
"Biasa, dia sedih melihat Kenzie dengan Azira." Kata bibi Safa menjelaskan.
Kurasakan mama menghela nafas panjang. Dia pasti sangat sedih melihatku menderita.
"Okay, ayo lupakan semuanya, Nak. Kenzie sudah bahagia bersama Azira, maka kamu pun harus berjalan maju ke depan. Tunjukkan bahwa kamu bisa lebih bahagia dari mereka." Bisik mama kepadaku.
Aku tersenyum tipis, tapi tidak mengatakan apa-apa.
...*****...
Frida dan orang tuanya sudah lama berada di sini. Maunya semalam menginap di rumah ini tapi orang tuanya tidak memberikan izin. Bukannya mereka tidak mau memberikan izin, sebagai orang tua mereka juga mau anak mereka tinggal di rumah ini. Rumahnya bagus dan fasilitasnya baik. Tapi mereka tidak bisa melakukan itu karena masalah yang telah ditimbulkan oleh Putri mereka beberapa waktu yang lalu. Sekalipun Umi tidak melarang Frida datang ke rumah ini, tapi Umi pasti tidak membolehkan Frida untuk bermalam di rumah ini. Mau bagaimana lagi, bibi Indring dan paman Roni tidak ingin merusak hubungan keluarga lagi. Dengan amat sangat terpaksa mereka membiarkan Frida menginap di salah satu hotel.
Bahkan pergi ke acara ini Frida telah diceramahi habis-habisan. Dia dilarang melakukan ini,dilarang melakukan itu, pokoknya jangan sampai lagi membuat masalah yang berakibat fatal kepada hubungan kekeluargaan mereka.
Frida sebenarnya sangat marah. Berbulan-bulan tidak bertemu dengan Kenzie, hidupnya sungguh tersiksa. Dan bahkan yang paling membuatnya frustasi adalah kedua orang tuanya menjodohkan dia dengan laki-laki lain agar bisa melupakan Kenzie, sebab kedua orang tuanya percaya bahwa tidak ada peluang lagi untuk Frida di antara Kenzie dan Azira.
"Muka Mama kenapa sebel banget?" Tanyanya dengan nada malas.
Dia memainkan cermin di depan matanya. Melihat apakah penampilannya tidak mengalami masalah. Khusus menghadiri acara hari ini dia sengaja menggunakan gamis berwarna merah muda yang menarik mata. Model gamis yang dia beli adalah model terbaru yang dikeluarkan salah satu butik kesayangannya di kota. Pihak butik bilang hanya ada satu gamis ini di sini, dan menurut Frida warna maupun modelnya sangat cocok, tampak manis karena memiliki sisi penampilan gadis muda yang tengah mekar.
Bibi Indring yang sedang kesel langsung sakit gigi melihat tingkah laku putrinya.
Dia kembali entah dari mana.
Wajahnya tampak muram seperti menahan amarah. Frida bingung, beberapa saat yang lalu bibi Indring masih baik-baik saja tapi kenapa tiba-tiba, hanya dalam waktu yang sangat singkat bibi Indring terlihat marah.
"Mama kan udah bilang kamu nggak boleh bersikap konyol di sini. Udah, sembunyikan cermin kamu." Bibi Indring menekan tangan Frida yang sedang memegang cermin turun.
Dia malu melihat putrinya seperti ini.
Frida mendengus tapi tidak melawan.
"Aku cuma mau mastiin kalau make up aku nggak kenapa-napa, kok." Dia membuat pembelaan.
"Make up kamu baik-baik aja, kamu masih cantik." Pujinya.
Frida tentu saja senang dipuji. Dia tersenyum manis dan beralih memegang lengan kurus bibi Indring.
"Terima kasih atas pujian mama. Tapi ma, ada masalah apa? Kok muka mama bete gitu?"
Bibi Indring menghela nafas panjang. Setelah berbicara dengan Kenzie tadi, dia tidak bisa terus tersenyum lagi. Dia merasa sangat mengeluh ditolak mentah-mentah oleh Kenzie. Sikap Kenzie kepadanya tidak terlalu sopan. Padahal bibi Indring adalah keluarganya, sebagai keluarga, sudah sewajarnya Kenzie membantu. Tapi Kenzie malah menolaknya mentah-mentah demi menemani Azira. Cek, dia ingin marah tapi tidak bisa melampiaskan karena dia dan suaminya sangat mementingkan Kenzie.
