
Pagi-pagi keesokan harinya Amara bangun dalam suasana hati yang baik. Dia masih berada di rumah sakit dan tidak tidak memiliki rencana keluar untuk sementara. Alerginya memang parah. Namun tidak butuh waktu lama untuk pulih setelah mendapatkan penanganan dari rumah sakit. Dokter bilang dia sudah bisa kembali ke rumah karena dia telah pulih. Namun dia menolak dan bersikeras bahwa dia belum sembuh. Jadi dengan keras kepala dia bertahan di rumah sakit hingga hari ini. Tentu saja dia menunggu Kenzie datang menjenguknya. Dia percaya bahwa Kenzie akan datang mencarinya.
"Oh." Amara langsung tertarik dengan pesan baru di ponselnya.
Bibirnya tersenyum lebar membuka pesan itu.
"Ah, video?" Lalu klik, video itu segera diputar di layar ponselnya.
Beberapa detik kemudian senyuman lebar di wajahnya perlahan mengendur kehilangan pesonanya. Wajahnya membeku. Untuk beberapa detik matanya terpaku menatap layar ponsel. Tak berkedip sekalipun. Sampai akhirnya dia tersadar.
"Apa... Video rekaman CCTV rumah sakit, dari mana dia mendapatkan video ini? Tidak mungkin, mas Kenzie tidak mungkin memberikannya rekaman CCTV. Kalau bukan dari mas Kenzie, terus darimana Azira mendapatkan video ini!" Dia tidak tenang, dia sama sekali tidak bisa tenang.
Padahal rencananya sudah bagus kemarin. Azira sakit hati melihat dia dan Kenzie makan siang bersama. Tapi siapa yang mengira Azira akan membalasnya langsung dengan sebuah rekaman video yang diambil dari CCTV rumah sakit. Sebenarnya tanpa bantuan Kenzie, Azira pasti tidak bisa mengakses rekaman CCTV rumah sakit. Tapi karena dia menyukai Kenzie, dia menolak gagasan ini. Poin kuncinya, dia menolak mempercayai jawaban yang sudah jelas-jelas ada di depan matanya.
"Enggak! Enggak! Enggak! Ini nggak mungkin! Enggak mungkin!" Amara berteriak histeris di dalam kamar rawat inap.
Suara teriakannya mengejutkan satu-satunya orang yang tengah tertidur di ruangan ini. Siapa lagi kalau bukan Nabil. Dia terjatuh dari sofa sangking kagetnya dan bergegas bangun menghampiri Amara.
"Apa yang terjadi... Ada apa? Apakah kamu baik-baik saja?" Cerca Nabil khawatir.
Amara menggelengkan kepalanya marah menolak menjawab. Dia langsung melemparkan ponsel itu ke dada Nabil. Kembali merebahkan dirinya di atas kasur untuk berpikir keras apa yang harus dilakukan.
Apa yang selanjutnya harus dilakukan?
Harusnya hubungan Kenzie dan Azira menegang dari kejadian hari itu. Dan harusnya Kenzie telah membawa Azira ke sini untuk meminta maaf kepadanya seperti yang dikatakan oleh Nabil. Malam itu Kenzie berjanji akan membawa Azira ke rumah sakit untuk meminta maaf kepadanya. Tapi sudah tiga hari berlalu, Amara tidak kunjung melihat kenzie datang apalagi sampai membawa Azira ke sini.
Ah, ini sangat membingungkan. Kenapa rencananya tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan?
Amara sama sekali tidak mengerti!
"Ini.... Dari mana kamu mendapatkan video ini?" Tanya Nabil muram.
Amara berbicara sinis."kenapa kamu tidak langsung bertanya kepadanya? Coba tanya, dari mana dia mendapatkan video itu?" Ucapnya tanpa nada sopan seperti waktu-waktu sebelumnya.
Dia kali ini benar-benar marah. Sangat marah sampai-sampai dia berharap bisa memakan Nabil dan mengunyahnya hidup-hidup.
