Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 19.7


__ADS_3

"Mas?" Azira memanggil ragu.


Soalnya Kenzie hanya melihatnya saja tanpa berbicara. Membuat Azira lebih malu lagi.


"Kamu adalah milikku, mengerti?" Klaim Kenzie serius.


Azira tertegun dengan apa yang suaminya katakan. Tiba-tiba matanya terasa perih dan sakit. Sakit bukan karena kesedihan, tapi lebih karena bahagia, ini aneh, bukan?


"Iya, mas. Aku mengerti. Aku adalah milik mas Kenzie."


Kenzie tersenyum lembut,"Begitu pula dengan dirimu, karena kamu adalah milikku maka aku adalah milikmu. Kita saling memiliki satu sama lain."


Azira tidak tahu menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang. Di matanya Kenzie bukan orang yang pandai mengungkapkan cinta, terkesan kaku, tapi terasa manis. Namun mendengar apa yang dia katakan kepadanya malam ini, dengan tatapan dan suara yang begitu lembut, Azira seolah telah membuka dunia baru.


Ah... Kenzie juga bisa romantis. Pikirnya konyol.


"Baiklah, aku akan memegang apa yang mas Kenzie katakan. Mas Kenzie adalah milikku dan aku adalah milik mas Kenzie, dengan kata-kata mas ini aku tidak akan membiarkan mas Kenzie bermain dengan wanita lain di belakang ku!" Ancam Azira dengan ekspresi serius.


Tapi dia tidak tahu kalau ekspresi seriusnya ini terlihat agak konyol di mata suaminya. Bagaimana mungkin Azira bisa semanis ini?


"Tentu." Kata Kenzie berusaha menahan tawa.


Azira mendengus. Tertegun, dia mengangkat tangan kirinya panik. Cincin pernikahan yang ada di jari manis tiba-tiba menghilang. Azira merasa kedinginan. Dia jadi panik. Memegang jari jemarinya untuk memastikan bahwa mungkin saja dia sedang berkhayal, tapi kenyataannya ini nyata. Cincin pernikahannya hilang!


Hilang entah sejak kapan!


"Mas... Cincin ku hilang!" Kata Azira sambil menunjukkan tangan kiri ke hadapan wajah suaminya.


Perasaan cincin ini masih dia pakai saat keluar dari tenda tadi. Tapi tiba-tiba menghilang. Azira sangat ketakutan. Cincin itu sangat penting untuknya. Selain berharga tapi juga penting karena itu adalah pemberian dari Kenzie. Saksi bisu pernikahan mereka.


"Tidak hilang.." kata Kenzie sambil mengambil tangan Azira.


Azira menggelengkan kepalanya takut. Ini benar-benar hilang. Tanpa menunggu Kenzie melanjutkan lagi ucapannya, Azira berbicara lagi.


"Cincinnya hilang, mas. Aku yakin sebelum keluar dari tenda cincinku masih di tangan. Tapi tiba-tiba sekarang... Jari manisku terasa kosong dan setelah melihatnya, cincin itu hilang! Aku... Aku nggak tahu cincin itu hilang di mana. Aku harus mencarinya! Benar, mas. Mungkin saja cincin itu hilang di jalan tadi. Ayo pergi-" Azira buru-buru ingin pergi tapi Kenzie lebih dulu menarik tangannya.


"Azira jangan pergi." Cegah Kenzie.


Azira menggigit bibirnya gugup. Warna merah di wajahnya telah menghilang entah ke mana digantikan oleh warna pucat yang menyedihkan.


"Tapi cincin pernikahan kita hilang..." Air mata mulai memenuhi mata Azira.


Dia sangat takut dan sedih pada saat yang sama. Bagaimana bisa dia menghilangkan hal sepenting itu!


"Dengarkan aku, istriku. Lihat," Kenzie mengangkat tangan kanannya memperlihatkan dua cincin pernikahan.


Salah satunya adalah milik Azira. Dan satunya lagi milik Kenzie.


"Cincinnya tidak hilang. Ada ditangan ku sekarang." Lanjutkan Kenzie berbicara.


Setelah melihat cincin pernikahan itu ada di tangan suaminya, barulah Azira merasa nyaman. Dia menghela nafas lega. Bahunya yang tegang tadi perlahan mengendur seiring dengan kelegaan yang mulai merayapi hatinya.


