
Walaupun Ayah tidak ikut campur dalam rencana beberapa tahun yang lalu, tapi mama tahu bila suaminya ini tahu tentang rencananya dengan bibi Safa. Suaminya tahu namun berpura-pura tidak tahu, membiarkan mereka berdua melakukan apapun yang mereka inginkan kepada Ibu Azira dan Azira.
Sekarang di hadapan Putri mereka, dia tiba-tiba mengelak tidak mau mengakui tentang masa lalu. Mama merasa sangat tersinggung. Seolah-olah Ayah tidak mau menanggung semua kesulitan bersama-sama dan membiarkan mereka berdua menanggungnya.
"Oh, ya? Ayah tahu semua yang kami lakukan pada saat itu tapi kenapa Ayah diam saja? Menurutku sikap diam Ayah justru membuktikan bahwa Ayah menyetujui apa yang kami lakukan. Sekarang begitu masalah ini terungkap di hadapan banyak orang, Ayah menolak mengakui bahwa Ayah tahu tentang masalah ini. Tidak hanya Ayah menolak untuk mengakui tapi Ayah juga melemparkan semua kesalahan kepada kami berdua. Padahal tanpa tindakan diam-diam dari Ayah, kami berdua tidak akan mencapai hasil ini!" Kata Mama marah memuntahkan semua emosi di dalam hati.
Apa yang Mama bilang juga sama dengan yang bibi Safa pikirkan. Sebagai saudara bibi Safa merasa heran dengan sikap mengelak saudaranya ini. Padahal dia melakukan semua itu juga demi dirinya, tapi malah diberikan bahu dingin.
"Oke, aku mengakui bahwa aku tahu tentang masalah itu. Alasan kenapa aku memilih diam adalah karena aku tahu emosi kamu sedang terombang-ambing pada waktu itu. Jika aku meminta kamu menghentikan apa yang kamu lakukan kepadanya, maka kamu pasti berpikir kalau aku memiliki hubungan lain dengan Ibu Azira. Jadi untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan, aku membiarkan kalian berdua melakukan apa saja kepadanya. Okay, berhenti berbicara lagi. Kepalaku sudah pusing dengan pertengkaran hari ini. Jangan menambah beban pikiran lagi." Ayah melambaikan tangannya tidak mau mendengar mereka melanjutkan topik ini lagi.
Dia benar-benar sudah penat dengan semua masalah ini.
Apa yang dia katakan pun masuk akal. Saat ibu Azira datang ke tempat ini, sebenarnya Mama mengetahuinya dan menjalani hari-hari dalam kecemburuan. Apapun yang Ayah lakukan selalu disalahpahami oleh Mama.
Mama selalu berpikir kalau ayah keluar untuk bertemu dengan ibu Azira. Padahal Ayah tidak pernah mencari Ibu Azira lagi untuk menjaga perasaan istri keduanya.
"Humh!" Mama juga tidak mau berbicara lagi dengan ayah.
Dia merasa sangat marah.
"Jadi kalian memang sengaja melakukan itu? Ya Allah, ma, apa yang kalian lakukan itu adalah sebuah tindakan kriminalitas. Kalian semua melakukan perdagangan manusia dan hukumannya tidak main-main!" Kata Humairah tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang tuanya.
Perdagangan manusia adalah masalah yang sangat serius dan tidak main-main. Bila terbukti bersalah dua orang tuanya terancam masuk ke dalam penjara selama beberapa tahun lamanya.
Humairah tidak ingin keluarganya berakhir seperti ini tapi dia juga tahu bahwa keluarganya tidak memiliki jalan sebab apa yang mereka lakukan memang keterlaluan.
"Okay, Mama terpaksa melakukan itu semua. Jika ibunya tidak datang ke sini, mama mungkin tidak akan melakukan kejahatan itu. Tapi masalahnya dia datang sendiri ke rumah kita untuk merayu Ayah kamu kembali. Humairah, coba bayangkan kalau kamu yang ada di posisi mama. Hidup Mama nggak akan tenang selama wanita itu masih ada di kota. Mama nggak mau rumah tangga Mama hancur gara-gara wanita itu. Mama nggak mau kamu besar tanpa seorang ayah! Mama menginginkan yang terbaik untuk kamu!" Mama berkilah, membuat pembelaan dan alasan untuk membenarkan kejahatan yang telah dia lakukan dulu.
