Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 10.2


__ADS_3

"Kenzie, kenapa diam saja diluar, ayo masuk, Nak?" Umi memanggil dari dalam.


Ketika melihat ada Frida di samping Kenzie, wajahnya langsung tak bersahabat. Dia mendengus dingin sambil mendesak Kenzie agar segera masuk dalam rumah.


Frida tersentak kaget mendengar panggilan Umi. Dengan kaku dia menoleh ke belakang, di depan pintu masuk Umi tengah mengawasinya dengan mata tak bersahabat. Melihat sikap dingin Umi kepadanya, wajahnya langsung menjadi suram. Kemudian dia menoleh ke arah Kenzie. Matanya terlihat sangat menyedihkan. Bila orang tidak tahu apa yang telah dia lakukan, maka mungkin mereka akan berpikir bahwa Frida telah dianiaya.


"Baik, Umi." Tanpa menyapa Frida terlebih dahulu, dia langsung pergi menghampiri Umi dan mencium tangannya sembari memberikan salam.


"Assalamualaikum, Umi. Di mana Azira?"


Umi langsung tersenyum. Dia lega sekaligus tak berdaya karena pulang-pulang ke rumah orang pertama yang ditanya oleh putranya adalah Azira, bukan dirinya.


"Waalaikumsalam. Terakhir kali Umi lihat Azira sedang ada di dapur. " Jawab Umi puas kepada putranya.


Saat dia berbicara dengan Kenzie, bola matanya sesekali bergerak melihat ke arah Frida yang masih berdiam diri di tempat tidak berani melangkah untuk mendekati mereka. Frida bukannya tidak mau ke sana, apalagi di sana ada Kenzie, dia malah berharap bisa ada di sana. Tapi karena wajah jutek Umi dan sikap acuh tak acuh Umi kepadanya membuat dia langsung menjadi ciut. Dia tidak menyangka kalau kemarahan Umi akan seserius ini. Tidak hanya tidak mau memandangnya dengan wajah baik, tapi Umi juga bersikeras menunjukkan sikap bahwa dia harus segera keluar dari rumah ini.


Jika dia tahu semuanya akan seperti ini. Dia tidak akan ceroboh mengatakan kata-kata kasar itu kepada Azira.


Wanita liar itu memang pembawa sial. Gara-gara dia aku jadi kelepasan emosi dan berkata kasar. Dan gara-gara dia, Umi mendengar apa yang aku katakan. Sekarang lihatlah apa yang terjadi, Umi sangat marah kepadaku dan selalu memberikanku wajah jutek. Jika aku datang mendekatinya dia pasti langsung mendengus tidak senang. Ya Allah aku nggak pernah dapat perlakuan sedingin ini sebelumnya dari Umi kalau bukan gara-gara wanita liar itu. Aku sangat kesal dan sedih. Sekarang harapanku hanya pada mas Kenzie. Kuharap dia mau mendengarkanku dan menjelaskan kepada Umi apa yang telah ku jelaskan kepada mas Kenzie. Umi pasti mendengarkan apa yang mas Kenzie katakan. Batin Frida penuh harap.


Seharian ini dia telah memikirkan berbagai macam cara untuk mengubah situasinya yang canggung di rumah. Pertama dia tidak mau meminta maaf kepada Azira tapi dia juga tidak mau diusir di rumah ini, jadi dia harus memikirkan cara untuk membalikkan situasinya. Kedua dia enggan meninggalkan rumah ini karena apa yang diinginkan belum tercapai, jadi bagaimanapun caranya dia harus tinggal di rumah ini.


Sementara Frida terjebak dalam pikiran yang rumit dan penuh akan rencana menyimpang, Umi dan Kenzie sama sekali tidak memperhatikan keberadaannya.


"Dia memasak? Apa dia nggak tahu kalau aku pulang jam segini? Kenapa Umi yang menyambut ku datang dan bukan dia?" Kenzie mengeluh kepada Umi.


Kenzie sudah bete gara-gara Azira tidak menghubunginya seharian, jangankan menelpon mengirim pesan saja dia tidak melakukannya. Siapa yang tidak kesal coba.


"Jangan marah dulu. Hari ini dia nggak bisa diam di rumah. Tangan dan kakinya terus bekerja melakukan ini ataupun itu. Padahal Umi udah ngelarang dia. Tapi dia bilang bosan kalau nggak ngelakuin apa-apa, jadi Umi biarin aja. Selain itu..." Umi menatap Kenzie ragu-ragu. Apakah dia harus membicarakan masalah yang terjadi hari ini?


