Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 14.2


__ADS_3

"Tidak, Umi tidak mau apa-apa. Semuanya sudah ada di rumah. Intinya kalian harus hati-hati di luar dan jangan pulang terlalu malam." Kata Umi berpesan.


Biasanya pasangan suami-isteri tidak langsung pulang ke rumah kalau keluar. Mereka pasti main-main dulu di luar dan pulang setelah puas main-main di luar. Umi tidak heran karena pasangan muda biasanya begini.


Azira melirik suaminya malu dan langsung memalingkan wajahnya menatap arah lain ketika dirasakan kepala suaminya bergerak melihat ke arahnya.


"Tidak..kami pasti langsung pulang setelah cukup bersilaturahmi. Aku akan menemani Umi memasak di dapur untuk makan malam." Kata Azira membantah.


Hari ini Kenzie memiliki rencana lain.


"Jangan masak untuk nanti malam. Kebetulan restoran temanku baru saja dibuka cabangnya di kota ini, jadi aku berencana sehabis pulang dari tempat Ibu langsung pergi ke sana. Masakannya lumayan, aku yakin kalian semua akan menyukainya." Kata Kenzie melarang istrinya dan Umi masak makan malam.


Tumben sekali dia ingin makan makanan luar. Biasanya dia selalu ogah. Umi dan Abah merasa heran. Meskipun restoran itu milik teman atau kenalan, Kenzie biasanya tidak terlalu tertarik untuk makan.


"Terserah kamu. Kalau masakannya enak, Umi sih ikut rencana aja." Kata Umi sambil melirik Abah di ujung sana.


Abah menganggukkan kepalanya menyetujui. Dia juga akan makan apapun yang dibawa Kenzie malam ini.

__ADS_1


"Baiklah, nanti malam kita akan makan makanan dari restoran temanku."


Suasana begitu harmonis di sini. Senyuman di wajah Azira tak pernah lepas dari wajah merahnya yang menawan. Dia bersyukur, amat sangat bersyukur karena memiliki keluarga sehangat mereka.


"Mas Kenzie kok turun ke sini? Gimana sama pekerjaan mas di atas?" Azira baru ingat kalau suaminya tadi bekerja sangat serius di kamar.


Dia kira suaminya sangat sibuk dan tak bisa diganggu. Saking sibuknya sampai-sampai tak bisa meninggalkan pekerjaan di dalam kamar.


"Hampir selesai." Kata Kenzie santai.


Umi menggelengkan kepalanya tak senang sekaligus heran.


Sementara Abah dan Kenzie tidak memiliki reaksi apa-apa. Abah tidak mengatakan apa-apa tapi sikapnya yang tengah 'menonton' pertunjukkan agaknya terlalu jelas bagi Azira.


Membuat Azira bertanya-tanya mengapa Abah begitu santai tentang topik pembicaraan ini padahal Umi sudah seperti cacing kepanasan saking gerahnya membicarakan masalah ini.


"Abah jangan diam aja, bilang sesuatu dong sama Kenzie biar nurut." Umi meminta bantuan kepada Abah.

__ADS_1


Abah tersenyum ringan.


"Apalagi yang perlu dikatakan?"


Umi memukul paha Abah tak sabar. Suara pukulan Umi sangat nyaring. Azira spontan mengusap pahanya menahan ngilu seolah yang dipukuli Umi bukanlah paha Abah.


"Apalagi! Bilangin Kenzie biar urus kantor kita."


Abah mengusap pahanya yang keram setelah dipukul istrinya.


"Tak ada yang perlu dibicarakan." Kata Abah semakin membuat Umi kesal.


Kenzie tidak tahan melihat kerusuhan mereka berdua. Jadi dia menarik pinggang Azira dan mengajaknya pergi untuk menghindari keributan.


"Ayo pergi. Jangan ganggu mereka bermesraan." Bisik Kenzie kepada Azira sambil menariknya melarikan diri.


Azira merasa ada sesuatu yang salah dengan pemahaman suaminya di sini.

__ADS_1


Mereka sedang bertengkar kan?


__ADS_2