
"Apakah aku berani melakukannya?" Bisiknya gugup bercampur tidak sabar.
Dia ragu tapi juga disaat yang sama ingin.
"Nanti kalau aku chat terus pak Al enggak respon gimana?" Tanyanya ragu-ragu, goyah ingin mencoba.
Al orangnya cuek, tipe orang yang tampak enggak peka dan enggak pedulian terhadap sekelilingnya. Tapi Sasa yakin kalau hati Al pasti lembut dan bisa dilembutkan selama dia berusaha. Um, dia sering tuh baca novel-novel dimana protagonis laki-laki yang dingin nan beku dengan silsilah beruang kutub Utara di dalam jiwanya masih bisa dicairkan oleh protagonis wanita yang imut serta lucu.
Sasa ngerasa kalo dirinya enggak jauh dari definisi ini jadi dia memiliki kepercayaan diri bahwa dia mampu mencairkan kebekuan hati Al.
"Um..Gimana aku tahu kalau aku enggak coba langsung?" Pikirnya membuat keputusan.
Mengambil nafas panjang, dia memberanikan diri mengambil ponselnya. Mencari kontak ponsel milik Al dan mengetik pesan ucapan selamat malam dengan perasaan antisipasi.
Beberapa detik kemudian dia mengklik send dan langsung menjatuhkan diri ke atas kasur. Gugup menunggu, setiap detik yang berlalu terasa begitu menyiksa di dalam hati.
1 menit.
__ADS_1
5 menit.
15 menit.
Hingga hampir 1 jam lamanya, Sasa tidak mendapatkan balasan apapun. Sasa kecewa. Melirik layar ponselnya lagi, tapi masih tidak ada balasan dari pihak sana. Dia menghela nafas berat.
"Mungkin pak Al sudah tidur." Gumam Sasa positif thinking.
Mungkin Al sedang bekerja atau sudah tidur makanya pesan yang dikirim tidak mendapatkan respon apapun, setidaknya itulah yang Sasa pikirkan untuk penawar rasa kecewanya.
"Besok pagi pasti pak Al sudah menjawab." Katanya percaya diri.
...*****...
Keesokan paginya Azira keluar rumah bersama Umi untuk jalan-jalan setelah menyelesaikan sholat subuh. Mereka jalan kaki tanpa menggunakan alas sandal karena lebih bagus untuk kesehatan.
Dulu Azira sering keluar rumah tanpa alas kaki. Dia sudah biasa melakukannya. Eh, sebenarnya rata-rata orang miskin sudah biasa melakukannya.
__ADS_1
Rasanya agak aneh setelah sekian lama tidak melakukannya lagi.
"Nanti mampir beli bubur di samping masjid sambil nunggu Kenzie dan Abah turun." Kata Umi kepada Azira.
Selama jalan-jalan mereka disapa oleh beberapa tetangga dan keluarga yang sedang jalan kaki juga.
Berhubung lebih menyenangkan jika melakukannya ramai-ramai, maka kelompok yang terdiri dari Azira dan Umi kini diganderungi oleh banyak ibu-ibu yang heboh. Sepanjang jalan mereka tidak berhenti membicarakan tentang gosip ataupun berita-berita yang sedang viral di dalam TV.
"Nah, itu mereka." Tepat setelah bibi berbicara begitu Kenzie, Abah dan beberapa laki-laki keluar dari pintu Madjid.
Azira sangat bersemangat melihat suaminya. Wajahnya yang cantik seketika menyunggingkan senyuman yang cantik selayaknya musim semi yang menyejukkan. Kenzie dari jauh tak bisa memalingkan mata darinya. Dia terkejut dan bersemangat melihat istrinya juga ada di sini.
"Eh, siapa itu?" Azira melihat ada seorang wanita di belakang Kenzie.
Wanita itu juga keluar dari pintu masjid sambil membawa mukena di lengan kanannya. Azira tidak bisa melihat dengan jelas rupa wanita itu dari jaraknya tapi bukan berarti dia tidak bisa melihat tujuan wanita itu menghampiri suaminya!
Mata Azira menyipit.
__ADS_1
Wanita itu menghentikan Kenzie. Entah apa yang dia bicarakan. Beberapa detik kemudian Kenzie berjalan turun tanpa mengatakan apapun kepada wanita itu. Sementara wanita itu memanggil terus. Kenzie tidak menggubris panggilan wanita itu atau sekedar menoleh ke belakang, dia tidak melakukannya. Sikap Kenzie yang acuh tak acuh langsung membuat Azira lega.