
"Kakak..." Bibi Indring ingin mengatakan sesuatu tapi suara Abah mendahuluinya.
"Yang dilakukan oleh Frida bukan hanya kejahatan biasa, tapi sebuah fitnah. Ingat baik-baik, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Pembunuhan menghilangkan nyawa, tapi fitnah merusak mental, merusak hubungan, dan menghancurkan kehidupan seseorang. Itulah mengapa fitnah disebut lebih kejam daripada pembunuhan. Maka permintaan kakakmu untuk membawa pulang Frida adalah keputusan yang benar. Kami tidak melarangnya datang ke sini, tidak, dia bisa datang ke sini asalkan setelah dia merenungi semua kesalahannya. Dan seperti yang kamu tekankan barusan, Frida memang keluarga kami, dia adalah anak kami juga. Justru karena dia adalah anak kami, maka kami memintanya untuk pulang ke rumah kalian. Berikan dia kesempatan untuk merenungi kesalahannya. Dan kalian sebagai orang tuanya, jangan pernah membiarkannya hanyut dalam kesalahan yang telah dia perbuat tapi enggan dipertanggungjawabkan. Karena konsekuensinya tidak main-main. Dia akan meremehkan kebenaran. Indring, kami mengatakan ini karena kami sayang kepada Frida." Abah menasehati dengan bijaksana, kata-kata yang dilontarkan pun terkesan lembut dan tidak sekasar Umi.
Umi tidak bisa menahan amarahnya, tapi dia sebagai laki-laki, terlebih pemimpin keluarga harus dapat berpikir secara dingin untuk menengahi setiap masalah.
Sekarang Abah sudah berbicara, Bibi Indring merasa sangat malu. Siapakah Abah?
Keluarga besar sangat menghormatinya. Suara Abah sangat didengarkan. Dan akan sangat memalukan jika bibi Indring memaksakan argumennya kepada Abah. Selain itu tidak ada yang salah dari kata-kata Abah. Semuanya bernilai kebaikan dan memiliki nasehat yang baik, maka dari itu bibi Indring harus mengalah.
"Kakak, aku mengerti. Aku hanya kasihan kepada putriku. Dan syukurlah kakak masih mengizinkan putriku masih bisa datang ke rumah ini. Aku sungguh sangat bahagia mendengarnya karena kalian berdua adalah salah satu keluarga yang cukup dekat dengan putriku." Ucap bibi Indring mengalah.
"Jangan hanya memikirkan perasaan putri bibi saja, tapi cobalah pikirkan bagaimana perasaan istriku saat harga dirinya direndahkan." Suara datar dan membosankan Kenzie menginterupsi obrolan mereka bertiga.
Bibi Indring menoleh kaget. Bertanya-tanya sejak kapan Kenzie berdiri di sana. Mungkinkah semua pembicaraan mereka bertiga telah didengar oleh Kenzie?
Tapi percuma saja mengkhawatirkan ini sekarang karena ujung-ujungnya, baik Umi ataupun Abah akan membicarakan masalah ini dengan Kenzie. Selain itu Azira, wanita liar itu pasti telah mengompor-ngompori Kenzie agar menjauhi Frida.
"Kenzie... Frida benar-benar tidak bermaksud seperti itu kepada istrimu." Bibi Indring membela putrinya dengan lemah.
Dia harus menjaga citra putrinya di depan Kenzie.
Melihatkan Kenzie datang ke sini, Umi dan Abah secara alami tidak menegur Kenzie. Toh, masalah ini juga berkaitan dengan Kenzie karena Azira adalah istrinya.
"Tidak bermaksud apa-apa?" Kenzie tersenyum acuh tak acuh.
"Tidak bermaksud apa-apa tapi masih memfitnah istriku. Bibi ini sedang bercanda, ya?"
Bibi Indring tidak bisa menjawab. Setiap kali dia melihat Kenzie dirinya pasti tidak bisa berkutik. Entahlah, jika Abah memiliki rasa hormat di sekelilingnya, namun Kenzie memiliki perasaan khusus yang membuat orang-orang berpikir sekali dua kali untuk membuat masalah kepadanya. Mungkin itu karena pekerjaannya sebagai dokter bedah, atau mungkin itu karena sikapnya yang acuh tak acuh, terkesan menjaga jarak dari orang-orang.
