Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 26.4


__ADS_3

"Azira hamil!! Dan itu semua gara-gara kamu! Kamu bilang villa sudah kamu amankan! Enggak CCTV atau apapun yang dapat merusak rencana kita! Tapi apa?! Mas Kenzie! Mas Kenzie menemukan bukti apa yang sebenarnya terjadi di hari itu! Dia mengatakan bahwa aku akan dilaporkan ke polisi! Dia bilang ingin melaporkan ku ke polisi jika berani mendekatinya! Ini semua gara-gara kamu Nabil! Sekarang mas Kenzie tidak mau mengenaliku.." Amara menangis keras sembari meluapkan kesedihan hatinya.


"Amara..." Nabil kesulitan mencerna semua informasi ini.


Jantungnya berdebar kencang menerima informasi dadakan dari sepupunya. Menurut rencana mereka sebelumnya, permasalahan tempo hari akan membuat hubungan pernikahan Kenzie dan Azira merenggang. Mereka bermaksud menjauhkan Kenzie dari Azira maka dari itu kesalahpahaman sengaja dibuat.


Namun apa yang barusan dia dengar?


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa mendekat karena dia akan melaporkan aku ke polisi, tapi jika aku tidak mendekat hatiku tidak tahan...tidak...tidak, ini semua gara-gara kak Nabil... Rencana kakak gagal dan Kenzie berbalik membenciku!!" Amara memegang kepalanya seperti orang gila.


Panik dan gelisah pada saat yang sama. Dia tidak tenang. Bola matanya bergerak liar memikirkan rasa malu dan cemburu yang baru saja dia dapatkan di rumah Kenzie.


Ini adalah sebuah penghinaan!

__ADS_1


Ini adalah sebuah penghinaan dan itu semua gara-gara Azira!


Azira... Azira yang melakukan semua ini!


"Amara, tenang...tenang...semua ini pasti memiliki jalan keluar. Kamu harus lebih tenang biar bisa berpikir jernih." Ucap Nabil menyampingkan kebingungan di kepalanya.


Saat ini yang menjadi fokus utama adalah menenangkan Amara. Jangan sampai masalah mental Amara terguncang kembali yang berakibat fatal untuk kehidupan Amara.


"Kamu minta aku tenang? Menurut kamu gimana aku bisa tenang mendengar kabar tentang kehamilan Azira dan ditambah lagi mas Kenzie mau melaporkan aku ke polisi?! Gimana hiks...aku enggak tahu...kepala aku sakit dan hatiku juga sakit! Aku enggak tahu.." bentak Amara sekuat tenaga guna melampiaskan rasa marah di dalam hatinya.


"Okay, aku ngerti. Tapi kamu jelasin dulu sama aku darimana Kenzie mendapatkan bukti untuk melaporkan kamu ke polisi?" Nabil sangat penasaran.


Jantungnya berdebar kencang. Hubungannya dengan Kenzie sudah berada di titik menegangkan dan bila masalah ini terungkap, maka Nabil tidak tahu apakah Kenzie masih mau berteman dengannya?

__ADS_1


"Dia mendapatkan rekaman suara tentang kejadian di dapur hiks...kamu bilang sebelumnya villa sudah diamankan. Tapi kenapa Kenzie dapat memiliki rekaman suara hari itu?" Volume suara Amara menurun dengan isak tangis yang belum usai.


Nabil tercengang. Rekaman suara?


"Benar, Amara. Memang villa sudah bersih dan tidak memiliki hal-hal yang dapat merusak rencana kita. Aku malah sudah melihatnya berulang kali untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan. Jika kamu tidak percaya kita bisa pergi sekarang untuk melihat kembali ke villa." Nabil sangat yakin dengan masalah ini.


Amara bingung,"Terus darimana dia mendapatkan rekaman itu?"


Nabil berpikir.


"Mungkinkah itu cuma rekayasa?"


Amara juga sangat berharap iya sekalipun dia tahu bahwa rekaman itu memang asli karena dia lah tersangka yang ada di TKP. Tapi semua harapannya sia-sia karena faktanya Kenzie memiliki rekaman yang lebih kuat.

__ADS_1


"Aku berharap, tapi wanita itu juga membuat rekaman untuk bersaksi. Dia hiks... mengkhianati kita hiks.." Amara kembali meraung dalam tangisan.


__ADS_2