
Humairah sangat yakin bila Kenzie tidak akan menyebut nama Azira dan dia juga lebih yakin bila Azira hanya mengaku-ngaku saja karena nama mereka terdengar sama.
Azira tersenyum dingin.
"Kalau kamu tidak percaya, coba tanya langsung ke mas Kenzie." Suruh Azira panas dingin.
Mungkinkah Kenzie menolak mengakuinya?
Yah, ini mungkin saja karena orang yang ingin dinikahi Kenzie adalah Humairah dan bukan Azira.
Atau mungkin saja Azira hanya salah dengar saja tadi saat ijab kabul berlangsung...yah, ini mungkin...namun mengapa perasaan itu begitu nyata?
"Mas Kenzie?" Humairah memanggil dengan mata penuh harap.
Kenzie mengangkat kepalanya menatap wajah basah dan berantakan Humairah, tersenyum meminta maaf, dia kemudian mengalihkan pandangannya menoleh menatap kedua orang tua Humairah.
"Dia benar, nama yang ku sebut saat ijab kabul tadi adalah namanya, Azira Humaira dan bukan Azira Humairah." Akui Kenzie membuat semua orang terkejut.
Bug
Azira memejamkan matanya kaget juga tidak menyangka sebab Kenzie benar-benar mengakuinya dan bahkan tidak membuat alasan untuk mengelak klaim Azira.
Hati Azira berdesir aneh, perasaan yang sama lagi saat Kenzie menyebut namanya ketika akad tadi.
Pengakuan Kenzie sontak memicu pembicaraan lain diantara para tamu. Mereka menebak bila Kenzie dan Azira mungkin sebelumnya saling mengenal serta diam-diam merancang pernikahan ini. Kalau tidak, mengapa Kenzie tiba-tiba menyebut nama wanita lain daripada menyebut nama Humairah.
Rumor buruk ini langsung menyebar seperti api, membuat keributan tiada habisnya di sini.
"Apa?" Humairah langsung merosot jatuh ke lantai.
Untungnya Mama dan bibi Sifa langsung sigap memegang kedua lengannya.
"Kenzie, apa-apaan ini?!" Tanya Umi marah kepada putranya.
__ADS_1
Kenzie menatap wajah Uminya yang masih shock dan marah.
"Azira adalah istriku, Umi." Jawab Kenzie dengan suara rendah.
"Kamu!" Umi menunjuk putranya yang tiba-tiba tak masuk akal.
Bagiamana mungkin wanita asing ini menjadi menantunya?!
Umi tidak mau menerimanya dan tidak merestui pernikahan ini sebab menantu yang dia harapkan adalah Humairah, bukan Azira.
Kenzie tahu jika Umi sangat tidak puas dengannya dan dia juga tahu jika Umi sangat marah kepadanya sekarang. Oleh sebab itu dia tidak membalas ucapan Uminya dan hanya berdiri diam melihat kemarahan Umi sambil berharap kemarahan Umi segera surut.
"Mas Kenzie, pernikahan ini tidak bisa sah karena yang mas ingin nikahi adalah aku, bukan gadis ini, kan?"
Humairah tidak bisa melepaskan semua ini. Dia bersikeras bahwa Kenzie adalah calon suaminya dan orang yang ingin Kenzie nikahi adalah dirinya, dan bukan Azira.
Azira hanyalah wanita asing untuk Kenzie dan mereka tidak saling mengenal, jadi bagaimana mungkin Kenzie menikahi wanita asing yang tidak pernah dia temui sebelumnya?
Sayangnya, Kenzie sekali lagi mengecewakan harapannya.
Azira menundukkan kepalanya merasakan perasaan rumit di dalam hatinya. Dia bingung mengapa Kenzie mau menikahinya dan tidak menyalahkannya atas pernikahan ini?
Seharusnya Kenzie marah karena dia telah menghancurkan hari pernikahannya dengan Humairah.
"Jadi.... Mas mengakui dia adalah istri mas?" Saat menanyakan ini perasaan sakit yang bertubi-tubi terus menghantam hatinya.
Mengapa?
Ini adalah hari pernikahannya tapi mengapa bisa menjadi seperti ini?
Ia seharusnya bahagia bukan?
