Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 32.1


__ADS_3

Malam harinya selesai shalat isya, Kenzie membawa Azira keluar dari kamar. Mereka keluar tepat saat semua orang bersiap makan malam. Awalnya Mona akan pergi ke sana memanggil mereka. Tapi dia baru saja setengah berjalan, dia bertemu dengan Kenzie dan Azira. Malam ini mereka terlihat jauh menyegarkan dari tadi sore. Terutama Kenzie yang paling mencolok. Sejak keluar dari kamar dia tidak pernah berhenti tersenyum. Hal ini berbanding terbalik dengan kebaikan orang-orang di luar. Banyak orang yang mengira bila Kenzie sangat marah dengan kejadian tadi sore. Mungkin dia akan memasang wajah masam kemanapun dia melangkah, seolah-olah semua orang yang dia temui berhutang uang kepadanya.


Namun lihatlah penampilan konyol Kenzie sekarang. Beberapa orang cerdas langsung menebak jika Kenzie baru saja mendapatkan asupan gizi dari sang istri. Maka dari itu mereka diam-diam menggoda Kenzie. Wajahnya memang tidak terlihat malu, terkesan tidak peduli, tapi warna merah di ujung telinganya telah mengkhianati, memberitahu memberitahu semua orang bahwa dia sedang malu.


"Azira, kamu sangat kuat." Puji salah satu bibi bercanda.


Wajah Azira langsung panas. Tanpa bertanya pun dia langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini.


"Hei, jangan menggoda menantuku. Dia berkulit tipis, lihat saja betapa merah wajahnya sekarang." Umi melambaikan tangannya ikut bercanda.


Azira tidak merasa lega dengan bantuan Umi. Dia malah semakin malu mendengarkan apa yang Umi katakan. Menjadi bahan pembicaraan banyak orang, Azira menoleh ke belakang melihat suaminya yang sedang dikepung oleh beberapa laki-laki. Nasib mereka berdua tidak jauh berbeda. Tiba-tiba dia bertanya di dalam hatinya mungkinkah keputusan tadi sore salah?


Apakah mereka berdua mengambil waktu yang salah?


Namun Azira tahu tak ada gunanya menyesali semua ini sekarang.


"Aku pikir kejadian tadi membuat Azira terguncang. Tapi ternyata dia tidak kenapa-napa. Dan malah pergi bersembunyi di dalam kamar sama suaminya. Kalian memang pasangan muda!" Seorang bibi menggelengkan kepalanya.


Umi langsung membela Azira,"Karena itulah mereka disebut sebagai pasangan muda. Jika mereka disebut sebagai pasangan tua, Azira pasti sudah lama bergabung dengan kita para wanita paruh baya." Kata-kata Umi langsung disambut gelak tawa orang-orang di sini.


Untuk sejenak Azira tidak tahu harus meletakkan tangannya dimana dan membawa langkah kakinya ke mana. Dasarnya dia sangat malu sekarang. Kalau bisa dia ingin kembali ke kamar untuk bersembunyi saja.


"Sudah, sudah, sudah... Kita jangan terlalu banyak bicara. Mereka berdua pasti lapar setelah seharian 'berdiskusi' di kamar." Seorang bibi menyelamatkan Azira dari situasi canggung ini.


Azira sedang hamil, hamil besar, oleh karena itu dia memiliki nafsu makan yang sangat besar. Belum lagi hari ini dia telah menghabiskan banyak tenaga setelah banyak beraktivitas, Bibi merasa bila Azira mungkin sangat kelaparan sekarang.


"Ayo, Azira ikut aku ke ruang makan. Aku dan bibi kamu yang lain sudah menyiapkan banyak makanan untuk kamu. Mulai dari kue hingga makanan berat, kami membuatnya khusus untuk kamu. Lihatlah perut kamu yang besar, anak di dalam sana pasti sangat kelaparan sekarang. Ayo segera isi perut kamu agar si kecil tidak membuat masalah." Bibi membantu Azira pergi ke ruang makan.


Umi dan yang lainnya juga mengikuti di belakang. Sesungguhnya mereka sudah makan duluan. Tepatnya mereka makan di sore hari bersama-sama sehingga malam ini mereka tidak terlalu lapar. Mereka pergi ke ruang makan karena ingin menemani Azira makan sambil mengobrol dengan keluarga Ibu Azira.


Untung saja kedua belah pihak tidak canggung saat berkomunikasi. Mereka semuanya nyambung dan tidak merasa canggung, Azira sangat bersyukur.


