
"Baiklah, aku akan pulang sendiri. Aku tidak akan merepotkan mas Kenzie." Tersenyum getir, Azira membawa kakinya yang lemas keluar dari area vila.
Tubuh kurusnya berjalan sendirian ditemani oleh perasaan sepi yang telah lama tidak dia rasakan lagi. Hampir... hampir saja dia melupakan perasaan sesak ini karena terbuai dengan pernikahannya yang manis.
"Dimana aku harus mencari kendaraan, tidak ada ojek maupun taksi di sini." Azira celingak-celinguk melihat ke jalanan.
Tapi nihil. Tempat ini sangat sepi.
Azira memang takut gelap, tapi lebih dari semua itu dia lebih takut kesepian. Seolah-olah dunia meninggalkannya sendirian.
Berjalan jauh ke depan, sesekali Azira beristirahat di pinggir jalan sambil memijat kakinya. Setelah dirasa cukup beristirahat, dia kembali melanjutkan perjalanan. Terkadang dia ingin menghubungi Sasa ataupun Abah untuk minta bantuan. Tapi dia ingat kalau Sasa sedang di asrama dan Abah menemani Umi ke luar kota untuk menemui kerabat.
Azira menghela nafas berat. Dia merasa sangat lelah dan putus asa pada saat yang sama. Ketika dia akan benar-benar menyerah, sebuah taksi lewat di jalan. Buru-buru dia melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi. Untungnya taksi itu berhenti dan masih mau menerima penumpang.
"Mau kemana, mbak?"
"Ke jalan xx." Kata Azira lelah.
Setelah duduk di dalam mobil, dia akhirnya bisa beristirahat. Duduk bersandar di kursi mobil, matanya terpejam memilah-milah ingatan tentang hari ini. Mulai dari sikap suaminya yang berubah, kejadian alergi Amara, hingga bentakan marah suaminya. Azira mengingat semuanya dalam siksaan batin.
Untuk sejenak, kata-kata mengejek Meri berkelebat di dalam kepalanya.
".....Menjadi pengganti. Apakah menyenangkan? Kamu menikah dengan Kenzie setelah menipu adik kamu sendiri. Tapi di dalam pernikahan kamu hanya diperlakukan sebagai pengganti oleh Kenzie karena orang yang dia sukai bukanlah kamu, tapi Amara. Cinta pertamanya...."
"....Terkejut'kan? Di antara banyak gadis yang dikenal oleh Kenzie, kamu adalah satu-satunya wanita yang memiliki kemiripan dengan Amara. Bentuk tubuh kamu...hum, persis seperti Amara. Kalian seolah buah pinang dibelah dua saling miripnya. Namun untuk point wajah, maaf saja Azira, menurutku pribadi Amara jauh lebih cantik daripada kamu. Jadi ketika Amara pulang nanti, kamu harus bersiap-siap ditendang dari rumah..."
Suara-suara ini berteriak nyaring di dalam kepalanya. Menekankan kepada Azira bahwa dia adalah seorang pengganti, pengganti yang cepat atau lambat akan dibuang pergi. Dia tidak berbeda dengan sebuah barang, digunakan sebagai pengganti dan akan dibuang bila Amara kembali.
Dia adalah pengganti. Seorang pengganti!
"Benarkah?" Bibir pucat nya berbisik.
"Mbak..mbak?"
Azira terbangun.
"Kenapa, pak?"
Supir taksi itu memberikan kotak tissue di depan kepada Azira.
Azira terkejut, untuk apa supir taksi itu memberikan tissue?
"Nak, menangis lah jika kamu mau. Bapak tidak akan melarang kamu menangis meskipun kamu berteriak histeris. Bapak mengerti rasanya pasti sakit kalau ditahan terus, jadi tidak apa-apa untuk menangis lebih keras." Kata Pak sopir ramah.
Sejak masuk ke dalam mobil dia memperhatikan kalau penumpang ini sedang tidak baik-baik saja. Matanya sembab karena banyak menangis dan di dalam mobil pun dia masih menangis. Menangis dalam diam tanpa mengeluarkan suara. Betapa menyakitkannya itu. Pak sopir memang tidak memiliki seorang putri tapi dia mengerti sebuah tangisan adalah bentuk rasa sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bila seseorang sudah menangis maka itu artinya sakitnya mereka derita sungguh tidak tertahan sampai-sampai hanya bisa mengungkapkannya dengan sebuah air mata.