Umi telah mempertimbangkannya hari ini. Apalagi ketika melihat ekspresi menyedihkan Azira hari ini, dia mengerti bahwa apa yang di katakan Frida kepadanya telah membebani hati.


"Hibur lah Azira dan jangan menegurnya. Kasihan, semenjak dihina oleh Frida wajahnya tidak pernah menunjukkan senyuman." Kata Umi tulus.


Sekarang mendengarkan perhatian Umi kepada istrinya, Kenzie mulai bertanya-tanya apa yang telah membuat Umi berubah drastis kepada Azira?


Dia tahu orang seperti apa Umi. Umi sangat membenci dan tidak menyukai orang yang melakukan kejahatan, apalagi kejahatan yang Azira lakukan tidak kecil di rumah ini. Harusnya Umi tetap bersikap dingin seperti sebelumnya tapi sejak beberapa waktu yang lalu Umi tiba-tiba menunjukkan perubahan dan memperlakukan Azira sangat baik. Mau nggak mau dia bertanya-tanya, apakah dia telah melewatkan sesuatu tentang Azira?


Rupanya penyelidikan Azira harus segera dilakukan. Kenzie telah memikirkan Azira baru-baru ini setelah kejadian di mall beberapa waktu lalu. Dia semakin penasaran bagaimana latar belakang Azira dan orang seperti apa istrinya ini dulu.

__ADS_1


"Aku mengerti Umi. Terima kasih telah memperhatikan istriku." Ekspresi Kenzie langsung berubah.


Dia sama sekali tidak berniat menyebutkan apa yang telah Frida katakan kepadanya beberapa saat yang lalu. Dia bukan orang bodoh yang mudah terperdaya dan dia juga bukan orang yang mudah bersimpati kepada orang-orang yang memiliki tujuan tertentu kepadanya.


Sekilas dia tahu bahwa Frida menginginkan sesuatu kepadanya jadi lebih baik jangan merespon apapun yang dilakukan ataupun katakan, karena semakin baik dia bersikap merespon Frida maka semakin melunjak pula Frida kepadanya.


"Sudah seharusnya, Nak. Sudah, kamu masuk dulu gih. Ganti baju kamu dan ke bawah." Desak Umi kepada putranya.


Kenzie mengangguk tenang dan menarik tangan Umi masuk ke dalam rumah bersamanya. Begitu masuk ke dalam rumah dia tidak langsung naik ke lantai atas untuk berganti pakaian, namun dia langsung pergi ke dapur untuk mencari istrinya. Dari luar dapur dia bisa melihat sosok pemilik punggung kurus itu menunduk serius memasak sesuatu di wajan.


Tidak seperti yang dibayangkan oleh Umi, Azira tidak sesedih itu dan malah bersikap seperti biasanya. Tenang dan kalem, penampilan ini sungguh menipu.


Tersenyum kecil,"Menarik."


Kemudian dia masuk ke dalam dapur.


"Sibuk memasak, huh?" Ejeknya sembari mengeluarkan kotak bekal yang sudah dimakan bersih isinya dari dalam tas kerja.


"Mas Kenzie!" Azira terkejut mendengar suara suaminya.


Buru-buru dia mengambil kotak bekal itu dan menaruhnya di atas wastafel.


"Kamu melupakan pelukan dan salam?" Kenzie dengan murah hati mengingatkan.


"Assalamualaikum, mas? Hari ini kok pulangnya lebih awal dari kemarin?" Dia melihat waktu di jam dinding, masih setengah jam lagi dari jadwal Kenzie pulang kemarin.


Makanya dia tidak menunggu di depan. Dia kira Kenzie akan pulang setengah jam lagi.


"Iya, pekerjaan di kantor setengah jam selesai lebih cepat. Besok aku harus berangkat setelah shalat subuh ke rumah sakit karena ada jadwal operasi. Kamu nggak perlu membuatkan aku kotak bekal karena nanti aku makannya di rumah sakit saja." Jelas Kenzie sembari memberikan jas putihnya kepada Azira.


Ketika Azira akan mengambil alih tas kerja di punggungnya, Kenzie langsung menghentikan. Tasnya agak berat karena ada laptop dan beberapa dokumen di dalamnya.


"Di mana pelukanku?" Kenzie menuntut dengan senyum main-main di wajah.


Azira langsung menjadi gugup. Pulang dari rumah sakit suaminya tiba-tiba jadi aneh. Apakah ini karena tuntutan pekerjaan di sana atau karena suaminya tertular penyakit saraf?


"Pelukan apa sih, mas?" Tanya Azira dengan mata melotot.


Dia tidak lupa dendamnya tadi subuh. Berani-beraninya Kenzie menggigit lehernya!

