Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 4.4


__ADS_3

"Enggak usah repot-repot, Umi bisa melakukannya sendiri." Umi menolak tawaran Kenzie tanpa mengangkat kepalanya.


Umi kecewa dengan pilihan putranya yang lebih memilih menikahi Azira, wanita asing yang belum jelas identitasnya daripada menikahi Humairah, wanita yang jelas-jelas jauh lebih baik dan jelas asal-usulnya.


Umi tahu bahwa ia tidak bisa menyalahkan Azira sepenuhnya atas pernikahan ini karena jika Kenzie tidak menyebut nama yang salah, maka pernikahan ini tidak akan sah. Dan itulah yang Umi tidak habis pikir. Jelas-jelas nama Humairah berbeda dengan nama Azira, tapi mengapa putranya masih menyebut nama yang salah?


Salah!


Ini salah!


Dan semua ini adalah kesalahan Azira, wanita asing yang datang entah darimana, dan dengan cara yang sangat licik Azira menyingkirkan calon menantu yang Umi idam-idamkan.


"Umi, istriku ingin dekat dengan keluarga kita. Jadi tolong izinkan dia membantu Umi dan yang lainnya di dapur." Kenzie tidak menyerah dengan penolakan Umi.


Dia sengaja menarik lengan Azira agar lebih dekat dengan Umi sembari mengabaikan betapa buruk ekspresi Azira saat ini.


Katakan saja Azira pengecut. Yah, dia merasa menjadi orang yang sangat penakut saat berhadapan langsung dengan Umi. Yang benar saja?


Jika Kenzie selalu memberikannya kesan sedang ditatap oleh serigala, maka berdiri di depan Umi justru memberikan Azira sebuah perasaan sedang ditatap oleh harimau betina.


"Aku..." Azira memegang lengan Kenzie takut.


Kenzie harusnya tahu apa yang dia rasakan tapi masih bersikap acuh dan malah sengaja mendorongnya pergi. Benar saja, Kenzie ingin mempermalukannya di depan keluarganya sendiri.


"Jangan malu, Umi pasti tidak akan menolak." Sela Kenzie sambil menepuk punggung tangan Azira yang ada di lengannya.


Melihat interaksi mereka berdua, Umi kian marah dan kecewa. Dia tidak tahan terus menonton pertunjukan manis pasangan pengantin baru ini jadi dia terpaksa mengiyakan perkataan Kenzie.


"Baiklah. Tinggalkan dia di sini dan kamu bisa keluar. Kebetulan Abah ingin membicarakan sesuatu denganmu." Kata Umi muram.


Tubuh Azira langsung menegang. Ia spontan memegang erat lengan suaminya, namun sang suami malah melepaskan tangannya. Memberikan Azira sebuah senyuman yang lebar, Kenzie lalu memisahkan diri dari Azira dan mundur beberapa langkah jauhnya dari Azira.


"Baiklah, Umi. Aku akan pergi menemui Abah sekarang. Istriku, jangan terlalu lelah bekerja di dapur. Istirahat lah bila kamu merasa lelah." Setelah mengucapkan kata-kata manis ini, Kenzie lalu pergi meninggalkan dapur.


Pergi meninggalkan Azira di dalam sarang harimau sendirian. Azira tidak bisa berkata-kata. Berdiri canggung di sini, ia melihat Umi dengan hati-hati sambil memikirkan dengan keras kata-kata apa yang akan dia ucapkan untuk menyapa mertua terkasihnya.

__ADS_1


"U-umi..." Panggil Azira terbata-bata.


Umi menghentikan aktivitasnya di dapur. Dia lalu mengangkat kepalanya menatap langsung ke arah Azira dengan tatapan menyelidik. Umi secara terang-terangan menatap Azira dari bawah hingga ke wajahnya, mencari-cari sisi mana yang membuat putranya rela menerima wanita ini.


"Apa yang kamu bisa?" Tanya Umi segan.


Azira sangat gugup ditatap sedemikian rupa oleh Umi dan dia tahu jika Umi tidak pernah menyukainya.


"Azira...bisa membantu Umi memasak." Jawab Azira ragu-ragu.


Umi memalingkan wajahnya tidak senang. Dia sangat enggan berbicara dengan Azira, sejujurnya.


"Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan asal jangan menggangguku." Kata Umi dengan nada ketidakpedulian.


Azira meneguk ludahnya gugup. Dia melihat barang-barang yang ada di atas meja dengan tatapan ingin tahu. Ada beberapa barang yang dia kenali dan ada juga beberapa barang yang tidak dia kenali karena belum pernah bersentuhan dengannya.