Dia memang melakukan kejahatan besar tapi itu dilakukan dengan paksaan dan untuk menyelamatkan keharmonisan rumah tangga. Kedengarannya masuk akal, tapi memikirkan seberapa berat kejahatan yang dia lakukan, Humairah merasa bahwa itu sama sekali tidak adil dan tidak layak.
"Ma, cemburu itu wajar tapi apa yang Mama lakukan itu benar-benar tidak wajar. Kenapa Mama tega menghukum Ibu Azira bekerja di tempat seperti itu selama sisa hidupnya? Kenapa Mama tega menghancurkan masa depannya? Imbasnya apa yang aku dapatkan? Azira membenci keluarga kita! Dia sangat membenci keluarga kita sampai-sampai nekat membius ku di hari pernikahan. Coba pikirkan baik-baik jika kalian tidak melakukan itu kepadanya, coba pikirkan baik-baik jika kalian tidak memojokkannya ke tempat kotor itu selama bertahun-tahun lamanya, maka dia tidak akan pernah membenci kita. Setelah mendengar apa yang kalian lakukan kepadanya, aku tidak merasa heran melihat perbuatan Azira. Jika posisi kami ditukar, maka aku mungkin akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan. Tidak, tidak, aku mungkin melakukan hal yang lebih nekat lagi untuk melampiaskan semua rasa sakit di hatiku. Menghancurkan pernikahan saja tidak cukup, tapi mungkin aku juga akan membakar rumah ini agar semua orang yang ada di dalam rumah ini segera enyah!" Ucap Humairah bagaikan suara petir di siang hari bolong.
Ayah, mama dan bibi Safa menatapnya dengan tatapan tak percaya. Mereka sengaja tidak memberitahu masalah ini Humairah dulu karena mereka tahu Humaira tidak akan senang mendengarnya. Tapi yang mereka tidak duga adalah Humairah akan benar-benar marah.
"Nak, apa yang baru saja kamu katakan?" Bibi Safa bertanya lembut kepada Humairah.
Humairah tidak menjawab. Air mata di wajahnya entah sejak kapan berhenti mengalir. Dia tidak bisa lagi menangis. Rasanya sungguh tak tertahankan. Ada marah sedih dan kecewa bercampur menjadi satu di dalam hati. Seumur hidupnya dia tidak pernah berpikir akan berada di posisi sekarang. Dimana dia mengetahui bahwa keluarganya ternyata tidak seharmonis yang dia pikirkan dan tidak selembut yang selama ini dia lihat.
__ADS_1
"Ayah, bolehkah aku bertanya kenapa ayah menikahi Ibu Azira jika pada akhirnya ayah akan menelantarkannya?" Tanya Humairah dengan gigi terkatup.
Kedua matanya berkedip memandangi wajah tua ayah yang tampak sangat kelelahan setelah pulang dari rumah Kenzie.
Sampai dengan detik ini dia tidak percaya bahwa laki-laki yang dianggap luar biasa dan selalu mencintai mamanya ternyata seorang pemain.
Karena kekagumannya melihat ayah begitu mencintai mama, Humairah sering berangan-angan bertemu dengan laki-laki seperti ayah. Namun setelah mengetahui sifat Ayah yang sesungguhnya, Humairah tidak lagi memiliki mimpi itu.
"Jawab saja aku, ayah. Katakan yang sejujurnya kenapa ayah menikahi Ibu Azira jika pada akhirnya ayah akan membuangnya?" Tak kunjung menjawab pertanyaannya, Humairah mengulangi lagi pertanyaannya.
Mengapa ayah menikahi wanita lain sebelum menikah dengan Mama. Mengapa ayah memilih mengikat wanita itu jika pada akhirnya wanita itu hanya dianggap sebagai mainan, dibuang ketika sudah bosan dengan rasa manisnya.