"Mama tadi sempat minta tolong sama Kenzie. Mama mau minta bantuan sama dia untuk memperkenalkan Papa kamu kepada teman-teman bisnisnya. Tapi dia malah menolak mama dengan alasan Azira kewalahan terlalu banyak bergerak. Padahal kalau dia niat ingin membantu, bisa saja dia meninggalkan Azira di sana." Kata bibi Indring menjelaskan.
Saat mendengar bibi Indring menyebut nama orang yang paling dia benci, wajah Frida langsung mengerut. Dia sudah tidak puas dengan Azira dulu dan sekarang pun semakin tidak puas ketika mengetahuinya hamil. Pokoknya permasalahan dulu masih teringat jelas di dalam kepalanya. Dia membenci Azira, berharap bahwa Azira dan Kenzie akan segera berpisah. Tapi yang membuatnya sangat kesal, sudah beberapa bulan berlalu bukannya mendapatkan kabar baik dia malah mendapatkan kabar buruk!
Betapa hancur hatinya ketika menerima undangan acara 7 bulanan Azira. Seolah-olah hatinya sudah ditarik!
"Ma, jangan heran sama kelakuan rubah betina itu. Awal menikah saja dia sudah bisa mempengaruhi mas Kenzie, apalagi sekarang setelah dia hamil. Semakin menjadi-jadi dia jadinya." Ucap Frida mengejek.
"Hust, hati-hati dengan mulut kamu. Marah boleh, tapi jangan asal bicara. Ingat di mana kamu sekarang! Ada banyak pasang telinga yang akan mendengarnya. Jika sampai Kenzie dan yang lainnya tahu, bisa habis kamu. Apa kamu nggak kapok dengan masalah yang kamu ciptakan beberapa bulan yang lalu? Belum kapok kamu?" Suara dingin Paman Roni menegur Frida.
Frida sangat ketakutan. Dia tidak tahu kalau Paman Roni ada di sini. Padahal Paman Roni tadi pergi berkenalan dengan beberapa orang ke arah lain, tapi kenapa dia tiba-tiba muncul dari arah sebaliknya?
"Papa... Aku nggak asal bicara, kok. Apa yang aku bilang itu benar." Kata Frida dengan suara mencicit.
Paman Roni menatap nyalang putrinya yang bebal. Gara-gara masalah itu yang kena imbasnya adalah mereka.
"Masih tidak mau mendengarkan? Kalau kamu begini terus lebih baik pulang saja, papa nggak mau menerima resiko apapun gara-gara kamu lagi!" Marah Paman Roni kepada putrinya.
"Ma.."
Leher Frida mengkerut ketakutan. Dia berjalan mundur bersembunyi di balik punggung bibi Indring. Bila Paman Roni sudah marah, Frida pasti akan mendapatkan masalah. Orang tuanya ini agak ketat.
__ADS_1
Bibi Indring mengelus punggung tangan putrinya berniat menghibur.
"Pa, jangan terlalu keras kepada Frida. Dia berkata begitu karena marah gara-gara aku ditolak sama Kenzie tadi. Dia tidak bermaksud membuat masalah untuk kita."
Paman Roni mendengus dingin.
"Terserah apapun alasannya. Kamu harus mengontrol mulut putri kamu agar jangan membuat masalah lagi." Paman Roni tidak melembutkan hatinya.
Bibi Indring mengangguk lemah.
"Dengarkan apa yang papa kamu bilang. Tetap di samping mama dan berhenti mengatakan hal yang buruk." Kata bibi Indring kepada putrinya.
Frida mengangguk layu. Dia memegang tangan bibi Indring di bawah pengawasan paman Roni. Dia tidak berani berkutik setidaknya sampai paman Roni pergi. Di dalam hati lagi-lagi dia menyalahkan semua ini kepada Azira, bila Azira tidak meninggalkan bekas luka kepadanya, semua ini tidak akan terjadi.
"Okay, ayo pergi." Kata bibi Indring sambil menarik putrinya pergi.