"Kak Nabil, kamu bilang hubungannya dengan Azira tidak terlalu baik. Tapi kenapa dia bisa mendapatkan video ini? Tanpa bantuan dari mas Kenzie, Mungkinkah orang biasa yang tidak memiliki hubungan apapun dengan rumah sakit masih bisa mengakses?" Tanya Amara mengejek.
Sekarang dia sangat kesal. Tanpa sadar dia menyadari jawabannya sendiri.
"Aku juga tidak tahu. Tapi menurut pengamatanku hubungan mereka tidak benar-benar bagus. Apalagi setelah kejadian beberapa hari yang lalu, menurutmu apakah Kenzie masih mempercayainya?" Apa yang dikatakan oleh Nabil memang masuk akal.
Mungkinkah Kenzie mempercayai orang yang memiliki noda di dalam hidupnya?
"Aku tidak tahu. Kenapa tidak melihat situasinya nanti. Kak Nabil, aku ingin bertemu dengan mas Kenzie. Bagaimanapun caranya, hari ini aku harus bertemu dengannya." Kata Amara keras kepala.
__ADS_1
Habislah sudah kesabarannya. Dari kemarin dia mencoba bersabar menunggu Kenzie datang. Tapi sudah tiga hari berlalu dan belum ada kabar juga. Padahal teman-teman yang lain sudah mengerahkan mulut mulut kecil mereka untuk mendesak Kenzie datang ke sini tapi masih belum ada kabar baik!
Ini sungguh sangat menyiksa!
"Okay, hari ini aku sendiri yang akan mencarinya. Semoga saja dia tidak terlalu sibuk seperti kemarin-kemarin." Nabil tidak punya cara lain.
Sejujurnya dia pesimis berhadapan dengan Kenzie. Takutnya Kenzie tidak mau mendengarkan dan terus mengabaikannya seperti hari-hari yang lain.
Amara akhirnya bisa tenang sedikit.
"Kan Nabil harus cepat. Aku sudah sangat merindukan mas Kenzie." Kata Amara kembali ke mulut kecilnya yang manis.
Nabil mengangguk lemah. Jika sudah begini, dia tidak mood melanjutkan tidurnya lagi. Ah... Hidupnya sangat menyebalkan baru-baru ini.
"Hum, nanti aku akan pergi mencarinya." Dia meletakkan kembali ponsel Amara di atas nakas dan kembali beristirahat di sofa.
Dia tidak melanjutkan tidur, cuma menatap langit-langit kamar sambil berpikir bagaimana caranya menemui Kenzie. Selain sibuk Kenzie juga agak menjaga jarak darinya, jadi dia pusing bagaimana bicara dengan Kenzie nanti.
Ah... jika bukan karena keinginan adik sepupunya, dia tidak akan mau seperti ini.
...*****...
Pagi harinya Azira turun ke bawah membantu Umi memasak di dapur. Kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya dan dia juga banyak tersenyum. Semua orang sangat lega dengan perubahan Azira. Belum lagi mata mereka sakit melihat Kenzie terus menempeli Azira kemanapun dia pergi, seolah-olah Azira bisa menghilang jika dia tidak melihatnya sebentar.
"Kamu... Apakah kamu bisa berhenti?" Umi tidak tahan melihat putranya mondar-mandir kemana pun Azira berjalan.
Kenzie menatap Umi dengan tatapan polos.
"Aku harus berhenti apa, Umi?" Seolah-olah dia tidak pernah melakukan apapun.
Umi sakit gigi melihatnya. Memang bagus putranya berubah jadi orang yang manis dan lebih berwarna, tapi kalau perubahannya sampai sejauh ini, rasanya agak salah.
Um, Umi entah kenapa melihat bayangan serigala berekor besar di dalam putranya. Yah, lihat saja ekor besarnya itu yang akan bergerak liar bila dekat dengan Azira. Membuat Umi bertanya-tanya, apakah dia masih putranya?
"Berhenti mengikuti Azira. Dia lagi sibuk, jangan diganggu. Daripada membuat Azira repot, mending kamu bantu Abah mengurus tanah di depan. Abah mau bangun kolam ikan di depan biar ada tempat mancing." Kata Umi agaknya merasa frustasi.
