Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 15.3


__ADS_3

Kenzie memandangnya dengan tatapan acuh tak acuh. Apa yang dikatakan oleh temannya tidak berarti apa-apa kepadanya. Berbeda dengan Azira di sampingnya. Wajah Azira sekarang sangat merah dan terasa panas pada saat yang bersamaan. Tak perlu dikatakan lagi betapa berdebar jantungnya sekarang.


Um, mendengar kata cemburu terlontar dari mulut Nabil, dia merasa melayang. Karena orang lain ternyata bisa menilai sikap suaminya, dan apa tadi, cemburu?


Ya Allah, kepala Azira langsung membengkak saking senangnya.


"Mari masuk. Aku sudah menyiapkan ruangan khusus untuk kalian berdua." Ujar Nabil sembari memberikan jalan kepada mereka berdua.


Kenzie mengambil tangan Azira dan menggenggamnya sambil berjalan masuk ke dalam restoran.


"Kemana?" Tanya Kenzie kepada Nabil tanpa memperhatikan perubahan ekspresi temannya itu.


Nabil menurunkan matanya, menatap tangan mereka berdua dengan perasaan campur aduk.


"Naik saja ke lantai dua." Jawab Nabil sambil mengambil langkah ke depan dan memandu mereka berdua naik ke lantai dua.


Di sini tidak ada sistem VIP. Sama saja seperti tempat makan lainnya. Tapi ada sedikit perbedaan yaitu ruangan pribadi yang sengaja dirancang bagi orang-orang yang datang bersama keluarga besarnya ataupun pertemuan bisnis. Tempatnya sangat nyaman dan cukup luas. Ketika pertama kali melihatnya, Azira langsung menyukai tata letaknya.


"Kami tidak akan lama karena Umi dan Abah menunggu di rumah. Kami ke sini ingin membeli makanan saja dan membawanya pulang ke rumah. Jadi tolong berikan kami menu rekomendasi tempat makan kamu." Kata Kenzie setelah mereka bertiga duduk di dalam ruangan.


Mendengar apa yang dia katakan Nabil merasa kecewa. Jarang-jarang bagi mereka untuk bertemu apalagi berkumpul seperti ini.

__ADS_1


"Kamu membuatku kecewa. Tapi karena Umi dan Abah menunggu kamu di rumah, maka aku akan memaafkan kamu. Lain kali berjanjilah datang ke sini untuk makan, aku akan menyiapkan kamu menu terbaik di restoran ku." Kata Nabil menyesalinya.


"Insya Allah." Kenzie tidak berkomitmen akan datang lagi ke sini.


"Um... Aku ingin ke toilet." Ketika mereka berbicara Azira menyela.


Pasalnya dia sudah tidak tahan lagi.


"Toilet ada di sebelah kanan ketika kamu keluar dari ruangan ini. Lurus aja berjalan ke kanan, dan kamu akan melihat toilet umum." Nabil buru-buru menjelaskan Azira.


Azira dengan patuh mendengarkan. Dia agak gugup di dalam hatinya tapi di luar, dia terlihat sangat tenang.


"Terima kasih. Aku akan pergi dulu. Kalian bisa melanjutkan pembicaraan kalian." Baru saja Azira bangun dari tempat duduknya, tangan Kenzie tiba-tiba lengannya.


Kenzie berdehem ringan,"Apakah kamu aku temani ke sana?" Wajah Kenzie masih datar ketika berbicara, namun Azira dapat merasakan sentuhan lembut di dalam nada suaranya.


Azira gugup bercampur malu. Dia bahagia dengan perhatian kecil ini.


"Tidak...tidak perlu, mas. Aku bisa kok sendiri." Tolak Azira malu.


Bagaimana mungkin dia membiarkan suaminya menunggu di luar toilet sendirian?

__ADS_1


Apalagi ini adalah toilet umum di mana banyak orang hilir mudik masuk ke dalam toilet. Tidak apa-apa kalau pengunjungnya laki-laki saja, bagaimana kalau perempuan, dan lebih bagaimana lagi kalau itu perempuan....genit?


Mana tahan Azira membiarkan suaminya digoda oleh perempuan lain!


"Um, hati-hati. Langsung kembali setelah kamu selesai."


Hati Azira meleleh. Dan dia merasa semakin malu ketika merasakan pandangan Nabil yang terus tertuju kepadanya.


"Iya, mas."


Setelah akhirnya keluar dari ruangan, Azira kehilangan senyum di wajahnya. Dia melirik ke pintu dengan tatapan kebingungan. Pasalnya sejak awal datang ke sini Nabil terus-menerus memandang ke arahnya. Bukan karena Azira merasa percaya diri atau terlalu sok cantik sehingga Nabil tak bisa memalingkan mata darinya, tidak, ini bukan tentang hal itu.


Justru sebaliknya, Azira merasa sangat tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Nabil. Karena Nabil memandangnya dengan cara yang aneh, sebut saja penilaian.


"Kenapa teman mas Kenzie agak aneh? Dia sangat ramah kepada kami, namun entah kenapa aku merasa kalau mas Nabil sepertinya tidak terlalu menyukaiku." Gumam Azira sambil menggaruk wajahnya yang tidak gatal.


"Mungkin ini hanya perasaanku saja? Yah, bisa jadi. Soalnya kesan yang kutinggalkan kepada teman-teman mas Kenzie gara-gara pernikahan itu pasti sangat buruk. Wajar bila mereka tidak menyukaiku. Tidak apa-apa, seiring waktu aku pasti bisa memperbaikinya." Azira segera menenangkan dirinya dan berusaha berpikir positif.


Azira menganggap dirinya terlalu berlebihan dan mudah sekali berpikiran negatif. Dia tidak senang dengan hal ini jadi dia akan berusaha untuk mengendalikan dirinya agar jangan terlalu berlebihan atau suka memikirkan hal-hal negatif. Sekarang dia telah memulai kehidupan baru, sudah saatnya dia memperbaiki dirinya sendiri agar layak di sisi suaminya.


Tak mau terjerat lagi, dia melanjutkan langkahnya menuju toilet yang tidak terlalu jauh. Berjalan beberapa meter ke depan, dia bisa melihat penanda toilet. Kakinya langsung berjalan cepat masuk ke dalam toilet untuk menuntaskan masalah pribadinya.

__ADS_1


Bersambung...


Alhamdulillah, besok semuanya akan kembali normal. baik di sini ataupun di sana, saya akan update. Jadi tolong bersabar, terima kasih.


__ADS_2