Bibi Indring, Paman Roni, dan Frida pergi berkumpul dengan keluarga yang lain. Mereka mengobrol sebentar hingga sholat ashar akhirnya datang. Mereka semua kemudian berpisah untuk segera melaksanakan shalat ashar berjamaah.
Frida dan bibi Indring mendapatkan saf tengah.
Awalnya Frida ingin shalat bersama Azira. Tapi dia tidak tahu di mana Azira sholat. Kesal, terpaksa dia shalat di samping bibi Indring. Selanjutnya acara dilalui dengan perasaan membosankan. Untung saja imam yang memimpin shalat adalah Kenzie. Dengan suara selembut dan membuat candu itu, rasa rindu di dalam dada Frida setidaknya terobati. Saat melaksanakan sholat dia membayangkan bila dirinya sedang shalat di belakang Kenzie. Menjadi makmum satu-satunya untuk Kenzie, ah... Sayang sekali imajinasinya ini berakhir setelah salam terakhir.
Dia kembali ke kenyataan yang menyedihkan.
Habis sholat dan mendengarkan pengajian, Frida akhirnya melihat Kenzie. Dirinya langsung dibuat terpesona oleh penampilan Kenzie hari ini. Selalu terlihat tampan dan menawan, jantungnya langsung menggila di dalam dada.
Dia sangat gugup.
"Mas Kenzie-"
"Azira."
Panggilannya tak sampai karena Kenzie langsung menghampiri Azira. Ternyata orang yang dia cari melaksanakan sholat di sofa belakang. Kedua tangannya langsung mengepal menahan cemburu. Mungkin dia merasa lebih gila lagi ketika melihat permukaan besar perut Azira.
"Pasti bayinya kembar." Frida mendengarnya.
Dia tidak mau mendengar suara-suara ini tapi tetap saja, dia tidak bisa mengendalikan telinganya untuk mendengar suara-suara ini.
Sangat menjengkelkan.
"Aku juga mikir begitu. Dengan perut besar itu, aku lebih percaya jika bayinya kembar." Seseorang menimpali.
"Ah... Pasangan yang sangat bahagia. Ayahnya tampan dan ibunya juga cantik, anak-anak yang dilahirkan pasti tampan juga cantik cantik. Semoga saja aku diundang kembali ketika acara syukuran atas kelahiran anak-anak mereka. Aku ingin tahu seberapa manis anak-anak mereka."
Frida tidak tahan lagi mendengarnya. Dia mendengus dingin. Matanya masih tertuju kepada pasangan suami istri di depan. Tingkah mereka mesra tanpa kepura-puraan, Frida tidak bodoh untuk tidak melihat ada cinta di mata mereka berdua. Tapi...tetap saja... Dia tidak rela. Jauh di dalam hati dia selalu berharap bahwa orang yang harus menikah dengan Kenzie adalah dia, dan bukan Azira apalagi orang lain.
"Jika aku tahu cara curang dapat merebut hati mas Kenzie dulu, maka pasti bukan giliran Azira yang melakukannya. Itu aku, demi mendapatkan cinta mas Kenzie aku rela melakukan apapun." Bisik Frida tenggelam dalam pikirannya.
"Dia terlihat sangat bahagia di rumah ini." Bisiknya sedih.
Dari tempatnya berdiri sekarang dia melihat Umi datang menghampiri pasangan suami istri itu. Entah apa yang Umi katakan kepada Azira, senyuman yang menghangatkan hati tak pernah lepas dari wajah Umi. Sesekali Umi akan menyentuh kepala Azira, kemudian mengelus pundaknya. Lalu beberapa detik kemudian Kenzie mengecup permukaan perut besar Azira, bangun dan membantu Azira bangun dari sofa. Selama proses Kenzie terlihat sangat berhati-hati. Dia memegang Azira, melingkari pinggang Azira sebelum melangkah bersama-sama. Umi juga tidak menganggur. Dia memegang tangan Azira dan berjalan bersama-sama. Mereka terlihat sangat perhatian kepada Azira.