Entah apa yang terjadi Abah tiba-tiba mau membangun kolam biar bisa mancing dan bersantai di hari tua. Selain itu Abah juga mulai ogah-ogahan mengurusi urusan perusahaan yang sempat membuat Umi sakit kepala.
"Abah mau bangun kolam?" Kenzie baru dengar.
"Buat hari tua. Sana pergi, kasihan Abah kamu." Dorong Umi.
Kenzie tidak bergerak. Matanya melirik punggung ramping istrinya yang tengah memasak di dapur. Melihat kemana mata anaknya memandang, Umi merasa gigi lebih sakit.
"Udah, pergi aja. Nanti Azira diawasi sama Umi." Katanya tidak tahan.
__ADS_1
Tapi Kenzie masih tidak bergerak di tempat.
Malu, Azira yang tidak tahan merasakan tatapan membara suaminya dengan pelan menoleh ke belakang.
"Nanti aku akan membawakan mas Kenzie dan Abah air minum atau makanan ke depan. Apakah mas Kenzie punya pesanan?" Kata Azira.
Kenzie tersenyum lebar.
"Tidak apa-apa, bawa saja apa yang bisa kamu bawa. Kalau begitu aku akan pergi ke depan dulu. Um... bila kamu membutuhkan sesuatu, bilang saja sama aku ke halaman depan." Jawab Kenzie setelah berpikir sebentar.
Azira mengangguk mengerti.
"Sudah...sudah, pergi sana. Kasian Abah kamu di depan." Usir Umi merasa pipinya mulai keram.
Kenzie kali ini langsung pergi dan tidak membuat masalah lagi untuk Umi.
"Cek, anak ini membuatku pusing. Apakah dia masih putraku? Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi orang yang lebih narsis?" Dumel Umi membicarakan putranya.
Mulutnya mengeluh tapi wajah tuanya yang berseri tak dapat menyembunyikan betapa bahagia hati Umi saat ini.
Azira yang mendengarkan di samping merasa malu. Soalnya Kenzie seperti ini gara-gara dia.
"Kak Azira, kakakku semakin narsis sekarang. Aku harap kakak tidak memasukkan ke narsisan kakakku ke dalam hati. Dia memang agak..." Suara Sasa semakin merendah sambil menunjuk ke kepalanya.
Mona menimpali di samping.
"Idih, yang mengalami masalah itu kamu bukan kak Kenzie. Tiap semester IPK bukannya bertambah tapi jadi semakin turun. Liat noh kak Kenzie, lulus sempurna dalam waktu 3,5 tahun, jurusan kedokteran lagi. Mana bisa dibandingin sama kamu yang lebih banyak tidur daripada belajar." Hina Mona tak memberikan wajah ke sepupunya itu.
Mulut Sasa langsung monyong ke depan. Dia paling pusing kalau soal kuliah. Ugh, dia tidak tahu mengapa Allah mengirimkannya seorang kakak dengan kemampuan otak tak biasa!
Sekarang dia kan yang di bully banyak orang gara-gara punya kemampuan otak yang berbeda.
"Jangan bicarakan itu lagi. Ini adalah aib aku memiliki kakak seperti dia." Sasa melambaikan tangannya tidak mau mendengar lagi.
Azira tertawa mendengar mereka berdua berdebat, itupun memperdebatkan suaminya.
"Kalian berdua berhenti membuat masalah. Jika kalian seperti ini, kapan kita bisa sarapan?" Umi ingin mencubit pipi mereka, tapi Sasa dan Mona kompak menghindar, langsung menjaga jarak sejauh mungkin dari Umi.
"Umi main tangan." Sasa mengancam.
Umi geram,"Ngomong lagi Umi bakal sunat kamu."
Sasa langsung kicep tidak membuat komentar apa-apa lagi.
"Fokus bekerja!" Perintah Umi kepada mereka berdua.
__ADS_1
Dengan enggan mereka berdua bekerja di dalam dapur. Sesekali mereka akan berbisik membicarakan beberapa hal. Tapi ketika diawasi Umi, mereka berdua langsung berhenti bicara!
"Hah...dasar anak-anak."