Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 13.3


__ADS_3

Akhirnya keindahan yang selama ini tersembunyi kini terpampang jelas tepat di hadapan Kenzie. Rambut hitam dan panjang Azira tergerai dengan bebas jatuh dari bahu Azira, menampilkan sisi cantik Azira yang belum pernah Kenzie lihat sebelumnya.


Kenzie tertegun. Matanya terpaku menatap takjub betapa menawan wajah istrinya. Tidak heran pikirnya. Dia sama sekali tidak merasa heran melihat orang-orang itu menginginkan istrinya. Ternyata dibalik sikap keras kepala istrinya dan keteguhan istrinya, ada kecantikan seperti ini.


Azira merasa sangat malu. Wajahnya terasa sangat panas dan bisa dibayangkan betapa merah pipinya sekarang. Salahkan suaminya yang terus-menerus melihatnya tanpa berkedip.


Dia jadi salah tingkah.


"Mas Kenzie.. biarkan aku turun." Kata Azira memohon dengan suara malu-malu.


Kenzie menatap istrinya tanpa berkedip. Tapi ketika Azira bergerak ingin menyingkir dari atas tubuhnya, Kenzie langsung menahannya dengan kedua tangan kuatnya.


"Mas?" Azira tidak berani menatap suaminya. Dia hampir gila dengan suara detak jantung di dalam dadanya sekarang.


Entah kenapa rasanya begitu berbahaya pikir Azira. Um, mengingatkan Azira pada perasaan diburu.


Benar saja. Setiap kali mata gelap itu memandang ke arahnya, Azira langsung waspada, dia selalu merasa sedang di tatap oleh sesuatu yang sangat berbahaya. Dia sangat takut, tapi pada saat yang sama mulai menantikan apa yang terjadi selanjutnya.


"Hukuman khusus dariku. Sudah kubilang akan memberikan kamu sebuah hukuman khusus." Kata Kenzie mengulangi kata-katanya yang tadi. Namun kali ini suaranya terdengar sangat serak, jauh lebih berat dan memiliki sentuhan hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Apakah... Ini hanya perasaan Azira saja?


Tangan itu diam-diam menyusuri leher jenjang nan tipis Azira, mengusapnya beberapa kali untuk merasakan kulit Azira sebelum beralih memegang tengkuk belakang.


"Seperti sekarang," Bisiknya menahan hasrat.


"Akh!" Kenzie tiba-tiba membalik posisi mereka berdua.


Azira yang tadinya berada di atas, kini berubah berada di bawah Kenzie. Dia sepenuhnya berada di bawah kendali Kenzie.


Pergerakan ini begitu tiba-tiba. Azira tertangkap tidak siap. Dia mengeluh sakit, bukan karena sakit, tapi karena dirinya terlalu terkejut.


"Di mana yang sakit?" Kenzie menyingkirkan helai demi helai rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


Kini tidak ada lagi benda ataupun rambut yang menutupi keindahan istrinya.


Jantung Azira berdegup sangat kencang. Entah sejak kapan tangannya beralih memegang pundak kuat suaminya. Sangat aneh, tapi juga mendebarkan. Rasanya memalukan, tapi memiliki sentuhan candu. Dia terbuai dibuatnya.


Kenzie yang menampilkan sisi lembutnya adalah orang yang sangat berbahaya. Dan Azira kini telah didominasi olehnya.


"Tidak... tidak ada, mas." Jawab Azira dengan suara yang begitu lembut.


Kenzie tersenyum.


"Kamu tahu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Kenzie ambigu.


Wajah Azira sangat merah. Bodoh bila dia tidak tahu.


Malu, di bawah pengawasan mata suaminya, dia menganggukkan kepala.


Senyuman Kenzie semakin lebar. Nafas beratnya menimpa kulit leher Azira. Rasanya gatal. Azira ingin menggaruknya.


"Senang kamu tahu. Tapi pertama-tama katakan dengan jujur kepadaku, apakah pernah ada laki-laki lain yang melihat kamu dengan tampilan seperti ini?" Tanya Kenzie dengan tatapan membara.


Matanya sangat serakah. Terus menerus memandangi wajah cantik Azira tanpa lelah ataupun bosan. Tapi ketika memikirkan pernah ada laki-laki yang melihat istrinya seperti ini, dadanya langsung terbakar amarah.


Dia cemburu.


"Mas Kenzie harus tahu kalau dulu aku tidak menggunakan jilbab." Kata Azira hati-hati.


Ekspresi Kenzie tidak berubah. Artinya bukan jawaban ini yang ingin dia dengarkan.


"Apakah pernah ada laki-laki lain yang melihat kamu dengan tampilan seperti ini selain aku?" Kenzie mengulangi pertanyaan yang sama.


Azira langsung menggelengkan kepalanya tegas.


"Kamu adalah satu-satunya pria yang pernah melihat ku seperti ini, kamu adalah yang pertama dan aku harap...jadi yang terakhir- umph!" Sebelum dia bisa menyelesaikan jawabannya, Kenzie telah menyerang bibirnya.