"Kenapa cincin itu ada di tangan, mas Kenzie? Aku tidak ingat pernah memberikan cincin ini kepada mas Kenzie."


Kenzie tersenyum lebar. Memainkan kedua cincin ini seakan-akan keduanya tidak terlalu berharga.


Melihatnya saja membuat Azira ngeri. Ini benda kecil, kalau sampai jatuh dan menggelinding entah ke mana, mereka akan kesulitan mencarinya.


"Oh, aku mengambilnya sendiri saat kita berbicara tadi. Cincin ini tidak bisa kita pakai lagi." Jelas Kenzie blak-blakan.


"Kenapa?" Azira tidak rela.


Kenzie menatap kedua cincin di tangan kanannya dengan ekspresi bermartabat sebelum beralih menatap wajah cantik istrinya yang menawan.


"Karena ini bukan cincin pernikahan kita, melainkan cincin pernikahan Humairah. Bukan aku yang membeli cincin ini, melainkan Humairah yang membeli cincin ini. Awalnya aku tidak berpikir terlalu jauh karena, toh, aku juga sudah mengganti uangnya. Tapi saat aku memutuskan untuk membina rumah tangga yang serius dengan kamu, tiba-tiba aku berpikir kalau pernikahan ini tidak lengkap kalau aku tidak memberikan kamu cincin yang aku pilih dan beli sendiri. Jadi setelah dipertimbangkan, aku memutuskan untuk mencari cincin pernikahan yang baru untuk kita dan berencana memberikan kamu di waktu yang tepat. Aku rasa malam ini adalah waktu yang tepat untuk kita berdua."

__ADS_1


Sambil menjelaskannya kepada Azira, dia mengambil kotak kosong dari dalam ransel. Melemparkan kedua cincin itu ke dalam tanpa hati-hati. Setelah itu dia membuang kota itu ke dalam ransel.


Di mata Azira sekarang, Kenzie memperlakukan cincin itu selayaknya seperti benda biasa-biasa saja tanpa nilai penting.


"Azira," tangan Kenzie terulur ke depan Azira, memperlihatkan sebuah kotak cincin pernikahan indah yang belum pernah Azira lihat dalam hidupnya.


"Mas?" Jantung Azira berdebar, kedua tangannya gemetaran merasakan euforia kebahagiaan yang berpacu kuat di dalam hatinya.


"Mungkin ini sedikit terlambat, tapi aku ingin tetap mengatakan dan melakukannya." Tersenyum lembut, matanya yang gelap menatap Azira dengan kelembutan yang begitu tulus.


"Istriku, ayo hidup bersama dan jadilah pendamping hidupku selama hidupmu. Jadilah Ibu dari anak-anakku di dunia ini, bidadari duniaku dan menjadi wanita surgaku di akhirat. Maukah kamu, istriku?" Tersenyum dalam,"Sejujurnya aku tidak membutuhkan penolakan." Sebab, semenjak kamu masuk ke dalam hidupku dan menarik perhatianku, maka sejak itu pula kamu tidak bisa melarikan diri dariku. Batin Kenzie di dalam hati.


Azira langsung tertawa mendengar kalimat terakhir suaminya. Berhubung suaminya tidak menerima penolakan, maka Azira tidak punya pilihan selain menyetujui permintaan suaminya.


"Jika mas Kenzie tidak menerima penolakan, maka aku hanya bisa mengatakan, aku mau memenuhi semua keinginan mas Kenzie, menjadi istri dan pendamping seumur hidup mas Kenzie, menjadi ibu untuk anak-anak mas Kenzie kelak, berusaha menjadi bidadari dunia mas Kenzie, dan atas ridho Allah subhanahu wa ta'ala serta mas Kenzie, insya Allah aku akan menjadi wanita surga untukmu, mas. Aku mau dan aku bersedia untuk kamu, mas."


Ini bukanlah janji biasa, melainkan janji yang Azira katakan dari dalam lubuk hatinya. Dia tidak berbicara omong kosong. Melainkan bersungguh-sungguh mendedikasikan sisa hidupnya untuk suami dan keluarganya di masa depan. Dia mencintai suaminya, berharap bahwa kehidupan suaminya senantiasa dipenuhi oleh kebahagiaan. Dan Azira bersedia menyediakan kebahagiaan itu untuk suaminya. Melahirkan anak-anak untuknya, membesarkan anak-anak untuknya, dan melayani suaminya dengan sepenuh hati, Azira sungguh sangat bersedia.


