Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 12.4


__ADS_3

"Kak Azira habis ini temenin aku, ya?" Sasa menyusul Azira ke dapur.


Kebetulan Azira baru saja menyelesaikan cuciannya.


"Mau ke mana, dek?" Azira nggak tahu kalau Sasa ke sini datang berniat untuk menculiknya.


Sasa ingin memonopoli Azira seharian sebagai bentuk balas dendamnya kepada Kenzie. Yah, Kenzie pikir apakah hanya dia yang bisa membuat masalah?


Sasa tentu berbakat juga dalam hal ini. Apalagi sekarang kelemahan kakaknya ada di sini. Maka balas dendamnya akan lebih mudah.


"Temenin aku ketemu sama yang lain. Kemarin kan mereka ngajakin aku nongkrong sama kakak, tapi berhubung kakak sedang nggak enak badan, jadi kita nggak jadi kumpul-kumpul deh. Umi juga bilang biar aku bawa kakak kenalan sama sepupu yang lain biar saling mengenal. Kakak nggak sibuk kan hari ini?" Sasa sengaja membawa nama Umi di sini agar Azira tidak menolak.


Dia paling tahu kalau Azira nurut sama Umi. Apa yang Umi bilang pasti langsung dituruti. Kadang Sasa bingung, apakah setiap menantu harus melakukan ini?


Azira tidak langsung menjawab. Kebetulan sekali dia tidak mau bertemu dengan Kenzie sekarang karena dia masih malu. Nah, berhubung Sasa mengajaknya pergi nongkrong, maka gunakan saja kesempatan ini untuk menghindari suaminya. Toh, Kenzie juga butuh tidur karena begadang semalam, maka dia tidak punya kegiatan lain lagi selain menganggur di rumah.


"Nggak sibuk kok, dek. Kapan kita perginya?" Azira agak gugup bertemu dengan sepupu-sepupu Kenzie yang lain.


Kira-kira bagaimana sikap mereka nanti. Mungkinkah mereka akan bersikap buruk seperti yang dilakukan Frida kepadanya?


"Sekarang, boleh. Kakak jangan terlalu gugup. Sepupu kami yang lain tidak seburuk Frida. Semua orang di sini murni memiliki hubungan persaudaraan, tidak seperti Frida, dia itu orangnya nyebelin." Memikirkan Frida, Sasa langsung merasa jengkel.


Bagaimana dia tidak jengkel, begitu pulang dari rumah temannya Umi langsung menceritakan apa yang terjadi ketika dia tidak ada di rumah. Dia sangat kesal karena tidak ada di rumah pada waktu itu. Jika saja dia di rumah, dia akan memarahi Frida habis-habisan sebagai wanita yang tidak tahu malu. Untung saja Umi bersikap tegas dan mengirim Frida pergi dari rumah ini. Kalau tidak, Sasa takut mengeluarkan sisi laki-lakinya yang tangguh.


Azira tertarik mendengar cemoohan adik iparnya kepada Frida. Dia bertanya-tanya apa yang telah Frida lakukan sehingga membuat adik iparnya sangat muak mendengar nama Frida disebutkan.


Berpura-pura canggung,"Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Frida dulu, kenapa aku merasa kalau kamu sangat membencinya?"


Sasa tidak tahu kalau Azira sedang memancingnya. Bagi Sasa sejak dia mendengarkan curahan hati Azira hari itu, kesannya kepada Azira langsung berubah di drastis. Azira bukan lagi wanita licik nan licik, tapi melainkan wanita rapuh yang berusaha tetap tegar dan tangguh. Azira serapuh ini di dalam kepala adik iparnya.


"Tentu saja aku sangat membencinya." Frida melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada siapapun di sini yang menguping pembicaraan mereka berdua.


"Jangan kasih tahu siapa-siapa ya, kak, tentang apa yang aku bicarakan hari ini. Soalnya ini menyangkut rumah kita juga." Sasa berkata serius kepada kakak iparnya.


Azira mengangguk bersungguh-sungguh tidak akan membocorkan rahasia ini kepada siapapun. Dia sendiri pun sangat penasaran dengan apa yang ingin Sasa bicarakan.