Kenzie mengambil nafas panjang dan menjawab dalam nada suara yang teguh dan kuat, "Benar, dia adalah istriku."
__ADS_1
"Bagaimana bisa, mas?" Humairah menahan nafas saat rasa sakit mulai menghujam hatinya, seolah-olah sebuah benda tumpul memaksa untuk merobek tubuhnya.
Dia berkata dalam kesakitan,"Akulah calon istrimu, akulah wanita yang akan kamu nikahi, akulah yang harusnya kamu nikahi! Mengapa kamu melakukan ini kepadaku?! Dia adalah anak haram Ayah! Dia tidak bisa menikah denganmu dan pernikahan ini tidak sah!" Dalam kesedihannya yang membara, Humairah tidak sadar telah mengungkapkan rahasia keluarganya ke semua orang.
Dia tidak sengaja membocorkan aib Ayahnya kehadapan para tamu dan besannya yang sekali lagi mengundang bisikan dari para tamu.
"Anak haram?" Tanya Abi kaget melihat ke arah Ayah.
Ayah sangat malu. Wajahnya langsung memutih ditatap oleh banyak pasang mata. Padahal dia berencana mengubah identitas Azira sebagai anak angkat agar citra keluarganya yang harmonis di dunia luar tidak tercemar. Namun rencana itu tidak bisa dilakukan lagi karena Humairah sudah mengungkapkannya ke dunia luar terlebih dahulu.
Bibi Safa mengutuk Azira seribu kali di dalam hatinya dan terpaksa menjelaskan,"Kami masih belum melakukan tes DNA untuk memastikannya jadi dia tidak bisa dianggap anak haram kakakku."
Azira tersenyum dingin. Untungnya dia membawa ke sini semua barang-barang Ibunya. Kalau tidak, dia mungkin tidak bisa menghadapi keluarga kejam ini.
"Ayah adalah Ayah kandung ku." Kata Azira mengklaim.
"Dan aku bukanlah anak haram, tapi anak sah Ayah. Aku adalah putri pertama Ayah sebab Humairah lahir beberapa bulan setelah aku dilahirkan ke dunia ini." Jelas Humairah kepada semua orang.
Dia sama sekali tidak takut dengan mata tajam bibi Safa yang menatapnya dengan mata melotot, seakan-akan bola mata itu bisa keluar kapan saja.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?!" Bibi Safa ingin sekali meremas mulut Azira yang kurang ajar agar berhenti membuat masalah.
Azira tidak takut dengan tatapannya yang membara. Di bawah tatapan semua orang dia mengambil sesuatu dari dalam gaun pengantinnya. Gaun pengantin Humairah ini cukup berat dan rumit, Azira jadi kesulitan mengambil kartu truf nya dari pakaian dalamnya.
"Ini...ini adalah buku pernikahan Ibuku saat menikah dengan Ayah." Ucap Azira sambil mengangkat tangan kanannya menunjukkan sebuah buku pernikahan berwarna merah di hadapan semua orang.
Tanpa menunggu bibi Safa atau Ayah membantah ucapannya, Azira lalu mengangkat tangan kirinya untuk ditunjukkan kepada semua orang sebuah foto.
"Dan ini adalah foto Ayah dan Ibu saat menikah dulu di kampung halaman Ibuku."
Foto itu adalah foto pernikahan Ayah dan Ibu 23 tahun yang lalu. Di dalam foto itu Ayah menggunakan jas hitam kebesaran yang sangat sederhana sedangkan Ibu hanya menggunakan baju kebaya biasa-biasa. Mereka masih muda dengan senyum cemerlang di wajah masing-masing seolah pernikahan ini adalah pernikahan sekali seumur hidup yang sangat menjanjikan.
"Buku pernikahan Ibu dan foto ini menunjukkan bahwa aku bukanlah anak haram Ayah. Tapi aku adalah anak sah Ayah yang sengaja ditelantarkan!"
__ADS_1
Ada perasaan asam di dalam hatinya ketika menunjukkan dua barang yang paling berharga milik Ibu. Pasalnya kedua barang ini masih bagus dan tidak kotor meskipun telah disimpan bertahun-tahun lamanya. Seolah-olah Ibu masih berharap bila Ayah pasti akan kembali lagi.
Ini hanya ilusi, faktanya.