
"Hahahah..." Tawanya meledak.
Kalau bisa dia mungkin sekarang sudah guling-guling di tanah. Tapi sayang sekali hari ini dia masih punya jam kuliah.
"Wah, jahat banget. Orang lagi sedih tapi diketawain. Udah Tio, mending kamu pergi aja sebelum aku benar-benar nangis." Kata Mona beneran sedih.
Pagi ini dia sedih banget makanya sengaja ke sini buat nenangin diri. Harusnya duduk di sini berlama-lama membuatnya jauh lebih tenang sedikit. Tapi gara-gara kedatangan Tio, hatinya yang sedih jadi lebih sedih lagi. Apa iya sih, nggak ada yang tahu apa yang dia rasakan selama ini. Benar-benar enggak ada yang tahu?
Memang benar setiap kali dia sedih, Mona tidak akan menceritakannya kepada siapapun bahkan kepada mamanya sendiri. Daripada menceritakan kesedihannya, dia lebih baik memendam semuanya dalam diam. Ya, memendam semuanya dalam kebisuan dan menumpahkan apa yang dia rasakan saat di kamar sendirian. Di dalam kamar tidak ada yang tahu kalau dia menangis. Tidak ada yang tahu betapa besar luka di dalam hatinya hingga membuatnya menangis tersedu-sedu. Tidak ada yang tahu.
Namun sesekali dia merasa kecewa karena bagaimana mungkin orang-orang di sekelilingnya tidak bisa menyadari suasana hatinya?
Apakah aku terlalu pandai menyembunyikan perasaanku?
Atau mungkin orang-orang itu memang tidak terlalu peduli dengan perasaanku?
Mau nggak mau dia bertanya seperti ini di dalam hatinya.
Ah... Semakin dia memikirkannya, dia semakin tertekan.
Ya, dan karena alasan ini pulalah dia beberapa hari ini tidak berkunjung ke rumah Sasa.
Dia sedang terluka, dia membutuhkan waktu dan tempat untuk mengobati lukanya sendiri. Diam diam duduk di sudut sambil menjilat lututnya yang terluka, seperti itulah gambaran yang dia lakukan dalam beberapa hari ini.
Lalu hatinya semakin terkoyak setelah berbicara santai dengan Sasa tadi pagi.
Hah... Jadi memang seperti ini. Pikirnya menyesal.
"Okay, maaf. Aku nggak maksud ngejek kamu, serius. Malahan aku sengaja nyanyiin lagu anak-anak itu biar kamu bahagia dan terhibur." Melihat kesunyian Mona, Tio akhirnya berhenti tertawa.
Bagi mereka Mona orangnya ceria dan jarang menangis. Palingan kalau lagi kesel atau marah, durasinya sebentar aja, karena setelah itu dia akan tertawa kemanapun dia pergi yang membuat mereka jalan-jalan kepala sendiri. Agaknya karakter Mona memang unik.
"Aku sama sekali nggak terhibur." Kata Mona cemberut.
"Ya maaf, kalau kamu nggak terhibur. Lagian kamu lagi bete gara-gara apa sih? Pasti masalah Yana lagi?" Tebak Tio.
Biasanya faktor penyebab Mona marah adalah Yana, adik angkat Mona. Sebenarnya Yana adalah sepupu mereka juga. Tapi orang tua Yana meninggal saat masih kecil sehingga Mama dan Ayah Mona mengambil inisiatif untuk mengadopsi Yana. Mereka menjadikan Yana sebagai anak angkat dan memperlakukannya selayaknya anak sendiri. Bukan rahasia lagi bila Mona sering merasa cemburu melihat adik angkatnya diperlakukan baik oleh orang tuanya. Tapi tidak ada yang menganggap serius rasa kecemburuan Mona. Orang-orang di keluarga beranggapan kalau Mona terlalu kekanak-kanakan dan belum dewasa, padahal dia sudah kuliah. Malahan menurut mereka Yana jauh lebih dewasa daripada Mona yang dua tahun lebih tua dari Yana.
"Jangan sebut dia lagi." Kata Mona muram.
Yana jarang di rumah karena dia tinggal di pondok pesantren. Tapi beberapa hari yang lalu Yana pulang ke rumah karena dia akhirnya lulus sekolah di pondok pesantren. Kata mama dan ayah, mereka berencana akan mendaftarkan di Yana sekolah di kampusnya. Mona sangat menentang hal ini. Dia tidak mau satu sekolah dengan Yana tapi tidak ada yang mau mendengarkan suaranya.
