Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 29.6


__ADS_3

"Apakah benar di sini, Eka?" Seorang wanita paruh baya berpenampilan biasa menatap ragu pada bangunan tinggi nan luas yang terbentang di depan matanya.


Ditambah dengan deretan berbagai mobil di dalam dan di luar, keraguan wanita paruh baya itu semakin menguat di dalam hati. Belum pernah dia melihat rumah sebesar dan semewah ini, biasanya pemandangan spektakuler ini dia dapati dari acara sinetron atau drama di tv.


Benar, semuanya bagaikan imajinasi. Wanita paruh baya ini tidak yakin jika keponakannya tinggal di sini.


"Bu, aku enggak salah. Rumah ini memang sesuai dengan alamat yang suami Azira berikan kepadaku. Dia bilang hari ini merupakan acara 7 bulanan Azira, sepupuku, makanya rumah mereka sangat ramai sekarang." Jelas Eka kepada Ibunya.


Beberapa hari yang lalu dia tiba-tiba mendapatkan sebuah telepon dari Kenzie. Selain mengundangnya dan keluarga secara langsung, Kenzie juga mengirimi mereka sebuah surat undangan acara 7 bulanan Azira. Diharapkan semua keluarga datang ke sini karena Kenzie berniat mengejutkan Azira.


"Masya Allah, jika ini memang rumah Azira maka dia pasti sangat kaya sekarang. Sayang sekali Ibunya telah pergi dan tidak sempat melihat kebahagiaan Azira." Seorang bibi yang berdiri di samping Ibunya berbicara dengan nada penyesalan.

__ADS_1


Hari itu Kenzie menjelaskan bila Ibu Azira sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, tepatnya dua bulan sebelum dia menikahi Azira. Kabar ini langsung membuat hati keluarga yang ada di kampung sedih dan tidak rela. Mereka tentu sangat sedih tak dapat bertemu dengan saudara sendiri yang telah terpisah beberapa tahun lamanya.


Mengingat kembali semua penderitaan adiknya, mata Ibu memerah menahan kebencian.


"Semua ini gara-gara laki-laki bejat itu! Bila dia tidak membuat adikku jatuh cinta dan memberikan harapan palsu, adikku dan putrinya tidak akan berakhir menderita!" Ucap Ibu dengan tangan terkepal.


Eka memegang tangan Ibu, lalu tangannya yang lain mengelus pundak Ibu untuk menenangkan kemarahannya. Emosi Ibu sudah terguncang sejak beberapa hari yang lalu. Ibu mulai banyak menangis menyesali kelemahannya menghentikan sang adik saat akan ke kota dulu. Selain menangis, Ibu terkadang menggumamkan beberapa patah kata umpatan yang dilayangkan untuk laki-laki bejat yang telah menghancurkan kehidupan adiknya.


Ibu mengambil nafas panjang.


"Aku hanya menyesali diriku yang tidak cukup bersikap keras kepada adik kita, kak."

__ADS_1


Laki-laki paruh baya itu terdiam. Mata keruhnya memandangi gedung di depan seolah mengingat kembali hari-hari itu.


"Kita sudah bersikap keras, tapi dia tidak mau mendengar. Ini mungkin takdir yang harus dia jalani." Bisiknya tidak berdaya.


Suasana kembali menjadi keruh.


"Sudah-sudah, kita datang ke sini untuk memastikan Azira baik-baik saja atau tidak, bukan untuk mengenang masa lalu." Seorang bibi memecahkan suasana keruh di sini.


Meskipun sedih, dia tidak mau keluarganya terlihat muram saat bertemu dengan Azira untuk yang pertama kalinya ketika berpisah bertahun-tahun lamanya.


"Benar, ayo tersenyum. Bersikaplah ramah kepada Azira dan jangan menakut-nakuti nya." Seseorang bercanda ikut mencairkan suasana.

__ADS_1


Ibu dan paman tersenyum tipis. Mereka juga tidak sabar ingin bertemu dengan Azira. Bertanya-tanya apakah Azira masih mau mengenali mereka yang berasal dari kampung?


__ADS_2