Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 12.7


__ADS_3

"Kami nggak mau pergi, Umi. Kami akan pergi kuliah!" Sasa dan Mona muncul dari balik tembok.


Sebenarnya mereka tidak sengaja menguping pembicaraan Azira dan Umi.


"Tidak ada alasan. Umi tahu kalau kalian hanya punya satu mata kuliah hari ini dan masuknya nanti sore. Jadi jangan membuat alasan lagi. Pergi, temani Azira ke rumah sakit. Kalian harus pergi bertiga dan diantar langsung oleh pak Maman. Kalau kalian berdua tidak ikut, maka awas saja... Kenzie akan memberikan kalian berdua pelajaran!" Umi mengancam dengan serius.


Soalnya Kenzie sendiri yang menekankan kalau mereka bertiga harus pergi ke rumah sakit. Kalau tidak, Kenzie akan membuat masalah untuk mereka bertiga.


"Yah... Umi, kita enggak mau.." Mona dan Sasa ingin menangis.


Umi menggelengkan kepalanya tak perduli.


"Kenzie bilang dia mengenali dosen pembimbing kalian. Kalau kalian menolak maka-"


"Ah.... Lebih baik kita pergi ke rumah sakit aja, toh, di rumah kita juga tidak punya pekerjaan." Sasa langsung memotong kata-kata Umi.


Sudut mulut Azira berkedut. Dia rasanya ingin tertawa, tapi karena satu alasan dia tidak bisa. Tentu saja situasinya tidak jauh lebih baik daripada mereka berdua.


"Bagus kalau kamu mikir begitu. Sana pergi, Kenzie berkata kalau hari ini kalian tidak boleh keluar dari rumah ini kecuali pergi ke rumah sakit." Umi mengusir kedua orang itu pergi.


Setelah mengusir kedua orang itu pergi, Umi berkata akan mencari Abah, soalnya mereka akan pergi ke rumah bibi Arumi. Sebelum pergi Umi berpesan kepada Azira agar tinggal di rumah dan jangan keluar. Pesannya sama seperti Sasa dan Mona, dia hanya bisa keluar ketika pergi ke rumah sakit.


Azira merasa tidak berdaya dan tidak berpikir bahwa keputusan suaminya agak aneh.


"Bah, putramu kalau merajuk serem loh. Di rumah semua dibatasi, untung saja Abah tidak begitu ketika kita menikah dulu." Umi menggelengkan kepalanya tak berdaya.


Abah tidak setuju,"Kenzie bukannya ingin membatasi, tapi dia ingin melindungi. Kamu tidak mengerti." Kata Abah menggeleng-gelengkan kepalanya.


Umi heran. Maksud suaminya melindungi dari apa,"Maksud Abah apa?"


Abah menjawab dengan nada bijak,"Urusan anak muda, kita para orang tua tidak bisa ikut campur."


Umi langsung tersedak kata-kata suaminya,"...." Dirasa suaminya semakin menjengkelkan akhir-akhir ini.


...*****...


Setelah memasak bersama Sasa dan Mona, mereka bertiga akhirnya berangkat menuju rumah sakit dan diantar langsung oleh pak Maman sesuai dengan instruksi Kenzie.


Sepanjang jalan Sasa dan Mona terus berbicara. Apa yang mereka bicarakan tidak jauh topiknya dari karakter Kenzie yang menjengkelkan. Mereka tidak takut berbicara ngawur di depan Azira, toh, menurut mereka Azira juga memiliki pendapat yang sama kalau Kenzie itu menjengkelkan. Sayang sekali mereka tidak bisa melawan dan hanya diam ditindas.


Sesampai mereka di rumah sakit, seseorang sudah menunggu kedatangan mereka. Seorang laki-laki berseragam OB.


"Apakah kalian keluarga dokter Kenzie?" Laki-laki itu menyapa sopan.


"Iya, benar."


"Dokter Kenzie bilang setelah kalian sampai di sini, kalian bisa menunggunya di dalam ruangannya. Kebetulan hari ini dia ada rapat, jadi mungkin dia akan bertemu kalian 1 jam kemudian. Selama menunggu kedatangannya, kalian bertiga tidak diizinkan membuat masalah lagi." Jelas laki-laki itu sopan mengatakan apa instruksi Kenzie kepada mereka bertiga.


Azira, Sasa dan Mona tidak memiliki reaksi besar. Di rumah juga begitu apalagi di sini. Jadi mereka dengan patuh pergi ke ruangan Kenzie.


Ruangannya masih sama dengan terakhir kali Azira tinggalkan. Semuanya masih rapi dan bersih.


