
Sasa tersenyum lebar dan mengangguk puas.
"Mereka memang sedang jatuh cinta, dan kamu bisa lihat sendiri betapa lengketnya kakakku kepada kak Azira. Umi sampai bingung apakah kak Kenzie masih putranya yang suka memasang ekspresi cemberut saat melihat seorang wanita!" Katanya mencela tapi nada bangga di dalam suaranya tidak bisa disembunyikan.
Wajah wanita yang banyak bicara itu memucat. Mulutnya mengencang tertutup rapat tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
"Ini wajar saja karena pak Kenzie belum bertemu dengan belahan jiwanya pada saat itu. Tapi setelah bertemu dengan belahan jiwanya, dia pasti berubah menjadi laki-laki yang manja." Kata wanita itu lagi sambil tertawa.
Sasa juga tertawa.
"Iya, manjanya cuma ke Kak Azira aja. Tapi kalau sama kamu, cek...dia masih kulkas dua pintu yang menakutkan!" Cela Sasa tak habis pikir.
Perbedaan sikap sangat mencolok, Sasa dan yang lainnya merasa geretan pada Kenzie. Tapi meskipun mereka tidak tahan, mereka tidak berani berbicara kepada Kenzie!
"Salah satu tanda bahwa pasangan suami istri itu berjodoh adalah mereka merasa nyaman satu sama lain saat bersama. Insya Allah, kedua kakak kamu berjodoh satu sama lain. Mereka akan selalu bersama."
Siapa yang tidak suka mendengarkan kata-kata baik? Sasa sangat suka mendengarnya dan dia semakin puas dengan wanita itu.
"Oh, bolehkah aku tahu siapa namamu?" Tanya Sasa sambil tersenyum.
Para wanita itu langsung menahan nafas. Sasa mengambil inisiatif untuk berteman dengan wanita itu.
Wanita itu tersenyum,"Namaku Lina, aku dan suamiku beruntung mendapatkan undangan dari pak Kenzie, makanya kami bisa ada di sini. Ngomong-ngomong aku sama sekali tidak menyangka bisa bertemu dengan adiknya pak Kenzie. Pasalnya suamiku pernah berkata bahwa adik pak Kenzie jarang keluar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar ataupun tinggal di rumah. Ini takdir kita bisa bertemu." Ternyata nama wanita itu adalah Lina, suaminya dulu pernah bekerja sama dengan perusahaan sebesar itu, perusahaan yang dipimpin oleh Kenzie.
Suaminya kira Kenzie tidak memiliki kesan apapun kepadanya. Tapi saat mendapatkan undangan di atas meja, dia sangat terkejut karena Kenzie ternyata masih mengingatnya dan bahkan mengambil inisiatif untuk mengundangnya datang ke acara 7 bulanan Azira.
Tentu saja dia sangat senang. Karena senang dia dan istrinya sengaja meluangkan khusus hari ini untuk datang ke acara 7 bulanan Azira.
"Oh, ternyata suamimu rekan kerja kak Kenzie, yah. Senang sekali berkenalan dengan kamu. Dimana suami kamu?" Sasa tidak melihat seorang laki-laki di samping Lina.
Lina tersenyum malu.
"Suamiku dipanggil oleh teman-teman bisnisnya. Entah di mana mereka berada sekarang." Katanya tak berdaya.
Salah satu alasan kenapa suaminya sangat bersemangat datang ke sini adalah karena bisnis. Acara ini mengundang banyak investor dan para pebisnis, secara tidak sengaja menciptakan peluang untuk para pekerja untuk berkumpul dan menjadi ajang untuk menjalin hubungan kerjasama.
Sasa sudah mengerti tanpa perlu menjelaskannya.
"Sayang sekali kamu ditinggal. Mau ikut aku?" Katanya dengan murah hati.
Setelah kontroversi tadi, Lina pasti tidak nyaman berada di kelompok ini.
Lina sangat senang. Tapi untuk menjaga citranya di depan orang-orang, dia berusaha terlihat tenang.
"Bolehkah?" Tanyanya tertahan.
Sasa tertawa kecil.
"Tentu saja kamu boleh ikut. Ayo." Sasa berjalan pergi tanpa perlu menyapa para wanita itu.
Dia bahkan sengaja mengabaikan wanita yang paling banyak bicara itu, bersikap acuh seolah-olah dia tidak saling mengenal. Tentu saja gosip tadi akan segera dilaporkan kepada Umi. Sebab Umi memiliki keputusan besar terhadap masalah ini. Mungkin saja Umi akan pergi mencari tetangga itu dan membicarakan beberapa hal tentang wanita itu, sisanya Sasa tidak mau tahu.
Pokoknya dia sudah menjalankan tugasnya.
"Ya."
__ADS_1
Di bawah pengawasan mata iri para wanita itu, Lina pergi berdampingan dengan Sasa. Mereka berjalan menuju kumpulan para wanita elit. Di antara kumpulan itu Umi dan beberapa bibi yang lain sedang mengobrol. Ada juga para istri pebisnis yang mengambil inisiatif untuk berkumpul dengan mereka sehingga perkumpulan mereka tampak elit dan tidak mudah didekati.
