
"Hem..." Azira menggeliat nyaman dalam tidurnya.
Tubuhnya terasa hangat dan tidak kedinginan seperti sedang memeluk kompor hidup. Karena kenyamanan ini dia merasa enggan bangun dari tidurnya. Dan malah semakin menarik diri ke dalam sumber kehangatan. Menggeser dan menggeser, dia takut bila kehangatan ini menghilang jika dia tidak segera menangkapnya.
"Jika kamu terus mengebor ke dalam pelukan ku, maka aku pasti tidak akan memiliki tempat lagi untuk tidur." Suara berat Kenzie bagaikan alarm bahaya di dalam kepala Azira.
Kelopak matanya terbuka lebar. Beberapa detik kemudian pikiran yang berkabut akhirnya mendapatkan kejernihannya. Sedetik kemudian kedua bola matanya membola kaget, menatap horor dada bidang yang sudah tidak asing lagi untuknya. Belum lagi wangi yang terus merasuki hidungnya, bagaimana mungkin Azira tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang?
"Aku..." Dengan kaku dia mengangkat tangannya dari dada Kenzie sembari menggeser tubuhnya menjauh ke belakang.
Matanya serasa dibutakan saat melihat Kenzie berada di ujung kasur. Jika bergerak sedikit saja maka mungkin dia akan jatuh.
Oh ini sangat memalukan. Azira menyentuh hidungnya malu tak berani menatap ke arah Kenzie.
".... biasanya tidak seperti ini. Tidurku selalu baik-baik saja sebelumnya." Azira membuat pembelaan.
__ADS_1
Bila kemarin dia bangun saat Kenzie masin tidur, semuanya pasti tidak akan terlalu memalukan. Tapi sekarang?
Dia merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia tidur sekacau ini?
Bukannya dulu dia tidak pernah banyak gerak saat tidur apalagi sampai...um, memeluk seseorang sampai membuatnya hampir jatuh! Dia tidak pernah melakukan ini!
"Oh, ya?" Kenzie memiringkan tubuhnya menghadap Azira sembari menggunakan tangan kanannya untuk bertumpu di atas bantal dan menahan kepalanya. Matanya yang jernih memandang Azira dengan penuh minat.
"Kenapa aku merasa bila adegan saat ini familiar? Apakah kamu pernah memelukku saat tidur sebelumnya-" Sebelum Kenzie menyelesaikan ucapannya, Azira sudah berbicara panik memotongnya.
Dia seperti sedang lari maraton!
"Yah..." Kenzie tersenyum dan tidak berniat mengekspos 'kejujuran' istrinya. Tapi bukan berarti dia membiarkan Azira bebas begitu saja.
"Nah, lalu malam ini apa yang baru saja kamu mimpikan? Kenapa kamu tiba-tiba mengebor masuk ke dalam pelukanku? Apakah karena kamu... ingin melakukan-"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, mas!" Potong Azira ketakutan.
Apakah Kenzie bisa membaca pikiran orang lain?
Dia pernah dengar gosip sewaktu sekolah di SMA bahwa orang yang rajin ibadah atau masuk dalam golongan 'alim' memiliki kelebihan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Misalnya seperti bisa melihat mahluk gaib, atau bisa membaca pikiran orang dan lainnya.
Benar atau tidaknya Azira tidak tahu karena belum pernah membuktikannya sendiri!
Lalu apakah Kenzie termasuk dalam golongan orang-orang ini?
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Wajahmu terlihat memerah?" Kenzie tanpa peringatan mencubit pipi lembut Azira yang masih tirus.
Gerakan ini secara refleks dilakukan ketika melihat rona merah mulai menyebar. Dan saat merasakan pipi Azira yang masih belum menumbuhkan banyak daging, Kenzie tiba-tiba menyesalinya.
"Aduh, mas Kenzie kok cubit, sih?" Keluh Azira.
__ADS_1
Bukan karena sakit tapi karena malu. Um, dia langsung salah tingkah pipinya dicubit oleh suaminya.