Azira berusaha mengatur dirinya setenang mungkin. Mencoba melepaskan rasa gugup di dalam hatinya. Kali ini dia bertekad untuk banyak bicara agar Kenzie mau berbicara dengannya.


40 menit kemudian. Kenzie kembali 20 menit lebih awal dari yang dikatakan oleh laki-laki itu. Dia masuk ke dalam ruangan dengan wajah dingin bersama Ayana di belakangnya.


Ayana mendengar Azira datang berkunjung. Jadi dia dengan muka tebal berpura-pura tidak melihat ekspresi dingin di wajah sepupunya, dia pergi mencari Azira ke ruangan ini. Tentu saja tujuannya datang ke sini tiada lain dan tiada bukan karena ingin makan masakan Azira. Um, dia sungguh tidak berbohong. Dia sangat suka dengan masakan Azira. Rasanya seperti masakan rumah yang akhir-akhir ini jarang dirasakan sejak menikah.


"Kak Azira, selamat siang!" Ayana langsung menyerbu masuk ingin melemparkan dirinya ke dalam pelukan Azira, tapi sebelum dia bisa melemparkan dirinya, kerahnya ditarik oleh Kenzie dan tanpa membutuhkan tenaga besar, Kenzie melemparkan Ayana ke arah Mona dan Sasa.


"Ya Allah, kak Kenzie kasar banget sih!" Ayana ingin mengamuk, tapi buru-buru ditahan oleh Sasa dan Mona.


Mereka berdua sendiri yang ditumpuk langsung oleh Ayana tidak marah. Bukannya mereka tidak marah, tapi lebih tepatnya mereka tidak berani marah di depan Kenzie. Um, Kenzie kalau sedang marah sangat menyeramkan. Mereka tidak berani membuat masalah.


"Sekarang kalian bertiga duduk." Kata Kenzie mengatur mereka bertiga.


Mona dan Sasa duduk dengan tegak, mereka sudah siap secara mental.


Sementara Ayana yang tidak tahu apa-apa juga diperintah untuk duduk. Awalnya dia tidak mau dan ingin membuat keributan, tapi saat melihat kedipan mata adiknya, dia akhirnya mengurungkan niatnya.


"Mas Kenzie..." Azira memanggil. Mereka bertiga duduk di sana lalu dia harus apa?


"Urusan kita masih belum selesai. Tidak mudah menyelesaikannya." Kata Kenzie acuh tak acuh kepada Azira.


"Aku mengerti."


Kenzie melirik kursi kerjanya di belakang meja. Dan meminta Azira duduk di sana. Sementara Kenzie duduk di atas meja memandangi tiga pembuat onar yang tengah menatapnya dengan mata gugup.


"Ayana, kemarin kamu meminta istriku untuk membeli kopi. Tapi kamu duluan pergi tanpa menyentuh kopi yang dibelikan istriku. Untungnya aku berpikir panjang dan menaruh kopi itu di dalam kulkas. Jadi sewaktu-waktu kamu kembali, kamu bisa meminumnya." Kenzie masih mengingat hari di mana Ayana meminta istrinya untuk membeli kopi.


"Kopi?" Ayana bertanya ragu.


"Benar, minum kopi yang sudah dibelikan oleh istriku." Kenzie menekankan.

__ADS_1


Sementara Azira di belakangnya diam-diam meneguk ludahnya gugup. Apakah kopi yang dimaksud oleh suaminya adalah kopi yang dia beli untuk Ayana?


Tapi itu sudah berhari-hari!


"Kak... Itu sudah tiga hari yang lalu, mungkinkah aku harus membeli lagi?" Ayana berkata ragu-ragu.


Dia tidak tahu kalau sepupunya sangat pendendam!


Kenzie menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu membeli sepupuku. Kopi itu dibelikan oleh istriku khusus untuk kamu. Aku tidak tega membuangnya, jadi aku menyimpannya di dalam kulkas untuk kamu minum. Sekarang mumpung kamu ada di sini, minumlah?"


Sasa dan Mona langsung menatap Ayana horor. Beraninya dia menyuruh-nyuruh Azira di depan Kenzie.


"Kakakmu tidak bisa berkutik di depan kakakku." Bisik Sasa bangga.


Mona setuju dan sangat mendukung.


"Dia harus diberi pelajaran."


"Aku minum... Kak Kenzie bercanda, kan?"


Walaupun ditaruh di dalam kulkas, tetap saja sudah 3 hari. Ayana ragu meminumnya. Lagi pula kopi itu tidak bisa disebut kopi lagi karena sudah dingin.


"Apakah aku terlihat sedang bercanda?" Tanya Kenzie sambil tersenyum.


