Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 25.7


__ADS_3

Umi sebentar lagi tahu betapa cantik sahabat baik suamiku ini." Kata Azira menyindir.


Kenzie merasakan kepalanya sakit. Dia memegang kepalanya pusing menghadapi dua harimau betina yang siap mengamuk.


"Sayang, jangan marah, okay? Aku juga nggak tahu kalau dia bakal ke sini." Kenzie menggenggam erat tangan istrinya sembari menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak tahu menahu tentang kedatangan wanita itu.


Azira tertawa geli. Suaminya mulai memasang ekspresi memelas lagi kepadanya. Dia sebenarnya tidak tahan tapi karena ingin mengerjai suaminya, dia berpura-pura tidak perduli. Faktanya dia sudah tahu bahwa suatu hari nanti wanita itu akan datang ke rumah. Kenapa dia bisa menyimpulkan begitu?


Itu karena karakter dari wanita itu sendiri. Amara adalah wanita yang keras kepala tampak jelas dari sikapnya yang pantang menyerah mengejar Kenzie. Berbagai macam cara dilakukan untuk membuat Kenzie terikat dengannya. Mulai dari hutang budi hingga sengaja merusak nama baik Azira, dia memang orang yang sulit menyerah.


Untuk lawan seperti itu, Azira sangat kesal dan bahkan sampai berpikir ingin mempermalukannya agar sadar diri bahwa segala sesuatu tidak bisa dipaksakan bagaimanapun caranya.


"Okay, kita akan melihat hasilnya nanti." Ucap Azira polos.


Kenzie menghela nafas berat. Kali ini jika wanita itu menolak mendengarkan, maka dia tidak punya pilihan selain melemparkan bukti kepadanya.


"Jangan bengong, ayo pergi." Umi menepuk keras pundak putranya dan mengejutkan semua orang.


Umi tidak main-main, dia hampir mengerahkan semua tenaganya saat menepuk pundak Kenzie.


Kenzie meringis kesakitan sambil memegang pundaknya. Azira kasihan melihatnya. Dia buru-buru mengusap pundak Kenzie yang kebas setelah dipukul Umi.


"Sudah, jangan dicemaskan. Dia laki-laki besar, bukan anak kecil lagi. Kalau pukulan wanita bisa membuatnya sakit, maka dia adalah laki-laki Cemen." Ucap Umi merendahkan.


Bukan Kenzie yang malu mendengar perkataan Umi, justru Azira yang merasa malu. Dengan tenaga sebesar itu, ini bisa dikategorikan sebagai wanita kuat. Terbukti dari ekspresi ngilu Abah saat melihat Kenzie dipukul sekeras itu oleh Umi.


"Tidak apa-apa, ayo pergi." Kenzie tersenyum lebar.


Nyatanya pukulan Umi tidak seberapa dengan ekspresi khawatir istrinya. Dia sangat lega Azira masih memperhatikannya padahal sedang marah.


*****


Amara duduk anggun sendirian di ruang tamu. Sejak masuk ke dalam rumah ini sikapnya terkendali dengan baik. Selama duduk di sini dia memperhatikan sekelilingnya. Memperhatikan tata ruang yang sederhana cukup cocok dengan kepribadian Kenzie pikirnya. Kemudian saat melihat jajaran bunga di dalam ruangan ini dia menebak bahwa pasti Umi yang menanam semua bunga ini. Lalu ketika matanya menyapu foto-foto yang ada di dinding hatinya langsung bergemuruh menahan amarah. Bagaimana mungkin dia tidak marah melihat foto mesra Kenzie dan Azira dipajang pada bagian yang paling mencolok.


Dia tidak rela, sungguh sangat tidak rela.


"Aku telah berjuang bertahun-tahun untuk mengejar Kenzie tidak bisa memilikinya, tapi kenapa Azira yang baru datang dalam kehidupan Kenzie dan tidak melakukan apa-apa malah berhasil mendapatkannya. Apakah ini adil?" Gumam Amara marah juga sedih.


Dia sudah melakukan semua yang dia bisa untuk mendapatkan Kenzie dan waktu yang dia lalui juga tidak sedikit. Butuh pertahun tahun lamanya memperjuangkan Kenzie, namun setelah semua aku yang telah dia korbankan dan lakukan, dia tidak mendapatkan apa-apa selain patah hati dan kecewa. Sementara Azira?


