
Al?
Ketua OSIS di SMA?
Azira mengerutkan keningnya berpikir. Sampai akhirnya dia teringat dengan sosok laki-laki tinggi berkacamata yang selalu datang mencarinya sewaktu di sekolah dulu. Saat itu dia masih kelas 10 sementara Al kelas dua belas, menjabat sebagai ketua OSIS. Mungkin dia termasuk salah satu orang yang memiliki kesan dalam untuknya. Karena latar belakang dirinya yang berasal dari tempat kumuh dan pekerjaan Ibunya yang tidak biasa membuat Azira sulit bergaul di sekolah. Untungnya Al tidak memandang sebelah mata dirinya dan masih bergaul dengannya.
"Allahuakbar, kak Al!" Azira langsung berdiri kaget.
Dia menatap wajah tampan Al yang yang jauh lebih dewasa daripada beberapa tahun lalu yang masih kekanak-kanakan. Tinggi badannya bertambah dan kulitnya tidak seputih dulu. Terlepas dari semua itu, poin yang paling menonjol bagi Azira sekarang adalah Al masih mengenalnya setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Padahal teman-teman semasa sma-nya cukup sulit mengenalinya ketika dia tidak sengaja bertemu mereka di beberapa kesempatan.
"Ka...kalian..." Sasa melihat keduanya tak percaya.
Dosen yang terkenal killer di kampusnya ternyata bisa tersenyum. Dia shock sekaligus iri dengan keberuntungan kakak iparnya sehingga bisa bertemu dan mengenal dosen killer nya. Ngomong-ngomong Al memang terkenal killer, tapi sebenarnya dia salah satu idola kampus. Alasannya dia masih muda dan yang terpenting sekarang udah jadi duda. Sontak saja banyak mahasiswi yang mengejar Al setelah status dudanya tersebar.
__ADS_1
"Akhirnya kamu mengingatku. Aku enggak nyangka bisa ketemu sama kamu. Ngomong-ngomong kabar kamu gimana sekarang? Kamu di sini.." Al menatap rumah besar di depannya dengan wajah antisipasi.
Ingatannya tidak berkurang selama bertahun-tahun. Dia ingat kalau Azira berasal dari keluarga miskin dan tinggal di tempat kumuh. Melihat rumah besar di depannya sekarang Al yakin kalau ini bukan rumahnya Azira, tapi kenapa dia tinggal di sini?
Azira mengikuti pandangan mata Al dan langsung tersenyum malu.
"Oh, ini rumah keluarga suamiku, kak. Sekarang aku tinggal di sini bersama suamiku." Ucap Azira malu-malu.
"Jadi kamu sekarang udah nikah.." Katanya pelan.
Sementara itu tidak jauh dari mereka, Kenzie belum menyadari bila orang yang dia 'antisipasi' hari ini sudah muncul dan bahkan mengobrol dengan Azira. Bukan salahnya. Abah menendangnya masuk ke dalam lubang untuk menggali tanah bersama pekerja yang lain.
"Kenzie." Umi menghampiri putranya dan duduk berjongkok di pinggir kolam sambil memakan kuaci.
__ADS_1
"Kenapa, Umi?" Kenzie tidak mengangkat kepalanya.
Umi tersenyum simpul. Abah melirik istrinya dengan tatapan bermakna, lalu melirik ke gerbang. Mengangguk, dia menyeret kursi santainya ke samping Umi dan mengambil segenggam kuaci dari Umi. Tampaknya dia cukup menikmati hari ini karena tidak terlalu panas juga tidak hujan.
"Kamu masih ingat enggak sama dosen duda yang bibi kamu ceritain kemarin?" Tanya Umi santai.
Mendengar sebutan dosen duda, Kenzie mengangkat kepalanya menatap Umi curiga. Tangannya yang tadi sibuk mengambil tanah melambat dan perlahan berhenti bergerak.
"Umi kenapa menyebut orang kurang kerjaan ini?" Dia curiga.
Jangan bilang Uminya mulai menyimpang seperti mertua yang ada di dalam novel-novel. Yaitu mereka lebih suka melihat menantu berjodoh dengan laki-laki lain ketimbang bertahan dengan putranya di dalam pernikahan.
Umi cekikikan,"Enggak, Umi cuma mau ngasih tahu kalau istri kamu sekarang lagi ngobrol sama di depan."
__ADS_1