Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 25.8


__ADS_3

Alasannya...selain karena aku ingin lebih banyak bersama istriku, itu juga karena perjanjian kita sudah selesai." Jawa. Kenzie acuh tak acuh.


Amara bingung,"Sudah selesai?"


Apanya yang sudah selesai. Ini adalah hutang budi yang tidak akan pernah bisa terbayarkan seumur hidup!


Kenzie tidak akan pernah menyelesaikan pembayaran ini sebanyak apapun yang Kenzie lakukan. Karena itulah Amara nekat menyelamatkan Kenzie dulu karena dia sudah merencanakan hal ini. Mengikat Kenzie dengan hutang balas budi, sampai kapanpun dia akan terus menyeret masalah hutang balas budi ini sebab Amara mengetahui betul bahwa Kenzie tidak akan pernah mampu membayarnya. Dia ingin terus menyeret Kenzie sampai kapanpun...ah, mungkin sampai puncak di mana Kenzie merasa bosan sendiri dan memutuskan untuk melunasinya dengan sebuah pernikahan.


Ini adalah rencana yang briliant, sangat sempurna. Tanpa jaminan rencana ini, Amara tidak mungkin pergi ke luar negeri karena tentu saja dia tidak ingin berpisah dengan Kenzie.


Tapi karena dia tahu masa depan yang lebih baik telah menantinya di masa depan nanti, akhirnya dengan berat hati dia terpaksa meninggalkan negara ini untuk mengejar mimpinya sebagai model. Tapi rencananya melenceng jauh dari harapannya. Karena tiba-tiba dia mendengar kabar jika Kenzie menikah dengan orang lain. Dia sangat marah sewaktu mendengarnya dan buru-buru mengurus surat pengunduran dirinya di agensi tempatnya bekerja. Karena marah dan patah hati dia ingin buru-buru kembali. Ingin melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri apakah Kenzie masih menyimpan wanita lain di dalam hatinya jika mereka berdua bertemu nanti.


"Mas Kenzie jangan suka ngomong setengah-setengah, lihat tuh wajah Amara, dia hampir kehabisan nafas gara-gara penasaran." Keluh Azira manja kepada suaminya.


Jangankan Amara, dia sendiri sangat gregetan menunggu suaminya menyelesaikan ucapannya. Rasa penasaran sungguh tidak terbendung di dalam hatinya. Tapi suaminya sangat pandai membuat seseorang menahan amarah di dalam hati.


"Dengar." Kenzie mengusap puncak kepala istrinya sayang.


Nada suaranya lebih lembut ketika berbicara dengan Azira. Meskipun Amara cemburu melihat perbedaan ini tapi saat ini dia tidak ingin terlalu memikirkannya karena fokusnya berada di tempat lain.


"Hutang balas budi di antara kita sudah selesai. Apakah kamu lupa saat alergi kamu kambuh, aku sendiri yang membawa kamu ke rumah sakit dan aku sendiri pula yang mengarahkan para tenaga medis untuk memberikan penanganan terbaik buat kamu. Coba pikirkan baik-baik jika aku tidak melakukan semua ini hidupmu pasti dalam bahaya. Artinya kamu berhutang balas budi kepadaku dan aku pun pernah berhutang balas budi kepadamu, maka artinya kita impas. Kita tidak saling berhutang apapun. Kamu maupun aku tidak memiliki apapun lagi untuk dibicarakan."


Hati Amara mencelos. Untuk beberapa detik lamanya dia tidak mampu berkata-kata. Ada rasa kecewa, marah, dan sedih. Dia berpikir bahwa Kenzie menyelamatkannya hari itu murni karena dia khawatir dan tidak ada sangkut pautnya dengan hutang balas budi di antara mereka berdua. Tidak disangka alasan kenapa Kenzie menyelamatkannya justru karena ingin segera melunasi hutang diantara mereka berdua.


Memang benar hutang balas budi sangat sulit untuk dilunasi bahkan seumur hidup, tapi bila dibayarkan dengan nyawa yang sama maka hutang balas budi secara kasarnya bisa diselesaikan. Tapi mana mungkin Amara rela melepaskan tali yang telah lama mengikat Kenzie selama ini?


