
"Mona, kembali! Kita belum selesai bicara." Teriak Mama memanggil.
Namun Mona tidak mendengar. Langkahnya tidak berhenti ataupun melambat. Jangankan berhenti, menoleh ke belakang saja dia tidak mau. Berpura-pura tidak mendengar panggilan orang tuanya, Mona berjalan lurus menapaki satu demi satu anak tangga di depannya. Mungkin dia terlihat tidak peduli sama sekali dengan perkataan orang tuanya. Faktanya dia sangat peduli, jika tidak lalu kenapa dia masih bisa menangis?
Menggigit bibirnya getir untuk menahan luapan air mata di pelupuk matanya. Mungkin hanya Allah yang tahu betapa sesak yang dia rasakan hatinya sekarang. Saking sesaknya dia tidak mampu tersenyum, meski itu adalah senyuman palsu.
"Mona!"
Bar!
Mona menutup pintunya dengan bantingan keras yang langsung mengagetkan semua orang. Karena tidak mau mendengarkan panggilan mereka, dia terpaksa membanting pintu kamarnya.
"MONA!" Ayah sangat marah dan berniat menyusul Mona ke atas, tapi mama langsung menahan ayah agar jangan pergi.
"Ayah, cukup. Jangan impulsif!"
Ayah sangat marah sekarang dan tidak mau mendengarkan.
"Dia sudah keterlaluan. Kita ini orang tuanya!"
"Ayah, tenang. Biarkan Mona menenangkan diri dulu. Dia pasti sedih dimarahi sama kita." Kata mama menghentikan.
Ayah lalu terdiam. Akhirnya dia mengurungkan niatnya dan kembali duduk ke tempatnya tanpa berbicara. Wajah ayah terlihat sangat muram.
"Ma, sepertinya aku salah bicara sama kakak." Wajah Yana memucat kehilangan warna.
Dia sama sekali tidak menyangka gara-gara pertanyaan santainya kakak dan orang tuanya bertengkar. Dia tidak mengharapkan hasil ini dan merasa bersalah.
Mama menghela nafas berat. Dia tidak memiliki nafsu makan lagi.
"Kamu tidak salah kok, Nak. Kakak kamu belum bisa berpikir dewasa sehingga tidak bisa mengontrol emosinya. Dan mengenai tuduhan kakak kamu tadi, Mama harap kamu tidak memasukkannya ke dalam hati karena dia tidak bermaksud serius mengatakannya. Dia hanya sedang emosi." Mama menghibur Yana agar jangan merasa bersalah.
Mama sebenarnya kasihan melihat Mona dibentak oleh ayah, tapi dia mengerti kenapa suaminya melakukan itu kepada Mona. Seandainya saja Mona tidak membuat masalah, maka ayah mungkin tidak semarah ini.
"Hah...hari ini aku terlalu keras sama dia." Ayah Sadat telah membentak Mona dan mulai merenungi kesalahannya tadi.
Karena terlalu marah dia jadi lepas kendali dan berakhir membentak Mona. Ayah belum pernah melakukan ini kepada Mona dan dia merasa sangat bersalah.
"Tidak apa-apa, Yah. Mona pasti mengerti kenapa ayah membentaknya." Setelah menghibur Yana, Mama berbalik menghibur suaminya.
__ADS_1
Sama seperti dia, suaminya pasti merasa sangat bersalah setelah memarahi Mona.
Setelah pertengkaran ini, mama dan ayah tidak mau melanjutkan makan malam lagi. Mereka berdua hanya duduk menonton makanan di atas meja perlahan menjadi dingin, sementara pikiran mereka mengembara entah kemana.
Melihat mama dan ayah tidak melanjutkan makan malam lagi, Yana juga kehilangan nafsu makan. Dia merasa sedih karena telah mengacaukan keharmonisan makan malam hari ini. Jika dia mengetahui reaksi ayah dan mama sekuat ini, maka mungkin dia tidak akan bodoh menanyakan masalah ini di atas meja.
