Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 5.1


__ADS_3

Seharusnya Kenzie tak pernah menanyakan ini kepada pelayan toko tersebut karena selanjutnya, pelayan toko itu mulai menggerakkan bibirnya untuk melakukan operasi promosi beberapa produk toko di tempat. Kenzie merasa mendengarnya akan membuang-buang banyak waktu. Di tambah lagi berdiri diam di depan rak-rak kebutuhan wanita ini telah menyita banyak perhatian orang. Mereka melihat Kenzie dengan tatapan penasaran. Pura-pura lewat sambil mencuri pandang, bahkan ada pula yang tertawa melihat Kenzie berdiri bodoh mendengarkan operasi promosi pelayan toko.


Kenzie kehilangan senyum sopan di wajahnya merasa dipermalukan secara tidak sengaja. Berdecak tak puas, dia kemudian mengambil keranjang belanjaannya dan mengambil secara acak produk kewanitaan ke dalam keranjang, mengabaikan pelayan toko yang masih senang memecahkan air liurnya kemana-mana.


"Mas, produk ini juga sangat bagus-"


"Terima kasih." Potong Kenzie tidak berminat.


Setelah membeli banyak produk, Kenzie pergi meninggalkan pelayan toko yang masih mengoceh. Berjalan lurus ke belakang, matanya menangkap pojok toko yang khusus digunakan untuk pakaian dalam wanita dan laki-laki.


Kenzie kembali bingung dengan ukuran milik Azira. Dia tidak tahu seberapa besar milik Azira dan seberapa lebar ukuran bawahannya, dia tiba-tiba menjadi bodoh di tempat. Namun Kenzie belajar dari pelajaran sebelumnya. Dia langsung mengambil barang-barang secara acak ke dalam keranjang tanpa perlu menunggu sapaan pelayan toko lainnya.


Kenzie hanya menebak secara acak saja. Dia pikir milik Azira tidak mungkin besar juga tidak mungkin kecil, tidak mungkin lebar namun sudah pasti sempit. Ini hanya tebakan samar karena sebagai suami dia belum pernah menyentuhnya sama sekali.


Beres dengan barang belanjaannya, dia kemudian mengantri di depan kasur bersama pembeli yang lain dan lagi-lagi mendapatkan perhatian banyak orang. Beberapa wanita muda dan remaja sekolah melirik ke arahnya dengan malu-malu. Kenzie sudah kebal dengan mata penasaran mereka dan tetap bersikap acuh tak acuh seolah tak terjadi apa-apa. Padahal sebenarnya dia sangat canggung sekarang.

__ADS_1


...*****...


Azira menatap kaget belanjaan Kenzie. Ada banyak stok pembalut berbagai macam merek yang berbeda, diperkirakan pembalut ini bisa digunakan 7 bulan ke depan. Sangat banyak. Belum lagi pakaian dalam untuknya. Azira menebak bila Kenzie pasti asal membeli tanpa memperhatikan ukurannya.


Cek, ini pasti menjadi ujian sangat berat untuk suaminya itu.


"Terima kasih, mas." Azira buru-buru menaruh semua barang-barang itu ke dalam lemari sebelum melarikan diri ke dalam kamar mandi.


Ia malu diperhatikan oleh suaminya dan merasa cukup bersalah memintanya pergi untuk membeli barang-barang ini. Ia tidak bisa membayangkan betapa malunya sang suami saat membeli barang-barang ini tadi. Disaat yang sama pula ia merasa hangat di dalam hatinya sebab suaminya sangat bisa diandalkan untuk hal-hal 'memalukan' ini. Tak jarang lho laki-laki menolak permintaan ini bila diminta oleh istrinya.


Ia keluar dari kamar mandi setengah jam kemudian dengan cucian di tangan kanannya yang sudah diperas hingga kurang air. Melihat ke segala arah, ia tak menemukan keberadaan suaminya. Ia bingung. Matanya berkedip polos menatap balkon di luar. Bertanya-tanya apakah ia bisa menjemur pakaiannya di sana?


Cklak


Pintu kamar dibuka. Kenzie masuk ke dalam kamar dengan nampan makanan di tangannya. Dia mengangkat kepalanya dan bertemu dengan tatapan antisipasi sang istri.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanyanya.


"Mas, kemana aku harus menjemurnya?" Tanya Azira sopan.


Kenzie melihat cucian di tangan sang istri dengan aneh.


"Taruh saja di dalam mesin cuci. Besok pagi kamu sudah bisa memakainya lagi." Katanya aneh.


Kenzie memiliki mesin cuci sendiri di dalam kamarnya. Jadi dia tidak perlu repot-repot mencari orang untuk mencuci pakaiannya. Lagipula Kenzie tidak terlalu suka orang lain menyentuh barang-barang pribadinya sehingga dia memutuskan untuk membeli mesin cuci sendiri untuk pemakaian pribadinya.


"Oh," Azira juga melihatnya tapi tidak mengerti cara menggunakannya.


Seolah mengerti apa yang istrinya pikirkan, Kenzie meletakkan nampan di atas meja dan menarik sang istri agar ikut bersamanya masuk ke dalam kamar mandi. Berdiri di depan mesin cuci, Kenzie mendemonstrasikan kepada istrinya bagaimana caranya menggunakan mesin cuci. Dia menjelaskan dengan lambat, menunjukkan setiap fungsi secara jelas dengan suara yang candu.


Bersambung...

__ADS_1


So bad


__ADS_2