
"Kemarin istrinya dokter Kenzie datang ke sini. Dia sangat cantik dan memiliki penampilan yang anggun. Selain itu dia juga ramah dan suka menyapa, setiap kali berbicara dengannya dia pasti akan tersenyum. Aku sekarang ngerti kenapa dokter Kenzie menikah dengannya. Kalau dilihat-lihat, mereka berdua adalah pasangan serasi." Entah disengaja atau tidak, perawat ini tiba-tiba berbicara ketika melihat Humairah lewat.
Bukan tanpa alasan dia melakukan itu. Rasa iri dan cemburu di tempat pekerjaan itu memang sudah wajar. Begitu pula yang terjadi di rumah sakit ini. Melihat rekan kerja diperlakukan spesial padahal mereka berada di tingkatan yang sama membuat beberapa orang tentu sangat tidak puas. Mereka sama-sama magang, sama-sama dalam masa uji percobaan, dan mereka adalah pekerja sementara di sini sehingga tidak memerlukan perlakuan yang khusus. Namun cerita ini berbeda kepada Humairah. Dengar-dengar dia sudah selesai magang tapi untuk suatu alasan dia tiba-tiba kembali lagi ke rumah sakit ini dan mendapatkan shift malam. Yang lebih tidak menyenangkan lagi adalah manager rumah sakit sendiri yang secara khusus memperlakukan Humairah dengan spesial. Tentu saja yang mengetahuinya sangat kesal dan tidak bisa menerima itu.
Semua orang sama, mengapa Humairah lebih dispesialkan daripada mereka?
"Aku juga sudah mendengarnya dari mbak Nana. Orangnya baik dan ramah, aku jadi pengen bertemu sama dia. Nggak bisa dibayangin tahu dokter Kenzie yang flat ketemu sama wanita cantik yang anggun dan ramah, pasti mereka berdua adalah pasangan yang perfect di rumah. Aku nggak percaya kalau dokter Kenzie tidak meleleh melihat istrinya yang istimewa." Perawat yang satu ikut menimpali, ikut bekerja sama untuk mempermalukan Humairah.
Siapa yang tidak tahu hubungan Humairah dan dokter Kenzie sebelumnya. Dulu mereka cemburu melihat Humairah bertunangan dengan Kenzie, tapi sekarang Humairah kembali membuat mereka cemburu karena dia memiliki hubungan yang baik dengan atasan sehingga mendapatkan perlakuan yang baik pula, siapa yang tidak sakit hati dan merasa tidak puas. Untuk melampiaskannya mereka menggunakan cara kecil ini.
Memang benar mereka tidak pernah melihat Azira secara langsung. Namun menurut apa yang dikatakan oleh Nana, mungkinkah Azira memang sebaik itu?
"Jangan banyak bergosip malam-malam. Kalau ketahuan sama yang lain, nilai kalian bisa anjlok. Hati-hati." Humairah dengan murah hati mengingatkan rekan-rekan kerjanya.
Dia masih memiliki senyum yang sama di wajah cantiknya. Seolah-olah bukan dia objek yang mereka bicarakan tadi. Senyumnya yang ramah dan manis, membuat kedua perawat itu kosong. Rasanya seperti menunjuk kapas, hampa dan tidak berbobot, mereka berdua langsung sakit gigi. Ternyata Humairah adalah wanita yang sangat tangguh.
"Eh...eh, iya. Kami tidak akan lagi bergosip. Ayo pergi." Karena tidak mendapatkan reaksi yang diinginkan, dia mengajak temannya pergi karena malu tinggal di tempat yang sama dengan Humairah.
Humairah selalu tersenyum sepanjang waktu. Tidak ada kemarahan sedikitpun di wajahnya. Sampai akhirnya kedua punggung perawat itu menghilang dari pandangannya. Wajahnya langsung kehilangan senyum. Dia mengepalkan tangannya menahan amarah di dada.
