Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 28.5


__ADS_3

"Tidak. Bukan seperti itu. Dia menelpon untuk memberitahu kami bahwa beberapa hari lagi Kenzie akan mengadakan acara syukuran untuk tujuh bulanan Azira. Dia dan Azira.. berharap kita semua datang ke acara itu." Ayah menjelaskan.


Begitu kata-kata ini jatuh, senyuman Humairah dan Mama langsung membeku, kemudian menghilang entah kemana.


"Tujuh bulanan?" Humairah shock.


Mendengar kabar saja tidak cukup membuatnya percaya selama dia tidak melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan Azira dan seberapa besar perut Azira.


Di dalam kepalanya yang dibutakan oleh keegoisan, dia selalu berpendapat bahwa Azira hanya mengarang saja.


Ayah mengangguk berat.


"Itulah yang Kenzie bilang kepadaku tadi." Ayah tidak mengatakan kalau dia sempat berbicara dengan Azira tadi.

__ADS_1


Dia takut kalau putrinya yang tersayang akan semakin terguncang mendengar kabar ini. Lalu bagaimana dengan acara besok?


Entahlah, dia yakin kalau putrinya tidak akan datang. Tapi bagaimana bila benar-benar datang?


Akan seberapa besar dampak yang diterima oleh putrinya hari itu?


"Bohong... Pasti ini semua bohong!"


Ayah menghela nafas panjang.


Dengan berita ini peluang apalagi yang dimiliki oleh putrinya?


Mau tidak mau Humairah harus mengalah. Sebab harapan mereka hanyalah sebuah harapan semu yang tak akan pernah terjadi.

__ADS_1


Humairah terdiam. Perlahan bulir-bulir air mata mulai berjatuhan dari matanya. Dia tidak mengatakan apa-apa tapi sikap diamnya menunjukkan betapa keras kepalanya dia sekarang. Tentu saja dia tidak setuju dengan Ayah.


"Berbicara saja mudah, Ayah tidak mengerti apa yang dirasakan Humairah! Ini soal perasaan bukan masalah akal. Sejak kapanpun perasaan seringkali bertolak belakang dengan akal, Ayah tau sendiri kan masalah ini. Selain itu semua ini terjadi gara-gara anak kurang ajar Ayah! Dia adalah manusia sampah yang tidak tahu malu, berani-beraninya dia menghancurkan kehidupan Humairah dengan merebut Kenzie darinya-" sebelum mama bisa menyelesaikan kata-kata menyalahkannya, Ayah langsung memotongnya marah.


"Soal masalah itu aku rasa tidak perlu menjelaskan lagi kepadamu. Kita semua tahu kalau tunangan Kenzie dari awal adalah Azira. Jika hari itu Humairah dan Kenzie benar-benar menikah kemudian rahasia bahwa Humairah bukan tunangan Kenzie yang sebenarnya terungkap, menurutmu seberapa besar resiko yang akan kita semua tanggung? Tidakkah kamu melihat apa yang keluarganya lakukan kepada saat itu? Beberapa proyek besar kita dibatalkan dan terpaksa kita harus mengeluarkan ganti rugi yang cukup besar, ini tidak seberapa karena aku yakin mereka akan melakukan hal yang lebih kejam lagi bila Humairah benar-benar menikah dengan Kenzie!" Potong Ayah agak lelah terus menerus dipojokkan oleh istrinya.


Mama juga tahu hal ini dan dia merasa sangat malu. Tapi sebagai seorang Ibu, mana tahan dia melihat anak berkubang dalam penderitaan.


"Ayah.." Humairah ingin mengatakan sesuatu tapi langsung dipotong oleh Ayah.


"Jika Kenzie benar-benar menyukai kamu, maka dulu dia pasti lebih baik memilih kamu daripada mempertahankan Azira sebagai istrinya. Tapi lihat hingga saat ini? Apakah dia pernah datang ke sini untuk meminta maaf kepadamu atau apakah dia pernah mengatakan bahwa dia ingin memilih kamu? Tidak, Nak. Dia tidak melakukan semua ini. Bukankah bukti ini sudah cukup membuktikan bahwa semuanya sudah berakhir? Humairah, jangan bilang Ayah mengatakan ini karena tidak menyayangi kamu. Tidak, Ayah justru mengatakan ini karena Ayah sangat mencintai kamu. Ayah berharap kamu berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak pernah bisa kita miliki." Menatap wajah basah putrinya, Ayah dengan berat hati menggelengkan kepalanya tidak berdaya.


"Baiklah, ayo berhenti bicara. Kita tidak akan membicarakan masalah ini lagi." Kata Ayah menyudahi pembicaraan.

__ADS_1


Mama sangat perihatin terhadap putrinya. Dia kesal dengan suaminya dan tidak mau mengatakan apa-apa. Mengabaikan suaminya, dia mengelus punggung putrinya untuk menghibur tangisan dalam diam putrinya yang sangat menyedihkan.


"Tidak adil. Ini tidak adil." Bisik Humairah benci.


__ADS_2