
Azira mengerutkan keningnya tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Meri.
Meri memandangnya dengan tatapan penilaian. Sekilas, Azira merasa kalau Meri tidak terlalu menyukainya. Aneh, kan?
Mereka baru bertemu sekarang tapi Meri tidak terlalu menyukainya.
Tapi Azira tidak mau pusing dengan Meri. Mereka tak saling mengenal dan Azira pun tidak bisa membuat semua orang yang dia temui menyukainya.
"Selamat malam, Meri." Azira menjabat tangan Meri yang telah lama menganggur.
Meri tersadar dari lamunannya. Sebelum dia mengatakan apa-apa, Azira melepaskan jabatan mereka.
"Apakah kalian berdua sudah makan malam?"
Nabil dan Meri saling melihat. Mereka baru saja sampai setelah berkendara dari kota dan sedikit lelah juga lapar. Sesampai mereka di sini, mereka langsung mencari tenda Kenzie tanpa penundaan. Karena terburu-buru, alhasil mereka lupa untuk mengisi perut.
"Belum, kami baru saja sampai di sini dan sangat kelaparan." Meri tak perlu terlalu sopan di depan Azira.
Azira tidak mengambil hati sikapnya dan bersikap biasa saja.
"Oh, kami dengar kalian datang liburan ke sini, ya? Berapa hari?" Azira berbasa-basi.
Meri orangnya tidak sabaran. Apalagi kalau lawan bicaranya Azira. Um, Nabil sudah menjelaskan latarbelakang Azira sebelum datang ke sini makanya dia memandang rendah Azira.
Bagaimana mungkin Azira yang miskin dan berasal dari dunia kotor berdampingan dengan Kenzie yang notabene dibesarkan dengan pendidikan yang baik juga kaya raya?
Ini tidak adil.
Tapi saat mengetahui bila Azira adalah pengganti, dia langsung merasa nyaman.
"Kami akan liburan di sini mulai malam ini mengikuti kalian." Jawab Meri tidak sempat menyaring jawabannya.
Nabil diam-diam merutuki mulut ember tunangannya.
Kalau begini Kenzie pasti tahu alasan mereka datang ke sini!
"Ah, jadi kalian mengikuti kami." Mengangkat salah satu alisnya,"tapi kami akan pulang besok pagi. Maka kalian juga akan pulang? Apakah kalian berdua sebenarnya berniat liburan?"
Tanya Azira heran sekaligus tidak mengerti. Tidak ada yang aneh kenapa ngambil liburan mengikuti Kenzie di sini. Menurutmu itu wajar-wajar saja untuk hubungan pertemanan. Tapi bukankah itu konyol kalau mereka hanya datang ke sini sebentar untuk numpang tidur saja dan besok paginya mereka balik kembali ke kota. Tidakkah itu terlalu mahal?
Perjalanan yang mereka tempuh ke sini tidak main-main jauhnya dan sangat melelahkan.
Azira skeptis mereka bisa melanjutkan perjalanan besok. Terutama untuk Meri. Dia pasti kelelahan dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya besok saking pegal-pegalnya.
"Kalian pulang besok?" Meri terkejut.
Nabil juga tidak menyangka kalau Kenzie dan rombongannya akan pulang besok.
"Tidak bisa kah diundur beberapa hari lagi agar kita bisa pulang bersama-sama ke kota?" Nabil berbicara santai dengan Kenzie.
Kenzie menghilangkan kepala acuh.
"Kami hanya 3 hari di sini dan besok akan pulang. Kalau menambah waktu lagi maka pekerjaan kami akan kacau karena untuk liburan ini kami hanya mengatur cuti tiga hari." Jelas Kenzie dengan nada terasing saat berbicara kepada Nabil.
Meri dan Azira tidak merasakan keterasingan Kenzie, tapi tidak dengan Nabil. Dirinya tiba-tiba merasa canggung berhadapan langsung dengan Kenzie. Padahal dia sudah berusaha untuk berpura-pura santai dan tenang di depan Kenzie sebelumnya, tapi ternyata ada akhirnya dia masih gugup juga.
"Oh... Maka sayang sekali. Mengapa kamu tidak memberitahu kami jika kamu datang berlibur ke sini sebelumnya. Jika kamu memberitahuku lebih awal, aku pasti akan meluangkan waktuku untuk ikut berlibur ke sini bersama kamu." Kata Nabil mengeluh.
Kenzie tertawa datar.
"Ini acara bulan maduku, menurutmu kenapa aku harus mengajakmu ke sini?" Implikasinya adalah Kenzie tidak mungkin membawa pengganggu ke dalam acara bulan madunya.
Nabil memahaminya. Dan dia jadi malu gara-gara keterusterangan Kenzie.