Tidak tidak tidak!


Dia tidak rela, tidak akan pernah rela!


Baginya Kenzie akan selalu berhutang kepadanya. Dan satu-satunya cara bagi Kenzie untuk melunasi semua hutang-hutang itu adalah dengan cara menikahinya. Kenzie harus menghabiskan sisa hidupnya bersama dengannya apapun yang terjadi. Kenzie harus menjadi miliknya!


"Mas Kenzie kok gitu? Aku sama sekali nggak nyangka mas Kenzie memperhitungkan hal sekecil itu!" Kata Amara emosi bercampur sedih.


Kenzie tersenyum dangkal,"Kenapa aku begitu? Jika kamu saja bisa menggunakan penyelamatanmu dulu kepadaku sebagai hutang, Lalu kenapa aku tidak bisa menggunakan penyelamatan ku terhadapmu sebagai hutang pula? Amara, jangan lupa bahwa kamulah yang memulai masalah hutang piutang ini. Jika kamu tidak memulainya maka aku tidak akan pernah menggunakan cara yang sama untuk menghentikan kamu."


Jawaban Kenzie memberikan tamparan yang sangat keras di wajah Amara. Dia sangat malu dan lebih memalukannya lagi orang yang membuatnya malu adalah orang yang berusaha dia perjuangkan. Ternyata sebegitu nya Kenzie ingin lepas darinya?


Merasa sedih, mata Amara mulai mengeluarkan air mata. Dia menangis, menangis dalam diam. Itu semua karena kata-kata ketidakpedulian yang Kenzie lontarkan kepadanya.


Malu, sungguh sangat memalukan.


"Mas Kenzie tidak bisa menyalahkan ku atas yang terjadi di masa lalu karena mas Kenzie tahu sendiri aku melakukan itu semua karena aku terpaksa, aku nggak mau kehilangan mas Kenzie jadi aku terpaksa menggunakan cara ini untuk mengikat mas Kenzie bersamaku. Dan ini sungguh tidak adil buatku! Dia!" Amara mengarahkan jarinya kepada Azira yang sedari tadi diam menonton pertunjukan.


Karena ini bagian suaminya, Azira dengan bijaksana menutup mulutnya berusaha menyimak apa yang dikatakan oleh suaminya. Tapi yang tidak dia duga adalah tidak mengatakan apa-apa pun masih menarik wanita ini, padahal dia dari tadi bersikap patuh dan tidak membuat gerakan aneh-aneh, namun kenapa wanita ini selalu mengincarnya? bukankah ini sangat menjengkelkan!


"Dialah meracuniku. Jika dia tidak memaksaku makan makanan yang membuatku alergi, maka aku tidak mungkin jatuh sakit! Aku tidak mungkin dilarikan ke rumah sakit dan nyawaku tidak akan pernah terancam! Tapi istri mas Kenzie! Istri mas Kenzie berani melakukan itu karena rasa cemburu! Dia hampir saja membunuhku tapi kenapa mas Kenzie diam saja! Kenapa mas Kenzie tidak memberikanku keadilan atas masalah yang disebabkan oleh Azira! Tidak hanya tidak memberikanku keadilan, tapi mas Kenzie juga tidak pernah datang berkunjung ke rumah sakit selama aku sakit. Padahal aku sangat membutuhkan mas Kenzie! Setiap hari aku lewati dengan ketakutan! Mungkinkah Azira akan kembali dan membuat masalah lagi untukku! Sebelumnya aku berhasil bertahan hidup, tapi bagaimana selanjutnya bila dia datang kembali aku tidak bisa bertahan hidup? Mas, aku trauma! Tapi di mana mas Kenzie selama itu? Sambil menahan rasa takut, aku berusaha mencari keberadaan mas Kenzie agar aku tidak ketakutan lagi karena aku merasa jauh lebih tenang bila dekat dengan mas Kenzie. Tapi... Tapi mas Kenzie tidak pernah datang! Aku ketakutan dan kesakitan di rumah sakit namun mas Kenzie tidak kunjung datang, malah kupikir mas Kenzie asik memanjakan wanita tidak tahu berterima kasih ini!" Dia menumpahkan semua tuduhan kepada Azira, berkata dengan suara pilu bahwa dia sangat menderita di rumah sakit dan membutuhkan Kenzie.