Ayah menata putrinya dengan rasa bersalah. Ditanya mengapa?
Alasan sejujurnya karena Ayah bertunangan dengan Mama. Ini adalah pertunangan bisnis. Walaupun Ayah belum mencintai Mama pada saat itu, namun dia harus menikahi mama, mau atau tidak mau. Ini adalah perintah keluarga dan menyangkut masa depan keluarga pula. Sebagai satu-satunya harapan keluarga ini, tentu saja Ayah tidak memiliki jalan lain selain mengikuti perintah kedua orang tuanya. Dia rela melepaskan wanita desa yang membuatnya mengenal cinta demi keluarga.
"Mengapa Ayah diam saja?" Tanya Humairah mendesak.
Mama berbicara.
Sebab jawaban itu pasti membuatnya tidak senang.
Humaira menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Biarkan aku mendengarkan jawaban ayah. Aku ingin tahu semua yang terjadi di masa lalu sejelas-jelasnya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama." Kata Humaira keras kepala.
Dia tidak mau pergi. Dia ingin mengetahui semua yang tidak diketahui. Bahkan rahasia yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya.
Mama menggigit bibirnya kesal. Dia mengedipkan matanya kepada ayah, memintanya untuk membujuk Humairah agar segera kembali ke dalam kamar. Tapi ayah mengabaikannya.
"Jika ayah boleh katakan dengan jujur, Ibu Azira adalah cinta pertama ayah. Kalau ayah tidak mencintainya, lalu kenapa ayah menikahi? Tidak, nak. Pada saat itu ayah benar-benar jatuh cinta kepada ibu Azira. Namun karena perbedaan kelas keluarga, Ayah tidak mampu menanggung ujian dan terpaksa meninggalkan ibu Azira di kampung. Ayah meninggalkan Ibu Azira dan kembali ke kota untuk melangsungkan pernikahan dengan mama kamu. Ayah dan mama kamu adalah tunangan bisnis. Kami dipersatukan karena bisnis keluarga. Mama kamu adalah satu-satunya putri keluarganya dan ayah adalah satu-satunya harapan keluarga ini, oleh karena itu Ayah harus mendengarkan kata-kata para orang tua dan menikahi Mama kamu. Ini menyangkut masa depan keluarga. Jika ayah tidak mau melakukannya, maka mereka akan tetap memaksa ayah. Dan seperti yang kamu tahu, ayam menghabiskan hidup ini bersama mama kamu hingga detik ini. Jujur, terlepas dari masa lalu Ayah bahagia bersama mama kamu." Kata ayah mengakui tanpa melihat reaksi mama.
Humairah tersenyum kecut.
"Alasan ayah tidak bisa dibenarkan. Ayah, Azira adalah saudaraku, mengapa Ayah masih menolaknya?" Humairah merasa aneh saat memikirkan bila Azira adalah saudaranya.
Pasalnya dia dulu selalu memiliki sikap terasing dengan Azira. Apalagi setelah insiden pernikahan gagal, rasa keterasingan berubah menjadi kebencian yang tiada habisnya.
__ADS_1
"Itu kesalahanku di masa lalu menelantarkannya. Tapi yang pasti hari ini aku menyesalinya." Melihat putri yang telah diusir dan buang ternyata memiliki kehidupan yang sangat baik, Ayah merasa sangat tidak nyaman sekaligus merasa sedih.
Seolah-olah sampah yang dia buang ternyata bukan sampah biasa melainkan sebuah berlian yang sangat berharga bagi orang lain. Sekarang Azira diperlakukan dengan baik di tempatnya yang baru.
Tempat itu berkali-kali lipat lebih baik dari tempat ayah. Bagaimana Ayah tidak merasa malu melihatnya?
Humairah lagi-lagi tersenyum kecut. Entah merasa lucu dengan penyesalan Ayah yang terlambat atau merasa sedih karena ayah mulai merindukan Azira.