Azira menatap kosong kotak tisu itu. Terdiam, tangannya mengambil kotak tissue itu dan diam-diam mengambil secarik tissue untuk mengelap wajahnya.
"Terima kasih, Pak." Bisik Azira berterima kasih.
"Sama-sama, Nak."
Perjalanan setelah ini dilalui dengan kesunyian. Azira tidak pernah berbicara lagi sementara kedua matanya menatap ke arah luar, memandangi jalan dengan pemandangan monoton, tidak ada yang menarik, namun matanya masih mengembara ke sana.
Beberapa menit kemudian dia akhirnya sampai di rumah. Lampu rumah menyala sepenuhnya tapi Azira tahu tidak ada siapapun di rumah. Umi dan Abah di luar kota, Sasa ada di asrama dan suaminya masih belum kembali.
Tidak ada mobil suaminya di depan, jadi Azira tahu kalau suaminya belum pulang.
"Terima kasih, Pak." Dia tersenyum sopan.
"Mbak, tunggu. Uang mbak kelebihan." Sopir taksi buru-buru turun dari mobil dan memberikan Azira beberapa lembar merah yang sengaja Azira lebihkan.
"Tidak, Pak. Itu untuk bapak. Silakan simpan kembali."
Pak sopir tercengang, menghela nafas lembut dia kemudian tersenyum kepada Azira.
"Terima kasih, Nak. Semoga semuanya kembali berjalan dengan baik dan masalahmu terselesaikan." Doa pak supir tulus.
Azira tersenyum tipis. Diam-diam mengaminkan di dalam hatinya dan bergegas masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Pulang ke rumah dia segera naik ke atas tanpa penundaan. Membersihkan diri dan berganti baju lalu sholat isya sendirian. Menatap layar ponselnya, masih nihil, tak ada tanggapan sekalipun dari Kenzie.
Azira tersenyum getir. Rasa lelah hari ini tiba-tiba menghujani dirinya saat menyentuh permukaan kasur. Lemah, dia merebahkan dirinya di tas kasur dan segera tertidur dalam mimpi buruk yang sama.
Kali ini dia melihat Ibunya diusir oleh Ayah saat datang berkunjung ke rumah. Mata Ibu merah menahan tangis tapi suaranya tetap tegar dan bahkan langkahnya pun tidak melambat.
Ibu tidak menangis di depan Azira kecil namun saat sendirian, semua rasa sakit itu ditumpahkan dalam tangisan bisu.
"Bu... Bu, berhenti menangis. Azira ada di sini, Bu...Ibu.." Azira memanggil dalam kesakitan tapi sebanyak apapun dia berteriak memanggil Ibunya, maka semakin jauh Ibu darinya.
Azira cemas dan khawatir. Dia berlari mengejar Ibunya tapi semakin memperparah jarak di antara mereka.
"Tidak, Bu...Bu!"
"Akh!" Azizah terbangun dari tidurnya.
"Ternyata cuma mimpi.." desah Azira sambil mengatur nafasnya.
"Mas Kenzie?" Azira memanggil namun tak ada tanggapan.
Melihat waktu di ponsel, sudah jam 3 dini hari tapi suaminya tidak ada di kamar.
Azira pikir suaminya ada di perpustakaan jadi dia pergi mencarinya ke sana. Azira tidak berani masuk ke dalam perpustakaan dan hanya berdiri sendirian di depan pintu. Mengetuk beberapa kali tapi tak mendapatkan tanggapan dari suaminya.
Ragu, dengan takut-takut dia membuka pintu perpustakaan.
Cklak
Tidak terkunci.
Jantung Azira berdebar kencang. Dia tidak berani masuk dan memanggil dari celah pintu yang terbuka.
"Mas?" Panggilnya lembut.
Tapi tidak ada jawaban.
"Mas Kenzie?" Panggilnya sekali lagi.
"Mas Kenzie sepertinya belum pulang." Bisik Azira melankolis.
