Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 13.5


__ADS_3

Keesokan paginya ketika bangun, Azira memegang kening Sasa untuk melihat apakah demamnya sudah turun atau belum.


"Sudah turun, alhamdulillah." Bisik Azira bersyukur.


Sebentar lagi waktu subuh datang. Namun baik Mona dan Sasa masih tertidur lelap. Azira tak tega membangunkan mereka berdua. Kesampingkan Sasa, tak perlu ditanya lagi, dia sedang sakit dan membutuhkan istirahat lebih. Sementara Mona tadi malam ikut begadang dengan Azira untuk mengurusi Sasa yang tengah sakit.


Mereka berdua menjaga Sasa semalaman. Umi juga ada, tapi Azira memintanya kembali beristirahat di kamar karena sudah ada Mona dan dia yang memperhatikan Sasa. Di sisi lain Kenzie selalu siap siaga untuk mereka jadi tak perlu ada yang dirisaukan.


"Kak Azira mau keluar?" Mona tiba-tiba terbangun mendengar pergerakan Azira.


Mereka bertiga tidur di kasur yang sama semalam karena Sasa maunya sama Azira terus. Untungnya kasur Sasa cukup besar untuk tiga orang sehingga mereka bertiga muat tidur di sana.


"Iya, dek. Kakak mau siap-siap sholat dan masak di dapur. Kenapa, kamu butuh sesuatu?"


Mona menggelengkan kepalanya masih mengantuk.


"Enggak ada, kak. Aku enggak butuh apa-apa. Kakak keluar aja, biar aku yang urus Sasa." Kata Mona.


Azira tersenyum.

__ADS_1


"Demam Sasa sudah turun, kamu enggak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Kamu juga harus banyak beristirahat biar enggak drop kayak Sasa."


Mona tidak terlalu mendengarkan karena dia masih sangat mengantuk. Mengangguk linglung dia kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal dan tidur lagi.


Azira menggelengkan kepalanya geli.


Masih anak-anak, pikirnya. Padahal usia mereka hanya berbeda satu tahun saja.


Dia keluar dari kamar Sasa dan langsung menuju kamarnya. Dia bertanya-tanya mungkin suaminya sekarang sedang sholat tahajud di dalam kamar mereka. Sepanjang jalan Azira berpikir sikap apa yang harus dia lakukan ketika di depan suaminya.


Soalnya tadi malam sangat memalukan. Mereka hampir saja... hampir saja melakukan itu.


"Mas Kenzie?" Azira melihat orang yang sedang dia pikirkan ternyata tengah duduk di ruang tengah dengan laptop yang masih menyala di atas meja.


Jadi suaminya semalam begadang juga?


"Eh," Kenzie mengangkat kepalanya melihat Azira.


Melepaskan kacamata kerja dan menaruhnya di tempat semula.

__ADS_1


"Ke sini." Kenzie menepuk tempat di sampingnya.


Azira menurut dan duduk. Jangan tanya seberapa kuat jantungnya berdebar sekarang.


"Mas Kenzie enggak pernah tidur?" Tanya Azira sambil melihat-lihat pekerjaan suaminya di atas meja.


Kenzie mendengus,"Menurut kamu gimana? Apa kamu pikir aku masih bisa tidur dengan situasi seperti itu?"


Situasi seperti itu?


Pikiran Azira langsung bergerak liar. Mana mungkin dia tidak mengerti. Tapi dia berusaha tetap menjaga pikirannya sejernih mungkin. Tetap positif di depan suaminya. Namun dia tidak mengetahui kalau ekspresi rumit di wajahnya sudah lama dibaca oleh Kenzie. Belum lagi warna pipinya yang menyala kemerahan, ingatan semalam langsung berkobar di dalam benak suaminya.


"Kamu kan dokter, mas. Begadang semalaman enggak baik- mas?" Ketika Azira menoleh, tatapan suaminya sangat berbahaya.


Wajah Azira langsung memanas.


"Mas Kenzie dengar enggak sih aku tadi ngomong apa?" Azira mengepalkan kedua tangannya gugup.


Di depan Kenzie sebisa mungkin dia ingin terlihat tenang. Dia tidak boleh goyah ataupun lemah di depan suaminya. Karena... karena dia takut Kenzie membaca pikirannya sekarang. Um apa lagi yang bisa dia pikirkan?

__ADS_1


Semalam... tentu saja.


__ADS_2