Oh, bahagianya. Wanita manapun di tempat ini pasti cemburu melihat kedekatan Azira dengan suami serta mertuanya. Baik suami maupun mertua sama-sama perhatian, menjaga Azira dan memperlakukannya dengan baik. Bagi mereka yang tidak beruntung di rumah, tinggal bersama suami yang kurang pengertian atau mertua yang cerewet, tentu saja melihat kehidupan Azira bagaikan sebuah mimpi.
"Inilah yang membuat aku heran, Azira. Kamu telah melakukan suatu kejahatan, menghancurkan kehidupan adik kamu sendiri, tapi mengapa Allah masih memberikan kamu kebahagiaan? Sementara aku dan yang lainnya, kami telah melakukan banyak cara dan upaya untuk merebut hati mas Kenzie, tapi kenapa Allah tidak berpihak kepada kami? Sebenarnya apa yang telah kamu lakukan di dunia ini hingga membuat Allah menyandingkan kamu dengan mas Kenzie? Hidup di tempat kumuh dengan kejahatan di mana-mana, mungkinkah hatimu masih bersih? Mungkinkah kamu masih memiliki kehormatan mu?" Gumam Frida merenung, memikirkan semua yang telah membuatnya kebingungan.
Takdir memang rahasia Allah. Tapi... Bisakah takdir berjalan dengan rasional?
...*****...
Azira perlahan melangkah menuju Ayah dan mama. Setiap langkahnya diwarnai kegugupan. Dia gelisah namun sangat beruntung karena dia melaluinya tidak sendirian.
Beberapa menit kemudian, dia dan suami serta Umi akhirnya berdiri tepat di depan Ayah juga mama. Ayah berhenti mengobrol dengan teman kenalannya, menoleh ke samping, dia baru menyadari bila Azira sudah ada di sini dan kini berdiri tepat dihadapannya.
__ADS_1
Melihat Azira sekarang, ayah langsung terdiam. Mata tuanya menatap bingung penampilan putrinya yang pernah disia-siakan. Mungkin karena terawat dengan baik, wajah Azira lebih cantik, berkali-kali lebih cantik dari terakhir kali mereka bertemu. Mata aprikot nya bersinar terang, menyunggingkan sebuah senyuman manis di wajah cantik nan gembilnya.
Untuk sesaat ayah dibawa kembali mengingat kenangan lebih dari 20 tahun yang lalu. Saat itu seorang gadis desa yang berparas cantik menatapnya dengan senyuman yang sangat manis. Gadis itu seperti halnya citra gadis-gadis desa lainnya, dia suka tersenyum, memiliki sikap yang sederhana, dan berhati polos pula. Ayah ingat bahwa senyuman itulah yang membuatnya sampai jatuh hati kepada gadis desa itu.
Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama, tanpa pantangan apapun mereka memutuskan untuk menikah di desa. Pada saat itu Ayah berhasil menjadi musuh yang paling dibenci oleh para bujangan di desa karena Ayah berhasil merebut kembang desa yang dikejar-kejar oleh para bujangan desa.
Saat itu sangat menyenangkan dan menjadi salah satu momen yang paling berharga.
"Assalamualaikum, ayah, ma?" Suara berat Kenzie mengaburkan ayah dari lamunan panjangnya.
Ayah tersadar, melihat Kenzie mencium tangannya dan mama. Sementara Umi hanya menangkup tangannya sopan di depan Ayah dan Mama. Lalu bagaimana dengan Azira?
Dia hanya berdiri diam memandangi Ayah dan Ibu tirinya. Hampir setahun tidak bertemu sejak terakhir kali, Ayah terlihat lebih tua dan Mama juga agak kuyu. Ayah sekarang memiliki banyak rambut putih di kepalanya. Padahal seingat Azira, rambut Ayah tidak seramai ini putihnya.
"Ah...ya, waalaikumsalam." Jawab ayah sambil mengusap wajahnya.
Melihat penampilan Azira sekarang mengingatkannya pada mantan istri pertamanya. Sekali melihat dia langsung tahu bahwa kecantikan Azira menurun dari mantan istrinya itu.
"Ayah, jangan linglung." Mama mencubit lengan ayah agar kembali fokus.
Dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh suaminya. Mungkin saja dia sedikit terkejut melihat perubahan Azira, karena mama pun juga merasakannya. Sekarang melihat penampilan Azira, mulai dari cincin kawin bertahtakan berlian muda, gelang di tangan yang Azira pakai ditangan kiri tak kalah mencolok karena bertaburkan berlian biru. Belum lagi kalung... Sayang sekali mama tidak bisa melihatnya. Barang-barang ini tidak banyak, tapi harganya jauh lebih mahal dan apa yang dia pikirkan. Melihat semua perhiasan yang dia kenakan tidak sebanding dengan apa yang Azira pakai. Mama tahu jika cincin pernikahan dan gelang itu memiliki harga nominal yang sangat tinggi.
Pasti sangat mahal, pikirnya. Kemudian matanya menunduk melihat kotak hadiah yang sedang dia pegang. Ini juga perhiasan, sebuah gelang biasa. Dibeli langsung oleh bibi Safa dan harganya tidak mahal untuk ukuran mereka. Mama sudah melihatnya. Dia kira gelang ini pantas untuk Azira, si udik desa yang belum pernah melihat dunia, tapi sekarang... Dia ragu memberikan gelang ini kepada Azira. Takutnya mempermalukan diri sendiri.
"Apakah Ayah sudah lama datang?" Suara Kenzie menarik perhatian ayah dan mama.
Ayah tersenyum tipis.
"Kami baru datang. Hari ini agak jalanan macet, jadi kamu datang terlambat." Ayah membuat alasan asal-asalan.
Dia berbohong.
Azira ragu tapi tidak bereaksi apa-apa. Toh, hadir atau tidaknya sama saja.
"Um, bagaimana acara hari ini? Apakah berjalan lancar?" Ayah bertanya kepada Azira.
Azira tersenyum. Tangannya dengan patuh memeluk lengan suaminya. Sikapnya menunjukkan bahwa dia tidak mau berbicara.
"Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, ayah. Kami sangat senang mengetahui ayah datang ke sini. Meskipun ayah sedikit terlambat, tapi tidak masalah, selama ayah datang ke sini maka semuanya baik-baik saja." Kenzie lah yang berbicara.
Mama mengernyit tidak senang. Suaminya sedang berbicara kepada Azira tapi diabaikan. Dia merasa tersinggung sebab suaminya merasa tidak dihormati oleh Azira. Namun berhubung di sini ada Umi dan suaminya pun tidak marah dengan perlakuan Azira, Mama terpaksa menahannya dalam diam.
"Syukur alhamdulillah. Lalu apa agenda selanjutnya?" Kali ini ayah berbicara dengan Kenzie.
Kenzie masih tersenyum.
"Acara selanjutnya tentu makan-makan. Ayah, Ma, kenapa kita tidak duduk di sana? Duduk sambil berbicara jauh lebih nyaman daripada kita berdiri di sini." Kenzie mempersilahkan dengan tangan kanannya.
Ayah mengangguk ringan. Dia juga merasa berdiri di sini terlihat tidak bagus karena ditonton banyak orang. Jika hubungan mereka baik-baik saja maka tidak masalah. Tapi sayangnya hubungan mereka agak kaku, jadi lebih baik menyingkir dan mencari tempat duduk untuk mengobrol.
"Baiklah, ayo, Ma."
Mama tersenyum tipis dan mengikuti suaminya berjalan ke sofa yang ditunjuk oleh Kenzie tadi. Mereka berjalan di depan berdua sementara Umi dan Kenzie menemani Azira. Sepanjang jalan menuju ke sana, mereka mendapatkan berbagai macam tatapan dari banyak orang. Mama merasa bangga, tapi pada saat yang sama dia juga kesal. Untuk menghormati mereka berdua sebagai keluarga mertua, Umi seharusnya berjalan di depan ikut dengan mereka berdua. Tapi Umi tidak melakukan itu dan lebih memilih menemani Azira. Jangankan mengambil tugas sebagai pemandu, Umi dari awal tidak pernah mengambil inisiatif untuk berbicara dengan mereka.
Hal ini sangat menjengkelkan. mama merasa bahwa mereka berdua tidak terlalu dihormati oleh keluarga ini. Padahal sewaktu Humairah masih berhubungan dengan Kenzie dulu, hubungan mereka baik-baik saja. Malahan bisa dibilang sangat dekat, seolah-olah mereka pernah memiliki hubungan darah sangking dekatnya. Tapi setelah Azira masuk ke dalam rumah ini semuanya seketika berubah. Mereka bersikap seolah tidak saling mengenal dan bahkan terkesan acuh tak acuh.