Melebih-lebihkan ceritanya bahwa dia sangat trauma, bahwa dia sangat ketakutan dan itu semua diakibatkan oleh Azira.


Selama narasi Amara menggambarkan semua penderitaan yang dia jalani di rumah sakit, ekspresi Azira berubah-ubah. Terkadang dia merasa rumit terkadang pula dia merasa marah. Dia menganggap bahwa Amara mungkin sudah tidak benar, mungkinkah Amara memiliki penyakit gangguan mental, kalau tidak bagaimana mungkin dia bisa menggambarkan hal-hal yang tidak pernah terjadi atau tidak realistis dengan sangat menyayat hati seolah-olah itu benar-benar terjadi?


"Huss... Jangan dengarkan apa yang dia katakan. Anggap saja apa yang dia katakan sebagai sebuah dongeng yang lucu, oke?" Bisik Kenzie menenangkan Azira.


Dia takut Azira terguncang dengan kata-kata Amara yang tidak masuk akal. Masalahnya seorang wanita hamil sangat sensitif terhadap emosi dan mudah stress, apalagi Azira sekarang sedang hamil muda, dia berada di fase di mana sangat mudah untuk mendapatkan rangsangan.


Azira tersenyum geli.


"Hem, dongeng yang sangat bagus." Puji Azira sepenuh hati.


Melihat istrinya dalam suasana hati yang baik, Kenzie akhirnya merasa lega tapi kemarahan di dalam hatinya tidak sepenuhnya dilegalkan. Berani-beraninya wanita ini menuduh istrinya dengan kata-kata keji seperti itu!


Kenzie menghirup udara dingin dan baru saja membuka mulutnya untuk berbicara, Umi langsung mendahuluinya!


"Apa?! Apa yang baru saja kamu katakan!" Umi berteriak kaget tampak sangat murka.


Melihat reaksi Umi, semangat Amara langsung melambung tinggi. Umi pasti sangat marah setelah mendengar ceritanya barusan.


"Apa yang aku katakan benar, Umi. Beberapa waktu yang lalu Azira datang ke villa aku bersama mas Kenzie. Karena orang-orang bilang masakannya lezat, jadi tugas dapur diserahkan kepadanya. Tapi aku kasihan melihatnya bekerja di dapur jadi aku datang untuk melihat-lihat dan berniat membantunya. Namun saat aku di sana dia tiba-tiba memintaku untuk mencicipi masakannya. Aku sempat menolak setelah melihat masakan itu. Aku alergi udang, dan alerginya sangat berbahaya jadi aku berusaha sebaik mungkin menghindari makan udang. Karena aku tahu aku alergi dan tidak bisa makan udang, makanya aku nggak mau mencicipi masakannya. Tapi Azira tersinggung karena masakannya tidak mau ku makan. Padahal aku sudah menjelaskan kepadanya kalau aku alergi udang. Dia bilang aku cuma membuat alasan saja dan kalaupun aku benar alergi, palingan itu cuma alergi biasa. Jadi dengan paksaannya, aku terpaksa mencicipi masakan buatannya dan hasil akhirnya adalah aku dilarikan ke rumah sakit oleh mas Kenzie. Umi, sebagai mertua Azira, aku mohon tolong berikan keadilan untukku. Jika dia bisa membahayakan nyawa orang lain maka tidak menutup kemungkinan dia juga akan membahayakan nyawa Umi bila dia tidak merasa puas-"


"Tutup mulut kamu!" Bentak Umi tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan lagi.


Amara terkejut. Dia menatap Umi tidak percaya. Barusan siapa yang memintanya untuk berbicara?


Dan selain itu, harusnya Umi berada di pihaknya karena dia telah membuka rahasia kejahatan Azira!