"Bagus. Aku ceritain ya, kak. Kakak tahu sendiri kan kalau Frida itu adalah sepupu kami dari bibi Indring dan paman Roni, mereka adalah keluarga dari pihak Umi. Sebenarnya kami tidak terlalu dekat dengan keluarga Umi, khususnya keluarga ini. Soalnya mereka sering membuat masalah untuk keluarga kita. Salah satunya masalah yang paling fatal adalah apa yang pernah Frida lakukan kepada kak Kenzie. Coba pikir, kak, kak Kenzie itu tidak punya hubungan apa-apa dengan dia. Jangankan memiliki hubungan apa-apa selain status sepupu, berbicara akrab saja kak Kenzie tidak pernah melakukannya. Tapi eh dia tiba-tiba mengumumkan kepada teman-teman kuliahnya kalau dia dan kak Kenzie itu berpacaran. Tidak hanya berpacaran, tapi dia juga pernah menyebut kalau kak Kenzie pernah membawanya untuk menyewa kamar hotel. Untungnya kabar ini menyebar luas jadi kita semua tahu dan segera membuat keputusan. Pada saat itu kak Kenzie marah banget dan hampir saja melaporkan Frida ke kantor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Nama baik kak Kenzie di kampus jadi rusak gara-gara dia, makanya kita semua setuju untuk melaporkan ke polisi. Tapi dia sama orang tuanya datang nangis-nangis ke sini untuk meminta maaf. Bilangnya sih salah paham, tapi kita semua bukan orang yang bodoh. Kita tahu kok kalau dia itu suka sama kak Kenzie cuman karena menghormatinya, kita pura-pura nggak tahu. Tapi gara-gara masalah yang disebabkan hari itu, kita semua udah nggak respect lagi dan udah muak liat dia lagi. Dan setelah satu tahun masalah itu, barulah mereka berani datang ke sini kemarin. Eh, ketika datang ke sini lagi-lagi mereka membuat masalah. Aku benar-benar muak, kak, sama dia. Kalau aku nggak lihat orang tuanya, pasti aku udah bejek-bejek muka dia. Sok cantik banget. Semua orang malah ilfil ngeliat perilakunya yang menjijikkan. Ini udah masalah lama, kak. Jadi kakak jangan bongkar, ya. Aku nggak mau ngerusak mood kak Kenzie gara-gara masalah ini." Sasa sengaja menceritakan ini kepada Azira, agar di masa depan nanti ketika mereka bertemu lagi dengan Frida, Azira sudah mempersiapkan diri.


Huh, maunya sih satu keluarga enggak usah datang sekalian. Tapi namanya orang enggan punya malu ya enggak bakal sadar diri kalau enggak disukai.


"Ya Allah, aku nggak nyangka dia orangnya senekat itu. Pantesan aja, dek, waktu pertama kali ketemu juga kakak ngerasa kalau dia agak memusuhi kakak. Padahal itu pertama kalinya kita ketemu dan kakak juga berusaha berpikir positif kalau perasaan kakak itu enggak benar. Tapi sekarang kakak ngerti dia ngelakuin itu. Tapi kakak tetap terkejut. Soalnya kalian kan sepupuan. Kakak nggak tahu kalau cinta diantar sepupu sedalam ini." Azira secara samar mencibir apa yang telah dilakukan Frida kepada Kenzie dulu.


Tidak heran, selama ini dia melihat Kenzie selalu bersikap dingin kepada Frida tanpa alasan yang jelas. Maksud Azira, suaminya memang memiliki karakter yang dingin di wajah tapi lembut di dalam. Terbukti dari bagaimana dia memperlakukan Sasa dan Ayana. Namun di depan Frida, dia terkesan ingin menjauh. Samar, namun Azira masih bisa merasakannya.


Memikirkan perilaku lancang Frida dulu kepada suaminya, dia pun merasa marah dan berjanji lain kali mereka bertemu, dia akan memberikan pelajaran yang manis kepadanya.


"Kita semua baik-baik aja, cuma dia yang menyimpang di sini. Makanya sepupu yang lain ogah ketemu sama dia. Udah yuk, kak. Mending kita pergi aja daripada membicarakan wanita nggak jelas itu. Bisa rusak mood kita hari ini." Sasa nggak tahan membicarakan wanita busuk itu lagi.


Azira tersenyum geli, sangat puas dengan kepatuhan adik iparnya.


"Ayo pergi."