Semua ini gara-gara Azira. Kalau saja aku menolak permintaan Ayah dulu untuk membawa Azira pulang ke rumah, hidup kami tidak akan jatuh sesulit ini. Putriku tidak akan menderita, dan mungkin hari ini orang yang melakukan syukuran 7 bulan adalah putriku dan mungkin beberapa bulan kemudian aku sudah memegang cucu yang manis. Bila Azira tidak datang ke rumah kami, aku tidak akan menghabiskan waktu waktuku untuk berpikir keras mencari solusi kebahagiaan putriku yang malang. Selain itu hubungan kami dengan keluarga ini juga tidak akan meregang sejauh ini, kami tidak akan terasing satu sama lain. Semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana dan harapan kami. bisnis suamiku akan berkembang pesat dan putriku hidup bahagia bersama Kenzie, seharusnya inilah skenario yang terjadi. Bukan seperti ini. Andai saja aku membuang Azira sejauh-jauhnya, menyingkirkan pembawa sial yang akan menghancurkan kehidupan putriku. Ya, andai saja aku melakukan itu. Memang benar orang yang bertunangan dengan Kenzie adalah Azira, tapi siapa yang peduli? selama Azira menghilang, putriku akan baik-baik saja dan keluarga kami pasti sudah melangkah jauh. Namun Azira menghancurkan semuanya. Persis seperti yang ibunya lakukan kepada suamiku dulu. Berani-beraninya dia merayu Ayah, padahal di saat itu aku sudah bertunangan dengan Ayah. Huh, memang apa yang dikatakan pepatah ini benar bahwa buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, sifat ibu akan menurun kepada anaknya, dan sifat licik seorang ibu akan menurun juga kepada anaknya. Contohnya Azira. Dia dan ibunya sama saja, sama-sama perebut suami orang. Untung saja Ibu Azira sudah meninggal, kalau tidak, aku sendiri yang akan menghancurkannya! Batin mama benci.
Benar sekali, semuanya berawal dari kedatangan Azira di rumah mereka. Diam-diam menebarkan racun untuk membinasakan kebahagiaan Humairah. Mama sudah membenci Azira karena terlahir dari wanita yang telah merebut Ayah dulu. Dan karena masalah ini kebencian Mama semakin dalam kepada Azira. bagaimana dia tidak marah?
Dulu Ibu Azira, wanita udik desa yang bermimpi mendapatkan laki-laki kaya di kota secara terang-terangan merayu Ayah yang saat itu berstatus sebagai tunangannya. Karena rayuannya, Ayah terpaksa menikahi wanita itu hingga menghasilkan benih liar ini. Untunglah pada saat itu ayah langsung tersadar dari rayuan wanita itu. begitu pekerjaannya selesai di desa, Ayah langsung berkemas dan pergi meninggalkan wanita itu. Mencampakkan wanita itu dan kembali pulang ke kota. Meskipun wanita itu sudah mengandung Azira, benih liar yang menjijikkan, Ayah tidak pernah mengakuinya. Sampai pada akhirnya mereka mendengar kabar kematian wanita itu, dengan amat sangat terpaksa Ayah membawa Azira pulang ke rumah hingga menimbulkan malapetaka ini.
Sungguh, Mama memiliki dua penyesalan di dunia ini. Pertama, membiarkan Ayah pergi ke desa untuk bekerja waktu itu dan kedua, membiarkan Ayah membawa pulang Azira ke rumah. Jika Allah memberikannya kesempatan untuk memutar waktu, maka dia tidak akan pernah mengizinkan Ayah pergi ke desa dan dengan begitu, Humairah tidak akan hidup menderita.
__ADS_1
Itulah yang Mama pikirkan. Mama mungkin lupa atau berpura-pura lupa bahwa perjanjian pertunangan terjadi karena ada insiden di desa. Jika tidak ada insiden, maka Humairah tidak akan pernah ditakdirkan bertemu dengan Kenzie.