"Nah, udah ketebak. Mona, aku ngerti kamu pasti cemburu melihat orang tua kamu terlalu dekat sama dia. Tapi coba pikirin baik-baik situasi Yana. Dia juga pasti kesulitan tanpa orang tua. Bersyukurlah dia diangkat oleh orang tua kamu karena dengan begitu Yana bisa merasakan manisnya sebuah rumah. Coba deh bayangkan kalau sampai orang tua kamu angkat tangan dan tidak mau membawa Yana pulang ke rumah, pasti hidupnya terpuruk sekarang. Lagian kan enak ada anggota baru di rumah, kamu jadi nggak sendirian dan rumah jadi lebih hidup. Semuanya bermanfaat, kan? Lupain masalah ini, okay? Semuanya sudah berlalu. Sudah bertahun-tahun mereka membawa Yana pulang dan harusnya kamu lebih berdamai. Demi kamu, mereka mengirim Yana ke pondok pesantren. Dan sekarang setelah dia kembali ke rumah kamu harus belajar menerima serta mengalah, sebab dia sudah mengalah untuk kamu." Mengungkit masalah Yana mungkin sedikit sensitif untuk Mona.
Tio sebagai seorang kakak berusaha memberikan pengertian kepada adik sepupunya ini agar jangan terlalu larut dalam masalah yang sama. Mereka sekarang sudah dewasa, sudah bukan anak kecil lagi yang main cemburu-cemburuan. Oleh karena itu Mona harus bangkit dan mulai membenahi dirinya, belajar menjadi orang yang dewasa.
"Benar-benar tidak seperti yang kamu pikirkan.... Tapi ngomong-ngomong terima kasih atas saran kamu." Ucap Mona tersenyum tipis.
Lihat bukan?
Benar-benar tidak ada yang mengerti perasaannya di rumah itu. Mereka tidak mengerti bagaimana rasanya di sampingkan oleh orang tua sendiri. Rasanya sakit sekali, sakit sampai titik di mana Mona bertanya pada dirinya sendiri apakah dia adalah anak yang dilahirkan oleh orang tuanya atau Yana lah yang mereka lahir kan?
Karena... Karena Mona selalu memperhatikan bila orang tuanya terlalu condong kepada Yana.
Apapun yang diinginkan Yana pasti selalu dituruti oleh orang tuanya. Jika Yana menginginkan ini, maka orang tuanya akan segera memenuhinya. Dan bila Yana menginginkan itu, orang tuanya juga tidak akan sungkan untuk langsung menurutinya. Mona tidak mempermasalahkan materi, yang Mona permasalahkan adalah sikap orang tuanya yang terlalu mesra dengan Yana.
Yana sakit sedikit saja, maka orang tuanya akan langsung panik. Bela-belain pergi jauh ke luar kota untuk mencari Yana. Padahal dia cuma flu biasa tapi dilebih-lebihkan. Dan yang membuat Mona paling kecewa adalah ketika gilirannya sakit, orang tuanya tidak secepat itu. Mereka mungkin tidak menyadari situasinya jika tidak Mona sendiri yang mengeluh.
Mengadu kalau dia kurang enak badan, tenggorokannya kering, lidahnya pahit, atau kepalanya pusing. Namun lihatlah reaksi yang diberikan oleh orang tuanya, "Mereka hanya bilang minum saja paracetamol dan tidurlah. Setelah bangun nanti kamu pasti baikan."
Hahahah...
Saat itu dia ingin sekali tertawa di tengah-tengah ketidaknyamanan yang dirasakan. Apakah ini masih orang tuanya?
__ADS_1
"Okay, berhenti bersedih. Khusus hari ini aku bersedia mentraktir kamu makanan. Pesan apapun yang kamu inginkan, nanti biar aku yang bayarin." Tio melemparkan dompetnya kepada Mona.
Dompet itu jatuh tepat di depan Mona. Dia hanya meliriknya tapi tak berniat mengambilnya.
"Aku mau pulang dulu." Mona bangun dari duduknya bersiap pergi.
Tio buru-buru mengambil dompetnya dan mengejar Mona.
"Wah, kamu kan masih punya dua mata kuliah lagi hari ini. Nggak papa kalau kamu bolos pelajaran Pak Al, aku nggak akan aduin kamu sama paman dari bibi. Tapi kalau kamu bolosnya ke semua mata pelajaran, maaf saja, aku terpaksa harus memberitahu mereka." Tio sengaja menakut-nakuti sepupunya.
Mona mengangkat bahunya tidak peduli. Dia yakin kalau sepupunya ini tidak berani melakukan itu.
"Ngomong aja sana."
Tio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia frustasi menghadapi sepupunya ini yang sangat keras kepala.