"Aku... Kenapa Umi memintaku untuk menutup mulut?" Amara tidak mengerti.

__ADS_1


Umi mendengus dingin.


"Alasannya tentu saja kamu tahu sendiri. Hei, apakah kamu pikir aku adalah orang bodoh? Aku telah bertahun-tahun hidup di dunia ini dan aku sudah bertemu dengan berbagai macam karakter manusia tapi sungguh, Allah adalah saksinya bahwa aku belum pernah bertemu dengan wanita yang tidak tahu malu seperti kamu! Berani-beraninya kamu memfitnah menantuku di depan hidungku sendiri! Apakah kamu pikir semua orang dapat kamu kelabui dengan cerita omong kosong kamu itu, hah?! Lihat baik-baik wajah menantuku, apakah kamu melihat bahwa dia memiliki karakter sama seperti yang kamu katakan tadi, apakah kamu bisa melihatnya! Aku yakin kamu tidak bisa melihatnya karena hati kamu telah dibutakan oleh rasa cemburu dan iri hati!" Umi berbicara lantang sambil berdiri dari duduknya.


Memarahi Amara tanpa memberikannya wajah sedikitpun. Meskipun dia tahu bila Amara adalah orang yang pernah menyelamatkan nyawa anaknya dulu, memang dia sangat berterima kasih untuk bantuannya, tapi itu bukan berarti dia membiarkan wanita ini merusak kehidupan putranya dan menghancurkan kehidupan rumah tangga putranya. Umi sama sekali tidak ridho. Lebih baik dia menyerahkan semua hartanya kepada wanita ini untuk membalas semua kebaikannya hari itu daripada membiarkan wanita itu terus menerus berulah di dalam kehidupan putranya.


"Umi, seseorang tidak bisa dinilai dari wajahnya-" Amara buru-buru berbicara.


"Aku bilang lebih dulu telah merasakan asinnya kehidupan daripada kamu. Dengan bertahun-tahun pengalaman hidup, aku sudah melihat berbagai macam karakter manusia tapi aku belum pernah bertemu wanita tidak tahu malu seperti kamu. Jujur saja, sekilas dari wajahmu aku melihat bahwa kamu bukanlah karakter wanita yang baik. Tangisanmu sekarang dan cerita yang kamu ceritakan sekilas dapat diketahui bahwa kamu mengarang, kamu mengarang cerita dan kamu pintar berakting. Apakah kamu bingung dari mana aku bisa membacanya? Itu dari hati. Bila seseorang benar-benar menangis, maka hati bisa merasakan ketulusannya. Namun bila hanya berpura-pura, hati langsung memberitahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan tangisanmu. Baik, kamu memang pintar berakting tapi sayang sekali itu hanya akting. Tanpa ketulusan semuanya terlihat basi." Selama Umi berbicara Azira dan Kenzie tercengang. Mereka tidak tahu harus bagaimana menggambarkan perasaan mereka sekarang. Ada rasa haru juga bahagia karena Umi ternyata tidak tergoyahkan sedikitpun oleh cerita yang Amara buat.


Amara bingung sekaligus merasa malu karena kedoknya langsung terlihat oleh Umi. Padahal dia sempat mengira jika Umi akan membelanya.


"Aku...hiks.." Dia menangis bukan karena akting tapi karena takut dengan kemarahan Umi.


"Aku sungguh tidak berbohong. Jika Umi tidak mempercayaiku maka Umi bisa bertanya kepada teman-teman yang lain. Mereka menjadi saksi atas kejahatan yang Azira lakukan kepadaku!"


"Tidak perlu!" Suara acuh tak acuh Kenzie menyela.


Kenzie melihat Umi dengan tatapan menenangkan.


"Umi duduklah."


Umi menatap Amara kesal. Sebenarnya mulut ini masih ingin menyemprotkan banyak kata tapi karena Kenzie memintanya untuk duduk kembali maka terpaksa Umi menahan semuanya.


Amara menoleh bingung.


Kenzie menatap Amara tanpa emosi.


"Apakah kamu masih ingat dengan apa yang aku katakan di rumah sakit tempo hari?" Tanya Kenzie.