Hahaha...


Upayanya sangat mudah. Hanya duduk di atas pelaminan menggantikan posisi adiknya, lalu dia berhasil memiliki Kenzie seutuhnya. Sungguh tidak adil, sungguh sangat tidak adil.


"Amara." Suara manis Azira segera menarik Amara dari lamunan panjangnya.


Amara mengalihkan matanya dari foto itu dan beralih menatap ke arah sumber suara.


Azira datang bersama Kenzie sambil berpegangan tangan, tampak sangat mesra. Di belakang mereka mengikuti seorang wanita paruh baya dengan ekspresi tidak ramah di wajahnya. Sekilas Amara tahu bila wanita paruh baya itu adalah orang tua Kenzie karena wajah mereka cukup mirip.


"Kita akhirnya bertemu lagi. Aku kira setelah pertemuan kita di rumah sakit, kita akan sulit bertemu. Aku nggak nyangka kalau kamu adalah orang pertama yang datang mencari kami di sini." Lanjut Azira berbicara sok ramah ke Amara.


Hanya Kenzie yang tahu bahwa dibalik keramah-tamahan istrinya, ada pisau yang tersembunyi di dalam.


Amara langsung berdiri. Dia melirik singkat kedua tangan yang terhubung itu, meskipun dia sangat marah tapi dia berusaha terlihat normal dan baik-baik saja di depan mereka. Terutama di depan orang tua Kenzie karena dia ingin meninggalkan citra positif yang baik.


"Selamat sore." Sapa Amara sopan.


"Sore." Jawab Azira, satu-satunya orang yang mau menjawab salamnya.

__ADS_1


Amara mengernyit tidak senang.


"Mari duduk." Azira mempersilakannya kembali duduk.


Sementara itu Kenzie membantu Azira duduk di sofa. Tidak lupa dia menaruh bantal di belakang istrinya agar duduknya terasa nyaman.


"Ah, maafkan aku telah mengganggu waktu kalian." Amara mengangkat suara untuk menarik perhatian Kenzie.


Tapi sayang sekali Kenzie seolah tuli tidak mendengarkan suaranya dan tetap fokus mengurus istrinya. Nyatanya tidak ada yang perlu diurus tapi Kenzie suka sok menyibukkan diri untuk menyentuh Azira di sana-sini.


Pemandangan ini membuat mata Amara iritasi.


"Aku sungguh tidak bermaksud mengganggu waktu kalian. Namun aku tidak bisa menahan diri untuk datang ke sini karena aku kangen ingin bertemu dengan mas Kenzie. Azira pasti pernah diceritakan oleh mas Kenzie kalau aku sempat tinggal di luar negeri. Dan selamat tinggal di luar negeri kami tidak pernah bertemu lagi apalagi berkomunikasi, makanya setelah pulang ke Indonesia aku berusaha meluangkan waktu agar bisa bertemu dengan Kenzie." Ucap Amara berusaha terdengar santai dengan sikap anggunnya yang terlatih.


Azira melirik suaminya penuh arti.


"Sayang sekali mas Kenzie tidak pernah menceritakan tentang kamu kepadaku. Maaf, aku tidak tahu." Kata Azira terlihat polos.


Kenzie memang tidak pernah menceritakan tentang Amara kepadanya. Baru setelah ada permasalahan kemarin Kenzie akhirnya menceritakan siapa Amara dan latar belakang kenapa dia sampai berteman dengan Amara.


"Benar Kenzie, siapa wanita ini?" Umi menatap Amara dengan mata pengawasan yang tidak ramah.


Amara merasa tidak nyaman ditatap seperti itu oleh orang tua Kenzie. Bertanya-tanya di dalam hatinya apakah dia menggunakan pakaian yang salah atau makeup tidak cukup bagus hari ini?


"Kenapa Umi tidak pernah tahu kamu sebelumnya memiliki teman wanita." Lanjut Umi bertanya.


Bertindak seolah dia tidak tahu identitas Amara. Tapi memang faktanya Kenzie memang tidak pernah menceritakan tentang Amara kepada siapapun. Seperti yang Kenzie pernah bilang, menurutnya itu tidak penting jadi dia tidak pernah memberi tahu anggota rumah kalau dia memiliki seorang teman wanita.


