Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 28.1


__ADS_3

Memasuki usia kehamilan 4 bulan, pola makan Azira menjadi berantakan. Dia mual terus menerus setiap kali mencium bau makanan ataupun sesuatu yang terlalu keras. Misalnya seperti parfum. Azira tidak bisa mentolerir wangi parfum seharum apapun itu. Gara-gara ini orang-orang rumah yang biasa bertemu dengan Azira dengan berat hati mengganti parfum yang lebih ringan untuk mereka gunakan. Setelah mengganti wangi yang lebih ringan reaksi Azira tidak terlalu berat. Dia masih bisa menahan gelombang mual di dalam perutnya.


Karena sering mual bahkan muntah-muntah, asupan makanan Azira berkurang dan badannya secara alami kekurangan berat badan. Kenzie dan orang rumah panik melihat kondisi Azira yang kian memburuk. Dalam waktu dua bulan, Azira sudah tiga kali dilarikan ke rumah sakit karena dehidrasi dan kelaparan. Untuk menghentikan hal ini terus berlanjut Kenzie telah memberikan beberapa obat yang menghilangkan mual kepada istrinya, tapi tidak ada efeknya yang membuat semakin frustasi. Keadaan ini terus berlanjut hingga memasuki bulan kelima kehamilan sehingga Kenzie semakin frustasi.


Kenzie kehilangan berat badan dalam waktu ini. Dia tak tenang dan lebih banyak bekerja di rumah daripada ke kantor karena sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya. Abah ataupun pihak kantor tak bisa berkata apa-apa. Toh, Kenzie tidak melakukan tanggung jawabnya sebagai bos dan trus bekerja walaupun dari rumah.


Sampai akhirnya masuk bulan keenam kehamilan, kondisi Azira akhirnya membaik. Gelombang mualnya mulai berhenti dan perlahan menerima makanan dengan lancar masuk ke dalam mulutnya. Nafsu makan Azira meningkat. Berat badannya langsung naik dengan cepat. Pada bulan ketujuh kehamilan, Azira akhirnya memiliki penampilan wanita hamil yang sehat dan kuat.


Kenzie dan orang-orang rumah akhirnya bisa meletakkan hati mereka yang telah lama menggantung karena memikirkan Azira.


"Mas Kenzie, hari ini belum masuk kantor juga?" Azira masuk ke dalam kamar sambil membawa sekantong kresek roti basah di tangannya.

__ADS_1


Makanan ini dititipkan Mona untuknya untuk memuaskan nafsu makan Azira yang membludak.


Kenzie melirik kantong kresek itu, kemudian mengambil alih kantong kresek sambil memegang pinggang Azira yang berdaging sehat. Lalu dengan langkah hati-hati dia menuntun Azira duduk di atas kasur.


Sudah 7 bulan. Perut Azira sangat besar. Besarnya seperti orang yang sudah hamil 9 bulan. Azira sering mengeluh pinggangnya sakit membawa perut sebesar ini.


"Tidak sekarang. Rencananya aku akan pergi ke kantor 3 hari lagi untuk mengambil beberapa dokumen." Kata Kenzie acuh tak terlalu ambil pusing soal kantor.


"Mas Kenzie masuk aja. Mas enggak perlu khawatirkan aku di rumah- akh, dia menendang lagi, mas." Azira meringis merasakan pergerakan di dalam perutnya.


Kenzie buru-buru duduk berlutut di atas karpet setelah menaruh kantong kresek itu sembarangan. Kedua tangannya yang besar dan hangat mulai mengusap permukaan perut Azira yang besar.

__ADS_1


Bibirnya dengan lembut melantunkan beberapa ayat surat Maryam untuk si kecil. Beberapa detik kemudian si kecil berhenti membuat masalah. Diam tak bergerak tampak sangat patuh.


"Nak, tunduk lah kepada istri, Ayah. Demi menjaga kamu, istri Ayah telah melewati banyak kesulitan hingga kamu sebesar ini. Jangan mempersulitnya lagi kalau tidak Ayah akan menyeret kamu keluar untuk diberi pelajaran. Dengar?"


Entah di dengar atau tidak, permukaan perut Azira kembali bergetar. Tapi kali ini gerakannya cukup ringan yang membuat heran.


"Mas, aku Ibunya." Azira mengoreksi.


Dia mengusap rambut suaminya gemas sendiri.


Kenzie terkekeh.

__ADS_1


"Tapi kamu istriku. Enggak ada yang salah dari ucapan ku."


__ADS_2