"Apa?" Amara meraba-raba di dalam pikirannya mencari ingatan tentang percakapan terakhir kali dengan Kenzie saat di rumah sakit kemarin.


"....sungguh? Kalau begitu bawa orang-orang yang bersaksi dengan kejadian hari itu. Amara, menurutku apa yang kamu katakan ini merupakan sebuah fitnah dan dapat merusak nama baik istriku. Bila niatmu hanya bermain-main maka hentikan, jangan bawa masalah ini ke mana-mana. Tapi jika kamu berniat serius maka aku bersedia memperjelas masalah ini di kantor polisi. Sebab aku sangat mengenal bagaimana istriku. Dia bukanlah orang yang seperti itu dan dia juga tidak akan membahayakan seseorang apalagi sampai ingin berniat membunuhnya. Pikirkan baik masalah ini, jika kamu sudah menentukan apa yang kamu pilih maka segera hubungi pengacaraku..." Suara dingin Kenzie terbayang-bayang di dalam pikirannya.


"Harusnya kamu sudah ingat sekarang." Kata Kenzie setelah menilai ekspresi Amara.


Amara menahan nafas. Kenzie kemarin mengancam ingin membawa masalah ini ke ranah hukum.


Tidak apa-apa, jangan panik Amara. Semua saksi mendukung dan tidak ada bukti apapun yang tertinggal di sana. Selain itu kak Nabil juga sudah merusak CCTV sehingga Kenzie tidak bisa menemukan apapun untuk membela Azira bila masalah ini dibawa ke hukum. Batin Amara menenangkan dirinya yang sempat merasa gelisah.


Yah ini adalah yang terbaik.


"Apakah mas Kenzie ingin membawa masalah ini ke hukum? Apakah mas Kenzie yakin? Aku memang menuntut sebuah keadilan dari mas Kenzie tapi aku tidak bermaksud memenjarakan Azira karena biar bagaimanapun dia adalah istri mas Kenzie." Amara berpikir, tampak ragu-ragu.


Kenzie tersenyum.


"Pertanyaan ini seharusnya diarahkan kepadamu, apakah kamu yakin jika masalah ini kami bawa ke jalur hukum?"


Amara merasa ada pisau di dalam perkataan Kenzie. Dia ragu, namun setelah dipikir-pikir berulang kali posisinya sangat aman dan dia memiliki bukti untuk memenjarakan Azira, jadi seharusnya dia tidak perlu takut.


"Jika mas Kenzie tidak keberatan, maka tentu saja aku yakin. Tidak, aku sangat yakin jika aku akan menang karena di sini aku adalah kebenarannya. Seperti yang kita semua tahu, Tuhan tidak tidur dan Dia pasti akan menunjukkan kebenaran kepada kalian berdua bahwa yang salah akan selalu salah dan yang benar akan memiliki hari untuk menang." Jawab Amara percaya diri.


Dia merasa berada di atas angin, mengendalikan semua permainan ada di tangannya. Bila harapannya terwujud Azira masuk penjara dan Kenzie berbalik kepadanya, maka Amara akan sangat bahagia.


Dia tidak perlu lagi bersusah payah memikirkan cara untuk mendapatkan Kenzie karena peluang sudah ada di depan mata.


"Kamu sangat percaya diri. Memang benar aku pernah mengatakan kepadamu untuk membawa masalah ini ke jalur hukum jika kamu tidak mau berhenti. Melihat kedatanganmu sekarang dan masalah yang ingin kamu buat di dalam keluargaku, aku rasa aku tidak punya alasan untuk menahan masalah ini lagi. Namun sebelum itu, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu." Ucap Kenzie sambil tersenyum simpul.


Amara dan yang lainnya langsung penasaran, mereka bertanya-tanya apa yang Kenzie ingin tunjukkan kepada Amara.


Kenzie mengeluarkan ponsel, meletakkannya di atas meja di bawah pengawasan mata semua orang.


"Ini.." Amara tidak tahu apa maksud Kenzie mengeluarkan ponselnya.