"Mama bilang ingin mengajakku ke rumah abah dan umi. Kenapa kita tidak putih sekarang saja daripada duduk bengong di sini?" Mona mengusulkan kepada mereka agar segera pergi ke rumah Umi.
Ini lebih baik daripada mereka menganggur di sini tanpa melakukan apa-apa. Yana sengaja mengajak orang tuanya ke rumah Abah agar mereka tidak terlalu terpuruk memikirkan pertengkaran tadi. Setidaknya dengan bertemu kerabat, pikiran mereka akan teralihkan.
"Iya, untung saja kamu mengingatkan mama. Ayo pergi, biarkan Mona sendiri dulu untuk merenungi kesalahannya sendiri. Mama harap dia dapat mengambil pelajaran dari pertengkaran tadi. Bila dia mengulangi kesalahan yang sama dan terus membolos, mama tidak akan memberikannya uang jajan lagi." Kata mama serius.
Mama ataupun ayah tidak akan mensubsidi uang belanja Mona bila dia terus seperti ini. Mereka tidak membutuhkan orang yang malas di keluarga. Jadi sebaiknya Mona pikir-pikir dulu sebelum membuat masalah.
"Ma, jangan bilang begitu. Kak Mona juga bolos karena enggak enak badan. Aku percaya kak Mona enggak mungkin bolos seandainya dia baik-baik saja." Yana membela kakaknya.
Ayah menggelengkan kepalanya tak berdaya. Dia sangat mengagumi pemikiran Yana yang selalu positif dan jauh. Pendidikan yang dia terima di pondok pesantren tercermin dari sikapnya yang sopan dan positif.
"Kamu lebih dewasa daripada kakak kamu sendiri, haih...andai saja dia seperti kamu, ayah pasti tidak akan terlalu mengkhawatirkannya." Ayah menghela nafas berat memikirkan karakter manja Mona yang semakin menjadi-jadi.
Sangat disayangkan Mona tidak bisa meneladani karakter Ayana maupun Yana.
Yana tersenyum lembut.
Mama tersenyum lebar,"Mama juga mempercayai kamu. Ya sudah, ayo beres-beres sebelum pergi ke sana. Mama yakin Umi pasti sudah tidak sabar bertemu dengan kamu. Soalnya dia sering menanyakan kabar tentang kamu sewaktu tinggal di pondok."
Mama mulai mengumpulkan piring-piring di atas meja. Yana juga tidak tinggal diam. Dia ikut membantu mama mengumpulkan piring yang kotor setelah menaruh makanan yang belum sempat dihabiskan di sebuah wadah kotor untuk dibuang.
...*****...
Di dalam kamar yang gelap Mona duduk bersandar di sisi pintu. Matanya yang basah terbuka lebar menatap langit-langit kamarnya yang tidak memiliki daya tarik sedikitpun.
"Mona capek dibanding-bandingkan terus sama kak Ayana dan Yana. Apa salahnya menjadi diri Mona sendiri selama tidak menyakiti siapapun? Mona udah berusaha. Mona udah berusaha untuk enggak ngeluh untuk semua pengabaian kalian terhadap Mona. Mona berusaha ngerti, tapi ada dengan kalian? Mona baru ngelakuin satu kesalahan tapi kalian semua langsung menghakimi Mona dengan berbagai macam kata-kata miris. Hati Mona sakit ma, yah. Hati Mona sakit banget kalian giniin. Mona enggak pernah ngomong sama kalian bukan berarti Mona baik-baik aja. Enggak, sama sekali enggak. Tapi Mona menghargai kalian makanya enggak pernah ngomong apapun soal sakit hati Mona. Tapi kalian..." Mona menutup matanya tak sanggup lagi berbicara.
Dia sakit. Hatinya sangat perih ya Allah. Mona enggak suka ngerasain sakit ini tapi entah kenapa sakitnya enggak mau hilang. Mona lelah tapi hatinya enggak mau mendengarkan.