"Untuk semua yang dia lakukan putriku, aku minta maaf." Ucap bibi Indring lemah.
Kenzie tersenyum. Matanya lalu beralih menatap kedua orang tuanya.
"Sudah saatnya makan malam. Istriku sudah menyiapkan makanan dan dia menunggu kita." Lalu kembali menata bibi Indring dengan senyuman yang sama,"Tolong panggil yang lain juga bibi, kita akan makan malam bersama."
Setelah mengirim pesan kepada semua orang, dia langsung berbalik pergi ke ruang makan. Sesampai di sana meja sudah dipenuhi oleh berbagai macam makanan yang masih mengeluarkan uap panas.
Dari jauh Kenzie dapat mencium wanginya. Sangat harum dan menggugah selera. Masakan Umi dan Azira itu enak, tapi memiliki cita rasa yang berbeda namun sangat cocok di lidah Kenzie.
"Umi dan Abah mana, mas?" Azira keluar dari dapur dengan sepiring penuh potongan semangka merah.
Duduk di kursinya,"Mereka akan segera ke sini."
Lalu menoleh melihat makanan di atas meja.
"Ini semua kamu yang masak?" Sebanyak ini?
Azira tersenyum malu. Tangannya berpura-pura sibuk menggeser piring-piring di atas meja makan.
__ADS_1
"Nggak semuanya karena Umi juga membantu di dapur." Azira malu mengakui.
"Hum, wanginya enak. Sayang banget aku nggak bisa bawa kotak bekal besok." Ucap Kenzie bergumam.
Azira menggigit bibirnya gugup. Dia suka, suka sekali memasak di rumah ini. Alasannya karena reaksi orang-orang yang memakan makanannya. Terutama reaksi Kenzie. Ini sudah ke berapa kalinya Kenzie mengatakan bahwa makanan yang dibuat selalu enak. Jadi bagaimana dia tidak bersemangat memasak?
Dia selalu menanti tanggapan Kenzie.
"Kamu berangkat subuh-subuh, mas? Aku bisa kok buatin kamu kotak bekal." Nanti setelah shalat tahajud, Azira bisa memasak di dapur sambil menunggu waktu shalat subuh datang.
Ugh, sejak kapan aku mulai rajin beribadah? Batin Azira heran dengan perubahan dirinya.
Ini baru beberapa hari saja, tapi Kenzie berhasil membantunya berubah. Walaupun tidak terlalu besar, tapi setidaknya dia berubah.
"Nggak usah. Tapi kalau kamu nggak keberatan, buatkan saja aku kotak bakal besok siang dan minta pak Maman mengirim kotak bekal makan siang ku ke rumah sakit."
Awalnya Azira kecewa karena tawarannya ditolak. Tapi setelah mendengar kalimat terakhir, dia langsung merasa lega.
Reaksi yang aneh.
"Aku nggak keberatan, mas. Ya udah, besok aku akan menyiapkan kotak bekal untuk makan siang mas di rumah sakit. Mas Kenzie mau menu apa?"
Kenzie tidak terlalu menuntut.
"Apapun yang kamu masak, bawa saja ke sana. Ngomong-ngomong masakan kamu selalu enak, belajar dari mana? Ibu?"
"Azira?" Panggil Kenzie karena tak mendengar tanggapan dari istrinya.
Azira terbangun dari lamunannya.
"Oh, Ibu nggak pandai masak. Dan aku belajar memasak seadanya. Baru setelah sampai ke rumah ini, Umi mengajarkanku memasak masakan yang sering dimasak oleh Umi." Jawab Azira jujur.
"Oh..." Kenzie melihat ekspresi sendu di wajah istrinya sempat berkelebat, tapi dengan mudahnya dia kembali memasang tampilan normal.
Azira terkadang memiliki reaksi ini setiap kali ibunya disebutkan. Dan Kenzie tahu bahwa ibunya adalah salah satu faktor penting yang membuat reaksi psikologis Azira tidak normal. Sudah pasti bawa peran ibu di dalam hati Azira sangatlah penting.