"Astagfirullah, Abah kamu dan yang lainnya keterlaluan. Padahal Umi udah bilang kalau Kenzie harus makan malam sama kamu, tapi kenapa mereka malah menahan suami kamu di sana?" Umi menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


Seorang bibi berceletuk,"Biasalah, omongan para laki-laki. Tidak usah heran. Azira, kamu makannya sama kami aja. Nanti suami kamu menyusul dengan lain." Katanya tak mau ambil pusing.


Azira mengangguk pelan. Dia nurut saja apa yang dikatakan oleh para bibinya. Lagian dia juga malu bila disatukan dengan Kenzie sekarang, orang-orang ini pasti akan terus menggodanya.


"Iya, bibi."


Umi mengambil makanan untuk Azira dan meletakkannya tepat di depan. Setelah menaruh makanan, dia mengambil air minum putih dan segelas susu coklat hangat di samping Azira. Memudahkannya ketika ingin minum air.


"Terima kasih, Umi." Kata Azira dalam suasana hati yang baik.


Dia merasa malu diperlakukan sebaik ini oleh Umi. Di saat yang sama Azira juga merasa hatinya menghangat mendapatkan perlakuan hangat dari Umi. Dulu sewaktu tinggal di rumah Ayah, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh mereka. Bahkan sekelas pelayan saja meremehkan posisinya di rumah itu apalagi mereka yang berstatus lebih tinggi?


Azira rasanya ingin tertawa mengingat waktu yang dihabiskan di rumah Ayah. Tidak sampai 1 bulan tapi sangat berkesan untuknya. Karena pelayanan dan bentuk rumah yang mewah, Azira sampai berpikir bila ayahnya adalah orang yang sangat kaya. Dia mungkin termasuk dalam jajaran orang terkaya di kota ini. Tapi setelah masuk ke dalam Kenzie, dia akhirnya memahami pepatah yang mengatakan masih ada langit di atas langit. Bahwa masih ada orang kaya di atas orang kaya. Dibandingkan dengan rumah Ayah, rumah Kenzie jauh lebih baik tapi lebih sederhana tidak semewah milik ayah. Tentu saja, bentuk rumah menunjukkan karakter orang yang ada di dalam rumah tersebut. Sesuai dengan dekorasi mewah yang ada di dalam rumah ayah, mereka yang tinggal di sana pun memiliki karakter yang agak sombong. Sangat suka memandang orang yang lebih lemah dari mereka sendiri.

__ADS_1


Sementara rumah Kenzie yang di dekorasi dengan kesederhanaan, jelas menampilkan karakter orang yang tinggal di dalamnya. Mulai dari Abah, Umi, Sasa, Mona, dan Kenzie adalah orang-orang yang sangat baik juga berhati lembut. Sekali lagi Azira merasa sangat beruntung dapat masuk ke dalam rumah ini, rumah yang bersedia menerimanya dan rumah yang bersedia menjadi rumahnya bersandar.


"Makan yang banyak Azira, jangan melamun." Tegur Umi ketika melihat Azira masih belum menyentuh makanan di atas meja.


Azira langsung tersadar dari lamunannya. Dia melihat perhatian semua orang kini tertuju kepadanya. Mereka mengawasi Azira, mencoba melihat apa yang Azira sedang pikirkan. Namun saat melihat tidak ada yang salah dengan Azira, tidak ada ekspresi suram ataupun sedih, mereka akhirnya merasa lega.


Ini karena mereka takut Azira masih terguncang oleh kejadian tadi sore. Pasalnya itu sangat menakutkan dan menegangkan. Ada banyak kejutan yang mereka temukan yang mengarah pada satu titik, membuat mereka semakin bersimpati kepada Azira. Berpikir bahwa Azira adalah anak yang sangat kuat dan penyabar.


Hanya dalam waktu yang sangat singkat, kesan mereka berubah terhadap Azira. Pokoknya mereka semakin menyukai Azira.


"Iya, Umi. Tiba-tiba aku berpikir ingin makan es krim buah. Apakah Azira boleh?" Tanya Azira dengan nada manja.


Umi mengusap puncak kepala menantunya sayang.


"Boleh saja, tapi makannya dibatasi. Kebetulan Mona membawa banyak es krim buah ke sini tadi sore. Kalau Umi tidak salah dia menaruh es krimnya di kulkas. Nanti kamu bisa memakannya setelah menyelesaikan makan malam kamu."


