Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 23.3


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam kamar pun Kenzie tidak berbicara. Dia langsung berbaring di atas kasur dan memunggungi Azira dengan sengaja. Melihat ini Azira merasa tidak berdaya. Dia tertawa kesal di dalam hati. Tiba-tiba dia merasa jika Kenzie juga memiliki sisi kekanak-kanakan yang menjengkelkan. Azira mendengus. Dia mengambil handuk dan baju tidur dari lemari kemudian berjalan pergi ke kamar mandi.


Tak berselang lama dia keluar dari kamar mandi. Mengambil nafas dalam-dalam melihat lampu kamar sudah dimatikan. Azira menggantung handuknya di samping kamar mandi dengan rapi. Setelah itu dia naik ke atas kasur dengan posisi menyamping menghadap punggung lurus suaminya. Azira merasa hari berjalan dengan baik sehingga suasana hatinya membalik pula. Rasa kantuk yang dia kira tidak akan datang cepat saat ini tiba-tiba datang melanda, mempengaruhi kesadarannya sampai titik dimana dia terhanyut dalam kesunyian malam.


Beberapa menit kemudian suara nafas teratur Azira bergema lemah di dalam ruangan ini. Punggung kaku yang tadinya diam tak bergerak memberikan sikap dingin perlahan mengendur.


Dengan gerakan hati-hati Kenzie membalik dirinya ke samping, mengatur posisi senyaman mungkin sampai wajah cantik dan menawan Azira sepenuhnya memasuki indera penglihatannya.


Tadi siang wajah Azira nampak pucat. Sempat membuat khawatir. Tapi untungnya di sore hari Azira perlahan membaik dan puncaknya sekarang, kedua pipi Azira diwarnai rona merah semanis buah persik yang menggoda. Hari Kenzie tergelitik, tergoda ingin menyentuhnya tapi mengingat interaksi Azira dan Al hari ini, kemarahan yang teredam tadi kembali mengamuk di dalam dadanya.

__ADS_1


Dia marah, sungguh sangat marah. Dia mungkin tahu kalau Azira tidak mungkin memiliki perasaan kepada Al, apalagi mereka sudah tidak bertemu bertahun-tahun lamanya, kemungkinan perasaan itu sangat kecil. Tapi tetap saja, melihat Azira merespon dengan baik apa yang dikatakan oleh Al membuat dada Kenzie terbakar amarah. Dia tidak terima dan tidak rela melihat istrinya dekat dengan laki-laki lain, meskipun hanya berbicara biasa.


"Azira istriku..." Bisik Kenzie lembut.


Suaranya begitu lembut sampai-sampai tidak bisa menembus tidur lelap Azira.


Namun saat mendapati jari-jarinya masih bersih seperti semula, Kenzie konyolnya merasa kecewa.


"Dari tadi sore aku menunggu kamu mengambil inisiatif untuk berbicara tentang laki-laki itu." Bisiknya di tengah-tengah kesunyian malam.

__ADS_1


"Aku sepenuhnya percaya kalau kamu tidak memiliki hubungan romantis dengan laki-laki itu, aku sungguh sangat percaya, demi Allah. Namun, hatiku tetap tidak bisa menerimanya saat melihat bagaimana kamu berinteraksi dengan laki-laki itu. Azira, istriku tersayang, hatiku tidak bisa tenang memikirkannya. Jadi aku terus menunggu dengan harapan kamu mengambil inisiatif untuk mengatakan apa hubungan kalian berdua di masa lalu dan bagaimana hubungan kalian selama itu." Dan Kenzie sungguh dibuat tidak berdaya mengingat tatapan polos istrinya malam ini.


Istrinya bersikap santai sama seperti sebelumnya, seakan-akan tidak memperhatikan kesuraman di wajah Kenzie. Gara-gara ini dia jadi bertanya-tanya, apakah Azira memang tidak menyadari atau sengaja berpura-pura tidak menyadari?


Kenzie ragu.


"Menunggu dan menunggu, aku sengaja tidak banyak berbicara dengan kamu dan berpura-pura mengabaikan kamu tadi, aku kira kamu akan bertanya apa yang terjadi kepada ku tapi nyatanya..." Menatap wajah polos istrinya yang tengah tertidur lelap, Kenzie menghela nafas panjang.


"Kamu justru tidur duluan. Aku salah menunggu."

__ADS_1


__ADS_2