"Apa yang mereka katakan tadi? Azira sudah pernah ke sini sama mas Kenzie? Huh, mungkin mereka berbicara omong kosong. Dan beraninya mereka membandingkan ku dengan Azira. Benih liar itu, bagaimana bisa aku dibandingkan dengannya. Ya Allah, mungkin mereka buta. Mungkinkah benih liar dapat memiliki sikap yang anggun dan wajah yang cantik? Aku tidak percaya. Aku tahu orang seperti apa Azira itu. Dia tidak bisa bersikap anggun. Dia adalah wanita yang sangat norak. Huh... Jangan sebutkan itu. Jika aku membicarakannya lagi, mulutku pasti akan sakit." Mengabaikan rasa sakit di dalam hatinya dia melanjutkan langkahnya lagi.
Saat masuk ke gedung C, yaitu bangunan khusus untuk pasien anak-anak dia tidak sengaja bertemu dengan Ayana. Ayana adalah sepupu Kenzie. Dulu Humairah sering berhubungan dengannya. Meskipun Ayana terkesan cuek tapi Humairah memiliki hubungan yang cukup baik dengannya.
"Kak Ayana." Dia melambaikan tangannya samb tersenyum.
Ayana menoleh ke sumber suara melihat orang memanggil adalah Humairah.
Senang mendapatkan perhatian dari Ayana, dia lalu berjalan ringan menghampirinya. Di samping Ayana ada seorang laki-laki. Namanya Fatir. Seorang dokter kecantikan di rumah sakit ini. Fathir dan Ayana menikah 1 tahun yang lalu. Mereka sesungguhnya adalah pasangan yang baru menikah. Namun karena pekerjaan masing-masing, mereka jarang berpergian. Bahkan setelah menikah mereka belum pernah pergi berbulan madu. Alasannya karena pekerjaan mereka tidak bisa ditinggalkan. Bukannya tidak bisa ditinggalkan, tapi mereka berdua enggan meninggalkannya. Fatir sih masih mau pergi berbulan madu bersama istrinya. Tapi Ayana yang menolak. Dia tidak mau meninggalkan beberapa pasien yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.
Ayana sebenarnya memiliki hati yang menunggu lembut.
"Kak Ayana sama kak Fatir mau pulang?" Tanya Humairah sambil tersenyum.
Ayana balas tersenyum. Dia memeluk lengan suaminya sayang dan tidak memiliki kecanggungan di depan Humairah.
"Iya, kami sudah selesai bekerja. Jadi kami akan segera pulang. Humairah dapat shift malam, yah?"
Humairah tersenyum kecil.
"Iya, kak. Aku mendapatkan shift malam. Sedangkan mas Kenzie dapatnya shift siang. Sayang sekali kami tidak bisa bertemu." Kata Humairah tak berdaya.
Karena Ayana adalah sepupunya Kenzie dan mereka dulu memiliki hubungan yang cukup dekat, Humairah sangat berharap kalau Ayana masih mendukungnya bersama Kenzie. Biar bagaimanapun mereka memiliki hubungan yang baik satu sama lain dan sering mengobrol. Maka sudah sewajarnya Ayana berada di pihaknya.
"Oh, sayang sekali. Kalau kak Kenzie dapat shift malam, kamu pasti bertemu dengan kak Azira. Soalnya kemarin aku juga ketemu sama dia. Ternyata orangnya baik, loh. Kapan-kapan aku akan mengajak kamu bertemu dengan dia. Dan kamu harus cobain masakan buatan kak Azira. Rasanya enak banget. Kamu bakal dibuat ketagihan sama seperti aku." Kata Ayana berbicara dengan wajah tersenyum.
Mulutnya yang manis terus memuji-muji Azira di depan Humairah. Sungguh, Humairah tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Apakah Ayana sedang memanas-manasi nya?