Mona sangat aneh. Dia membawa es krim buah ke sini tapi tidak mau memakannya. Jika dia tidak mau memakannya, lalu kenapa dia membawa es krim buah itu ke sini?


Umi dan yang lainnya sama sekali tidak mengerti. Ketika ditanya, Mona menolak menjawab dan hanya berkata bila ada yang ingin memakannya maka makan saja, dia tidak keberatan. Alhasil es krim buah itu diserbu oleh beberapa anak. Dan sekarang hanya meninggalkan beberapa biji di dalam kulkas.


Umi rasa untuk ukuran Azira dia hanya bisa memakan satu atau dua, lebih dari ini Umi tidak akan mengizinkannya.


"Benarkah? Mona kok nggak bilang-bilang sama aku bawa es krim buah?" Azira merasa heran sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Mulutnya menggembung seperti seekor hamster yang sedang makan. Tampak lucu.


"Oke, jangan banyak ngomong. Makan makanan dan berbicara setelah selesai makan." Umi menepuk pundak Azira.


Azira nurut saja. Karena Umi tidak mengizinkannya makan sambil berbicara. Maka dia tidak pernah berbicara lagi dan hanya fokus makan. Dia makan sambil mendengarkan keluarganya berbicara. Sesekali keluarga dari ibunya akan menyapa, menceritakan beberapa hal di desa setelah dia pergi. Mereka juga menceritakan tentang perubahan desa yang sangat pesat. Bila Azira pergi ke sana satu nanti, maka dia pasti akan terkejut melihat desa yang jauh lebih baik daripada terakhir kali Azira melihatnya.


Azira sudah tidak ingat. Dia tidak tahu bagaimana rupa desa sebelum dia pergi. Namun karena bibinya berbicara, Azira tidak mengelak atau menolak mendengarkan. Selama percakapan dia terus-menerus mengangguk, bila dia tidak setuju, maka dia akan menggelengkan kepalanya. Sikapnya yang penurut membuat para wanita paruh baya di ruangan ini merasa lembut, mereka seolah melihat seorang anak kecil yang tengah diceramahi oleh orang tuanya. Menggemaskan.


"Coba buah ini. Aku membawanya dari gunung di dekat rumahku. Rasanya manis dan menyegarkan, sangat cocok untuk wanita hamil." Selesai makan Azira langsung disuguhi sepiring buah-buahan lokal yang telah dikupas dan dipotong kecil-kecil.


Warna dan bentuknya sangat menggoda. Mulutnya langsung berliur ingin segera memakannya.


"Terima kasih, bibi. Kapan-kapan aku akan berkunjung bersama suami dan keluargaku ke desa." Ucap Azira sopan.


Setelah itu dia langsung memasukkan sepotong buah ke dalam mulutnya.


"Um, ini benar-benar manis. Umi, bibi, silakan dicoba." Azira meminta yang lain untuk mencobanya juga.


"Kami sudah mencobanya lebih dulu. Makanlah, kamu terlihat sangat menyukainya. Jadi makan sepuas yang kamu bisa." Mereka sudah memakan buah-buahan di sore hari bersama yang lain.


Untung saja paman dan yang lainnya membawa banyak buah-buahan ketika datang ke sini sehingga semua orang bisa mencicipi. Dan respon rata-rata semua orang menganggap bahwa buah-buahan yang mereka bawa manis dan menyegarkan, rasanya jauh lebih enak daripada buah-buahan yang dijual di supermarket.


"Aku memang menyukainya. Apakah masih ada yang lain? Aku ingin memakannya besok." Azira bertanya polos kepada bibinya.

__ADS_1


Bibinya sangat senang Azira menyukai buah-buahan yang mereka bawa dari kampung. Padahal dia sempat khawatir Azira tidak terlalu menyukai buah-buahan ini karena menurut mereka buah-buahan yang dijual di supermarket sepertinya memiliki kualitas yang lebih bagus.


Tapi melihat respon Azira sekarang, Bibi merasa semakin percaya diri.


"Ada, masih ada. Kami semua membawa banyak saat datang ke sini. Kamu bisa memakannya hingga beberapa hari ke depan." Jawab Bibi buru-buru menjawab.


Azira tersenyum lebar. Dia mengangguk senang lalu memasukkan beberapa potongan buah lagi ke dalam mulutnya.


Dia makan dengan lahap.