...*****...
"Kapan acaranya dimulai, mas?" Setelah duduk di tempat yang paling menonjol, Azira bertanya.
Mendapatkan perhatian dari banyak orang awalnya dia merasa sangat gugup. Tapi setelah bergandengan tangan dengan suaminya, ternyata rasa gugup itu tidak bertahan lama di dalam hati dan malah dia cukup menikmati perhatian orang-orang itu.
Senang rasanya mendapatkan perhatian.
Kenzie memeluk pinggang Azira sayang. Sesekali tangan besarnya akan mengelus dengan istrinya untuk menenangkan.
"Sebentar lagi. Pertama-tama kita shalat asar bersama-sama dulu, baru acara pengajiannya kita mulai." Jawab Kenzie dengan nada yang lembut dan penuh perhatian.
Sikapnya sangat manis.
"Kenzie, ajak dulu istrimu jalan-jalan bertemu dengan para tamu. Coba lihat tamu-tamu di sana, mereka sepertinya ingin berbicara dengan kamu." Bibi Indring datang berbicara.
Azira dan Kenzie mengangkat kepala mereka kompak. Sudah lama sejak kejadian itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Sekarang saat acara 7 bulanan Azira disebarkan kabarnya, bibi Indring dan keluarganya datang lagi. Tentu saja putri mereka juga ikut. Tapi Azira sudah tidak terasa memikirkannya. Toh, masa lalu telah menjadi masa lalu. Dan sekarang dia sudah hidup bahagia bersama suaminya tercinta.
"Mas Kenzie, teman-teman mas sudah menunggu di sana." Azira enggan melepaskan suaminya tapi dia juga tahu bahwa dia tidak boleh egois.
Suaminya memiliki banyak agenda dan kesibukan. Tapi karena situasinya sempat tidak kondusif beberapa waktu lalu, suaminya rela meninggalkan semua hal itu demi menemaninya di rumah. Makanya ketika mengetahui bahwa teman-teman suaminya ingin mengobrol dengan suaminya sekarang, Azira tidak mau menahannya.
Mengalihkan pandangannya dari Bibi Indring, dia menoleh ke tempat yang ditunjuk oleh Bibi Indring. Di sana beberapa laki-laki sedang berkumpul. Dan kebetulan mereka menoleh ke arah Kenzie, melambaikan tangan untuk menarik perhatian Kenzie.
Kenzie mengganggu ringan, balas melambaikan tangannya kepada mereka. Tapi dia tidak bermaksud datang menghampiri mereka.
"Bibi melihat sendiri situasi istriku. Lagipula sebentar lagi kita akan shalat ashar, urusan apapun bisa ditunda setelah pengajian selesai." Tolak Kenzie sambil tersenyum tipis.
Bibi Indring tersenyum kecut. Dia melirik perut besar Azira, lalu menoleh ke arah lain.
Tujuannya datang ke sini bersama suaminya selain menghadiri acara Kenzie, dia juga ingin memperkenalkan suaminya ke dalam koneksi Kenzie. Berharap bahwa suaminya dapat mengikuti jejak Kenzie dalam berbisnis.
Kenzie masih memiliki senyum tipis yang sama, senyum bisnis.
"Maafkan aku mengatakan ini. Tapi hari ini merupakan acara yang sama spesial untuk aku dan Azira, aku hanya fokus pada acara ini dan tidak ingin membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan acara ini. Jika Bibi mau, Bibi bisa pergi sendiri menemui mereka." Tolak Kenzie secara langsung.
Apa yang dia katakan memang masuk akal. Ini adalah acaranya bersama sang istri untuk mendoakan kehamilan istrinya. Bagaimana bisa dia sibuk memikirkan bisnis disaat acara bahagia atas rasa syukur kehadiran anak mereka sedang berlangsung?
"Mas..." Azira berbisik malu.
Kenzie hanya melihatnya sambil tersenyum. Dia tidak mengatakan apa-apa tapi tangannya mengelus lembut punggung Azira.
"Aku tahu... Maafkan kelancanganku. Kalian bisa lanjutkan." Bibi Indring kehilangan senyum di wajahnya.
Dia tersenyum kaku kepada mereka berdua, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan mereka.
Kenzie dan Azira saling memandang. Mereka tahu bahwa bibi Indring pasti marah. Tapi mereka tidak menghentikannya untuk meminta maaf, karena toh, mereka berdua tidak salah.
Tapi Azira masih menyalahkan suaminya yang terlalu lugas berbicara.
"Mas, jangan gitu ah sama bibi Indring. Dia marah loh."
Kenzie berbicara jujur,"aku sebenarnya tidak masalah membantunya untuk berhubungan dengan teman-temanku. Toh, bisa atau tidaknya Paman Roni terhubung dengan mereka adalah jerih payah Paman Roni sendiri, aku tidak akan datang membantunya. Tapi yang aku tidak suka adalah bibi Indring datang untuk mengacaukan waktu bersama kita berdua, aku tidak senang meskipun dia adalah bibi ku sendiri. Tapi aku sangat kecewa mendengar apa yang kamu katakan, mungkinkah kamu tidak ingin aku temani lagi?" Di sela-sela berbicara serius, bisa Kenzie bercanda.
