Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 26.6


__ADS_3

Setelah Amara keluar dari ruangannya, Nabil langsung menjatuhkan diri ke sofa. Bersandar lemas dengan tangan bersandar di keningnya. Dadanya naik turun menahan amarah. Apa yang dia katakan tadi adalah bentuk luapan emosinya selama ini. Nabil sangat menghormati pamannya. Dan karena rasa hormat ini dia tanpa sadar menganggap jika sepupunya ini sangat berharga. Mengikuti apa yang pamannya lakukan, dia menghormati semua yang diinginkan oleh sepupunya. Bahkan berusaha untuk mewujudkan keinginannya tersebut sama seperti yang dia lakukan sekarang. Dia tersesat dalam rencana sendiri, memutuskan hubungan baiknya dengan sahabat sendiri. Sungguh langkah yang salah.


Dia menyesalinya. Karena apa yang dia lakukan hubungannya dengan Kenzie sekarang telah merenggang, dan mungkin telah sampai di titik dimana mereka kembali menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal.


"Hallo, paman?" Nabil merendahkan kepalanya tampak sangat kelelahan.


Hanya dalam waktu beberapa jam saja, dia tampak jauh lebih tua beberapa tahun dari usianya.


"Iya, ini soal sepupuku. Maaf aku baru berani memberitahu Paman soal ini. Aku sudah tidak bisa lagi menahan semuanya.."


...*****...


Amara langsung pulang ke rumah dengan keadaan marah-marah. Masuk ke dalam rumah dia mendapati ayahnya duduk dengan ekspresi bermartabat di sofa bersama ibunya. Biasanya ayah selalu tersenyum kepadanya setiap kali mereka berdua bertemu. Namun hari ini ada yang berbeda. Ayah tidak tersenyum dan ibu juga tampak sedikit sedih. Akan tetapi dia tidak terlalu memikirkannya. Saat ini dia sedang sangat marah entah itu tentang Kenzie ataupun tentang perlakuan kasar Nabil kepadanya. Pulang ke rumah dia ingin bersantai-santai dan bersikap manja kepada orang tuanya.


"Ayah... Ibu, Amara pulang..." Suara Amara manja sembari mendudukkan dirinya di tengah-tengah orang tuanya.


Namun baru saja pantatnya menyentuh permukaan kulit sofa, tangan besar dan kuat ayah mendorongnya pergi hingga jatuh ke karpet.

__ADS_1


Amara sangat terkejut. Dia menatap ayahnya kebingungan


"Ayah?" Amara kira ayahnya sedang bercanda.


"Ayah jangan bercanda dulu. Amara lagi kesel. Amara lagi nggak mood bercanda." Kata Amara protes.


Bangun dan ingin duduk kembali tapi lagi-lagi ayah mendorongnya menjauh tanpa ekspresi bercanda ataupun sedikit senyum di wajahnya.


Setelah melihat ini barulah dia menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Meskipun rumah biasanya tidak ramai tapi tetap hidup. Pasti ada beberapa orang yang datang ke sini atau pun bermain. Tapi hari ini dia memperhatikan rumah jauh lebih sepi dan ada suasana menegangkan yang dirasakan oleh Amara.


Bingung, Amara menatap kedua orang tuanya sambil berpikir. Hatinya penasaran kenapa orang tuanya tiba-tiba memiliki sikap dingin karena seingatnya tadi siang terakhir kali mereka bertemu orang tuanya masih bersikap hangat. Dan tiba-tiba...mata Amara membola, jangan-jangan Nabil telah mengatakan sesuatu kepada orang tuanya?


"Kemasi semua barang-barang kamu." Perintah ayah berdiri teguh menatap wajah pucat putrinya yang menyedihkan.


"Ayah?" Amara meragukan pendengarannya sendiri.


Ayah menatapnya lurus.

__ADS_1


"Mulai hari ini kamu akan kembali ke luar negeri dan baru bisa kembali setelah berhasil menyelesaikan study kamu."


Sekolah?


Ini gila. Amara tidak pernah mendaftar untuk bersekolah di manapun apalagi di luar negeri. Tidak, dia tidak mau pergi.


"Aku enggak mau." Kata Amara keras kepala.


Ayah tidak menerima penolakan.


"Kemasi sendiri atau tidak?" Tekan ayah.


"Ayah!"


Ayah mengangguk.


"Baiklah, ayo pergi." Tiba-tiba beberapa wanita muncul dari dalam.

__ADS_1


Mereka adalah keluarga Amara. Atas perintah ayah, mereka semua menyeret Amara masuk ke dalam mobil. Mengabaikan suara tangisan dan teriakan Amara yang memekakkan telinga.


__ADS_2