"Mas Kenzie, Azira." Perlahan satu demi satu orang tiba di ruang makan.
Pertama Umi dan Abah, lalu rombongan bibi Indring, paman Roni dan Frida.
Ketika Frida bergabung, suasana di meja makan langsung berubah. Umi yang tadinya banyak bicara langsung menjadi orang yang pendiam. Dia bahkan secara terang-terangan memalingkan wajahnya dari Frida. Enggan menatap.
Sementara Azira, korban dari masalah ini justru biasa-biasa saja. Dia sangat tenang seolah tidak terpengaruh dengan kedatangan Frida.
"Silakan duduk." Azira mempersilahkannya duduk.
Frida menundukkan kepalanya menahan kesal juga malu. Tadi bibi Indring tiba-tiba masuk ke dalam kamar Sasa dan memarahi. Bibi Indring mengatakan kalau rencananya gagal total karena Umi juga berada di taman jauh sebelum dia datang menghampiri Azira. Artinya semua percakapannya dengan Azira didengar oleh Umi. Dia tidak punya tempat untuk mengelak. Dan menurut apa yang bibi Indring katakan tadi, baik Abah maupun Umi menuntutnya untuk segera pergi dari rumah ini. Pergi dari rumah ini sekarang bukan berarti tidak bisa berkunjung di masa depan, dia lega mendengarnya. Hanya saja dia tidak bisa menerima dirinya diusir begitu saja. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah,
Dia melirik Azira dan Kenzie yang duduk agak jauh darinya. Dia memperhatikan kalau Kenzie sesekali akan mengobrol dengan Azira. Entah apa yang mereka katakan, dia tidak tahu dan tidak bisa mendengarnya. Sungguh sial. Menahan cemburu di hatinya, dia sontak berdiri dan berhasil menarik perhatian semua orang. Khususnya obrolan rahasia di antara Kenzie dan Azira.
__ADS_1
"Sebelum kita makan, izinkan aku mengatakan sesuatu kepada kalian semua."
Bibi Indring dan paman Roni menatap putri mereka dengan tatapan bermartabat. Sebelum datang ke sini mereka sudah mendikte Frida agar mau meminta maaf kepada Azira kalau ingin memenangkan hati semua orang.
Namun yang tidak mereka duga adalah Frida langsung meminta maaf di atas meja makan.
Sungguh keputusan yang bijaksana. Dia memang putriku. Batin bibi Indring bangga.
Frida menatap semua orang dengan tatapan malu. Wajahnya yang lembut berubah menjadi sendu dan matanya mulai memerah. Setelah melihat wajah orang-orang, dia membawa pandangannya fokus menatap Azira dengan sikap penyesalan.
"Azira... Aku... Aku sungguh khilaf. Aku tahu bahwa kata-kata ku telah menyakiti hatimu dan aku tahu bahwa apa yang kukatakan kepadamu, sungguh tidak mudah untuk dilupakan. Aku sangat menyesalinya. Karena keegoisan di dalam hatiku, aku tidak hanya merendahkan dirimu tapi aku juga memfitnah kamu. Aku sungguh menyesal. Bila waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan melakukan kesalahan ini lagi. Aku sangat menyesali perbuatanku kepadamu. Maaf, tolong maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud menyakiti hatimu. Sebenarnya aku ingin mengenal kamu lebih baik lagi. Karena kita adalah keluarga sekarang. Aku tidak mau mas Kenzie hidup dalam ketidaknyamanan karena pernikahan ini jadi aku mencoba berbicara denganmu. Akan tetapi semuanya berujung sia-sia ketika aku terbawa emosi dan lepas kendali. Tolong maafkan aku. Aku mohon." Kata-katanya begitu tulus ditambah dengan ekspresinya yang lembut, membuat orang-orang sulit diyakinkan.
Frida yakin bahwa kata-kata maafnya telah menyentuh hati semua orang termasuk Kenzie. Dia berharap bahwa permintaan maafnya hari ini dapat mengubah pandangan Kenzie kepadanya. Karena sungguh, hanya Allah yang tahu betapa dia sangat menyukai Kenzie.
