Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 14.5


__ADS_3

Aku melihat ke arahnya dengan hati-hati. Mencoba menebak-nebak di dalam hatiku apa yang telah dipikirkan oleh suamiku. Dasarnya tempat tinggal ku kumuh, logikanya pekerjaan apa yang bisa dilakukan di tempat seperti ini dan poinnya adalah apakah itu penting?


"Maukah kamu menceritakan kepadaku?" Mas Kenzie malah balik bertanya kepadaku.


Aku tersenyum kecut.

__ADS_1


"Tentu saja aku mau mas. Aku berharap kalau mas Kenzie tidak akan tersinggung mendengarnya." Biar bagaimanapun kita berdua berasal dari dunia yang berbeda.


Mas Kenzie memiliki latar belakang yang luar biasa, lahir dari keluarga kaya raya. Sementara aku tak perlu lagi dijelaskan.


"Lalu aku akan menyimaknya." Ujar mas Kenzie kepadaku.

__ADS_1


Aku mengambil nafas dalam-dalam sebelum mulai membuka mulut untuk menceritakannya.


"Aku hanya lulusan SMA, mas, tentunya dengan nilai pas-pasan. Dari tempat yang tinggal ku saja mas sudah tahu kalau aku tidak berasal dari kalangan berada. Aku dan Ibu sangat miskin sampai-sampai makan kadang tidak kadang iya. Di saat kebanyakan orang-orang merayakan lebaran dengan aneka macam makanan, rumah kami justru membuat bubur seadanya. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari aku dan Ibu bekerja. Aku bekerja sebagai pegawai laundry, kerjaan ku cuma menyetrika pakaian yang sudah bersih. Gajiku... cukup untuk kami makan seminggu. Kemudian Ibuku... dia adalah wanita malam. Dia.. terpaksa melakukan pekerjaan ini karena dipaksa oleh kehidupan. Ibuku tidak bersungguh-sungguh dan bahkan keluar dari jalan itu rasanya sangat mustahil karena dia memiliki kontrak seumur hidup. Kami... hidup secukupnya dan aku dibesarkan tanpa bakat seperti orang-orang di luar sana. Tapi aku dan Ibu berhasil melalui semuanya...ya, hingga aku bertemu dengan mas Kenzie dengan cara yang salah..."


Mungkin aku adalah salah satu wanita yang cukup tidak beruntung karena siksaan ekonomi pada awalnya. Misalnya ketika aku datang bulan. Seringkali setiap datang bulan aku tidak memiliki uang untuk membeli pembalut. Untuk mengatasinya aku harus menggunakan kain bajuku atau kain yang sudah tidak terpakai sebagai pengganti pembalut. Sungguh... rasanya sangat menyiksa. Aku tidak bisa kemana-mana karena takut darahku menodai lantai ataupun tempat-tempat yang ku datangi. Jadi aku akan lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Kalaupun aku tidak beruntung karena harus pergi sekolah, terpaksa aku menggunakan beberapa lipatan kain lagi untuk mengatasinya meskipun ujung-ujungnya rokku akan ternoda. Dan misalkan aku memiliki pembalut, seringkali aku menggunakan satu pembalut sehari penuh untuk berhemat.

__ADS_1


Itu sangat tidak nyaman. Sering terbesit di dalam pikiranku bahwa lebih baik aku tidak datang bulan saja bila ujung-ujungnya aku akan hidup tersiksa.


"Cara yang salah. Tapi begitulah cara Allah mempertemukan kita berdua. Aku... tidak akan memberikan komentar apa-apa kepada Ibu, sebab hanya Allah yang bisa menilainya dan selain itupun Ibu sudah tidak ada lagi di dunia ini lagi. Tapi mengenai kamu, aku tidak berani membuat janji kepadamu karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, itu adalah rahasia Allah. Tapi kamu harus tahu bahwa aku akan berusaha membuat kamu terlepas dari masa lalu dan menghadapi hari-hari selanjutnya dengan senyuman yang lebar. Dan aku juga.." Mas Kenzie tiba-tiba terdiam.


__ADS_2