Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 9.1


__ADS_3

Makan malam dilewati dengan cepat dan suasana yang hangat. Tapi tidak untuk Frida. Sejak duduk di atas meja makan dia telah memperhatikan bagaimana Kenzie memakan semua hidangan di atas meja dengan lahap dan bahkan sesekali mengobrol dengan Azira. Ini diluar harapannya. Dia semula berekspektasi jika Azira sama dengan wanita lain di mata Kenzie. Apalagi Azira adalah biang keladi hancurnya pernikahan Kenzie dan Humairah. Secara logika, Kenzie harus bersikap dingin kepada Azira, atau bahkan memperlakukannya dengan buruk. Tapi kenapa kenyataan yang dia lihat di atas meja makan sekarang justru telah meruntuhkan semua fantasinya?


"Tidak mungkin." Bisiknya tak nyaman.


Nafsu makannya langsung menguap entah kemana. Dia tidak merasa bahwa semua hidangan di atas meja tak memiliki cita rasa.


"Em, kak Kenzie kok tumben makannya lahap banget. Biasanya enggak terlalu masakan yang berat kayak begini?" Dia sudah mempersiapkan salam sapa yang manis dan sopan kepada Kenzie, ingin memulai pembicaraan yang hangat. Tapi melihat bagaimana Kenzie dan Azira berinteraksi, dia tidak bisa menahan diri lagi.


Kenzie mengangguk sambil menundukkan kepalanya menatap makanan di atas piring. Menelan makanan, dia mengambil gelasnya di samping. Saat akan minum, gelasnya kosong. Dia tidak tahu sejak kapan airnya habis.


Melihat air minum suaminya sudah habis. Azira ingin mengambilkannya air minum.


"Tidak usah." Kata Kenzie.


Dia meletakkan gelas ke tempatnya semula dan beralih mengambil air minum Azira yang tersisa setengah. Lalu, tanpa canggung dia meminum air itu hingga tandas tak bersisa. Mulut Sasa terbuka lebar saking kagetnya. Bahkan dia tidak memperhatikan makanan makanan yang dia ambil jatuh ke atas meja.


Ya Allah, apakah kepala kakakku mengalami masalah? Sasa membatin heran.


Enggak biasanya Kenzie seperti ini. Apalagi sama orang lain. Sewajarnya Kenzie punya beban batin karena pernikahannya dengan Humairah gagal, tapi kenapa dia terlihat santai-santai saja. Malah mulai narsis?

__ADS_1


"Apa..apa yang baru saja ku liat?" Frida tidak mempercayainya.


Sasa mendengus.


"Kak Kenzie selalu seperti ini setiap kali dekat sama kak Azira. Cek, interaksi romantis mereka membuat sangat tersiksa." Sasa menggelengkan kepalanya sok tak berdaya dan baru menyadari bila makannya terbuang sia-sia.


"Gara-gara kak Kenzie, ah!" Dia mengambil tissue untuk memungutnya, lalu menaruhnya di samping piring.


Sementara itu Frida sama sekali tidak memperhatikan apa yang dia lakukan karena sedari tadi matanya tak bisa lepas dari gelas yang baru saja Kenzie letakkan.


Bingung, dia menyentuh keningnya tak bisa berpikir dengan jernih. Mengusap-usapnya sambil bergumam bahwa dia mungkin salah lihat.


Pengumuman Kenzie terlalu tiba-tiba.


"Kamu benar-benar sibuk?" Tanya bibi Indring tak habis pikir.


Kenzie tersenyum tipis.


Paman melambaikan tangannya mengerti.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Selesaikan saja pekerjaan kamu di kamar. Kami tidak akan menunda kamu." Kata paman.


Bibi Indring tak setuju dengannya.


"Padahal bibi ingin membicarakan banyak hal denganmu."


Kenzie hanya tersenyum tipis dibibir nya tanpa menjawab.


Sementara itu Frida menggigit bibirnya ingin mengatakan sesuatu. Dia agaknya cukup menyesal melihat Kenzie lebih mementingkan pekerjaan daripada berkumpul di sini. Apakah dia tidak senang melihat mereka datang?


Bukankah mereka perlu membicarakan banyak hal?


Frida membuka mulutnya berbicara,"Kak-"


"Nanti kamu langsung naik setelah selesai beres-beres di sini." Bisik Kenzie kepada Azira.


Namun masih bisa didengar oleh mereka.


Azira langsung malu.

__ADS_1


__ADS_2