
Sasa berdiri kesal di depan pintu melihat kepergian sepupunya yang menyebalkan itu. Dia kira sepupunya akan menginap seperti waktu-waktu biasanya. Tapi ternyata tidak. Dia sangat kecewa kepada sepupunya itu. Padahal dia hanya membicarakan banyak hal dengan Mona tentang perasaannya kepada Al. Tapi Mona bilang mengantuk dan mau segera pulang ke rumah. Memang iya sih ini hampir jam 11 malam, memang sudah waktunya bagi orang-orang di luar sana untuk beristirahat. Tapi kan mereka berdua sudah biasa begadang sampai lebih dari jam segini. Lagian anak muda mana sih yang tidak begadang jam segini zaman sekarang?
Kalau nggak sibuk ngerjain tugas ya, asik nongkrong sama teman-teman.
"Dek, ngapain kamu berdiri di sana sendirian?"
Kenzie turun ke bawah untuk mengambil air putih. Dia dan istrinya wajib minum air putih setelah bangun tidur. Berhubung air putih di dalam kamar sudah habis dan Kenzie juga tidak tega minta istrinya turun, maka jadilah dia yang turun ke bawah mencari air putih.
Sasa menoleh ke belakang, melihat kakaknya yang baru turun.
"Aku habis nganterin Mona keluar, kak." Jawab Sasa lesu.
Kenzie heran.
"Kakak pikir dia mau nginap malam ini." Kata Kenzie juga sama dengan apa yang Sasa pikirkan.
__ADS_1
"Aku juga. Tapi tumben malam ini dia enggak mau. Kesel banget." Sahut Sasa tak puas.
Kenzie menatap adiknya sebentar. Tidak biasanya Mona bertingkah. Mungkinkah Mona memiliki masalah dengan adiknya?
Tidak perlu dipikirkan. Mereka berdua memang sering bertengkar, tapi tidak sampai sehari main bareng lagi.
"Kak Kenzie kenapa liatin aku begitu?" Sasa merasa aneh dengan tatapan penilaian kakaknya yang tidak biasa.
"Masuk, ini udah malam. Biarkan kakak yang kunci pintu." Kata Kenzie menyuruh.
"Okay, kak. Aku bobok dulu, selamat malam." Sasa langsung tancap gas menuju kamarnya.
Kenzie mengingatkan.
"Langsung tidur dan jangan begadang."
__ADS_1
Tingkah Sasa baru-baru ini seperti orang yang sedang kasmaran. Dikit-dikit melihat cermin, memperbaiki bedak dan warna lipstiknya, tapi dari semua ini yang paling jelas adalah Sasa sering sekali mengintip ke luar. Pura-pura duduk di halaman sambil membawa buku dan laptop tapi matanya tidak bisa diam sejenak saja. Kenzie memperhatikan kalau mata adiknya lebih condong melihat ke luar gerbang daripada menatap buku atau laptop yang dia bawa.
"Siap, kak!" Sahut Sasa sebelum menutup pintu kamar.
Kenzie menggelengkan kepalanya. Agak tidak rela melihat adiknya jatuh cinta atau sampai menikah secepat ini.
Setelah mengunci pintu rumah, Kenzie mengambil air putih di dapur dan langsung kembali ke kamarnya sebelum Azira kesal menunggu. Um, semenjak hamil kepribadian istrinya agak manja. Kenzie suka, gemas sendiri melihat istrinya bertingkah centil.
Sementara itu di dalam kamar Sasa tidak mendengarkan perintah kakaknya. Dia berjalan mondar-mandir di sekitar kamar memikirkan sesuatu sambil menggigit kukunya.
Apakah aku berani melakukannya?" Bisiknya gugup bercampur tidak sabar.
"Nanti kalau aku chat terus pak Al enggak respon gimana?" Tanyanya ragu-ragu.
Al orangnya cuek, tipe orang yang tampak enggak peka dan enggak pedulian terhadap sekelilingnya. Tapi Sasa yakin kalau hati Al pasti lembut dan bisa dilembutkan selama dia berusaha.
__ADS_1
"Gimana aku tahu kalau aku enggak coba langsung?"