Ayana menggelengkan kepalanya.


"Nah, minum."


Dengan kaku dia membuka kulkas mini. Seperti yang Kenzie bilang, memang ada secangkir kopi di sana yang masih belum tersentuh. Azira ingat meletakkan kopi itu di dalam kulkas dan dia tahu bahwa kopi di dalam kulkas itu adalah kopi yang dia beli 3 hari lalu.


Tak berdaya, Ayana meminum kopi itu di bawah pengawasan semua orang. Sebenarnya rasanya tidak apa-apa, masih enak, tapi dia tetap tidak merasa nyaman meminum kopi yang sudah dibuat dari tiga hari yang lalu.


Setelah menyelesaikan akun dengan Ayana, dia beralih menatap dua burung puyuh yang tengah menatapnya dengan mata gugup.


"Kalian berdua, lain kali ingin keluar bermain minta izin dulu kepadaku. Jika aku tidak mengizinkan, maka kalian tidak boleh keras kepala. Sekarang hukuman buat kalian berdua, bantu kantin mencuci piring. Setelah selesai mencuci piring, kembalilah ke sini untuk membersihkan ruanganku. Kalian tidak boleh pulang kecuali ruanganku bersih dan semua cucian kotor di kantin telah dibersihkan. Pergilah, aku sudah berbicara dengan pengurus kantin. Mereka sangat berterima kasih karena kalian mau datang membantu."


Mulut Sasa dan Mona terbuka lebar tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh Kenzie. Jadi mereka disuruh datang ke sini untuk menjadi pembantu yang bisa disuruh-suruh?


Baik, tidak apa-apa membersihkan ruangan Kenzie. Membersihkan ruangan sekecil ini tidak membutuhkan banyak waktu. Tapi bagaimana dengan mencuci piring di kantin?


Mereka langsung menyesal pergi ke sini.


Kenzie meliriknya.


"Lakukan saja?"


Sasa langsung menelan kata-kata protes yang ingin dilayangkan tadi. Dengan pahit dia dan Mona segera pergi menuju kantin. Mereka berbicara sebentar dengan salah satu staf dan diarahkan ke dapur untuk membersihkan piring-piring kotor di wastafel.


"Kamu juga pergi." Setelah mengirim kedua burung puyuh itu pergi, Kenzie kembali berbicara dengan Ayana.


Ayana tidak mau.


"Aku sudah melakukan bagian ku. Tak bisakah aku tinggal di sini bersama kalian? Aku...aku...juga lapar setelah seharian bekerja."


"Pergi. Aku sudah menghubungi suami kamu. Dia bilang sebentar lagi akan datang ke ruangan kamu. Jadi sebelum dia sampai ke sana lebih baik kamu segera angkat kaki dari ruanganku." Kata Kenzie sambil menunjukkan pesan di dalam ponselnya kepada Ayana.


Ayana merenggut tak senang namun buru-buru pergi. Suaminya pasti akan langsung berubah menjadi jahat setelah berbicara dengan Kenzie. Jadi dia agak takut membiarkan Kenzie berhubungan dengan Fatir.


Sekarang hanya mereka berdua di ruangan ini. Azira berdiri dan menunggu suaminya mengatakan sesuatu. Tapi suaminya tidak berbicara. Dan karena Azira sudah berdiri, maka dia menggantikan posisinya duduk di kursi tanpa bicara.


Azira merasa malu. Namun dia tidak berdiam diri dan segera mengeluarkan makanan yang dia bawa.


"Mas Kenzie mau makan siang?" Tapi tangannya sudah bergerak mengeluarkan makanan.


"Ya." Jawabnya singkat.


Azira tersenyum.


"Hari ini aku masak bubur buat mas Kenzie. Sesuai janji aku kemarin. Selain masak bubur aku juga masak beberapa lauk untuk mas Kenzie. Kalau mas Kenzie enggak mau makan bubur, maka mas bisa makan nasi yang sudah aku siapkan." Azira banyak bicara memperkenalkan makanan apa yang dia bawa hari ini.


Kenzie mengatakan 'iya' dan mulai makan.


Azira tahu suaminya sedang bersikap dingin kepadanya, tapi dia bersyukur karena siang ini Kenzie tidak sedingin tadi pagi.


"Mas Kenzie sudah sholat?" Tanya Azira proaktif memulai topik pembicaraan.


Dia mengangguk pelan sambil mengunyah makanan. Siang ini suaminya mengambil bubur untuk dimakan. Azira senang karena Kenzie menyukai bubur buatannya.


Sebenarnya semua makanan ini buatannya tapi bubur keluarganya yang paling berkesan di dalam hatinya.


