Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 15.5


__ADS_3

Mungkin sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi di pihaknya. Azira tidak tertarik untuk bertanya. Lagi pula itu juga bukan urusannya.


"Kamu sangat sibuk, kami tidak akan mengganggumu lagi."


Nabil meletakkan ponselnya ke atas meja. Ekspresi tertekan dan muram di wajahnya segera menguap entah ke mana digantikan oleh senyuman ramah seperti beberapa saat yang lalu. Tapi... Ketika Nabil melirik ke arahnya, Azira masih merasakan perasaan yang sama, yaitu sebuah penolakan dan keterasingan dari Nabil. Azira masih bingung tapi berusaha menjaga senyumnya agar tidak goyah di depan Nabil.


"Siapa yang sibuk? Bilang saja kamu ingin segera pulang ke rumah sama istri kamu. Cek, setelah menikah kamu memiliki beberapa perubahan besar. Aku hampir saja salah paham kalau kalian berdua pernah berselingkuh di belakang Humairah sebelum menikah, kalau tidak bagaimana kalian begitu lengket dan akur?" Katanya sambil tertawa terbahak-bahak.


Nadanya bercanda, namun Azira tidak bodoh untuk tidak melihat makna tersembunyi dari kata-kata Nabil. Sepertinya Nabil sengaja ingin menyindir mereka berdua- ah, lebih tepatnya kata-kata ini tertuju kepada Azira. Sungguh Azira tidak berbohong, intuisinya mengatakan kalau Nabil sengaja mengatakan kata-kata masam ini kepadanya.


"Mungkin hari ini adalah terakhir kalinya kami datang ke sini." Kenzie masih memasang wajah flat seperti biasanya.


Namun sorot matanya agak berbeda. Mata ini mengingatkan Azira pada hari ketika Kenzie menyelamatkannya dari percobaan preman. Kenzie memiliki sorot mata ini, dingin dan acuh tak acuh, tapi seseorang tidak bisa menahan takut ketika berhadapan dengan mata ini.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzie, wajah Nabil langsung memerah karena malu. Dia mengerti kalau temannya ini sedang marah sekarang. Dia langsung menyesali apa yang dia katakan, karena terbawa emosi dia melontarkan kata-kata yang tidak seharusnya.


"Jangan terlalu serius, aku hanya bercanda." Nabil masih tertawa. Dia mencoba mencarikan suasana dengan tawa sumbang nya.


Tapi sayang sekali Kenzie masih menatapnya dengan cara yang sama. Yaitu, ketidak pedulian.


"Aku tidak bercanda, ini terakhir kalinya kami datang ke sini. Lain kali, berhati-hatilah ketika berbicara. Meskipun itu hanya sebuah becandaan. Dan mungkinkah kamu lupa sesuatu?"


Suasananya tiba-tiba menjadi tidak bersahabat. Azira merasa tegang. Dia meraih lengan baju suaminya untuk mencari kenyamanan. Tanpa melihat ke arahnya, Kenzie menyingkirkan tangan Azira dari lengan baju dan mulai menggenggamnya.


Hangat. Azira langsung merasa lebih baik.


"Apa yang aku lupa?" Tanya Nabil ragu.

__ADS_1


Tersenyum tipis,"Aku adalah seorang dokter, dokter profesional." Ucap Kenzie menekankan setiap patah kata di dalam kalimatnya.


Implikasinya jelas. Sebagai seorang dokter dia dapat melihat kalau Nabil memang sengaja menyentuh batasnya. Walaupun Kenzie tidak mempelajari masalah psikologi secara mendalam tapi dia masih tahu beberapa titik. Sekilas dia bisa membaca psikologis seseorang, yah, tidak dalam tapi cukup untuk menilai karakter seseorang.


Contohnya seperti Nabil sekarang. Dia tahu dan mengerti apa maksudnya.


Senyuman Nabil langsung terasa kaku.


"Bagaimana mungkin... Aku lupa kalau kamu seorang dokter..haha.." Memaksakan diri untuk tertawa.


Kenzie tersenyum geli,"Baiklah, kalau begitu kami pergi, assalamualaikum."


Kenzie mengambil barang-barang di atas meja setelah menaruh bayarannya di depan Nabil. Terserah Nabil menerimanya atau tidak, yang penting Kenzie sudah membayar.


"Aku bantu, mas." Azira mencoba mengambil kantong plastik di tangan suaminya tapi Kenzie mengangkat tangannya untuk menjauh.


Ada tiga kantong plastik dengan berbagai macam makanan di dalamnya. Azira khawatir suaminya kewalahan membawa semua beban sekaligus di tangan kiri. Makanya dia ingin membantu. Tapi berhubung suaminya menolak, maka Azira tidak bersikeras lagi.


Kenzie tidak pernah melepaskan tangan Azira di depan Nabil. Hingga akhirnya mereka keluar, Kenzie masih menggenggam tangan Azira. Bohong kalau Azira tidak merasa malu, dia malu kok, tapi lebih dari itu semua dia merasa sangat manis dan aman pada saat yang sama. Karena suaminya sangat menghargainya entah itu ketika mereka berada di rumah ataupun di depan orang lain.


"Mas, apa enggak apa-apa kita pergi begitu saja? Mas Nabil enggak tersinggung, kan?" Azira ragu.


Kenzie tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Tidak apa-apa, kita kan udah bayar. Jadi aku tidak berutang apapun kepadanya." Nada Kenzie agak masam.


Ini sangat aneh.

__ADS_1


"Oh...kalau mas Kenzie tidak masalah maka aku lega." Azira tidak tahu harus mengatakan apa.


Kepribadian suaminya agak sulit dicerna. Baru saja dia tersenyum, lalu beberapa detik kemudian dia berbicara masam seakan-akan sangat membenci sesuatu.


Azira bingung.


"Jangan diambil hati apa yang dia katakan. Omongannya ataupun orang lain di luar sana tidak berarti apa-apa, selama kita menjalani pernikahan ini dengan nyaman dan bahagia." Tiba-tiba saja Kenzie mengatakan ini kepadanya.


Azira merasa terhibur. Suaminya sedang menghiburnya agar jangan sedih. Azira sangat senang dan tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang kakimu melangkah.


"Aku mengerti, mas. Aku akan mendengarkan mas Kenzie." Janji Azira bersungguh-sungguh.


"Hum."


Ketika turun ke bawah, Azira sempat menoleh ke tempat terakhir kali dirinya melihat Paman bersama seorang wanita. Sayang sekali mereka berdua sudah pergi karena meja itu sekarang ditempati oleh orang lain.


"Apa yang kamu lihat?" Kenzie mengikuti pandangannya.


Azira menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya asal melihat, tidak penting." Bohongnya.


Kenzie menganggukkan kepalanya tak bertanya lagi. Setelah keluar dari restoran, mereka berdua langsung pulang ke rumah tanpa mampir kemanapun. Walaupun mereka tidak pergi kemana-mana selain mengambil makanan di restoran Nabil, hati Azira sudah sangat puas. Hari ini sungguh sangat berkesan untuknya.


Bersambung...


2 bab lagi di sebelah, yah😚

__ADS_1


__ADS_2