"Duh, Mona, kamu jangan males gitu dong. Coba lihat deh adik kamu Yana, dia nggak pernah bolos loh selama belajar di pondok pesantren." Ucap Tio bawa-bawa nama Yana lagi.
Mona tersenyum kecut. Lagi-lagi dia dibandingkan dengan Yana. Mereka bilang Yana lebih rajin, pintar dan cerdas. Selama mondok di pondok pesantren Yana tidak pernah bolos sekolah dan terkenal rajin.
Mau bolos gimana, pondok pesantren kan ketat. Aneh-aneh aja. Batin Mona merasa lucu.
Jika situasi diputar, Yana sekolah di luar dan dia yang sekolah di pondok pesantren, maka ceritanya juga sama. Dia tidak akan pernah bolos di pondok pesantren, bukan rajin tapi karena dia tidak bisa melakukannya. Pondok pesantren terlalu ketat.
"Sayangnya aku bukan Yana." Balas Mona acuh tak acuh seraya mempercepat langkahnya ke perpustakaan kampus.
Awalnya dia ingin segera pulang ke rumah, tapi tiba-tiba dia teringat dengan tugas yang dosen berikan kepadanya kemarin. Tak punya pilihan lain dia akhirnya berbelok ke arah perpustakaan kampus.
Dert
Ponselnya bergetar ringan. Dia melirik siapa yang mengirim chat, ternyata Sasa.
Sasa
Mona terdiam, merenung sejenak dia akhirnya menggerakkan jari-jarinya untuk menjawab.
^^^Di luar, kenapa?^^^
Beberapa detik kemudian ada balasan dari Sasa.
Astaghfirullah, kamu bolos kelas? Pantesan aku cari-cari tadi di dalam kelas kamu nggak ada. Kenapa kamu bolos?
^^^Lagi badmood. Nongkrong bentar di taman bareng Tio. Bolos sekali juga nggak apa-apa, hitung ngabisin stok absenku yang terlalu rapi.^^^
Lah, tumben? Badmood karena apa?
^^^Enggak ada, tiba-tiba badmood aja. Kamu udah selesai kelasnya?^^^
Nah, aneh ni anak. Jangan-jangan kamu gangguan jin?
Belum.
Pak Al lagi ngajar di depan.
Kuliahnya seru banget, kamu nyesel lho nggak datang.
Oh ya ngomong-ngomong, tadi waktu absensi kamu dicariin sama Pak Al. Aku kira kamu lagi ke kamar mandi, eh tahu-tahunya bolos.
Kurang ajar banget.
Awas besok nilai kamu bermasalah sama dia.
^^^Enggak apa-apa, dia cuma ngisi kelas bentar doang karena besok pak Daman pasti balik ngajar lagi.^^^
__ADS_1
Setelah mengirim pesan terakhir, Mona mengklik mood jangan ganggu agar tidak berisik saat berada di dalam perpustakaan nanti. Setelah itu dia menaruh ponselnya ke dalam saku gamis, mengabaikan pesan baru dari Sasa.
Setelah mengamankan ponselnya ke dalam saku pakaian, dia segera masuk ke dalam perpustakaan. Perpustakaan kampus tidak ada bedanya dengan perpustakaan yang lain. Tidak ada keributan dan ruangan dipenuhi kesunyian sekalipun orang yang datang ke sana cukup banyak. Semuanya tertib mengurus urusan masing-masing. Ada yang membaca buku, mengerjakan tugas, dan mencari buku. Mereka semua tidak saling mengganggu. Dengan kesunyian ini, Mona berpikir kalau tempat ini cukup layak untuk menenangkan diri. Tapi sayang sekali mahasiswa tidak diizinkan berlama-lama di dalam perpustakaan. Paling banyak mereka diizinkan hanya 2 atau 3 jam di dalam, itupun apa yang mereka kerjakan harus pasti. Jika mereka datang hanya untuk duduk berdiam tanpa melakukan apa-apa, staf perpustakaan pasti akan mengusir mereka.
"Cek, bukan gayaku galau kemana saja." Gumam Mona sembari mengusir jauh-jauh pikirannya.
Masuk ke dalam perpustakaan yang paling dalam, dia mencari buku sosiologi hukum karya salah satu Dosennya di kampus. Teman-temannya bilang kalau karya dosen ini hanya sedikit di perpustakaan dan mungkin saja sudah dipinjam oleh mahasiswa lain, jadi mereka menyarankannya untuk membeli buku saja agar tidak perlu susah-susah. Tapi Mona tidak mau langsung menyerah begitu saja. Dia harus memastikan sendiri kalau buku itu tidak ada, baru pergi membeli.