Hatinya semakin perih saat memikirkan kemarahan orang tuanya. Mereka langsung marah tanpa meluangkan waktu sedikit saja untuk bertanya apakah dia baik-baik saja?
Dimana yang sakit?
__ADS_1
Apa perlu kami bawa ke dokter?
Enggak, mereka diam saja saat mendengar Mona kurang enak badan dan bahkan menyepelekannya. Jujur, Mona kecewa banget di sini. Dia mau marah tapi marah sama siapa dia tidak tahu. Ke mama dan ayah?
Yang ada malah mereka akan semakin mengecapnya sebagai orang yang kekanak-kanakan, tidak dewasa, manja dan suka membuat masalah!
Iya, mereka memang orang tua Mona tapi sikap mereka yang bias justru telah membuat Mona meragukan dirinya sendiri mungkinkah dia adalah anak yang dilahirkan oleh mama?
Mona capek, hati Mona lelah ya Allah. Sampai kapan Mona terus mengalah di rumah ini? Batinnya terluka.
Mona menangis cukup lama sampai akhirnya rasa kantuk datang melanda. Dengan lemah dia menyeret tubuhnya naik ke atas kasur. Menyentuh permukaan kasur yang empuk, tubuhnya langsung rileks dan perlahan pandangannya menjadi gelap. Dia tertidur sepenuhnya.
...*****...
Pagi harinya Azira jalan-jalan pagi bersama suaminya di sekitar halaman belakang. Mereka berjalan bolak-balik hingga matahari menampakkan sinarnya. Setelah cukup berolahraga Azira dan Kenzie beristirahat di bangku taman. Cuacanya bagus hari ini dan udaranya sangat sejuk, Azira enggan masuk ke dalam rumah. Maka Kenzie memutuskan untuk sarapan di sini saja.
Sarapan hari ini tidak ada bedanya dengan hari-hari yang lain. Ada nasi goreng, roti tawar lengkap dengan selai, buah-buahan dan segelas susu coklat yang jauh lebih kental dari formula susu hamil pada umumnya.
Azira tahu bila susunya sudah dicampur dengan air minum yang selama ini Azira minum. Kenzie bilang tidak apa-apa karena bahannya alami dan sehat jadi Azira bisa tenang meminumnya.
"Azira hari ini mau makan apa?" Umi selalu excited bertanya soal makanan yang ingin Azira makan.
Azira berpikir. Hari ini dia tidak memiliki keinginan apapun dan makan saja apa yang ada. Fokusnya hanya ingin menelan paksa nasi ke dalam mulutnya agar anaknya mendapatkan nutrisi yang baik di dalam.
"Makan apa aja yang ada. Untuk sekarang aku belum mau apa-apa. Kecuali buah. Aku harus makan buah hehe.."
"Baiklah. Kalau kamu mau apa-apa bilang aja ke Umi. Nanti Umi masakin, deh." Kata Umi sambil tersenyum.
Azira mengangguk lega.
"Iya, Umi. Aku pasti akan ngomong ke Umi kalau makan sesuatu."
Umi langsung mengirimkan jempol kepada Azira.
"Hari ini kalian berdua ada kegiatan apa? Mau ikut Umi arisan, enggak?"
Mendengar kata arisan, bulu kuduk Kenzie langsung berdiri. Membayangkan dirinya tersesat di antara perkumpulan Ibu-ibu rempong, Kenzie merasa sangat frustasi!
"Ah... hari ini aku mau nemenin mas Kenzie ke kantor, Umi." Jawab Azira tidak enak hati.
__ADS_1
Umi tidak kecewa.
"Umi pikir kamu enggak ada kegiatan makanya mau ajak ke tempat arisan biar enggak bosan di rumah. Tapi karena kamu punya kegiatan, Umi bisa tenang pergi arisan."