Azira sangat terkejut. Sensasinya begitu aneh, tapi membuat candu sekaligus mendebarkan. Azira menatap wajah terpejam suaminya seolah menikmati sentuhan intim ini. Terbuai, Azira pun larut dalam sentuhannya dan mulai memejamkan matanya sembari memeluk erat pundak suaminya, menikmati setiap tindakan intim yang suaminya lakukan kepadanya.


Rasanya tidak tertahankan. Azira berusaha untuk tidak mengeluarkan suara aneh, tapi tubuhnya seolah berada di luar kendalinya sendiri.


"Mas.." Ketika dia bersuara suaminya semakin bersemangat menjelajahi diri-


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Kenzie! Kenzie! Nak, apakah kamu belum tidur?"


Azira dan Kenzie langsung tersedak. Mereka saling memandang dengan rasa malu di wajah masing-masing.


Terutama ketika Azira menyadari betapa kacau penampilannya saat ini. Bajunya compang camping dan dia terlihat sangat berantakan sekarang di depan suaminya.


Panik, dia sontak menarik selimut untuk menutupi dirinya dari pandangan Kenzie.


"Umi...umi memanggil mas Kenzie." Kata Azira mengingatkan.


Kenzie mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya yang diluar kendali. Kemudian dia membantu Azira mengancingkan baju tidurnya yang hampir terlepas karena ulahnya.


"Aku...aku bisa sendiri, mas." Azira menutup dadanya dari jangkauan Kenzie.


"Biarkan aku membantumu. Lagipula...bajumu berantakan juga karena aku-"


"Mas Kenzie, jangan ngomong yang aneh-aneh!" Potong Azira malu.


Rona merah di wajah Azira belum surut, terlihat menggoda sama seperti sebelumnya. Apalagi dia sekarang memasang ekspresi cemberut di wajahnya, tingkat godaannya semakin besar.


"Mas...tolong jaga mata, mas!" Peringat Azira.


Sekarang dia tahu kenapa dirinya selalu merasa berbahaya ketika dipandang seperti itu oleh suaminya. Jawaban telah dia temukan malam ini. Hampir saja...dia dimakan.


Um, Sangat disayangkan kesenangan mereka tertunda oleh panggilan Umi.


"Apa yang perlu dijaga, aku sudah melihat sebagian dari milik kamu dan bahkan tadi menyentuhnya-"


"Mas Kenzie, ih!" Azira tidak tahan lagi mendengar ucapan frontal suaminya.


Kenzie langsung tertawa melihat wajah cemberut istrinya. Entah kenapa rasanya sangat menyenangkan menggoda Azira. Dia tidak merasa bosan sama sekali, sekalipun Azira mengancamnya dengan mata melotot. Bukannya berhenti, Kenzie malah semakin tergoda ingin melakukannya lagi.


"Okay, serius. Aku tidak akan berkata apa-apa lagi. Meskipun apa yang aku katakan benar adanya." Kata Kenzie tak berdaya.


Azira malu. Wajahnya kembali memanas. Dan dia menundukkan kepalanya tak berani menatap langsung ke wajah tampan suaminya.


"Sudah, mas. Umi dari tadi memanggil mas Kenzie di luar. Dia terdengar cemas, mungkin sesuatu telah terjadi tanpa kita ketahui. Ayo pergi, mas." Desak Azira kepada suaminya.


Kenzie baru menyadari nada cemas Umi. Pikiran pertamanya adalah sesuatu terjadi kepada Abah.


"Okay, pakai jilbab kamu dan susul aku ke bawah nanti." Pesan Kenzie sembari mengusap puncak kepala Azira.


Azira merasa hangat. Dia mengangguk patuh dan meminta suaminya untuk bergegas menemui Umi.


"Baik, mas." Jawab Azira patuh.


Setelah suaminya pergi barulah Azira menjadi tenang. Dia termenung memikirkan apa yang telah terjadi di antara mereka berdua. Semuanya begitu cepat. Dan dia tidak menyangka mereka akhirnya sampai ke tahap ini- meskipun ya harus tertunda karena suatu alasan, tapi langkah ini menunjukkan bahwa hubungan mereka berdua bergerak maju dan memiliki perubahan besar. Dia sangat senang sekaligus lega.


"Um...mas Kenzie sangat galak!" Gumamnya merasa manis sembari memperbaiki letak pakaiannya dan turun ke bawah mencari jilbab yang suaminya lempar entah ke mana.


...*****...


Ketika Azira turun ke bawah dia melihat ekspresi suaminya sangat dingin. Ini membuatnya bingung, pasalnya baru saja suaminya tersenyum tidak jelas dan hanya dalam waktu beberapa menit, dia memasang ekspresi ini lagi di wajahnya. Kalau suaminya memiliki ekspresi dingin seperti orang yang sembelit, maka itu artinya Kenzie sedang marah.


Pertanyaannya adalah, siapa yang telah membuat suaminya marah?