"Hahaha... Kok kamu masih nanya. Kita kan teman. Berhubung aku tidak datang ke acara pernikahan kalian berdua, jadi kenapa aku tidak datang ke acara bulan madu kalian?" Katanya sambil tertawa garing.
"Mas, bicaralah dengan Nabil dan Meri. Aku akan ke dapur untuk mengambil makanan. Kasian teman-teman kamu belum makan malam." Izin Azira kepada Kenzie.
Dia langsung pergi setengah mendapatkan anggukan ringan dari suaminya. Pergi ke dapur dan bertemu lagi sama Ayana. Ekspresi Ayana jutek banget. Dia kelihatan kesel.
Karena Azira peduli jadi dia menghampirinya untuk bertanya. Mungkin saja dia memiliki masalah dengan Fathir. Masalah rumah tangga umumnya bisa mereka bicarakan berdua.
"Ayana, kamu kenapa?"
Ayana menghela nafas panjang.
"Kak Kenzie lagi ngomong sama mereka, ya?"
__ADS_1
Azira mengangguk. Sambil berbicara dengan Ayana, dia mulai menyiapkan makanan untuk mereka. Masih ada barbeque yang belum dihabiskan. Jadi Azira memanaskannya lagi karena masih bisa dimakan.
"Masih. Memangnya kenapa?"
Lagi-lagi Ayana menghela nafas panjang. Dia terdengar kesusahan. Azira bingung masalah apa yang tengah dihadapi oleh sepupunya ini sehingga membuatnya berulang kali menghela nafas panjang. Mungkinkah masalah itu sangat berat?
"Kak Azira, kamu tuh orangnya terlalu baik. Terkadang aku melihat kamu adalah orang yang tegas dan teliti, kamu pandai menilai seseorang. Tapi terkadang aku juga memperhatikan kalau kamu itu murah hati. Kamu mudah berhati lembut kepada orang baru ataupun orang asing. Azira ini tidak bagus. Waspada lah kepada orang baru. Aku tidak mengajarkan kamu untuk menjadi orang jahat, tidak, kamu harus menjadi orang baik tapi, baik juga dalam menilai seseorang. Aku cuma mau bilang, tidak semua orang baik. Itu saja." Kata Ayana setengah ragu-ragu.
Dia tidak menyukai, Nabil, sungguh tidak pernah menyukainya. Alasannya?
Alasannya sederhana. Itu karena Nabil adalah sepupu Amara.
Mereka satu keluarga dan pasti memiliki satu pikiran. Apalagi dia mendengar kabar dari suaminya beberapa hari yang lalu kalau Amara akan pulang ke Indonesia. Tentu saja dia pulang ke sini setelah mendengar kabar pernikahan Kenzie dan Azira. Masih baik kalau dia tidak mengejar masa lalu, tapi bagaimana kalau dia mengejar masa lalu?
Tidak, tidak penting. Yang penting adalah bagaimana kalau Kenzie tidak bisa melupakan masa lalu?
Apa yang harus mereka lakukan kepada Azira?
Azira,
Ayana menatap perihatin wanita cantik nan kurus ini. Dia baru saja bahagia dan harus diterpa masalah lagi, Ayana sungguh tidak bisa berkata-kata.
"Ayana, terima kasih untuk pengingat kamu. Aku sangat menghargainya." Yang tidak Azira katakan adalah Ayana terlalu menganggap tinggi dirinya.
Dia sudah lama terbiasa berkubang dalam kehidupan yang menjengkelkan dan menyakitkan. Berbagai macam watak dan karakter manusia telah Allah perlihatkan kepadanya. Orang baik, orang buruk, orang jahat, orang lemah, pengecut dan menjijikan. Dia sudah melihat wajah-wajah orang ini.
Bahkan orang yang menggunakan topeng, di depan dia selalu bersikap baik tapi di belakang dia memiliki sikap yang sangat buruk, dia sudah melihat semuanya.
Maka mana mungkin setelah semua yang dia lalui ini dia tidak dapat membedakan karakter seseorang?
Azira diam tapi bukan berarti tidak tahu. Dan Azira tidak menunjukkannya bukan berarti dia tidak bisa melihat.
Berbicara tentang Nabil. Berpikir positif adalah satu-satunya alasan untuk menghormati orang ini. Nabil mungkin tidak menyukainya, Azira tidak bodoh,
"Bukan apa-apa. Oh ya, aku akan membantumu."
Dia akhirnya merasa lega. Setelah itu dia membantu Azira menyajikan makanan dan mengirim makanan ke kedua tamu.
Setelah mengirim makanan ke mereka dia langsung kembali ke tendanya untuk berbicara dengan Fathir.
Selain toilet pribadi di sini juga ada toilet umum. Tapi letaknya agak jauh dari tendanya dan Kenzie.
"Ayo ikut aku." Azira bangun dari duduknya dan memimpin jalan untuk Meri.