"Sosiologi hukum... sosiologi hukum.." Bisiknya sambil mencari-cari buku itu di deretan rak.
Hampir 10 menit kemudian dia telah melewati dua rak buku namun masih tak kunjung mendapatkannya.
"Apa bukunya ada di rak depan?" Pikirnya,"coba cari aja deh, siapa tahu ada."
Dia pergi ke rak depan untuk melanjutkan misinya mencari buku. Namun, baru saja dia mulai mencari matanya tiba-tiba menangkap seseorang yang ingin dia hindari.
"Pak Al tumben datang ke sini.."
"Iya, siapa wanita yang ada di sampingnya? Pacar?"
"Jangan ngomong aneh-aneh. Palingan itu salah satu mahasiswi bimbingannya."
Dalam kesunyian suara bisikan mereka terdengar begitu jelas di pendengaran Mona.
Mona berkedip ringan, matanya terpaku memandang ke arah Al dan Sasa yang tengah berdiri berdampingan di depan meja staf perpustakaan.
Menghela nafas panjang, Mona menarik pandangannya dari mereka lalu berjalan menjauh ke arah pintu keluar. Dadanya sesak, dia tidak bisa bernafas dengan lancar di dalam perpustakaan.
"Ah... Sepertinya aku tidak punya jalan keluar selain membeli buku."
...*****...
Mona pulang ke rumah dan langsung masuk ke dalam kamar. Awalnya tadi mau mampir ke toko buku, tapi karena sedang tidak mood, dia memutuskan untuk pergi ke toko buku lain hari saja. Toh, tugas kuliahnya juga tidak terburu-buru. Masih ada waktu beberapa hari lagi untuk menyelesaikannya.
"Assalamualaikum?" Rumah sepi, tidak ada siapapun di rumah.
Baik ayah ataupun mama pergi entah ke mana.
"Mereka pasti pergi ke rumah Abah." Gumam Mona tak mau ambil pusing.
Karena tidak ada siapapun di rumah dia langsung masuk ke dalam kamar. Melemparkan tas kuliahnya ke meja dan menjatuhkan diri ke atas kasur. Diam, matanya menatap kosong langit-langit kamarnya yang monoton. Diam dalam kebisuan, hidungnya mulai sakit dan matanya perih. Beberapa detik kemudian pandangannya menjadi buram.
Tik
Air mata mengalir deras dari sudut matanya.
"Hiks...sakit." Bisiknya kesakitan seraya memeluk dadanya yang sesak.
"Sakit ya, Allah!"
Tangannya memukul-mukul dada, berharap dengan memukulnya rasa sakit itu bisa menghilang. Namun sekuat apapun dia mencoba rasa sakit itu tidak kunjung menghilang, malah semakin jelas rasanya. Mona tidak senang, Mona tidak mau merasakan rasa sakit ini lagi.
Sakit di mana hatinya begitu sesak, bahkan bernafas pun rasanya sulit. Mungkinkah ini yang dikatakan orang-orang di luar sana bahwa rasa sakit yang dadanya rasakan adalah rasa sakit yang amat sangat pedih tapi tidak berdarah.
Jika memang seperti itu yang orang-orang maksud, maka Mona lebih suka merasakan luka berdarah daripada luka tak berdarah ini.
"Aku... Aku sudah berusaha untuk melupakan dia, tapi kenapa... kenapa.. kenapa rasanya begitu sulit?!" Tanya Mona bingung disela-sela tangisannya.
"Cinta pertamaku... bertepuk sebelah tangan, aku sudah tahu dan menyadarinya dengan jelas tapi kenapa hatiku masih tetap tidak bisa melepaskan dia? Aku... sungguh tidak berguna. Aku adalah pengganggu yang sangat memuakkan! Dia pantas membenciku! Aku sangat kesakitan dengan perasaan ini tapi kenapa hatiku tidak mau melepaskannya...hiks...kenapa ya Allah?"
Dia jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang luar biasa. Laki-laki itu baik, memiliki penampilan yang sangat baik pula, dan ilmu agamanya pun tak perlu ditanyakan. Sekilas, dia adalah dambaan para wanita.
Mona jatuh cinta, hatinya jatuh sejatuh-jatuhnya hingga dia melakukan berbagai macam cara untuk mengejar pujaan hatinya. Tapi...cara yang dia lakukan justru membuat pujaan hatinya merasa mual dan muak, berharap dia, seorang parasit pengganggu untuk tidak datang mencarinya lagi.
__ADS_1
Rasanya, sakit sekali ya Allah.