__ADS_1
Azira gemas. Tapi dia tidak tahan melihat ekspresi serius di wajah suaminya.
"Enggak kok, aku paling senang kalau mas Kenzie nempel terus sama aku. Tapi... Aku juga ngerti kalau mas Kenzie butuh waktu untuk bersosialisasi. Hati aku nggak enak melarang mas Kenzie bertemu dengan teman-teman. Itu adalah hak mas Kenzie. Nanti kalau mas Kenzie ingin bertemu dengan teman-teman mas Kenzie, bilang saja sama aku, janji deh aku nggak akan ngelarang." Kata Azira malu-malu.
Kenzie merasa manis. Hatinya melembut. Meremas pinggang istrinya, sebenarnya dia ingin sekali menghujani wajah gembul istrinya dengan kecupan ringan. Tapi dia masih tahu tempat, dan bila dia nekat melakukan itu istrinya pasti sangat marah nanti.
"Istriku memang pengertian. Kalau kamu bersikap seperti ini sama aku, mana tahan aku meninggalkan kamu." Ucap Kenzie gemas.
"Jangan 'tahan', mas. Aku makin senang kok." Azira balik bercanda.
"Permisi." Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri mereka.
Ketika Azira dan Kenzie kompak menoleh ke arah asal suara, mereka mendapati Al sedang berdiri. Dia juga mendapatkan kartu undangan karena bisa dibilang Al adalah satu-satunya teman Azira yang masih berhubungan sampai dengan sekarang. Al datang menggunakan baju koko hijau army, sesuai dengan tema hari ini hijau. Penampilannya sangat menarik dan tak jarang mendapatkan perhatian dari beberapa gadis.
"Ada apa?" Kenzie langsung waspada.
Bahkan meskipun mereka berdua tidak memiliki hubungan apa-apa, Kenzie selalu siaga terhadap laki-laki ini karena ada jejak masa lalu di antara dia dan istrinya. Kenzie sangat tidak senang. Kalau bisa, dia ingin memformat semua ingatan istrinya tentang laki-laki ini. Tapi sayang sekali dia tidak bisa.
Melihat sikap tak bersahabat Kenzie, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hari ini dia menggunakan kacamata kerja sehingga penampilannya memiliki aura-aura tertentu yang disukai para gadis.
"Apakah kamu melihat kemana Mona pergi?" Tanya Al pelan.
Azira tersenyum.
"Dia baru saja ada di sini. Seingat ku dia pergi menemui Sasa."
Al mengangguk.
"Lalu tahukah kalian di mana posisi-"
"Cari aja sendiri." Potong Kenzie pengen cepat-cepat dia pergi.
Al menggaruk kepalanya yang tidak gatal lagi.
"Azira, suami kamu udah mirip bebek angsa, galak banget." Canda Al ke Azira dan langsung mengundang gelak tawa Azira.
Suaminya memang selalu bersikap galak saat berhadapan dengan Al. Ah, tidak hanya kepada Al tapi kepada para laki-laki yang tidak dikenalnya juga suaminya seringkali tidak bisa menahan emosi cemburu.
Itu... Terjadi kalau laki-laki itu memiliki tujuan tertentu kepada Azira. Kalau laki-laki itu tidak memiliki niat tertentu, suaminya tidak akan gila bersikap galak kepada laki-laki yang tidak bersalah.
"Kamu bilang apa?" Kenzie bertanya dingin.
Al tersenyum. Berpura-pura polos di depan mereka berdua.
"Aku tidak mengatakan apa-apa. Kalau begitu, nikmati waktu kalian." Lalu dia pergi melarikan diri sebelum bebek angsa jejadian datang mengejar.
"Mas, kak Al cuma bercanda." Azira memeluk lengan suaminya sayang.
Kenzie mendengus dingin.
"Tapi kamu tertawa. Kamu senang ya melihat orang lain menghina aku?"
Azira menggelengkan kepalanya berusaha menahan tawanya.
"Enggak kok. Justru dia sedang bercanda makanya aku tertawa. Kalau Kak Al serius, aku pasti enggak terima dan pasti marah banget karena suamiku sedang dihina." Bantah Azira meyakinkan.
__ADS_1
Kenzie tersenyum geli,"Aku juga bercanda. Okay, tertawa lah dan jangan menahannya. Aku rela kok disebut sebagai angsa galak kalau itu bisa membuat kamu merasa nyaman dan tertawa." Ucapnya dengan hati yang lembut.
Rasa sayang Kenzie kepada istrinya sangat sulit untuk diungkapkan. Dia bingung bagaimana mengungkapkannya tapi dia tahu bahwa bila istrinya tersenyum malu atau tertawa, dia akan merasa sangat bahagia melihatnya. Maka dari itu bila ada kesempatan dia sesekali akan bercanda atau menggoda istrinya untuk membuat tertawa ataupun tersenyum.