Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 29.5


__ADS_3

Rasa sayang Kenzie kepada istrinya sangat sulit untuk diungkapkan. Dia bingung bagaimana mengungkapkannya tapi dia tahu bahwa bila istrinya tersenyum malu atau tertawa, dia akan merasa sangat bahagia melihatnya. Maka dari itu bila ada kesempatan dia sesekali akan bercanda atau menggoda istrinya untuk membuat tertawa ataupun tersenyum.


Pokoknya selama Azira bahagia dia pun juga akan bahagia. Bahagia ternyata sesimpel itu.


"Terima kasih, mas...tapi aku mau koreksi, mas Kenzie bukan angsa tapi bebek angsa yang galak!" Azira tertawa lagi.


Perut besarnya bergetar hebat karena tawanya.


Kenzie tidak berdaya dibuatnya.


"Okay, panggil saja aku bebek angsa galak."


"Tapi ngomong-ngomong, mas. Kok aku ngerasa pakaian Mona sama kak Al kelihatannya pasangan, yah? Mas Kenzie liat nggak?"


Iya, Azira ingat Mona menggunakan pakaian gamis dengan bordir daun di sisi dadanya. Sementara pakaian Al tadi juga memiliki bordir daun, tapi di bagian kerah bajunya. Selain itu mereka berdua juga memiliki warna baju yang sama, akan sangat aneh jika Azira tidak memperhatikan kelainan ini.


Kenzie menyipit. Menatap ke arah perginya Al beberapa saat yang lalu.


"Aku tidak memperhatikannya." Jawabnya samar.


Azira mengangkat bahunya. Karena suaminya tidak melihatnya maka Azira tidak ingin terlalu memikirkannya. Mungkin... Mungkin itu hanya perasaannya saja.


"Okay, bebek angsa galak! Ah...apa yang harus aku lakukan, mas? Aku tidak bisa melupakan apa yang kak Al katakan!"


Kenzie geli. Dia mencubit pipi istrinya gemas.


"Pikirkan aku!"


Azira terus tertawa dan perlahan mulai mereda ketika mendengar suara adzan berkumandang. Saat adzan berkumandang, semua orang melepaskan aktivitas masing-masing. Diam-diam mendengarkan adzan sembari menjawab adzan di dalam hati. Setelah adzan selesai berkumandang, Kenzie membantu Azira berdiri untuk melaksanakan sholat ashar berjamaah di sini.


"Biar Umi saja." Umi dan bibi datang mengambil alih Azira.


Kenzie tenang.

__ADS_1


"Terima kasih, Umi."


Umi mengangguk. Dia meminta Kenzie untuk segera memimpin orang-orang untuk mempersiapkan sholat. Sholat berjamaah di imami oleh Kenzie sendiri jadi dia perlu membuat persiapan sementara Azira dibawa pergi oleh Umi dan bibi.


Azira bisa sholat sendiri meskipun gerakannya agak canggung karena volume perutnya yang besar. Saat sholat bersama suaminya di dalam kamar, dia bisa menahannya. Tapi karena di sini ramai dan memiliki banyak pasang mata yang melihat, Umi memutuskan untuk membiarkan Azira sholat dengan posisi duduk. Situasi Azira sekarang sangat tidak cocok berada di keramaian ketika melaksanakan sholat makanya keputusan ini dibuat. Azira pun mengakui bahwa dia mulai kewalahan dengan kondisi perutnya.


Umi dan bibi membantu Azira menggunakan mukena. Mendudukkannya di sofa agar bisa ikut sholat.


Lalu, sholat akhirnya bisa dimulai. Dari tempat Azira sholat, dia bisa mendengar suara lembut suaminya memberi cerah ayat-ayat suci Al-Qur'an di depan sana. Suaranya begitu lembut namun membuat hati menjadi candu, menyirami hati-hati yang tengah terkekang dalam kerinduan terhadap Rabb, Allah yang maha kuasa. Terhanyut dalam kerinduan, Azira menikmati setiap langkah spiritual kalbu yang mengalir di dalam jiwa. Hingga 10 menit kemudian shalat ashar akhirnya telah selesai dilaksanakan.


Mereka berzikir sebentar lalu kemudian memulai pengajian yang diawali dengan membaca Al-Qur'an, setelah itu membaca doa keselamatan sembari memohon ridho Allah atas keselamatan Azira dan kandungannya. Setelah selesai, orang-orang beralih mendengarkan sebuah ceramah dari seorang ustad yang cukup terkenal di kota mereka. Isi ceramahnya berputar pada topik hubungan Ibu dan anak. Secara garis besar membahas masalah apa yang akan seorang Ibu lakukan untuk anaknya ketika lahir nanti dan kewajiban apa yang akan anaknya berikan kepada Ibunya nanti. Terkesan membosankan bagi orang-orang yang tidak suka mendengar ceramah, tapi, karena pembawaannya lucu dan seringkali mengundang gelak tawa orang-orang, mendengarkan ceramah tidak terlalu membosankan.


Selesai ceramah, semua orang bisa mengambil makanan di meja prasmanan yang telah disediakan. Menu yang disiapkan cukup banyak. Mulai dari lontong, nasi putih, nasi dan jagung, hingga nasi merah, orang-orang bisa memilih apa yang mereka makan dengan menu lauk yang kaya. Tentunya ada daging ayam, daging sapi, daging kambing, telur dan sayuran. Tidak lupa ada berbagai macam buah-buahan dan kue yang dibuat manis juga lucu-lucu sebagai pencuci mulut.


"Sayang, kamu mau makan apa?" Kenzie langsung menghampiri istrinya setelah acara selesai.