"Jika mas Kenzie tidak pulang, maka dimana mas Kenzie sekarang? Apakah dia tinggal di rumah sakit menemani Amara?" Ah, kemana lagi kalau bukan di sana?
Azira tersenyum kecut. Dengan lemah dia kembali ke kamar. Tidak ada siapapun di sini. Semua perabotan mewah di kamar ini tidak bisa menyingkirkan perasaan sunyi yang menyiksa hatinya.
"Karena mas Kenzie tidak ada di sini, maka aku akan sholat malam sendiri saja. Hitung-hitung ngobrol sama Allah biar hati aku tidak gelisah lagi."
Azira tidak mengantuk. Setelah mengalami mimpi buruk dia tidak berani tidur. Takutnya mimpi itu kembali datang. Dia melihat Ibunya menangis tak berdaya sendirian. Azira tak kuasa menahan sakit di hatinya.
...*****...
Azira merasa badannya semakin lemas. Dia tidak bertenaga. Lelah dan letih pada saat yang sama. Mungkin karena efek berjalan terlalu lama semalam sehingga badannya jadi pegal-pegal.
Azira sempat bangun pagi-pagi untuk membereskan rumah. Menyapu halaman belakang dan menyiram tumbuhan-tumbuhan suaminya. Lebih dari pukul 10 pagi, dia tidak sanggup bergerak lagi dan memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar. Begitu menyentuh tempat tidur, rasa kantuk langsung memenuhi dirinya. Dia tertidur tak lama kemudian.
*****
Sebuah usapan lembut menyapu wajah pucat Azira. Mengganggu tidur lelapnya yang damai. Azira melenguh tak nyaman namun tangan nakal itu tak kunjung menyingkir dari wajahnya.
Kelopak mata Azira bergetar menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun. Beberapa detik kemudian kelopak mata itu terangkat, menampilkan iris coklat cantik yang masih terjerat dalam rasa kantuk.
"Mas?" Azira menatap kosong wajah tampan yang perlahan membesar mendekat.
Melihatnya semakin dekat, Azira refleks menutup matanya.
Cup
Sebuah kecupan singkat Azira rasakan di bibirnya.
Kaget, dia spontan menutup mulutnya menatap tak percaya ke arah pemilik wajah tampan itu. Dia kira tadi sedang bermimpi tiba-tiba melihat suaminya.
__ADS_1
"Mas Kenzie pulang?" Ada kesedihan dan kemarahan di dalam nada suaranya.
Dia diabaikan. Dia telah diabaikan. Rasanya sangat tidak nyaman dan menyakitkan.
"Maaf, apa aku membuat kamu terbangun." Suaranya meminta maaf.
Namun jari jemari tangannya masih belum menyingkir dari wajah Azira. Dia mengelus wajah Azira dan bahkan sesekali mencubit pipi gembul itu.
Azira menatap suaminya lama. Segala macam keluhan mulai memenuhi hatinya. Sakit dan sesak, pada akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa.
Wajahnya berpaling menatap ke arah lain. Memperbaiki posisi tidurnya membelakangi Kenzie.
Kenzie tertegun. Tangannya yang tadi memainkan wajah Azira kini menggantung hampa. Dia menurunkan tangannya. Menatap dalam punggung ramping istrinya yang tampak kesepian.
"Kejadian kemarin-"
Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Azira segera memotongnya dalam kemarahan tertahan.
"Aku tidak pernah memaksanya untuk makan masakan yang aku buat. Aku tidak pernah memberikan penawaran apapun tapi dia sendiri yang ingin memakan masakan ku! Dan aku juga tidak tahu kalau dia alergi udang, kalau aku tahu, apakah aku masih gila memintanya untuk makan udang? Aku tidak gila, mas! Aku enggak pernah memaksanya. Wanita itu tahu kalau Amara alergi udang tapi kenapa dia membiarkan Amara makan makanan itu! Kenapa? Kenapa dia menuduhku memaksa Amara makan udang? Aku sama sekali tidak mengerti. Selain itu... Amara, dia sendiri tahu kalau udang itu berbahaya untuknya. Dia tahu kalau dirinya alergi udang dan tidak boleh memakannya tapi kenapa dia masih memakannya?!" Azira mengungkapkan semua kebingungannya kepada Kenzie.