Kenzie menjelaskan secara singkat,"Pertama, ini adalah klarifikasi atas tuduhan sewenang-wenang mu kepada istriku." Lalu dia berpaling menatap wajah ingin tahu istrimu yang lucu,"Sayang, dengarkan baik-baik. Ini adalah kerja keras suamimu." Bisik Kenzie intim.


Azira tersenyum malu. Dia menganggukkan kepalanya bersedia.


Amara menatap ponsel Kenzie yang ada di atas meja dengan rasa ingin tahu. Dia bertanya-tanya apa yang Kenzie ingin tunjukkan kepadanya. Mungkinkah itu rekaman video? Ah, rekaman CCTV di villa?


Amara langsung membantah dugaannya ini. Dia sudah berkali-kali mengingatnya jika villa saat itu tidak menghidupkan CCTV karena sengaja dirusak oleh Nabil.


Jadi apa ini?


Mungkin bukan video, karena layarnya mati. Jika bukan video maka itu mungkin sebuah rekaman?


Sebelum rasa ingin tahu Amara dan lainnya memuncak, sebuah suara wanita asing terdengar dari speaker ponsel tepat waktu menjawab rasa ingin tahu semua orang.

__ADS_1


"Azira, apakah ada yang bisa ku bantu?" Ini adalah suara Amara ketika memasuki dapur.


Mendengar rekaman suara ini, ekspresi Amara langsung berubah. Wajahnya kehilangan warna, bibirnya memucat seolah-olah kehabisan darah dan ekspresi wajahnya tenggelam.


Diam membeku tak bergerak, Amara menatap kosong pada ponsel di atas meja yang sedang memutar sebuah rekaman.


"Semuanya sudah beres. Tinggal menunggu beberapa menu matang saja lalu sisanya bisa segera dihidangkan." Suara lembut dan tegas Azira terdengar dari dalam ponsel.


Umi, Kenzie maupun Azira mengenali suara ini. Tentunya sangat familiar bagi mereka. Hanya saja Azira agak malu mendengar suaranya sendiri. Agak geli.


"Woah, wanginya sangat harum. Ini pasti rasanya sangat lezat." Suara Amara menyahut.


Kenzie tidak terlalu tertarik mendengar suara asal-asalan Amara. Setiap kali Amara berbicara dia akan menulikan telinganya dan malah sibuk mempermainkan jari jemari Azira.


Berbeda dengan Kenzie yang tidak mau tahu, Azira dan Umi terlihat sangat fokus mendengarkan rekaman.


"Apakah aku boleh mencicipinya?"


Nah, ini adalah titik kuncinya. Bahwa Amara sendiri yang ingin mencicipi makanan tersebut dan bukan atas inisiatif Azira, apalagi sampai memaksa Amara untuk memakannya, Azira tidak pernah melakukan itu. Umi langsung mengangkat kepalanya marah menatap Amara dengan mata melotot seperti sinar laser. Sekarang sudah jelas bahwa Amara telah berbohong!


"Boleh, ini baru saja matang. Karena udangnya besar-besar aku memutuskan untuk membuat udang asam manis, jadi tidak terlalu pedas dan cocok untuk orang yang tidak suka pedas." Terdengar suara piring digeser dari rekaman suara.


Mendengar Azira menyebut kata udang, seharusnya Amara menolak memakan udang itu seperti yang dia katakan sebelumnya. Selain dia tidak, rekaman ini juga membuktikan bahwa Azira sama sekali tidak tahu jika Amara memiliki alergi udang.


"Terima kasih, aku akan mencobanya." Dan Amara sendiri yang berinisiatif mencoba makanan itu.


Sampai dengan rekaman ini masih belum ada pemaksaan yang Amara sebutkan tadi.


Dia yang bertanya duluan dan dia pula yang mengajukan diri duluan, sungguh permainan yang bagus. Tak butuh 1 menit kemudian, terdengar suara pecahan piring dari dalam rekaman.


Prang!


Dan disusul oleh teriakan nyaring wanita itu.


"Amara!"