__ADS_1


Sebelum pergi, mereka mampir dulu ke kebun belakang untuk melihat buah mana yang sudah matang. Namun tidak ada yang matang. Ada yang baru berbuah dan ada pula yang baru berkembang. Intinya tidak ada buah yang bisa dipetik.


Jadi satu-satunya buah yang mereka bawa adalah buah kelengkeng sisa dari tempo hari. Tidak sesegar sebelumnya, namun rasanya masih manis dan bisa dimakan.


Mereka berdua berjalan bahu membahu menuju sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sasa membawa Azira ke rumah bibi Arumi, rumahnya orang tua Ayana. Tapi Ayana sudah menikah dan tidak tinggal lagi di sini.


Bibi Arumi memiliki dua anak perempuan. Satu bernama Ayana yang sudah menikah, dan satunya lagi bernama Mona yang masih kuliah, satu angkatan dengan Sasa di kampus yang sama. Mereka berdua sangat akrab, sama-sama korban penindasan dari kakak masing-masing.


"Mona!" Sasa berteriak nyaring memanggil sepupunya.


"Jadi perempuan kok galak, gitu. Pakai adab, Nak, kalau mau manggil orang. Jangan berteriak, orang yang kamu panggil nggak akan lari." Umi menegur dari halaman depan.


Setelah selesai sarapan Umi dan Abah langsung bergegas ke rumah Arumi untuk membicarakan masalah penting.


Sasa dan Azira tidak tahu kalau mereka berdua ada di sini.


Wajah Sasa langsung merah.


"Iya, Umi. Maaf."


Setelah meminta maaf kepada Umi, dia dan Azira langsung berlari menemui Mona.


Mereka tidak akan tinggal di luar karena para orang tua sudah menguasai halaman depan. Mereka para junior mau tak mau harus mengungsi ke halaman belakang.


"Kamu bawa apa?"


Sasa menunjuk kelengkeng di dalam kantong kresek.


"Kelengkeng."


Sasa tersenyum lebar.


"Bukan aku yang bawa, kok. Tapi kak Azira. Dia bilang kamu pasti suka makan buah kelengkeng yang dia panen sendiri tempo hari."


Azira hampir saja tersedak mendengar adik iparnya membawa namanya sebagai tameng.


"Masya Allah, kak Azira toh yang bawa. Rasanya pasti enak. Sini aku yang bawa, kebetulan aku suka banget makan kelengkeng yang kamu bawa tempo hari, manis." Dan anehnya Mona langsung mengubah wajahnya hanya dalam waktu yang sangat singkat.


Dia mengambil kelengkeng itu dari tangan Sasa dan langsung memakannya di tempat. Ketika dia bertemu pandang dengan Azira, wajahnya refleks memasang senyuman yang paling lebar dalam hidupnya. Sekilas, orang dapat melihat betapa dia sangat menyukai Azira.


"Oh... Jika kamu tidak suka, jangan memaksakan diri." Azira tidak nyaman ditatap sedemikian rupa oleh sepupu suaminya ini.


Entah kenapa dia merasa kalau Mona sangat menyukainya?


Mona menghilangkan kepalanya membantah. Bagaimana mungkin dia tidak menyukai pemberian Azira?


Tidak, dia bahkan sanggup memakan semua biji-biji kelengkeng ini jika Azira meminta.


"Tidak, tidak. Aku tadi salah bicara, kak. Rasanya ternyata masih manis dan segar, aku senang memakannya."


Sasa langsung memutar bola matanya geli. Sepupunya ini sudah menyukai Azira sejak di hari pernikahan. Alasannya sangat konyol, itu karena Azira adalah wanita yang pemberani. Um, dulu Sasa menganggapnya konyol tapi sekarang sudah tidak lagi. Dia setuju dengan pandangan Mona.

__ADS_1


"Um, tentu saja rasanya manis karena mas Kenzie sendiri yang menanamnya di halaman."


Mereka berdua lalu mengajak Azira membuat rujak, menonton acara favorit mereka dan berharap dapat mempengaruhi Azira. Setelah cukup bermain, mereka bertiga pergi berbelanja ke sebuah mini market samping komplek. Membeli banyak makanan dan kembali ke rumah Mona untuk bermain. Dulu Umi akan selalu memarahi Sasa jika membeli banyak makanan ringan, katanya berbahaya buat kesehatan. Tapi hari ini anehnya dia tidak marah. Dan malah menasehati mereka agar jangan membuang-buang makanan. Mereka terkejut dan diam-diam mengembangkan kekaguman mereka kepada Azira. Tentu saja mereka diizinkan makan makanan ini karena adanya Azira.