__ADS_1
Tapi melihat wajah tersenyum itu, dia kira Ayana tidak bermaksud seperti itu.
"Kak Ayana seperti tidak tahu hubungan kami saja. Kalau kak Azira tidak sengaja menghancurkan pernikahanku dengan mas Kenzie, kami tidak akan berada di titik ini." Ucap Humairah tak berdaya.
Kedua matanya memerah menahan sakit hati. Dia tidak sedang berakting. Tapi dia benar-benar tidak berdaya dan tidak tahu harus berbuat apa dengan situasinya sekarang.
Ayana berpura-pura tidak melihat kesedihan di wajahnya. Bukannya Ayana memiliki hati yang kejam, sungguh, dia adalah dokter anak-anak dan hatinya sangat mudah dilembutkan. Tapi berhadapan langsung dengan Humairah, dia tidak memiliki rasa kedekatan. Ketika perjodohan itu diumumkan dia sangat menentang keras. Humairah terlalu manja untuk Kenzie dan dia tahu bahwa karakter Kenzie sama sekali tidak cocok dengan Humairah. Selain itu, wajah Humairah terlalu... Terlalu mirip dengan wanita itu. Ini pasti akan meninggalkan jejak psikologis di dalam diri Kenzie. Makanya dia tidak mau perjodohan itu diteruskan.
Dan setelah melihatnya sekarang. Perubahan Kenzie cukup besar setelah menikah dengan Azira. Tentunya karena Kenzie menyukai Azira, maka secara alami dia sangat mendukung Azira.
Terutama dia juga menyukai karakter Azira yang tenang. Di depan banyak orang, Ayana menebak kalau Azira adalah orang yang penyabar dan tidak mudah untuk ditipu. Sekilas Ayana melihat kalau Azira tipe wanita yang sangat keras kepala namun terkendali. Dia sangat cocok dengan Kenzie.
"Aku tidak berani ikut campur dalam urusan kalian. Karena suaraku juga tidak berarti apa-apa. Selain itu semuanya sudah berlalu, Humairah. Aku tahu bahwa kamu pasti merasa hancur dengan kegagalan pernikahan ini, tapi tidakkah kamu merasa bahwa banyak waktu yang kamu gunakan untuk memikirkan masa lalu terbuang sia-sia? Mengapa kamu tidak mengambil langkah ke depan dan memulai kehidupan baru. Jika kamu merelakan semuanya maka kamu akan mendapatkan orang yang jauh lebih baik daripada Kenzie." Ayana berbicara dengan terus terang kepada Humairah.
Dia kesal sendiri melihat Humairah menampilkan kesedihannya di mana-mana seolah-olah Kenzie akan kembali kepadanya jika dia melakukan itu. Sayang sekali, hanya dengan modal wajahnya saja, Kenzie tidak akan kembali. Apalagi jika dia membuat keributan di sana-sini, bukannya kembali dia mungkin semakin muak. Memangnya laki-laki mana yang tidak takut dikejar-kejar oleh wanita yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan apa-apa sebelumnya selain perjodohan?
Kenzie ilfil. Dan sekarang Ayana mengerti mengapa Kenzie sangat takut berhubungan dengan Humairah.
"Kak Ayana berbicara dengan mudah, seolah-olah hatiku yang hancur dapat diperbaiki dalam waktu semalam. Tidak, kak. Semuanya sangat sulit. Dan aku tidak mau menyerah. Aku tidak rela menyerahkan laki-laki yang aku sukai kepada wanita yang telah merusak rumah tangga orang tuaku dan sekarang rumah tanggaku. Aku tidak akan pernah menyerah." Humairah menekankan dengan serius. Dia benar-benar tidak akan menyerah.
Ayana dan suaminya saling memandang. Mereka merasa kalau Humairah terlalu berlebihan. Bukannya mereka meremehkan Humairah, namun faktanya Humairah memang terlalu berlebihan.