Azira melihat keramaian di meja prasmanan.


Kenzie tersenyum.


"Katakan saja. Nanti aku ambilkan. Khusus hari ini kamu bisa makan berbagai macam gorengan yang telah kita siapkan. Makan sepuas kamu."


Azira tidak tahu kalau ada gorengan juga di sini. Tapi melihat keramaian di sana, dia ragu.


"Nanti aja, mas. Aku belum terlalu lapar." Azira masih menolak.


"Baiklah, mau jalan-jalan?"


Umi langsung menusuk,"Jalan-jalan! Lihat tuh mertua kamu. Dia ada di sini. Pergi sana, temui mereka!"


Ketika mendengar apa yang Umi dikatakan, tubuh Azira langsung menegang. Tanpa sadar kepalanya terangkat mengikuti ke arah mana tangan Umi menunjuk. Tak jauh dari dia dan suaminya duduk, dia melihat ayah serta ibu tirinya tengah mengobrol dengan beberapa orang. Sepertinya mereka datang terlambat atau sengaja datang agak terlambat. Mereka tidak ikut sholat berjamaah ataupun mendengarkan pengajian beberapa saat yang lalu.


Ketika matanya menangkap sosok Ayah yang telah lama tak dia lihat, hatinya berdesir gugup. Mau bagaimanapun Ayah adalah orang tuanya, mereka memang tidak pernah akrab dan karena masa lalu hubungan mereka tidak sebaik itu tapi tetap saja Ayah adalah orang tuanya. Dia tidak bisa membenci ayah sekejam apapun yang Ayah telah lakukan dalam hidupnya.

__ADS_1


"Mereka datang terlambat karena jalanan macet. Samperin gih, sapa mereka dengan lemah lembut." Kata Umi kepada mereka berdua.


Keluarga mereka tidak memiliki kesan yang baik terhadap ayah. Karena penipuan itu, semua hubungan terputus. Tapi yang namanya silaturahmi tak baik diputuskan karena memutuskan hubungan silaturahmi adalah sebuah tindakan yang tidak disukai oleh Allah. Ada baiknya saling memaafkan. Terlebih lagi mereka sudah berjalan di kehidupan masing-masing.


"Iya, Umi. Aku akan membawa istriku pergi menemui ayah dan Mama." Kenzie bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu Azira bangun.


Saat menyentuh telapak tangan istrinya, dia mengetahui bahwa istrinya pasti sangat gugup karena telapak tangannya berkeringat dingin.


"Jangan takut, kamu memiliki aku bersama kamu." Ucap Kenzie menghibur suasana gugup istrinya sembari meremas tangan.


Umi tersenyum haru melihat kedekatan putranya dengan sang menantu.


"Benar Azira, jangan terlalu gugup. Selain ada suami kamu di sini, Umi dan Abah akan selalu menemani kamu. Yakinlah bahwa bertemu dengan mereka tidak seburuk itu, kalaupun menemukan hal-hal yang tidak menyenangkan maka jangan takut ada kami yang akan selalu bersama kamu." Tegas Umi kepada menantunya tersayang.


Dia telah menganggap Azira sebagai menantu sekaligus putrinya. Maka dia akan memposisikan dirinya sebagai orang tua Azira. Sebagai orang tua mustahil dia membiarkan putrinya berdiri sendiri menghadapi badai, selama dia mampu, Umi akan menjadi tameng pertama yang akan menghadapi badai itu duluan sebelum putrinya.


"Iya, Umi. Aku tidak akan takut." Azira tersenyum malu.


Hatinya dibanjiri oleh perasaan hangat yang tiada berkesudahan. Sungguh rasanya sangat senang, kebahagiaan di dalam hati tidak mampu diungkapkan dengan sebuah kata-kata. Intinya dia sangat senang dan sungguh sangat bersyukur karena Allah memberikannya kenikmatan yang begitu besar hingga ia merasa lupa atas penderitaannya di masa lalu. Seolah masa lalu tidak pernah terjadi atau seakan-akan masa lalu adalah bagian dari mimpi buruknya.


Ya Allah, ternyata begini rasanya bahagia. Dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan mencintai aku apa adanya. Ya Allah, Engkau begitu baik kepadaku. Sungguh hatiku tak bisa berhenti mengucapkan syukur kepada Mu, ya Allah. Batin Azira terharu.


"Bagus, ayo bangun dan temui mereka. Ayah mu pasti sudah mama merindukan kamu." Kata Umi.


Merindukannya?


Azira tidak tahu, entahlah. Daripada merindukannya Azira lebih percaya bahwa ayah ingin sekali dia terjatuh. Karena kekacauan yang dia sebabkan beberapa waktu yang lalu. Mustahil bila ayah mengharapkannya kembali untuk bertukar kasih sayang. Siapa ayahnya?


Dia tahu betul seperti apa orang itu.


Namun meskipun dia merasa pesimis, Azira tetap berharap bahwa mungkin saja Allah membuka pintu hati ayahnya seperti cara Allah membuka pintu hati orang-orang di sekelilingnya. Dia berharap bahwa hubungan mereka bisa diperbaiki terlepas dari masa lalu pahit di antara mereka.


Azira berjalan bersama dengan suami dan mertuanya. Suasananya sangat harmonis dan segera menarik perhatian beberapa orang. Jelas aja kedekatan mereka mengundang kecemburuan banyak orang karena jarang sekali mereka mendapati hubungan diantara mertua dan menantu akur. Tentu saja ada, namun rata-rata tidak sebaik it

__ADS_1


__ADS_2