Azira tidak tahu kalau dirinya sedang diidolakan oleh Sasa dan Mona. Untuknya pribadi, dia sangat senang dapat bermain dengan mereka berdua. Karena semua pengalaman yang dimiliki hari ini belum pernah dirasakan dulu. Di kawasan kumuh tempatnya tinggal, jangankan bermain, teman saja dia tidak punya.


Berkali-kali ibu menekankan agar jangan bergaul dengan orang-orang di kawasan kumuh. Alhasil dia hidup terisolasi.


Menjelang sore, barulah Azira dan Sasa pulang ke rumah. Mona juga ikut pulang bersama mereka. Katanya ingin menginap bersama Sasa. Padahal faktanya dia ingin menempeli Azira.


Tadi siang Azira tidak pulang ke rumah dan makan siang di rumah bibi Arumi. Umi dan Abah tidak melarangnya. Umi bilang dia akan memasak di rumah, jadi tidak perlu khawatir dan bermain saja secukupnya di sini.


Sungguh, dia sangat bersyukur menemukan mertua sebaik Umi.


Namun senyum di wajahnya segera menghilang ketika bertemu dengan wajah dingin suaminya yang tengah berdiri di depan pintu menunggunya pulang.


"Sas, kayaknya aku enggak jadi nginap, deh. Aku ingat ada tugas kuliah besok dan harus dikerjakan nanti malam." Mau nanya melarikan diri tapi tangannya dicekal oleh Sasa.


Mereka telah menculik Azira hari ini, jadi mereka harus menanggung hukuman bersama-sama. Tapi Sasa tidak berputus asa, dia masih memiliki Umi di belakangnya jika sewaktu-waktu Kenzie ingin mengintimidasinya.


"Kalau kamu benar-benar kabur, aku akan bilang sama kak Azira kalau kamu nggak mau main lagi sama dia!" Ancam Sasa serius.


Mona tersenyum getir. Dia sangat mengidolakan Azira. Apalagi setelah bermain dengan Azira, dia semakin menyukainya. Jadi mana mau dia di pisahkan dari idolanya sendiri?


"Okay, okay. Kayaknya tugas aku bisa ditunda, deh." Katanya pahit.


Sementara dua orang di belakang masih berbisik, Azira justru tenggelam dalam kecemasan.


Dia tahu kalau suaminya sekarang sangat marah.


"Mas...mas Kenzie kenapa berdiri sendirian di depan pintu?"


Kenzie tersenyum dingin,"Tentu saja menunggu kamu. Bagaimana? Senang rasanya bermain di luar sementara suami sendirian di rumah? Apakah kamu tidak tahu kalau seorang suami membutuhkan istrinya di rumah?"


Dua burung puyuh yang telah berani menculik Azira diam-diam menekuk sayap mereka tak berani mengeluarkan suara.


Azira menyadari bahwa dia salah. Karena ingin menghindari suaminya, tanpa sadar dia keasyikan main dan lupa waktu. Tapi apa yang harus dia lakukan, bermain dengan Sasa dan Mona sangat menyenangkan!


"Aku...tahu, maaf. Aku lupa waktu." Azira meminta maaf dengan patuh.


"Apakah meminta maaf bisa menyelesaikan semuanya?" Kenzie bertanya serius.


Azira menggelengkan kepalanya menjawab. Maaf tidak bisa menyelesaikan semuanya.


"Lalu... Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Azira tidak tahu.


Kenzie dari awal sampai akhir tidak pernah mengubah wajahnya. Selalu saja menggunakan ekspresi flat di wajahnya.


"Pikirkan sendiri." Mengalihkan matanya menatap dua burung puyuh di belakang Azira,"Dan kalian berdua, urusan kita belum selesai. Tunggu bagaimana aku menyelesaikan kalian. Sekarang masuk."


Kenzie menendang pintu di sampingnya hingga terbuka lebar dan mengisyarakatkan dengan matanya agar mereka semua masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Bersambung...


Lagi?


__ADS_2