Memangnya alasan apa yang dia miliki untuk menolak suaminya?


Tidak, tidak, tidak!


Allah tahu betapa bahagianya dia semenjak masuk ke dalam keluarga suaminya. Mereka semua sangat baik. Memperlakukannya dengan baik pula, maka mustahil jika Azira menolak tinggal.


Ditambah lagi di sini ada suaminya. Cinta pertama yang berhasil membuatnya sering tersenyum. Jangankan melihatnya langsung atau saling menyentuh, hanya memikirkannya saja sudah membuat dirinya berbunga-bunga.


Sungguh, dia sungguh tidak akan pernah melepaskan semua kebahagiaan ini. Ini adalah kebahagiaan yang Allah berikan kepadanya setelah penantian panjang dalam penderitaan. Ini merupakan buah kesabarannya setelah sekian lama terjebak dalam lubang keputusasaan.


Ini adalah hadiah dari Allah, pemilik cinta yang senantiasa ada bersamanya.


"Pegang kata-katamu. Jika kamu berlari Azira, ingatlah ini baik-baik, maka aku akan sangat marah." Ancam Kenzie bersungguh-sungguh.


Azira tertawa kecil.


"Aku akan mengingatnya baik-baik."


"Sangat cantik..." Bisik Kenzie memuji.


Cincin itu sangat pas di jari manis Azira dan terlihat sangat cantik.


Azira malu. Dia mengambil cincin putih yang lain. Ini adalah cincin platinum biasa tanpa hiasan apapun. Namun yang membuatnya berbeda adalah ada nama Azira yang terukir cantik di sisi dalam cincin. Saat melihat namanya di sana, mata Azira kembali basah untuk luapan kebahagiaan yang terus-menerus melimpahi dirinya malam ini.


"Sangat tampan." Puji Azira malu-malu setelah menyelipkan cincin itu di jari manis suaminya.


Dia mengangkat kepalanya tersenyum cerah kepada sang suami.


Tanpa peringatan apapun, Kenzie merendahkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya untuk memegang kepala Azira, lalu, sebuah sentuhan yang lembut nan manis menghidupkan saraf-saraf di kepala Azira.


Kenzie mencium bibir Azira dengan mata tertutup. Menginvasi setiap celah di dalam mulut hingga Azira tidak bisa bernafas lagi.


Barulah setelah Azira menepuk kuat pundaknya, Kenzie melepaskan bibir Azira dengan enggan. Menyisakan benang saliva yang terbentang diantara bibir mereka.


"Ayo mandi?" Ajak Kenzie dengan suara serak.


Wajah Azira merona terang. Suara nafasnya tidak teratur karena kekurangan oksigen. Dia berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menutupi oksigen di dalam paru-parunya.


"Humm...ayo."


Tersenyum puas. Kenzie mengecup kening istrinya sebelum berbalik mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya.


Azira sudah lama penasaran dengan isi tas suaminya. Apa yang suaminya bawa ke sini, mungkinkah baju ganti atau pakaian tidur?


Azira diam-diam menebak. Beberapa detik kemudian dia langsung kehilangan senyum saat melihat baju apa yang sedang dipegang oleh suaminya.


Kata orang sih ini baju dinas, tapi bentuknya aneh. Terlalu banyak bolong-bolong, hampir tidak ada kain. Melihatnya saja sudah membuat wajah Azira panas karena malu, apalagi kalau sampai memakainya.

__ADS_1


Ini sangat memalukan!


"Mas ini..." Azira ragu-ragu berbicara.


Kenzie tersenyum lebar tanpa rasa bersalah di wajah. Dengan santai dia memberikan baju ini kepada Azira untuk segera digunakan.


"Ini cocok untuk kamu."


Mulut Azira berkedut tertahan,"Kenapa harus menggunakan baju seperti ini, mas? Sekalian saja enggak usah pakai baju biar enggak ribet."


Kenzie mengangguk setuju.


"Tentu saja, pada akhirnya kamu tidak akan menggunakan baju juga. Tapi untuk pemanasan, pakai dulu baju ini. Percayalah, kamu sangat cocok menggunakannya."


Ah, Azira rasanya ingin berteriak.


Kenapa suaminya bisa seperti ini!


"Baik-baiklah, selama mas suka aku akan menggunakannya!"