Dia sedih karena telah difitnah dan dia sangat marah karena Kenzie mengabaikannya. Tidak hanya mengabaikannya tapi Kenzie juga menolak mendengarkan penjelasannya. Azira sangat patah hati. Dari semalam dia bertanya-tanya apakah apa yang dikatakan Meri malam itu benar?
Apakah dia hanya pengganti Amara saja?
Sekarang Amara telah kembali ke sini, mungkinkah Kenzie akan membuangnya, selayaknya sebuah sampah yang telah habis masa pakainya.
Ini sangat menyakitkan.
"Azira, masalah kemarin-"
"Dengarkan aku dulu, mas!" Potong Azira dilanda emosi yang meluap-luap.
Entah apa yang merasukinya. Awalnya dia masih bisa menahan diri. Berpura-pura mungkin tidak terjadi apa-apa. Tapi saat melihat suaminya langsung ada di sini. Semua emosi itu langsung berkumpul di dalam hatinya, mendesak untuk segera dilepaskan sampai akhirnya Azira meluapkan apa yang terpendam di dalam hatinya.
Kenzie menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku akan mendengarkan kamu." Kenzie mengikuti dengan patuh.
"Mas Kenzie sama saja dengan mereka. Tidak hanya tidak mau mendengarkan penjelasan dariku, tapi mas Kenzie malah membentak ku dan meninggalkan ku sendirian. Aku tidak salah...tapi kalian semua menyalahkan aku. Aku tidak bersalah, mas." Saat berbicara air mata mulai meluap dari sudut matanya.
Azira tidak mau menangis tapi makanya sangat bandel. Kedua mata menyebalkan ini terus-menerus mengeluarkan air mata yang sangat menjengkelkan. Azira kesal tapi tidak bisa mengendalikan air mata yang keluar.
Menunggu dalam diam, dia kira akan Azira akan berbicara lagi. Tapi Azira tidak kunjung melanjutkan ucapannya. Jadi Kenzie mengambil inisiatif untuk berbicara.
"Azira," Panggil Kenzie lembut.
Azira memejamkan matanya tak mau berbicara lagi. Dia bangun dan turun dari kasur. Lalu tanpa mengatakan apapun dia berjalan keluar dari kamar. Kenzie tercengang dan buru-buru mengejar Azira keluar.
Azira tidak perduli dan terus mengabaikan suaminya. Dia ingat belum sholat Zuhur jadi kakinya melangkah ke mushola umum. Mulai dari mengambil air wudhu hingga sholat di mushola, Kenzie selalu setia mengekorinya.
"Istriku, ayo berbicara." Panggil Kenzie lembut kepada istrinya.
Azira masih berjalan tanpa niat menghentikan langkahnya apalagi merespon suaminya. Dia tidak perduli.
"Azira, aku mohon dengarkan aku." Kenzie tidak bisa menahan diri. Dia mengambil tangan Azira dan menariknya kuat hingga jatuh ke dalam pelukannya.
"Lepas!" Azira tidak mau berbicara.
Tapi Kenzie mengeratkan pelukannya. Tidak memberikan Azira jalan untuk melarikan diri.
"Mas Kenzie...aku sedang berusaha menenangkan diriku jadi tolong...tolong biarkan aku sendiri dulu." Azira juga tidak tahu.
Ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Kalau marah, marahnya akan meledak-ledak seperti beberapa saat yang lalu.
Kalau kesal, dia akan memberikan sikap dingin kepada suaminya.
Dan bila sedang bersedih, kesedihannya akan terus berlarut-larut hingga dipikirkan terus menerus.
Emosinya sedang tidak stabil. Azira tahu tapi dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia... bingung dengan kelabilan emosinya.
__ADS_1
"Azira, aku mohon berhenti. Aku tahu kamu telah mencari tahu tentang Amara baru-baru ini. Kamu mungkin cemburu kepada Amara, tapi bukan begini caranya Azira. Aku dan dia adalah masa lalu. Tidak ada hubungannya dengan saat ini." Suara lemah permohonan lemah Kenzie membuat Azira shock.