Di belakang Meri mengikuti dengan patuh.
Saat mereka berdua agak jauh dari tempat Kenzie dan Nabil duduk, dia tiba-tiba mempercepat langkahnya hingga sejajar dengan Azira. Mata centilnya menatap Azira, sekali lagi membuat penilaian kasar kalau Azira terlalu beruntung untuk bersama Kenzie.
"Apa yang kamu lihat dariku?" Tanya Azira datar.
Dia tersenyum miring.
"Apakah menyenangkan?" Tanyanya asal.
Azira tidak tahu apa yang sebenarnya ditanyakan olehnya.
"Yang mana?"
"Menjadi pengganti. Apakah menyenangkan? Kamu menikah dengan Kenzie setelah menipu adik kamu sendiri. Tapi di dalam pernikahan kamu hanya diperlakukan sebagai pengganti oleh Kenzie karena orang yang dia sukai bukanlah kamu, tapi Amara. Cinta pertamanya." Jawabnya blak-blakan tanpa mempertimbangkan reaksi Azira.
Bug
Jantung Azira berdebar kencang. Dia gelisah, kegelisahan yang pernah dirasakan ketika mendengar nama Amara disebutkan oleh Ayana di rumah sakit kembali datang. Dia tahu kalau tidak pantas langsung mempercayai wanita ini, namun apa yang harus dilakukan, hatinya sangat panik sekarang. Dia tidak bisa mengendalikan hatinya untuk memikirkan hal yang tidak tidak.
Sebagai pengganti?
Mungkinkah apa yang dikatakan oleh wanita ini benar?
Azira ragu. Tapi kemudian dia mengingat bagaimana ekspresi ragu-ragu Ayana ketika menceritakan tentang wanita ini kepadanya saat berada di rumah sakit. Sikap Ayana tidak benar. Baiklah, Amara memang cinta pertama Kenzie, itu memang bagian dari masa lalu tapi bagaimana jika..
Bagaimana jika Kenzie masih belum melupakan masa lalu dan menjadikan dirinya hanya sebagai pengganti?
"Terkejut'kan? Di antara banyak gadis yang dikenal oleh Kenzie, kamu adalah satu-satunya wanita yang memiliki kemiripan dengan Amara. Bentuk tubuh kamu...hum, persis seperti Amara. Kalian seolah buah pinang dibelah dua saling miripnya. Namun untuk point wajah, maaf saja Azira, menurutku pribadi Amara jauh lebih cantik daripada kamu. Jadi ketika Amara pulang nanti, kamu harus bersiap-siap ditendang dari rumah-"
"Apakah kamu sudah selesai berbicara? Jika sudah selesai, maka biarkan aku berbicara." Azira menghentikan langkahnya dan berdiri menyamping berhadapan langsung dengan wajah menyebalkan Meri.
"Apakah menyenangkan rasanya ikut campur dalam kehidupan seseorang? Jadi kamu sangat menganggur, yah?"
__ADS_1
Muka Meri langsung memerah marah.
"Apakah ini reaksi orang normal saat mengetahui masa lalu kekasihnya?" Dia sama sekali tidak habis pikir.
Azira tertawa sinis,"Kamu sangat menyebalkan. Setelah malam ini, jangan berharap untuk menemui aku dan suamiku lagi." Kata Azira acuh tak acuh.
Berbalik pergi tanpa memberikan wajah kepada Meri. Sikap yang acuh tak acuh menggaruk jantung dan paru-paru Meri. Dia sangat marah, sungguh sangat marah tapi hanya bisa melampiaskannya dengan kutukan amarah.
"Dasar sombong. Besok kalau Amara pulang, habislah kamu. Aku ingin melihat apakah kamu masih bisa bersikap sombong di depanku lagi? Huh, dasar sampah!"
...*****...
Malam berlalu begitu saja dan keesokan paginya mereka segera kembali ke kota. Lalu beberapa hari telah berlalu sejak hari itu. Entahlah, mungkin beberapa minggu atau sudah 1 bulan lamanya, Azira tidak menghitung waktu. Terkadang Azira linglung di tempat memikirkan pembicaraan di hari itu. Sesekali dia akan mencoba mencari tahu tentang Amara. Dan kesan yang dia terima dari orang-orang di rumah kecuali Kenzie, semua orang menganggap Amara adalah wanita yang menyebalkan karena..
Amarah adalah sumber rasa sakit Kenzie, orang yang telah membuat Kenzie berubah menjadi orang yang berbeda.
Mendengar jawaban-jawaban orang itu, Azira merasa semakin gelisah. Dia takut, sungguh sangat takut. Takut bahwa satu hari nanti orang yang dia cintai akan berbalik mengejar masa lalu dan mengabaikannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Akhir-akhir ini aku perhatiin kamu kurang nafsu makan dan sering linglung, apakah kamu baik-baik saja, istriku?" Suara hangat Kenzie menarik Azira dari lamunannya.
