Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 17.7


__ADS_3

Walaupun Humairah tidak mengatakan yang sebenarnya tapi kotak makan siang yang sudah tidak asing lagi bagi mereka telah menjawab rasa penasaran mereka. Pasti Humairah datang ke sini untuk mengantarkan jatah makan siang kepada Kenzie.


Nana tersenyum kecil sembari menarik perhatiannya dari makanan kotak yang dibawa oleh Humairah. Dia bertanya-tanya apakah kotak makan siang ini akan berakhir di tempat sampah lagi seperti kotak-kotak makan yang lainnya.


"Oh, ternyata ada urusan." Katanya ironis.


Kasihan sekali Humairah pikirnya. Telah ditolak berkali-kali tapi dia masih belum memiliki kesadaran diri untuk berhenti. Keras kepala dan terus mengulangi langkah yang sama, meninggalkan luka untuk dirinya sendiri.


"Lalu makanan ini-" Belum selesai dia berbicara, Humairah langsung menyambut.


"Biarkan aku mengantarnya ke mas Kenzie. Mbak Nana lebih baik beristirahat saja agar tidak kelelahan saat bekerja nanti." Ucap Humairah murah hati.


Mbak Nana menundukkan kepalanya menyembunyikan ekspresi geli di wajahnya.

__ADS_1


"Baiklah, itu yang kamu mau. Kalau begitu aku permisi dulu. Assalamualaikum." Nana pergi dari kantin tanpa keraguan sekalipun.


Sisanya dia hanya perlu menunggu gosip di rumah sakit. Cek, gosipnya pun masih seputar topik yang sama. Sebenarnya ini sangat membosankan. Tapi mau bagaimana lagi, protagonis yang selalu menjadi bahan gosip tidak bisa menahan diri sebentar saja dan sangat suka membuat keributan.


"Ini Mbak makanannya. Semuanya sudah dipotong dari kartu kantin Mbak Humairah." Staf kantin telah menyelesaikan pembayaran.


Mengemas makanan ke dalam wadah styrofoam sebelum memasukkannya ke dalam kantong plastik dan menyerahkannya kepada Humairah beserta kartu kantin.


Humairah mengambil pesanan dan kartunya. Tersenyum manis dan mengangguk ramah kepada staf kantin. Kemudian dia keluar dari kantin. Melanjutkan perjalanannya ke kantor Kenzie yang tidak terlalu jauh dari kantin. Langkahnya agak terburu-buru karena dirinya sudah tidak sabar ingin bertemu kembali dengan pujaan hatinya. Sampai akhirnya dia berdiri di depan pintu masuk Kenzie setelah beberapa menit berjalan.


Membuka matanya kembali, tekat itu telah bersinar terang di bola matanya yang besar nan bulat. Memiliki sentuhan warna yang serius dan penuh harapan, semuanya menyatu dalam genggaman tangannya yang terangkat mengetuk pintu kaca itu ringan.


"Bismillah, semoga hari ini berbuah manis, ya Allah." Gumamnya menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Dia mengetuk pintu ringan. Kemudian suara langkah kaki terdengar samar di dalam ruangan. Humairah menyipit aneh. Langkah kaki ini bukan milik Kenzie karena dia mengenalinya dengan baik kalau Kenzie memiliki langkah kaki yang berat. Tidak, tidak hanya bukan milik Kenzie tapi juga bukan milik laki-laki. Daripada laki-laki, dia lebih yakin kalau ini milik seorang perempuan. Perempuan?!


Siapa?


Pikirannya langsung berkecamuk dalam ketidakpastian. Ini hanya dugaan telanjang tanpa kepastian tapi pikirannya langsung kacau.


Cklak

__ADS_1


Pintu kaca dibuka dari dalam. Menampilkan sosok wanita cantik yang sudah tidak asing lagi untuknya dan bahkan menjadi mimpi-mimpi buruk selama ini.


"Azira!" Serunya tak percaya.


__ADS_2