Mendengar permintaan maaf Frida, dia sedikit bingung. Fitnah apa yang dibicarakan oleh Frida dan kenapa dia tidak tahu?
Dia bingung tapi tidak menolak permintaan maaf Frida.
Lagi pula ini adalah pertunjukan Frida, jadi layani saja.
Tersenyum lembut,"Aku sudah memaafkan kamu, lagi pula kita adalah keluarga. Tapi lain kali, jika kamu punya ketidakpuasan ataupun masalah terhadapku, maka lebih baik bicarakan saja kepadaku daripada terbawa emosi. Aku dengar dari mas Kenzie, banyak marah itu berbahaya untuk kesehatan. Jadi berusahalah untuk bersabar dan menjaga pikiran tetap positif, agar kesehatan kamu tidak terganggu." Azira menasehati dengan murah hati.
Bibirnya masih tersenyum sekalipun Frida kehilangan senyum di wajahnya. Lihat, dia tidak melakukan apa-apa tapi Frida selalu bereaksi keras terhadapnya. Jika bukan karena menyukai Kenzie, lantas alasan apalagi yang bisa menjelaskan permusuhan pribadi Frida kepadanya?
Mendengar apa yang dikatakan Azira kepada Frida, Kenzie hampir saja tertawa. Bagaimana mungkin istrinya bisa menjaga wajahnya ketika mengirimkan kata-kata olokan itu?
"Apa yang dikatakan istriku memang benar. Lain kali jangan mudah terbawa emosi, apalagi kamu masih seorang gadis. Mudah marah tidak hanya membuat kesehatan memburuk, tapi juga membuat wajahmu berkerut. Jadi berhati-hatilah di masa depan." Kenzie berdeham ringan menindaklanjuti perkataan istrinya.
Di depan semua orang dia berusaha menahan wajahnya agar tetap datar dan bermartabat.
Kening paman Roni dan bibi Indring berkedut menahan marah. Bisa-bisanya wanita liar itu mengolok-olok putri mereka dan yang lebih mengherankan lagi, Kenzie juga mendukung apa yang dikatakan oleh wanita liar itu. Mereka tidak bisa menerimanya tapi tidak bisa mengatakan apa-apa. Sebab ini adalah kesalahan putri mereka.
"Aku mengerti, mas. Aku berjanji tidak akan mudah terpancing emosi lagi." Frida dengan malu berjanji.
"Terima kasih Azira karena telah mau memaafkan ku. Sekarang aku benar-benar lega." Ucapnya dengan hati dongkol.
Laku makan malam pun berlanjut. Setelah Frida meminta maaf kepada Azira, suasana di meja makan tidak lagi secanggung sebelumnya. Baik bibi Indring maupun paman Roni mencairkan suasana dengan berbagai macam topik pembicaraan. Walaupun reaksi Umi tidak terlalu antusias, tapi mereka lega karena Umi masih mau berbicara dengan mereka.
"Marah?" Kenzie berbisik kepada Azira.
Azira menoleh,"Marah kenapa?"
"Apakah kamu tidak marah kepada Frida? Aku sudah mendengar semuanya dari Umi." Kata Kenzie.
Azira memalingkan wajahnya menatap piring di hadapannya.
"Marah, kenapa aku tidak bisa marah di saat harga diriku dan ibuku direndahkan?" Frida memang tidak mengatakan bahwa ibunya kotor, tapi dengan menyebutkan 'asal muasal' saja sudah mempertanyakan kualitas ibunya.
Baik, Ibu memang bukan orang yang berpendidikan tinggi, berasal dari kampung jauh, hidup miskin, dan dipaksa oleh kehidupan bekerja sebagai wanita malam. Ibunya bukan orang yang baik di mata banyak orang, tapi di hati Azira, ibunya adalah orang terbaik di dunia ini. Sebab ibunya rela menggadaikan kehormatannya demi menghidupi Azira, dan takkan pernah mengizinkan Azira mengikuti jejaknya sebagai wanita malam.
__ADS_1