Sampai di sini Kenzie tidak melanjutkan rekaman lagi karena adegan selanjutnya akan mengingatkan Kenzie pada waktu dimana dia membentak Azira untuk pertama kalinya dalam hidup ini.


"Bagaimana pendapat kamu setelah mendengar rekaman ini?" Tanya Kenzie dengan senyum yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.


Amara terdiam. Lidahnya kelu tak bisa mengatakan apa-apa. Ingin membuat pembelaan apa?


Dia tahu bahwa itu semua tidak ada artinya karena buktinya sudah jelas. Lagian Kenzie bukan orang bodoh, bukti bahwa dia bisa memiliki rekaman ini telah menunjukkan bahwa sejak awal Kenzie tidak pernah mempercayainya.


Pantas saja setelah dilarikan ke rumah sakit, Kenzie tidak pernah mengunjunginya ataupun sekedar mengatakan permohonan maaf atas kejadian yang menimpanya. Ternyata alasannya ini. Ternyata Kenzie sudah tahu kebenarannya sehingga dia tidak mau memberikan wajah sedikitpun kepadanya.


Amara mengerti.


"Dia tidak bisa mengatakan apa-apa karena semuanya sudah jelas, buktinya valid!" Ucap Umi sinis.


Firasatnya benar kalau wanita ini bukanlah wanita baik. Untung saja dia tidak tertipu dengan drama yang ditunjukkan oleh Amara.


"Aku tidak.." Amara tidak tahu harus mengatakan apa.


Bola matanya bergerak liar menatap ke sana kemari mencoba berpikir keras apa yang harus dia katakan. Apakah boleh mengatakan jika semua ini adalah rekaman palsu?


Segera Kenzie berkata,"Bila kamu meragukan keaslian rekaman ini, maka silakan bawa pengacaramu untuk memperjelas semuanya. Pengadilan pasti mengundang para ahli di bidang ini untuk memastikan apakah rekaman ini palsu atau tidak." Ujar Kenzie memotong jalan Amara.


Amara juga tahu bahwa rekaman ini memang asli. Yang membuatnya kepikiran adalah dari mana Kenzie mendapatkan rekaman ini?


Dia dan Nabil tidak gila memasang rekaman karena ini sama saja menaruh bom atom di tubuh sendiri yang sewaktu-waktu bisa meledak.


"Aku tidak mempercayainya." Amara menggigit bibirnya gugup.


Sudah kepalang tanggung daripada mengakuinya lebih baik menolak mengakuinya. Selama dia tidak mengakuinya mereka tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya.


Azira tersenyum heran. Agaknya sekarang dia mengerti kenapa Umi sangat tidak suka melihatnya padahal baru pertama kali bertemu. Dan dia juga mengerti kenapa Kenzie sangat enggan berhubungan kembali dengan Amara. Bukan karena pernah melakukan kesalahan tapi lebih tepatnya dia enggan mengakui kesalahan yang dia buat dan berpotensi mengulangi kesalahan yang sama. Mengerikan. Bila Azira menemukan teman seperti ini, maka dia dengan tulus akan menyarankan orang ini menyerahkan diri ke rumah sakit jiwa sebelum terlambat.


"Kamu mempercayainya atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan kami. Namun yang pasti jauh dari dalam diri kamu mengetahui dengan benar bahwa rekaman ini benar atau enggak." Kata Azira lembut.


Azira bingung dari mana suaminya mendapatkan rekaman ini. Dia sangat yakin bila ini bukan rekaman palsu karena dia hafal betul setiap adegan di dalam rekaman itu. Jika asli, lalu dari mana Kenzie mendapatkannya?


"Ini semua palsu! Aku punya saksinya! Aku punya saksi di hari kejadian itu!" Amara bersikeras.


Kenzie sudah menebak hasil ini. Untuk itu dia sudah mempersiapkan kejutan lain untuk Amara.


"Nah, karena kamu memiliki seorang saksi maka aku pun juga memiliki saksi. Ini yang kedua sekaligus yang terakhir, kejutan khusus untuk kamu." Kenzie mengotak Atik ponselnya sebentar dan meletakkannya kembali di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2