Senyum Amara langsung menjadi kaku. Dia kemudian melemparkan tatapan menuduh kepada Kenzie. Dari sisi Azira, dia merasa bila wanita ini ingin bermain genit dengan suaminya. Melirik suaminya, Azira bersuka cita melihat penampilan dingin suaminya yang tidak tergoda oleh kecantikan Amara.


Memang benar kata Mona dan Sasa kalau aku ini adalah wanita yang paling mempesona di hati mas Kenzie. Batin Azira narsis.


Azira kaget,"Mas Kenzie pernah berkunjung ke rumah Amara sebelumnya?"


Kenzie buru-buru menggelengkan kepalanya untuk membantah. Jangankan pergi ke rumah Amara, mengantarkan Amara pulang saja dia tidak pernah.


"Aku tidak pernah datang ke rumahnya, aku juga enggak tahu kalau orang-orang rumahnya mengenaliku." Kata Kenzie terus terang.


Kemudian dia menatap Amara dingin.


"Untuk apa kamu ke sini? Aku rasa sikapku kemarin sudah cukup jelas." Yang Kenzie maksud adalah dia tidak mau berteman lagi dengan mereka.


Amara sedih. Dia sudah bela-belain datang ke sini tapi Kenzie malah memberikannya sikap dingin. Dia malu.


"Aku... Datang ke sini ingin bertanya kenapa mas Kenzie mengundurkan diri sebagai dokter? Kemarin aku mendengar dari seseorang bila mas Kenzie tidak akan kembali bekerja sebagai dokter dan akan mengambil alih pekerjaan keluarga. Apakah ini benar, mas?" Tanya Amara menunjukkan ekspresi terluka.


Dia menuduh Azira adalah penyebab Kenzie berhenti menjadi dokter. Wanita ini terlalu manja pikirnya sampai-sampai tidak betah tinggal di rumah jika tidak ditemani oleh Kenzie. Sungguh menjijikkan, beraninya dia bermain trik kepada Kenzie. Dia kira dirinya siapa sampai-sampai segala sesuatu harus dituruti oleh Kenzie?


Di hati dia merutuki Azira, tapi sejujurnya jauh dari dalam hatinya dia merasa sangat cemburu melihat Azira diperlakukan sedemikian rupa oleh seseorang yang sangat dia sukai.


Kenzie mendengus.


"Jawabannya persis seperti yang kamu dengar. Aku akan mengurus pekerjaan orang tuaku." Dia tidak menjelaskan secara rinci pekerjaan apa itu.


Justru karena inilah Amara semakin salah paham. Dia pikir Kenzie terpaksa melakukannya.


"Jangan berbohong, mas. Katakanlah dengan jujur kenapa mas Kenzie keluar. Mungkinkah ini berkaitan dengan Azira?" Amara langsung mengarahkan tuduhan ke Azira.


Azira mengangkat alisnya terkejut. Menarik, pikirnya.

__ADS_1


Tapi Umi tidak senang menantu kesayangannya dituduh.


"Ada apa dengan menantuku?" Tanya Umi tidak puas.


Amara tidak menyangka Umi langsung bertanya. Ngomong-ngomong dia merasa heran melihat Umi dan Azira sangat dekat. Normalnya, Umi harusnya membenci Azira karena berani menghancurkan pernikahan putranya dan membuat keluarga malu. Tapi kenapa justru sebaliknya, mereka berdua sangat dekat satu sama lain.


Ada yang tidak benar!


"Tidak...aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja aku mendengar gosip dari orang-orang di rumah sakit kalau alasan kenapa mas Kenzie berhenti bekerja adalah karena Azira. Aku bertanya untuk memastikannya karena ini sangat penting bagiku." Kenzie memulai jalannya menjadi dokter karena dia, jadi dia tidak rela ketika mengetahui kabar bahwa Kenzie mengakhiri karirnya sebagai dokter gara-gara Azira.


Itu sangat tidak masuk di akal.


Kenzie tidak segera menjawab. Dia tenggelam dalam dunianya. Memegang tangan Azira. Menyentuh jari jemari Azira yang ramping dan lebih halus dari pertama kali dia menyentuh tangan ini, Kenzie tersenyum puas karena istrinya mulai terawat dengan baik setelah tinggal bersamanya di rumah ini.