"Sejak hamil dia memang sangat menyukai buah-buahan. Dalam satu hari dia bisa menghabiskan 2 kilo lebih buah-buahan jika tidak dikontrol. Namun untung saja Kenzie bisa mengontrol asupan makanannya sehingga dia makan seimbang dan tidak berlebihan. Ngomong-ngomong, rasa buah-buahan ini sangat lezat. Apakah buah-buahan ini hanya tumbuh di gunung saja?" Tanya Umi sambil memegang buah mangga yang masih utuh.


Kulitnya bersih dan tampak menarik. Tidak jauh berbeda dengan yang ada di supermarket. Jika mereka menyuguhkan para tamu dengan buah-buahan ini, para tamu pasti berpikir jika buah-buahan ini berasal dari supermarket.


Umi berpikir karena Azira sangat menyukainya, maka dia berharap bisa memasok buah-buahan ini sebanyak mungkin di rumah agar Azira bisa makan sepuasnya.


"Tentu saja buah-buahan ini juga ditanam di halaman rumah. Tapi dibandingkan dengan di rumah, buah yang kami petik di gunung jauh lebih manis dan segar. Seperti halnya buah leci ini, bentuknya besar-besar dan bijinya kecil juga memiliki rasa yang manis. Buah ini sangat disukai oleh anak-anak di desa. Terkadang saat waktu panen tiba, buah ini lebih banyak dibagikan kepada anak-anak di desa." Bibi menjelaskan sambil tersenyum ramah.


Aura warga desa yang sederhana begitu melekat pada diri bibi. Membuat Azira dan yang lainnya sangat nyaman berbicara dengan bibi.


"Oh, kenapa bibi tidak mau menjualnya ke pasar saja?" Pasti menghasilkan banyak uang pikir Azira.


Bibi tersenyum, kemudian menjelaskan,"Bila dijual di musim panen maka harganya akan sangat rendah dan tidak bernilai banyak uang, tapi bila dijual saat bukan musim panen, harganya pasti mahal dan bernilai banyak uang. Tapi sayang sekali buah-buahan ini hanya keluar pada musim panen dan jarang sekali muncul di waktu bukan musim panen. Jadi kami jarang menjualnya dan berpikir lebih baik memakannya sendiri saja."


Apa yang bibi bilang masuk akal. Memang tidak ada harganya jika sedang musim panen karena pasokan datang dari mana-mana. Tapi ceritanya akan berbeda jika bukan musim panen. Harganya akan melonjak tinggi dan dapat menghasilkan banyak uang. Tapi masalahnya buah yang dihasilkan seperti ini rata-rata di usaha pertanian yang merawat pohon buah dengan alat-alat canggih. Sedangkan mereka orang-orang di kampung yang hanya mengandalkan kekuatan alam tidak akan mampu melakukan trik itu. Serahkan saja semuanya kepada alam, jika berbuah tinggal dipanen, tapi jika belum berbuah maka tunggu saja lebih lama.


"Makan sendiri memang jauh lebih enak."


Lalau pembicaraan berjalan lancar hingga Azira menghabis sepiring buah-buahan. Tapi dia belum merasa kenyang. Dia ingin makan es krim buah yang Mona bawa. Umi sangat pengertian. Tanpa Azira berbicara dia langsung tahu apa yang dia inginkan. Dia pergi mengambil es krim di kulkas, hanya tersisa 3 cup saja dengan rasa yang sama, yaitu nangka.


Umi mengambil satu cup dulu untuk Azira. Ketika dia kembali ke meja makan, Kenzie sudah makan. Dia makan dengan lahap, terlihat sangat kelaparan. Pasti dari tadi dia menahan lapar saat berbicara dengan para laki-laki di dalam.


"Makan pelan-pelan, nanti mas Kenzie tersedak." Azira membantu menyiapkan makanan untuknya.


Meskipun dia kesulitan bergerak, tapi dia berusaha melayani suaminya di meja makan. Mengambilkan makanan untuknya, menyiapkan air minum untuknya dan tidak lupa mengawasinya makan. Saat melihat pemandangan ini, Umi merasa... Sangat kesal dengan putranya!


"Istri kamu lagi hamil besar dan kecapean, masih aja kamu suruh-suruh layani kamu di meja makan. Memangnya kamu nggak punya tangan?"


Kenzie hampir saja tersedak mendengar kata-kata tajam Uminya. Orang-orang di meja makan tertawa terbahak-bahak melihat wajah sembelit Kenzie yang belum habis menelan makanannya.


Untungnya Azira langsung memberikannya air minum.


"Mas, minum pelan-pelan." Kata Azira sambil menggosok punggung suaminya.


Bersambung...


Bentar lagi tamat🍃

__ADS_1


__ADS_2