"Baiklah jika kamu tidak mau menyerah. Namun aku akan mengingatkan kamu dengan murah hati, Humairah... Jangan lupa bawa hubunganmu dengan Kenzie dimulai dari perjodohan. Sejak awal Kenzie tidak pernah menggubris apa yang kamu lakukan, maka apakah kamu masih yakin tidak mau menyerah untuk mengejarnya di saat dia tidak memiliki perasaan apapun kepada kamu?" Kata-kata ini telak memukul rasa sakit Humairah.
Dia tahu apa yang Ayana maksud. Memang hubungannya dengan Kenzie berawal dari sebuah perjodohan yang Ayah kemukakan. Dia tahu itu dan dia juga sangat mendukung perjodohan itu karena sejak kuliah dia memang sudah menyukai Kenzie. Hanya saja dia tidak berani mengejar karena Kenzie tidak pernah memberikan wajah yang baik kepada wanita yang datang. Sampai akhirnya Ayah bilang kalau dia memiliki perjodohan dengan Kenzie, dia sangat bahagia dan langsung setuju. Allah telah memberinya kemudahan dan peluang untuk bersama Kenzie. Setelah peluang itu direbut secara percuma-cuma oleh wanita liar sumber masalah di keluarganya, mana mungkin dia rela. Mana mungkin dia melepaskan kesempatan itu?
"Kalau perjodohan memangnya kenapa?" Humairah berbicara dengan nada menantang.
Dia punya perjodohan, dan itu sah karena perjodohan adalah kesepakatan di antara dua keluarga. Jika perjodohan dibatalkan, maka dia berhak meminta haknya yang dibatalkan.
Tersenyum manis,"Kenapa? Coba tanya kepada orang tuamu, untuk siapa perjodohan yang sebenarnya. Apakah itu benar-benar kamu?" Ayana berhasil dibuat kesal.
Bibi Arumi sudah menceritakan semuanya bahwa perjodohan yang sebenarnya adalah diantara Kenzie dan Azira, bukanlah Humairah. Perjodohan ini di antara Abah dan ibunya Azira, tapi dimanipulasi oleh Ayah dengan menggantikan posisi Azira oleh Humairah. Saat keluarga besar mendengar cerita yang sebenarnya, mereka sangat marah. Jadi setiap kali keluarga Humairah meminta bantuan, mereka tidak akan menggubrisnya. Mereka sangat marah dengan perbuatan Ayah.
Jika Ayah tidak menukar posisi Azira maka keluarga mereka tidak akan berakhir dipermalukan di depan banyak orang dan rekan-rekan bisnis.
"Apa maksud kak Ayana?" Humairah tidak mengerti.
"Aku bilang tanyakan langsung kepada orang tuamu. Mereka lebih tahu daripada kami. Kurasa kita tidak perlu berbicara lagi, suamiku juga sudah lapar ingin makan malam. Jadi kami tidak akan tinggal, assalamualaikum. Ayo, mas." Ayana tidak mau berbicara lagi dengannya, jadi dia segera pergi bersama suaminya.
Meninggalkan Humairah yang masih kebingungan di tempat. Dia tidak mengerti apa yang Ayana maksud, tapi dari nada bicara Ayana, sepertinya ada sesuatu yang diketahui oleh orang tuanya dan tidak diberitahukan kepadanya.
"Setelah pulang nanti aku akan bertanya langsung kepada mereka." Humairah memijat kepalanya pusing.
Dia sangat menyesal tidak bisa mengendalikan dirinya di depan Ayana. Dan dia berjanji akan meminta maaf kepada Ayana ketika mereka bertemu nanti.
"Baiklah, jangan banyak berpikir. Aku harus bekerja! Hum, fokus bekerja!" Mengambil nafas panjang, lalu menyemangati diri sendiri dan kembali ke tugasnya.
__ADS_1
Dia harus fokus bekerja.
...*****...