"Oh.." Azira tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


Ruangan ini menjadi sunyi.


Azira berdiri diam memandang suaminya makan. Bingung tidak tahu harus melakukan apa, dia lalu duduk di sofa menonton suaminya makan.


Setelah menghabiskan buburnya, Kenzie beralih makan bekal yang lain.


Mata Azira langsung berbinar terang.


"Apakah buburnya enak, mas?"


"Enak. Buat lagi lain kali."


Azira mengangguk semangat.


"Aku akan membuatnya lagi besok." Janji Azira.


"Lalu bagaimana dengan nasinya, mas?" Dia bertanya lagi.


Kenzie mengangguk ringan.


"Masih seperti biasa, enak." Jawab Kenzie mulai fokus makan.


Azira tidak berbicara lagi takut suaminya tersedak.


Beberapa saat kemudian Kenzie sudah selesai makan. Azira langsung peka. Dia mengumpulkan semua piring-piring kotor dan membawanya ke kamar mandi untuk dicuci. Hari ini dia membawa sabun cuci piring dari rumah agar cuciannya lebih bersih.


Kembali dari kamar mandi suaminya sudah mulai membaca dokumen lagi. Sesekali tangan suaminya akan mengetik di depan komputer dengan kening berkerut.


Azira duduk di sofa menonton suaminya bekerja. Dia tidak membawa ponsel. Saat sedang bosan dia tidak punya pekerjaan lain di dalam ruangan ini..


Awalnya dia ingin membersihkan ruangan tapi suaminya melarang.


"Biarkan mereka berdua yang membersihkannya nanti."


"Oh, iya, mas."


Azira dengan patuh melepaskan pekerjaan dan duduk kembali di atas sofa. Bosan, kelopak matanya menjadi berat. Perlahan pandangannya menjadi kabur dan gelap. Dia akhirnya tertidur setelah sekian lama merasa bosan sendiri.


Kenzie mengangkat kepalanya dari dokumen ketika menangkap suara nafas ringan istrinya yang tertidur. Dia kemudian mengambil sesuatu dari laci dan berjalan mendekati Azira.


Disentuhnya wajah tertidur lelap Azira.


Istrinya tidak bereaksi ataupun merespon.


"Sangat mudah tertidur, hum?" Gumam Kenzie di samping Azira.


Dia lalu membentangkan kain selimut itu hingga menutupi sebagian tubuh istrinya. Memperbaiki posisi selimut di beberapa tempat sebelum mengusap wajah merah istrinya.


"Mimpi indah."


...*****...


"Dek, malam ini kamu kerja lagi?" Bibi Safa menyapa Humairah yang sedang duduk di ruang tamu bekerja.


Bibi Safa dan suaminya masih tinggal di rumah ini, sedangkan bibi Sifa dan suaminya sudah kama angkat kaki. Mereka telah membeli rumah baru di luar kota dan dengar-dengar sedang membangun bisnis mandiri.


Ketika bibi Sifa dan suaminya pergi, semua orang langsing menentang. Mereka tak mengizinkan bibi Sifa pergi dan melepaskan suaminya. Suami bibi Sifa adalah karyawan perusahaan yang sangat menjanjikan. Banyak ide-ide dikeluarkan olehnya.


Tapi bibi Sifa dan suaminya bersikeras. Mereka ingin mandiri apapun yang orang-orang katakan. Jadi dengan berat hati semua orang melepaskan mereka pergi.


"Iya, bibi Safa. Kebetulan kami kekurangan tenaga kerja makanya enggak bisa off. Emangnya kenapa, bi?"


"Bibi mau ngajak kamu pergi makan malam sama yang lain. Tapi kalau kamu enggak bisa pergi ya kita juga enggak pergi." Kata bibi Safa.


Humairah tidak enak hati.


"Kalian bisa pergi, jangan pedulikan aku. Di rumah sakit aku juga bersenang-senang." Kata Humairah mengerti kekhawatiran bibi Safa.


"Percuma saja. Ngomong-ngomong bagaimana kamu sama dia..." Bibi Safa bertanya ragu-ragu.


Humairah tersenyum pahit.


"Masih belum ada kemajuan. Kami berbeda shift, jadi aku enggak bisa berbuat apa-apa." Lalu dia tiba-tiba teringat dengan percakapannya dengan Ayana semalam.


"Dimana Ayah dan Mama?"


Bibi Safa tidak merasa ada sesuatu yang aneh.


"Mereka di taman belakang sama paman kamu."


Humairah mengangguk ringan. Dia segera menyingkir catatannya dan menutup laptop.


"Ayo pergi temui mereka. Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan."

__ADS_1


__ADS_2