
Kami berangkat setelah sholat ashar. Di jalan kami sempat berhenti untuk membeli bunga tujuh rupa dan sebuket besar bunga Lily. Bunganya harum dan indah, aku merasa bangga karena bunga ini khusus dibeli oleh suamiku untuk Ibu.
Tempat Ibuku dikebumikan tidak terlalu jauh dari rumah tempat ku tinggal sekarang. Untuk ke sana kami harus lewat kawasan kumuh yang pernah ku tinggali selama lebih dari 10 tahun. Waktu sebanyak ini aku tidak memiliki rasa nostalgia ataupun kerinduan. Sebab cerita bahagia rasanya begitu sulit diukir di tempat ini. Kehidupan ku selama tinggal di kawasan kumuh didominasi oleh kisah-kisah menyedihkan dan patut dikasihani.
Aku tidak mau mengingatnya karena hati masih tak bisa melepaskan semuanya.
"Di sini?" Suara mas Kenzie berhasil menarik ku dari pikiranku sendiri.
Aku menoleh ke arahnya dengan senyum dipaksakan.
"Tidak, lurus ke depan lagi, mas. Aku dan Ibu adalah pendatang di kota ini jadi Ibu dikuburkan di tempat peristirahatan umum. Aku... juga tidak punya uang untuk membeli tempat yang lebih baik untuk ditinggali Ibu."
__ADS_1
Dadaku sesak memikirkannya. Aku tidak punya apa-apa tapi Allah masih tega mengambil Ibu dariku. Inilah yang aku pikirkan hari ketika aku melihat Ibu meninggalkan dunia ini.
"Jadi selama ini kamu tinggal di sini bersama Ibu?" Mas Kenzie melirik keluar dengan ekspresi yang sulit ku baca di wajahnya.
Flat seperti biasanya.
Malu,"Benar, mas. Aku dan Ibu tinggal di sini." Tepatnya kami mengontrak.
"Punya, tapi cuma Ayah. Sisanya di kampung. Aku dan Ibu sudah lama kehilangan kontak dengan keluarga di kampung. Sudah bertahun-tahun berlalu, aku lupa dimana kampung Ibu berada dan aku juga tidak terlalu mengingat rupa-rupa keluarga ku di sana." Kata ku miris.
Bohong kalau aku enggak kangen sama kampung. Setelah semua cobaan melelahkan yang aku alami di kota, otakku sering berpikir untuk kembali ke kampung. Namun setiap kali aku mengajak Ibu pulang, dia selalu menolak. Awalnya aku pikir Ibu gengsian balik lagi ke kampung. Dalam artian dia lebih suka dengan kehidupan kota yang gemerlap. Aku mencelanya karena bagiku kota adalah tempat yang sangat buruk dan penuh akan lubang penderitaan. Sampai akhirnya aku diteriaki oleh Ibu karena tidak tahan dengan desakan ku yang menjengkelkan. Dia bukannya enggak mau pulang tapi dia malu dan tidak berani bertemu dengan sanak saudara di sana.
__ADS_1
Malu karena mempercayai laki-laki yang salah sampai terjerumus ke jalan ini.
Namanya pikiran childis, lagi-lagi aku menyalahkan Ibu karena bekerja di dunia malam. Membuat lubang untuk dirinya sendiri. Aku lupa dan terlalu egois kalau itu bukanlah keinginan Ibuku. Melainkan jebakan dari bibi Safa.
"Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu dengan keluarga di kampung. Aku janji." Mas Kenzie tiba-tiba berjanji kepadaku.
Aku terkejut. Diam-diam hatiku jadi manis.
"Insya Allah, mas. Aku yakin hari itu akan datang. Ngomong-ngomong mas Kenzie enggak mau tahu apa pekerjaan ku dan Ibuku selama tinggal di sini?" Aku telah mempersiapkan diriku terlepas dari apa reaksinya setelah mendengar ceritaku.
Ya Allah, aku bilang diri ini ingin menjadi seorang istri sekaligus pendamping seumur hidup mas Kenzie. Aku siap terbuka kepadanya dan menceritakan masa lalu pahit ku kepadanya. Selama bisa bersamanya, aku sungguh siap menjelaskan siapa diriku.
__ADS_1
Kecepatan mobil mulai melambat. Aneh, mungkinkah ini hanya perasaanku saja kalau mas Kenzie agak tegang?