Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 5.3


__ADS_3

Kenzie turun ke bawah tepat pukul 7 pagi, waktu dimana semua orang berkumpul di meja makan untuk sarapan.


Abah, Umi, dan Sasa sudah menempati meja makan untuk sarapan tapi tak ada satupun orang yang menyentuh makanan. Mereka masih menunggu kedatangan Kenzie dan Azira yang tidak pernah terlihat sejak tadi malam.


"Assalamualaikum. Pagi semuanya." Sapa Kenzie kepada semua orang.


Tapi dia tidak duduk dan memilih berdiri di pinggir meja dengan senyum tipis di bibirnya. Abah dan Umi menjawab salamnya sedangkan Sasa tidak menggerakkan mulutnya sedikitpun. Sasa kecewa kepada kakaknya. Sebelum ini kakaknya tidak pernah membuat orang tuanya menunggu di meja makan dan selalu perhatian kepada semua orang, tapi sejak Azira masuk ke dalam rumah ini kakaknya langsung berubah banyak. Hanya dalam dua hari Azira berhasil memonopoli kakaknya dari semua orang rumah. Huh, lihatlah betapa sesatnya wanita asing ini pikirnya.


"Abah dan Umi sudah menunggu kedatangan kakak dari tadi. Kalau kakak enggak turun, mereka semua enggak akan sarapan." Celetuk Sasa dalam suasana hati yang buruk.


Kenzie melihat orang tuanya dan menyadari bila sarapan mereka masih belum disentuh. Dia merasa bersalah. Hatinya menghangat oleh perhatian orang tuanya. Mungkin baik Abah dan Umi masih enggan menerima Azira, dan karena masalah ini mereka jadi kecewa kepada Kenzie hingga titik tidak mau berbicara seperti normalnya. Tapi Kenzie tahu, dibalik kemarahan orang tuanya ada hati yang selalu mengkhawatirkannya dan dia sangat lega untuk itu.


"Abah, Umi, jangan menunggu aku lagi. Kalian bisa sarapan sekarang sedangkan aku akan sarapan di atas dengan Azira." Ucapnya lirih kepada orang tuanya.

__ADS_1


Umi memalingkan wajahnya,"Wanita itu sangat pandai."


Jelas Umi sangat marah karena putra yang telah ditunggu-tunggu nyatanya tidak memikirkannya sama sekali dan lebih memikirkan wanita asing yang asalnya entah darimana itu.


"Iya, gara-gara dia, kakak jadi enggak mau kumpul-kumpul lagi sama kita. Selain itu tadi subuh kakak juga enggak turun sholat ke masjid ikut sama Abah. Padahal biasanya kakak sendiri yang paling semangat ngajak Abah ke masjid. Kak Kenzie, aku udah bilang kan wanita itu enggak benar. Kalian baru nikah dua hari aja kak Kenzie udah enggak pergi sholat subuh ke masjid, apalagi hari-hari ke depannya lagi. Aku enggak yakin kak Kenzie seperti dulu lagi." Cetus Sasa mengungkapkan keluhan dihatinya.


Kakaknya belum pernah melewatkan sholat subuh ke masjid sebelum ini dan biasanya selalu menjadi yang pertama. Namun hari ini tiba-tiba absen, mau tak mau Sasa berpikir buruk dan menuduh Azira adalah penyebab kakaknya tidak pergi.


Kenzie menggeleng-gelengkan kepalanya tidak berdaya dan tidak marah dengan tuduhan adiknya. Bagaimana pun adiknya tidak tahu apa yang terjadi kepada Azira.


Mata tua Abah menatap wajah putranya yang menurun banyak dari dirinya dan bertanya,"Lalu bagaimana keadaan istrimu sekarang?"


Kenzie terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Abah mengakui Azira sebagai menantunya. Dengar, mengakui Azira sebagai istrinya sama saja mengakui Azira sebagai menantu di rumah ini. Jujur saja, dia tidak pernah memperhitungkannya. Dia pikir Abah marah sama seperti Umi, enggan mengakui Azira sebagai menantunya dan perlu banyak waktu untuk melegakan hati Abah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, dia baik-baik saja, Abah. Perutnya memang kram tapi akan segera membaik setelah beristirahat seharian." Jawab Kenzie sopan dan hangat kepada Abah nya.


Abah mengangguk ringan. Mata tuanya menatap putranya dengan tatapan yang sulit dijelaskan tapi Kenzie sama sekali tidak mundur ditatap sedemikian rupa oleh Abah.


"Baiklah. Bawalah makanan ke atas. Ajak Azira sarapan agar badannya lebih enakan." Instruksi Abah kepada putranya.


Bila Abah sudah mengatakannya, maka Umi dan Sasa tidak bisa mengatakan apa-apa sekalipun mereka keberatan. Kenzie mengucapkan terima kasih dan langsung pergi ke dapur untuk mengambil makanan. Sedangkan di atas meja makan, suasana kembali terasa hampa dan tidak menyenangkan.


"Abah, aku tidak suka dengan wanita itu. Dia... adalah wanita yang tidak benar. Kata bibi Safa, wanita itu dibesarkan di tempat yang kotor dan selalu berhubungan dengan hal-hal kotor itu. Apakah Abah rela melihat kak Kenzie bersama dengan wanita seperti itu?" Tanya Sasa takut-takut.


Gara-gara perkataannya, Abah langsung kehilangan selera makan bahkan sebelum dia bisa menyentuh makanan di atas meja.


Bangun dari kursi, Abah lalu berkata kepada Sasa sebelum pergi,"Nak, setelah selesai sarapan temui Abah di taman belakang untuk menyirami tanaman. Mengerti?"

__ADS_1


Jantung Sasa berdebar kencang. Tangannya mengepal takut dan pada saat yang sama malu,"Iya, Abah."


Abah lalu berjalan pergi menuju taman belakang setelah mendengar kesediaan putrinya.


__ADS_2