Mungkin setelah hari ini posisinya tidak akan setinggi dulu karena Ayah juga memahami betapa berharganya Azira.
"Dan selanjutnya untuk mama juga bibi, kalian sama-sama seorang Ibu. Kalian memiliki anak yang membutuhkan perlindungan dan kasih sayang kalian, namun mengapa sebagai seorang ibu kalian bertindak kejam kepada ibu yang lain? Ma, saat itu Azira masih sangat membutuhkan perlindungan ibunya. Bibi, Azira juga keponakan bibi, di dalam darahnya mengalir darah ayah. Tapi kenapa kalian berdua tega mengirim pasangan ibu dan anak itu pergi ke tempat kotor itu?" Sekarang perhatiannya beralih kepada mama dan bibinya.
Mama terdiam. Dia tidak mau menjawab karena jawabannya sudah jelas, dia sangat cemburu pada waktu itu dan menutup mata pada kehadiran Azira. Justru karena Azira ada dia semakin merasa cemburu seolah-olah tempat putrinya akan segera diambil oleh Azira.
Mama sama sekali tidak rela.
Sementara bibi Safa, jika ditanya alasannya kenapa itu murni karena dia tidak sudi memiliki hubungan kekeluargaan dengan wanita udik dari desa itu. Pada tahun-tahun itu orang tuanya selalu berkata kepadanya jika mereka hanya bisa bersatu dengan orang kaya, atau orang yang sepantaran dengan level keluarga mereka. Artinya mereka tidak menerima orang miskin ataupun orang-orang dari kampung yang memiliki pendidikan rendah, level keluarga mereka akan menurun bila itu sampai terjadi.
Melihat tak satupun diantara mereka berdua yang mau menjawab pertanyaannya, Humairah ingin bertanya lagi. Tapi bibirnya tercekat ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh temannya. Jantungnya berdebar kencang dan kedua tangannya gemetaran menahan rasa gugup juga gelisah.
"Kita semua sudah selesai. Lihat ponsel kalian semua." Kata Humairah dengan nada hampa.
Melihat wajah pucat Humairah yang sedang menatap melihat layar ponsel, semua orang langsung merasakan firasat buruk di dalam hati. Buru-buru mereka mengambil ponsel untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Beberapa detik kemudian ekspresi mereka semua berubah tidak jauh lebih baik dengan Humairah.
Humairah tersenyum tipis. Dia tiba-tiba merasa sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Maka tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada keluarganya, dia bangkit dari sofa dan diam-diam membawa langkah kakinya masuk ke dalam kamar. Begitu masuk ke dalam kamar, dia menutup pintu serapat mungkin tak mengizinkan siapapun masuk. Lalu tubuhnya kurus jatuh merosot ke lantai seiring mulai terdengar suara tangisan yang menyesakkan hati.
"Hiks...hiks..." Tenggelam dalam tangisan pesakitan, Humairah kembali teringat apa yang Azira katakan kepada Bibi Safa akan dibawa pulang oleh Kenzie.
Dulu dia tidak mengerti maksud Azira mengatakan kata-kata ini dan hanya asal menebak saja. Tapi sekarang dia mengerti. Dia mengerti dan memahami posisi Azira pada waktu itu.
"Manusia kotor? Kamu haruslah lebih tahu siapa yang lebih kotor di sini. Bibi, tidakkah kamu ingat siapa yang membunuh Ibuku malam itu?" Tersenyum dingin,"Aku tidak bisa melupakannya, bibi, karena itulah aku di sini. Jika bibi bisa merenggut kehidupan Ibuku, maka aku juga bisa merenggut kebahagiaan Humairah. Lihat? Hari ini aku berhasil membunuh pernikahan bahagia yang Humairah impikan dan bahkan menjadi istri mas Kenzie. Kita... harusnya sudah seimbang, kan?"
Dia sungguh benar-benar mengerti apa yang Azira maksud.
Ya Allah, hukuman ini terlalu besar. Aku merasa tidak kuat menanggungnya. Batin Humairah menangis.
__ADS_1