Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 22.7


__ADS_3

Tenggelam dalam rasa sakitnya, Humairah mungkin lupa kalau bukan dialah tunangan Kenzie yang sesungguhnya, melainkan Azira, kakaknya. Ah, atau sebut saja dia tidak mau menerima kenyataan ini karena baginya Kenzie sejak awal adalah miliknya. Beginilah seharusnya yang terjadi, pikirnya.


"Tidak, ya Allah, aku tahu bahwa aku tidak berdosa karena rasa sakit yang kurasakan telah menghapuskan dosa-dosa itu. Aku adalah orang yang dizalimi Azira, maka sepatutnya aku mendapatkan perlakuan yang spesial dari-Mu, ya Allah. Aku percaya bahwa Engkau lebih mengerti apa yang kurasakan sekarang dan apa yang aku inginkan. Kuharap Engkau tidak mengecewakan ku lagi." Humairah berbicara ngasal, membuat alasan untuk dirinya sendiri atas kebencian yang dia rasakan kepada Azira.


Kebencian yang menyebabkan rasa persaudaraan dirinya dengan Azira terkikis. Dulu hatinya melembut menyambut kedatangan Azira, tapi sekarang hanya hati yang gelap saja tersisa untuk Azira.


"Yah, Azira akhirnya mendapatkan balasan atas apa yang dia lakukan kepadaku." Gumam Humairah kian merindukan hari itu.


Dia sudah tidak sabar ingin mendengar kabar baik itu.


*****


Sore harinya keadaan Azira membaik setelah cukup tidur. Namun meskipun kepalanya tidak pusing, badannya masih agak lemas. Awalnya Kenzie tidak mengizinkan dia keluar dari kamar, tapi berhubung Azira bosan tinggal di kamar tanpa melakukan apa-apa, akhirnya dengan terpaksa Kenzie membiarkan Azira keluar dari kamar.


Dia membawa Azira ke halaman depan. Tidak boleh bekerja namun Azira lagi-lagi memaksa sehingga Kenzie kembali mengalah. Dia mengizinkan Azira bekerja di sekitar halaman depan. Kerjaannya sangat ringan dan mudah, yaitu seperti memotong rumput dan mengumpulkan sampah daun kering disekitar halaman.

__ADS_1


Poin kunci dari semua itu adalah Azira sekarang berada di dalam pengawasannya sebagai suami. Melihatnya baikan dan mulai aktif bergerak adalah hal yang paling melegakan.


Kenzie puas dengan hasil ini.


"Kak, aku bantu." Sasa datang membantu.


Sementara Mona membantu Abah di lubang kolam. Dia bertugas menaikkan tanah yang sangat memilukan. Anehnya Mona sangat bersemangat sehingga dia langsung terjun tanpa disuruh.


Kalau Sasa ogah berkutat dengan lumpur, jadi dia lebih baik datang membantu Azira saja.


"Boleh." Azira menggeser tempat duduknya.


Mereka berdua sekarang ada di samping gerbang. Tugas mereka adalah memotong rumput-rumput nakal yang kembali menyebarkan daunnya.


Saat mereka berdua sedang fokus bekerja, tiba-tiba seseorang memanggil nama Azira dari luar gerbang.

__ADS_1


"Azira?" Suaranya terdengar berat dan serak, khas seorang laki-laki dewasa.


Azira mendongak ke asal suara. Beberapa meter jaraknya dari gerbang, dia melihat seorang pemuda tinggi dengan warna kulit sawo matang di sana. Berkedip bingung, Azira mencoba mencari-cari di dalam ingatannya siapa orang ini.


"Ya?" Azira menjawab.


Ketika mendengar Azira meresponnya, laki-laki maju beberapa langkah mendekati gerbang untuk berbicara dengan Azira.


"Jadi ini benar-benar kamu!" Katanya berseru senang.


Azira masih bingung. Dia tidak tahu siapa laki-laki ini.


"Ah.." Sasa tercengang kaget melihat dosen kampusnya yang terkenal killer di kampus kini tengah berdiri lurus di depan gerbang rumahnya.


Bingung, matanya melirik Azira yang masih bingung sebelum kembali memandangi wajah dosen killer nya. Gunting rumput ditangannya tanpa sadar jatuh. Dia tiba-tiba menjadi gugup karena melihat idola kampus sekarang berdiri sedekat ini dengannya.

__ADS_1


"Kamu lupa sama aku? Aku Al, ketua OSIS kamu sewaktu SMA." Ujar Al mengingatkan Azira.


__ADS_2