecil, dia menatap istrinya tertekan.
"Okay, makan dulu." Katanya memikirkan rencana.
Azira ngeri. Untungnya dia sedang hamil muda. Kalau tidak, entah apa yang akan suaminya lakukan kepadanya nanti. Pastinya itu yang manis-manis...hehe.
__ADS_1