Pagi harinya Azira teman melihat kepergian suaminya ke rumah sakit. Bukan tanpa alasan dia merasa sedih. Karena sejak bangun sholat malam, suaminya tidak pernah berbicara lagi dengannya. Bahkan ketika Kenzie menemukan dia bangun di dalam pelukannya lagi, Kenzie tidak mengatakan apa-apa ataupun memberikan hukuman lagi. Mengetahui itu Azira langsung menjadi sedih. Dia bertanya-tanya mengapa suaminya tidak mau menghukumnya lagi. Padahal dia bersedia di hukum hari ini.
"Kamu kenapa? Umi perhatikan ini sudah kesekian kalinya kamu mengambil nafas panjang. Apakah kamu punya masalah?" Umi prihatin tapi keinginannya untuk bergosip jauh lebih besar.
Dia berpikir bahwa masalah hari ini sangat bagus untuk digosipkan bersama saudara-saudaranya yang lain.
Azira sama sekali tidak menyadari pikiran mertuanya. Jika dia tahu apa yang dipikirkan oleh Umi, mungkin dia sudah muntah darah sekarang.
"Umi... Kemarin kan kita tinggal bersama Umi di rumah bibi Arumi. Dan saat keluar membeli makanan pun kami minta izin kepada kalian, tapi kenapa mas Kenzie sangat marah kepadaku? Aku sudah menjelaskan semuanya tapi dia tidak mau berbicara denganku. Katakan Umi, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Azira meminta bantuan kepada Umi.
Biar bagaimanapun Umu lebih dulu makan garam pernikahan. Karena dia sudah berpengalaman, maka pasti dia punya berbagai macam solusi.
Sayang seribu sayang, kalau itu soal menyangkut Kenzie, dia tidak bisa memberikan solusi. Karena dia sendiri sebagai Umi juga heran melihat putranya merajuk.
Putranya merajuk di usia yang sudah dewasa? Apakah ini normal?
Abah dulu tidak seperti ini. Kalau Abah marah, langsung ditumpahkan atau dibicarakan. Dia tidak pernah memendamnya seperti yang dilakukan oleh Kenzie. Lagian Kenzie juga aneh. Tidak dijelaskan merajuk, dijelaskan juga merajuk. Umi tidak tahu dari mana dia mengambil kebiasaan ini.
"Itu... Anakku, Umi tidak bisa ikut campur di dalam pernikahan kalian. Kalian...yah, kamu harus bisa mengatasinya sendiri. Ini adalah ujian untuk kalian." Karena Umi tidak bisa memberikan solusi maka serahkan saja semuanya kepada Azira.
"Umi?" Azira tercengang.
Malu. Umi langsung memberikan solusi asal-asalan.
"Kamu bisa... Kamu bisa membuatkannya makanan yang enak untuk menyenangkan hatinya atau rajin... rajin bertindak genit?"
Azira,"...." Mengapa dia merasa kalau Umi tidak dapat diandalkan?
Sarannya tidak jauh berbeda dengan Sasa dan Mona.
"Okay...Umi. Aku akan berusaha." Azira tidak punya cara lain.
"Hari ini kamu akan pergi ke rumah sakit, kan?" Umi sudah diberitahu sebelumnya sama Kenzie dan dia bertanya murni karena basa-basi.
"Iya, Umi. Rencananya nanti siang aku akan ke sana membawakan mas Kenzie makan siang. Kenapa, Umi? Apakah Umi mau ikut?" Akan lebih baik lagi kalau Umi ikut pergi.
Umi langsung menggelengkan kepalanya.
"Umi tidak akan pergi. Tapi kamu akan pergi bersama Sasa dan Mona."
"Apa?" Suara histeris Mona mengagetkan mereka berdua.
"Kami nggak mau pergi, Umi. Kami akan pergi kuliah!" Sasa dan Mona muncul dari balik tembok.
__ADS_1