__ADS_1


Tersenyum dalam,"Pelukan selamat datang. Suami istri lazimnya melakukan ini ketika bertemu setelah sekian lama berpisah."


Sekarang Azira tahu kenapa Sasa selalu mengatakan kalau Kenzie agak narsis baru-baru ini. Walaupun belum lama mengenal Kenzie, namun kesan yang diterima Azira ketika baru menikah telah memberitahunya bahwa Kenzie bukanlah orang yang suka bermanis-manis ataupun banyak bicara. Tapi kenapa sekarang dia suka sekali memprovokasi Azira dengan tindakan-tindakan ambigu?


Apakah pasangan suami istri normal yang Kenzie inginkan memang seperti ini?


"Aku... Aku nggak pernah tahu kalau ada pelukan selamat datang saat suami baru pulang bekerja." Kata Azira canggung. Sejujurnya ini murni karena dia tidak berani mengambil inisiatif untuk memeluk Kenzie.


Azira menggaruk lehernya yang tak gatal.


Rasanya tiba-tiba canggung saat Kenzie meminta sebuah pelukan. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Kenzie kepadanya, dia tidak berani menebak apa yang dipikirkan dan tidak berani berharap kalau Kenzie punya sesuatu kepadanya. Dia sungguh sadar diri untuk semua yang telah dilakukan. Bahkan latar belakang keluarganya yang miskin dan berasal dari tempat yang kotor menjadi salah satu faktor yang menguatkan segala macam keraguan Azira kepada Kenzie. Yah dia ragu, ragu dapat bersanding dengan Kenzie.


Walaupun Kenzie mengatakan bahwa dia ingin membangun sebuah keluarga kecil, berperilaku dan bersikap selayaknya suami istri pada umumnya, namun ada ketakutan besar jika Azira terlalu mendalami perannya maka dia akan lupa diri dan tidak bersiap saat Kenzie membuangnya.


Pikiran Azira serumit ini. Dia penuh akan banyak ketakutan.


"Kenapa kamu kolot sekali? Jangan terlalu banyak berpikir, kemari?" Kenzie merentangkan kedua tangannya menunggu pelukan Azira.


Azira menggigit bibirnya kesal. Kenapa Kenzie sangat keras kepala, apakah dia tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti apa yang sedang dia pikirkan?


Bukankah untuk situasi mereka berdua, melakukan hal-hal romantis itu sedikit canggung?


"Kemari lah.." Kenzie sudah tidak sabar lagi.


Ragu-ragu, Azira mengambil satu langkah ke depan dan membawa tangannya melingkari punggung tegak suaminya.


"Sudah-" Setelah berhasil memeluk Kenzie, dia ingin mundur ke belakang untuk melepaskan pelukannya dari Kenzie.


Tapi tiba-tiba tangan kuat Kenzie langsung memeluk Azira dan menekan Azira sepenuhnya jatuh ke dalam pelukan hangatnya.


Wush


Wajah Azira tenggelam di dalam dada bidang suaminya. Seketika wangi menenangkan yang baru-baru ini menjadi favoritnya segera menabrak indera penciumannya, begitu menciumnya, matanya sontak terpejam menikmati wangi menenangkan khas milik suaminya.


"Allahu Akbar... Ya Allah, kenapa kalian mesra-mesraan di dalam dapur, apa kalian nggak bisa mencium bau masakan yang gosong?" Umi berteriak histeris sambil mematikan kompor jangan lupa dimatikan oleh Azira.


Teriakan Umi berhasil menarik Azira dari pikirannya. Dia melepaskan pelukan Kenzie dan buru-buru menjaga jarak. Beberapa detik kemudian hidungnya sakit mencium bau makanan gosong di dapur. Pasalnya bau itu sangat kuat hingga membuat hidungnya mati rasa.


Barulah dia sadari kalau dia lupa mematikan kompor karena fokusnya teralihkan gara-gara kedatangan Kenzie ke dapur. Masakan yang hampir jadi kini sepenuhnya gosong. Di dalam panci kerak hitam ada di mana-mana, membuat Azira ketakutan.

__ADS_1


"Umi...maaf, aku ceroboh. Aku lupa mematikan kompor tadi." Azira langsung mengakui kesalahannya.


Umi memang kesal karena makanan jadi terbuang sia-sia dan panci kesayangannya teraniaya di bawah pengasuhan Azira. Bagi ibu-ibu rumah tangga di luar sana, peralatan dapur bagaikan nafas mereka. Bila rusak, sakitnya seakan-akan kehilangan uang segepok.


__ADS_2