Azira tersadar. Matanya segera melembut melihat kepulangan suaminya. Gara-gara terlalu banyak berpikir dia sampai tidak tahu kalau suaminya sudah pulang.
"Kapan mas Kenzie pulang?" Azira buru-buru mengambil tas kerja suaminya, membantu suaminya meletakkan jas putih dokternya di gantungan baju.
"Baru saja. Kamu tidak mendengar langkah kakiku."
Azira tersenyum meminta maaf.
"Maaf, aku tidak menyadarinya."
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Umi telah memberitahunya kemarin kalau Azira akhir-akhir ini tidak memiliki nafsu makan yang baik dan sering linglung jika ditinggal sendirian. Umi khawatir terjadi sesuatu kepada Azira makanya dia buru-buru memberitahu putranya.
Azira tersenyum kecil.
"Aku agak kurang enak badan, mas. Akhir-akhir ini aku sering sekali memimpikan Ibu." Kata Azira mengakui.
Dia sering sekali memberikan Ibu. Memimpikan Ibunya menangis di sudut rumah dengan tubuh kurus dan penuh darah, itu adalah hari di mana Ibu dipukul oleh suruhan bibi Safa. Hari itu sangat menyedihkan tapi Azira mengabaikan Ibunya. Kejadian itu datang ke dalam mimpinya berulang kali. Membuat Azira merasa lebih menyesal, dia berpikir kalau saja dia tidak cuek dan selalu berada di sisi Ibunya ketika sedang sakit ataupun terluka, maka mungkin penyesalan itu tidak sedalam ini.
"Kamu merindukan Ibu. Sering-sering lah mengirim doa untuknya. Kamu juga jangan terlalu kepikiran. Kalau kamu merasa tidak enak badan maka langsung minum obat atau konsultasi dulu sama aku, biar kamu nggak sakit." Kata Kenzie prihatin.
Azira tersenyum kecil.
"Mas, tapi kata orang kalau kita sering memimpikan orang mati apalagi itu adalah orang mati terdekat kita maka itu tandanya kita akan segera menyusul mereka. Mas Kenzie, akhir-akhir ini aku sering memimpikan Ibu, mungkinkah aku akan segera Ibuku-"
"Omong kosong apa yang kamu katakan! Nggak ada yang namanya menyusul orang mati kalau sering memimpikan nya. Mati dan hidup adalah rahasia Allah, kita sebagai manusia tidak bisa berspekulasi ataupun membuat tebakan acak terhadap rahasia Allah. Adapun mimpi ini, artikan saja dengan positif. Mungkin Ibu merindukan kamu dan membutuhkan doa dari kamu, jadi perbanyaklah doa-doa kamu di dalam salat, mengerti?" Kenzie mencubit pipi Azira gemas dan marah pada saat yang sama.
Bisa-bisanya Azira membicarakan tentang perpisahan begitu mudah!
Kenzie tidak suka mendengarnya.
Azira tertawa malu. Hatinya menghangat pada saat yang sama. Suaminya sangat perhatian kepadanya. Azira sangat bersyukur.
"Aku mengerti, mas." Jawab Azira patuh.
"Ngomong-ngomong nanti sore ada acara kumpul-kumpul sama temen aku. Kamu harus ikut ya menemani aku ke sana?"
Acara kumpul-kumpul?
Azira sebenarnya tidak enak badan. Badannya lemas. Tapi karena ini permintaan langsung dari suaminya maka dia tidak akan menolak. Selain itu suaminya jarang-jarang keluar berkumpul dengan teman-temannya. Oleh karena itu Azira sangat bersedia pergi bersamanya.
"Iya, mas. Kita kumpul-kumpulnya di mana?"
Kenzie belum tahu.
"Tunggu teman-temanku mengirim lokasinya."
Azira mengangguk dan tidak bertanya lagi. ke
"Apakah mas Kenzie sudah makan?"
Kenzie menggelengkan kepalanya. Dia memang belum makan di rumah sakit tapi dia juga tidak lapar.
"Aku belum lapar. Makanya nanti saja di tempat acara."
Azira menghitung di dalam hatinya, acaranya nanti sore dan butuh beberapa jam lagi, karena Kenzie bersedia menunggu ke sana maka dia pasti sangat menantikan pertemuan ini. Azira bertanya-tanya seperti apa teman-teman suaminya sampai-sampai membuat suaminya sangat bersemangat bertemu dengan mereka. Ada satu hal yang Azira sadari hari ini yaitu, suaminya sangat suka tersenyum. Ah... Pasti ada hal baik yang suaminya tunggu di acara itu?
__ADS_1