"Ada apa, mas? Semuanya baik-baik aja, kan?" Tanya Azira gugup.


Dia berharap baik Umi dan Abah tidak apa-apa.


Kenzie mendengus.


"Sasa salah makan hingga membuat radang amandel nya kambuh. Sekarang dia sedang demam di kamarnya." Kata Kenzie tidak memiliki simpati di wajahnya.


Padahal yang sakit adalah adiknya sendiri.


"Innalilahi, terus kita nggak bawa dia ke rumah sakit?" Azira kurang tahu tentang radang amandel.


Dia kira itu adalah penyakit berat yang membutuhkan penanganan medis langsung.

__ADS_1


"Tidak usah, dia sudah meminum obatnya." Kata Kenzie masih tidak berdamai.


Kalau begitu mengapa suaminya masih marah?


Mungkinkah karena barusan?


Um, mungkinkah karena aktivitas mereka terpaksa dihentikan gara-gara panggilan darurat Umi tadi?


Azira rasa alasan ini cukup menjelaskan semuanya.


"Azira, akhirnya kamu turun, Nak. Umi baru saja mau naik nyari kamu di kamar." Umi keluar dari kamar Sasa dan langsung berjalan menghampiri Azira.


Dia keluar untuk mencari Azira dan kebetulan mereka bertemu di ruang tengah. Jadi dia tidak perlu naik ke atas.


Azira tersenyum.


"Apakah Umi membutuhkan bantuan Azira?"


Umi menghela nafas panjang. Senang rasanya memiliki menantu yang perhatian. Selain perhatian, menantu ini juga sangat akrab dengan putrinya.


"Pasti suami kamu sudah memberitahu tentang Sasa."


Azira menganggukkan kepalanya pelan.


"Mas Kenzie sudah menceritakannya tadi. Katanya radang amandel Sasa kambuh, dan sekarang dia jadi demam." Azira prihatin untuk adik iparnya.


"Iya, dia sedang demam sekarang dan dia ingin ditemani sama kamu dan Mona. Dari tadi dia terus memanggil nama kamu, kalau kamu nggak ke sana, dia pasti ngambek." Jelas Umi kepada Azira.


Azira terkejut. Hatinya langsung menghangat. Ternyata kesan Sasa kepadanya sudah sedalam ini.


"Ya Allah, Umi. Aku mana mungkin menolak menemani Sasa. Apalagi sekarang dia sedang demam, aku pasti akan menemani dia." Azira menjawab positif tanpa memperhatikan ekspresi datar suaminya.


"Syukurlah kamu mau menemaninya. Tapi ngomong-ngomong, ada apa dengan bibir kamu? Kenapa rasanya terlihat agak bengkak, yah?" Umi salah fokus setiap kali melihat wajah Azira.


Matanya pasti akan selalu tertuju pada bibir Azira yang jauh lebih merah dan agak bengkak dari sebelumnya.


Jantung Azira berdegup kencang. Di depan Umi dia berusaha terlihat senang mungkin meskipun faktanya dia sangat gugup sekarang.


"Oh ini...ini aku tidak terlalu fokus ketika sedang menggosok gigi dan tidak sadar telah melukai bibirku." Azira dengan mudahnya membuat alasan.


Tapi Kenzie yang telah kehilangan suhu di wajahnya menolak bekerja sama.


"Umi, ini adalah urusan suami istri. Umi pasti mengerti." Ucapnya dengan kata-kata bermakna.


Ketika mendengar perkataan putranya, Umi langsung tersenyum lebar. Dia sangat senang Kenzie dan Azira kembali bersama lagi.


Kemudian Umi menyadari ekspresi dongkol di wajah putranya pasti karena dia mengganggu waktu mereka. Umi agak menyesal, tapi apa yang harus dilakukan? Kenzie adalah satu-satunya dokter di rumah mereka. Maka mau tak mau Umi tidak sengaja mengganggu waktu mereka.


Tapi sejujurnya Umi agak geli dengan putranya.


Temperamennya benar-benar berbeda dan jauh lebih hidup semenjak Azira memasuki kehidupan putranya.


"Ya Allah, mas!" Azira tergoda melemparkan sendal ke wajah datar suaminya.


Umi tersenyum,"Tidak apa-apa, Umi mengerti, kok." Kata Umi pengertian.


"Ya sudah, ayo pergi. Kasihan adik kamu sudah menunggu." Lalu Umi menoleh menatap putranya yang telah menghidupkan mood jangan ganggu.


"Azira Umi pinjam dulu, ya, malam ini."


Kenzie mendengus.


"Bilangin sama Sasa, besok aku sendiri yang akan mengoperasi lehernya."


Umi memutar bola matanya malas.


"Amandel! Bukan leher!"


Kenzie tak perduli.


"Terserah."


Melihat sikap putranya yang kekanak-kanakan, Umi menggelengkan kepalanya tak berdaya.

__ADS_1


"Ayo Azira." Katanya sambil menarik Azira ikut bersamanya ke kamar Umi.


__ADS_2