"Mas Kenzie?" Amara mendesaknya untuk segera menjawab.


Namun Kenzie tidak tergerak. Dia masih fokus memainkan tangan istrinya.


Azira geli melihat penampilan Amara yang mirip dengan cacing kepanasan. Dia menebak bila Amara sangat cemburu sekarang. Untuk menambah bahan bakar api, Azira sengaja menempeli badan Kenzie dan meminta sebuah pelukan. Asli, jika bukan karena berakting dia tidak mungkin melakukan ini di depan Umi.


"Hum, kamu mau dipeluk?" Kenzie langsung melingkari pinggang Azira dan menarik Azira jatuh ke pelukan hangatnya. Sementara Umi di samping tidak memberikan komentar apa-apa karena dia sibuk mengawasi Amara.


Di dalam kepalanya sekarang Umi membandingkan Amara dengan menantu kesayangannya. Tentu saja di kepala Umi, Azira memenangkan semua kategori sekaligus!


Ini sangat memuaskan.


"Hum, nyaman." Bisik Azira puas.


Ah, hangat-hangat begini cocoknya tidur. Tapi sayang sekali ada tamu.


"Mas Kenzie, tolong jawab aku!" Amara meninggikan volume suaranya untuk menarik perhatian Kenzie sepenuhnya.


Dia gerah melihat Kenzie sangat perhatian kepada Amara. Rasanya itu sangat tidak masuk akal karena Azira harusnya dibenci setelah kejahatan yang dia lakukan untuk menipu pernikahan.


Kenzie menatap Amara terganggu. Tapi dia segera menarik perhatiannya, kembali fokus memandangi wajah indah istrinya yang memukau.


"Iya, aku berhenti karena permintaan istriku. Istriku tidak suka melihatku bekerja sebagai dokter, jadi aku memutuskan untuk mengundurkan diri." Jawab Kenzie blak-blakan. Sebagian besar alasannya untuk mengundurkan diri sekarang adalah karena Azira.


Terkadang karena terlalu sibuk, dia tidak bisa menemani istrinya tidur di malam hari. Ini sangat menjengkelkan. Kenzie suka mengeluh gara-gara ini dan menyalahkan semuanya pada pekerjaannya yang terlalu menyita waktu.


"Bagaimana... Bagaimana mungkin. Apakah mas Kenzie lupa faktor kenapa mas Kenzie bekerja sebagai dokter?"


Kenzie mengangguk tanpa komitmen.


"Tentu saja aku tahu. Itu karena perjanjian kita dulu."


Dan karena perjanjian ini Kenzie harus mengalah belajar bisnis. Umi semakin tidak puas dengan wanita ini.


Amara tersedak. Dia melihat baik Azira ataupun Umi tidak menunjukkan keterkejutan. Tidak hanya tidak terkejut, tapi mereka juga terlihat biasa saja. Reaksi mereka berdua jauh dari harapannya.


"Benar... benar, karena perjanjian. Aku meminta mas Kenzie menjadi dokter karena aku tahu mas Kenzie pasti mampu melakukannya dan lambat laun akan mulai mencintai pekerjaan ini. Dan lihatlah apa yang aku temukan, seperti dugaan ku, mas Kenzie berhasil dan memiliki karir yang sangat gemilang di bidang ini. Mas Kenzie sudah sukses, lalu kenapa mas Kenzie mengundurkan diri hanya karena permintaan dari Azira?" Inilah yang tidak dia mengerti.


Karir Kenzie sangat bagus. Di usianya yang begitu muda dia berhasil menjadi dokter utama di sebuah rumah sakit swasta, jabatan ini lumayan tinggi dan harusnya Kenzie mempertahankannya untuk kesuksesan selanjutnya, tapi yang mengecewakan dia malah mundur.


"Alasannya...selain karena aku ingin lebih banyak bersama istriku, itu juga karena perjanjian kita sudah selesai." Jawa. Kenzie acuh tak acuh.


Amara bingung,"Sudah selesai?"


Apanya yang sudah selesai. Ini adalah hutang budi yang tidak akan pernah bisa terbayarkan seumur hidup!

__ADS_1


__ADS_2