Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 26.3


__ADS_3

"Dasar brengsek! Kamu bilang villa sudah kamu amanin?! Tapi apa, hah? Kenzie malah tahu apa yang kita lakukan di sana dan bahkan dia juga membuat wanita itu mengkhianati aku!" Raung Amara marah menerobos masuk ke ruang kerja Nabil di restoran.


Hari ini meeting sedang dilakukan di sini. Sikap kasarnya yang main menerobos masuk ke dalam ruangan langsung menarik perhatian semua orang yang tengah melakukan meeting.


"Amara?" Nabil spontan bangun dari duduknya dan segera menghampiri Amara.


Melihat situasi yang salah serta tatapan ingin tahu dari rekan kerja sepupunya, Amara membeku, dia malu tapi mengeraskan hati untuk tidak mundur. Saat ini tidak perlu ditanyakan betapa murka dan kecewa yang dirasakan. Tidak perduli seberapa malu dia dihadapan orang-orang ini tidak sebanding dengan rasa malu yang dia rasakan ketika dipermalukan dan diusir oleh Kenzie juga keluarganya.


Dia merasa hancur sehancur-hancur nya. Mau marah tapi tidak bisa melampiaskannya karena mereka memiliki kartu as di tangan.


Jadi dia tidak punya pilihan selain melampiaskan semuanya kepada sepupunya sendiri.


"Ayo bicara." Kata Amara dengan suara teredam.


Nabil memperhatikan wajah basah Amara. Dia terkejut, bertanya-tanya apa yang membuat sepupu manjanya itu menangis sampai sedemikian kacaunya.


Tidak mendapatkan jawaban.


"Sekarang!" Bentak Amara.


Nabil melihat orang-orang di ruangan.

__ADS_1


"Okay, keluar. Rapatnya ditunda dulu." Kata Nabil dengan suara berat.


Mereka penasaran, mencium aroma-aroma gosip karena Amara cukup banyak dikenal oleh orang-orang yang suka membaca majalah fashion. Tetapi bos sudah angkat suara untuk mendorong mereka pergi sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk menguping.


"Iya, bos."


Semua orang berdiri dan keluar melewati Amara.


Setelah semua orang pergi, Amara melemparkan dirinya di sofa. Membiarkan Nabil menutup pintu ruangan sendiri.


"Kamu kenapa datang marah-marah?! Kamu enggak lihat aku sedang meeting tadi?" Tanya Nabil sangat tidak puas.


"Kalau aku tau dari awal pasti aku enggak gila main masuk aja ke dalam ruangan kamu." Jawab Amara ketus kepada Nabil.


Nabil tidak habis pikir.


"Aku sebelumnya udah kabarin hari ini ada meeting dan enggak bisa kemana-mana-"


"Ah, itu enggak penting! Urusan aku jauh lebih penting!" Bentak Amara kehabisan sabar.


Nabil terkejut dengan suara bentakan nya. Dia mau marah balik tapi ketika melihat sepupunya menangis dia langsung panik.

__ADS_1


"Kamu...kamu kenapa, hei?" Nabil mengusap air mata di wajah sepupunya.


Amara menepis tangan Nabil kasar jauh-jauh.


"Jangan sentuh!"


Nabil tidak berdaya.


"Fine! Tapi ngomong kamu kenapa?" Dia melembutkan nada suaranya.


Amara malah memukul pundak Nabil marah. Dia memukul-mukulnya untuk melampiaskan kemarahannya sambil menangis terisak menyedihkan.


"Azira hiks..Azira hamil!" Kata Amara mulai mengeluarkan unek-unek di hatinya.


"Apa?" Nabil merasa sulit mempercayainya.


"Azira hamil!! Dan itu semua gara-gara kamu! Kamu bilang villa sudah kamu amankan! Enggak CCTV atau apapun yang dapat merusak rencana kita! Tapi apa?! Mas Kenzie! Mas Kenzie menemukan bukti apa yang sebenarnya terjadi di hari itu! Dia mengatakan bahwa aku akan dilaporkan ke polisi! Dia bilang ingin melaporkan ku ke polisi jika berani mendekatinya! Ini semua gara-gara kamu Nabil! Sekarang mas Kenzie tidak mau mengenaliku.." Amara menangis keras sembari meluapkan kesedihan hatinya.


"Amara..." Nabil kesulitan mencerna semua informasi ini.


Jantungnya berdebar kencang.

__ADS_1


__ADS_2