Azira melarikan diri ke dalam toilet untuk ganti baju. Demi menggunakan baju ini, Azira berusaha menahan rasa malunya. Um, demi membahagiakan suaminya, apapun akan dia lakukan.


Keesokan harinya mereka berdua baru kembali ke tenda setelah shalat zuhur. Awalnya Azira mau kembali ke tenda pagi-pagi, tapi suaminya melarang karena masih ingin bermain. Barulah setelah mereka selesai shalat zuhur, Kenzie mau kembali ke tenda.


Berhubung di sini hawanya dingin dan sinar matahari tidak terlalu terik, orang-orang masih sibuk beraktivitas di luar meskipun sudah siang hari.


"Yo, yang baru saja pulang setelah bersenang-senang, bagaimana pemandian air panas? Bukankah lebih menantang?" Suara ambigu Ayana menyambut kedatangan mereka.


Wajah Azira langsung merona. Dia menundukkan kepalanya dan memilih untuk bungkam tidak mau mengatakan apapun.


"Kamu dan Fathir lebih tahu, ngomong-ngomong terima kasih telah memberikan kami referensi." Ucap Kenzie datar.


Ayana memutar bola matanya malas.


"Sama-sama. Azira, dari kemarin kamu terus bersama kak Kenzie sampai-sampai tidak ada waktu bermain bersama kami. Ini hari terakhir kita di sini, kenapa kita tidak pergi bermain bersama-sama?" Ayana bergegas menghampiri Azira.


Dia berencana untuk pergi bermain bersama Azira dan dua curut itu. Dari kemarin mereka tidak punya waktu untuk berkumpul bersama. Padahal sebelum pergi ke sini mereka sudah punya rencana untuk bermain bersama-sama.


Azira mengangkat kepalanya menatap sang suami.


"Apakah aku boleh pergi, mas?"


Kenzie membuka mulutnya mau menolak. Tapi saat melihat mata penuh harapan istrinya, dengan enggan dia akhirnya menyetujui.


"Pergilah. Tapi jangan main jauh-jauh dan jangan lama-lama, mengerti?"


Azira sangat bersemangat. Dia menganggukkan kepalanya cepat tanda mengerti.


"Assalamualaikum, mas." Mencium tangan suaminya dan langsung pergi sambil menarik tangan Ayana."Ayo pergi, Ayana."


Dia berjalan cepat seolah sedang melarikan diri. Lagian Kenzie terlalu keras semalam dan tidak mau mendengarkan, jadi Azira kesal dan menggunakan kesempatan ini untuk menjaga jarak dari suaminya!


Ugh, ini sangat memalukan!


Sementara itu Kenzie berdiri kosong menatap kepergian istrinya. Tak berselang lama dia tertawa kecil menebak apa yang sedang dipikirkan istrinya. Dia tahu bahwa istrinya sedang marah gara-gara tadi pagi. Ini memang murni kesalahannya. Jika dia tidak memaksa istrinya untuk tetap tinggal, maka mungkin Azira tidak akan sekesal ini. Tapi siapa yang meminta istrinya terlalu manis dan mempesona?


Kenzie sama sekali tidak berdaya di bawah tatapan imut Azira.


...*****...


"Ya Allah, kak Azira akhirnya keluar juga. Tadi pagi kita udah cari-cari tapi nggak ketemu. Tenda kakak juga kosong. Ke mana kalian pergi pagi-pagi?" Mona penasaran.


Tadi pagi dia dan Sasa mencari Azira ke tenda. Niatnya mau pergi jalan-jalan bersama di danau sambil olahraga. Tapi Azira tidak ada di tenda dan saat dihubungi pun tidak menjawab. Mereka bingung mau mencari kemana. Karena baik telepon Azira dan Kenzie tidak merespon.


Ayana tertawa,"Kak Kenzie bawa Azira olahraga berat. Kalian anak kecil enggak tidak akan bisa mengikuti mereka." Sahut Ayana bercanda.

__ADS_1


Apa yang dia katakan tersamarkan. Untung saja Sasa dan Mona tidak berpikir sejauh itu. Mereka menerima begitu saja jawaban Ayana dan berpikir positif kalau pasangan ini mungkin benar-benar pergi berolahraga.


"Oh, begitu. Kak, mau naik perahu enggak?" Sasa menunjuk perahu di pinggir danau.


__ADS_2