Azira dulu anak rumahan. Mungkin karena lingkungan sekitarnya yang buruk dan tidak sehat, Ibu selalu melarangnya keluar rumah apalagi bercampur dengan orang-orang dilingkungan itu. Ibu tidak mau melihat Azira terpengaruh tempat itu.


Untuk menebus kesepian nya di rumah, Azira terkadang menghabiskan waktu dengan dapur atau berkebun di belakang rumah sehingga ia tidak terlalu asing dengan pekerjaan rumah. Akan tetapi setelah melihat berbagai macam alat dan barang aneh di dapur ini, Azira ragu menyentuhnya.


Melihat Azira terbengong melihat barang-barang di atas meja, tak satupun dari orang-orang di dapur yang ingin membantu Azira. Mereka membiarkan Azira bingung sendiri dan mengabaikan keberadaannya.


"Nasi goreng pasti lebih enak jika ada irisan timun...yah, lebih baik aku memotong timun saja." Azira memutuskan untuk mencari aman.


Dia mengambil pisau di talenan setelah mencuci bersih timun, lalu mulai memotongnya.


Tepat saat dia mulai bekerja, seorang gadis masuk ke dalam dapur. Gadis itu adalah orang pertama yang membuka pintu kemarin untuk Kenzie dan Azira. Jika Azira tidak salah ingat, gadis itu adalah adik kandung Kenzie.


"Sas, kamu bantu bawa piringnya ke meja makan, yah." Umi memberikan instruksi.


Sasa langsung mengiyakan. Saat dia mengambil piring di rak, matanya tiba-tiba menangkap keberadaan bisu Azira. Suasana hatinya langsung menjadi buruk. Dia menatap Azira sambil berkacak pinggang, tampak angkuh dan arogan. Suasana hatinya yang buruk tertulis jelas di wajahnya.


"Kamu kenapa pakai baju kakakku?" Tanya Sasa murka ketika melihat kemeja dan celana Kenzie dikenakan oleh Azira.


Di matanya Azira selalu salah tidak perduli apapun yang dia lakukan dan dimana pun dia berada. Azira tidak akan pernah menjadi kakak iparnya meskipun Kenzie memarahinya sekali pun. Baginya Humairah selalu menjadi kakak iparnya, istri Kenzie yang sebenarnya.

__ADS_1


Azira terkejut. Dia baru menyadarinya bila Sasa sekarang ada di sampingnya.


Belum sempat Azira menjawab, Sasa kembali mencecarnya dengan sebuah pertanyaan.


"Rambut kamu basah? Rambut kamu benar-benar basah?!" Sasa langsung menyingkap jilbab Azira saat mencium wangi shampoo Kenzie yang melekat di badan Azira.


"Sasa, apa yang kamu lakukan, nak?!" Panggil Umi tidak senang.


Sasa melihat Uminya marah dan menunjuk rambut Azira yang masih belum kering.


"Dia...ngerayu kak Kenzie, Umi!" Tuduh Sasa emosi.


Merayu?


Azira bingung mengapa Sasa tiba-tiba menuduhnya merayu Kenzie. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa semalam dan Kenzie juga tidak akan gila menyentuhnya.


"Jangan bicara omong kosong. Cepat bawa piringnya ke meja." Desak Umi tidak mau berdebat.


Sasa menatap Uminya kesal. Bagaimana mungkin Uminya tidak marah melihat Kenzie diperdaya oleh wanita asing ini. Sebagai adiknya, Sasa sama sekali tidak bisa menerimanya.


"Tapi Umi-"


"Umi bilang sekarang, Sasa." Potong Umi tidak ingin mendengarkan keluhan putrinya lagi.


Sasa merasa dianiaya. Ia menatap Azira kesal dan melemparkan jilbab Azira ke lantai lalu pergi keluar dari dapur tanpa membawa piring yang Umi minta.


Melihat kemarahan Sasa, Umi hanya menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Jangankan putrinya, Umi saja yang melahirkan dan membesarkan Kenzie juga sangat kecewa. Dan Umi kian kecewa ketika tahu bila putranya telah menyentuh Azira.


Kenzie... sepenuhnya telah mengakui pernikahan ini.


"Pakai jilbab mu lagi." Suruh Umi kepada Azira.


Azira masih belum jelas apa yang membuat Sasa marah dan samar-samar mulai menebak sesuatu.


Azira memungut jilbabnya di lantai,"Iya, Umi."

__ADS_1


__ADS_2